My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Nyonya selalu bersama dengan pria itu



Wanita itu sudah sangat kelelahan, tenaganya terkuras karena melawan para anak buah mafia Naga Perak yang menyerangnya dari segala penjuru. Tubuhnya tertatih-tatih menyusuri sebuah gang kecil, demikian pula lututnya sesekali bergetar dan tangannya berpegangan pada dinding gang.


Ia memegangi perut berlumuran darah yang menetes setiap kali ia menyeret kakinya dengan napas lemah, ia berusaha sekuat tenaga agar tidak ditemukan oleh musuhnya.


Kini, kaki wanita itu bergetar hebat, ia telah sampai di ujung gang, naasnya gang tersebut memiliki jalan buntu. Ia lantas mendudukkan tubuh lemahnya di atas tanah dingin sembari mengerang kesakitan.


"Apakah ... aku akan berakhir seperti ini?" tanyanya lirih pada dirinya.


Mata sayu-nya melihat ke bawah yang mana perutnya ditusuk sebilah pisau tajam saat dirinya lengah, kemungkinan saja perut bagian dalamnya sudah robek. Darah tak berhenti mengalir membuatnya sangat tak berdaya, bahkan untuk melihat pria yang berjalan ke arahnya.


Langkah pria itu amat pelan dan halus, rambut coklat gelapnya tersisir rapi tanpa ada sehelai rambut pun yang keluar dari tatanannya. Sesaat kemudian langkahnya terhenti di samping wanita yang setengah bersandar pada dinding gang.


Seringai di mulut pria itu sangat menakutkan, ia berjongkok mengamati wanita cantik di hadapannya; bungkam tak menoleh balik padanya.


"Zhang Mei Lin, apa kau tahu di mana letak kesalahanmu?" tanya pria itu sembari memainkan rambut hitam wanita yang enggan untuk membuka mulutnya. Pria itu membuka mulutnya kembali, "kau salah karena jatuh hati pada pria sepertiku."


Sorot mata bagaikan tikaman belati di arahkan pada pria tampan dengan wajah penuh seringai. "Kau memang pantas mati, Yohan Wang!" air mata hangat menetes ke pipi putihnya, "memang kesalahan terbesarku adalah memercayaimu. Bunuh aku sekarang! Jika ada kehidupan kedua, aku yang akan membunuhmu ketika saat itu tiba."


"Membunuhmu akan sangat mudah." Pria itu menekan perut wanita yang berlumuran darah.


"Bunuh aku, Yohan Wang!" teriaknya dengan kekuatan terakhir yang ia miliki, meminta pria itu untuk mengambil nyawanya.


Pria berambut coklat itu bungkam, wajahnya dipenuhi kekesalan—nampak jelas saat alisnya ditautkan. Ia mengelap darah di tangannya, lantas merogoh pistol yang terselip di pinggangnya.


"Kau yang meminta untuk mati di tanganku. Anggap saja aku sudah membekalimu dengan kenangan manis saat kita bersama pada hari-hari itu." Ucap pria itu tanpa rasa kasih sebagai orang yang pernah menjadi kekasih dari Zhang Mei Lin. Ia mengarahkan mulut pistol itu ke kepala Zhang Mei Lin, lalu menarik pelatuknya tanpa mengedipkan mata.


Dor! Suara tembakan memekakkan gang kecil, wanita tak berdaya itu—hembusan napasnya makin melemah, tubuhnya perlahan jatuh ke tanah dingin. Harapannya begitu kuat, meskipun ia mati di tangan kekasihnya, ia menggunakan napas terakhirnya untuk melihat kepergian pria berhati dingin itu.


"Cut!" seru Sutradara Long diiringi dengan tepuk tangan kagum dari para kru.


Adegan barusan merupakan adegan terakhir dari film Separate Lover. Tangis haru dari para kru memenuhi seluruh lokasi syuting, mereka sangat bersyukur dikarenakan adegan terakhir telah usai, itu merupakan adegan yang menguras emosi mereka.


"Luar biasa! Luar biasa! Aku bisa melihat kesedihan mendalam dari matamu Zelene." Kata Sutradara Long sangat bahagia bisa merampungkan adegan terakhir.


"Anda terlalu memuji, Sutradara Long." Ucap Zelene malu-malu.


"Jika aku adalah Yohan Wang, maka aku tidak akan pernah menyakiti Zhang Mei Lin. Karakter pria itu terlalu kejam." Ujar Xie Yu Fan, kesal.


Zelene tertawa nyaring mendengar perkataan Xie Yu Fan. "Tapi, kau menyukai peranmu, 'kan?"


"Kau benar, aku menikmati setiap peran yang kulakoni. Tetapi, Yohan Wang terlalu kejam," Xie Yu Fan melirik pakaian Zelene masih dipenuhi darah, "lebih baik kau membersihkan dirimu. Kau terlihat seperti hantu yang bangkit dari kubur, hahaha," Xie Yu Fan tertawa keras melihat penampilan Zelene.


Tangan Zelene spontan mencubit lengan atas Xie Yu Fan, mereka terkekeh riang dengan kekonyolan mereka.


Akan tetapi, kegembiraan mereka diartikan lain di mata para paparazi; yang tidak mereka sadari bahwa potret mereka telah diabadikan oleh kamera paparazi.


"Oh, ya, Sutradara Long, sepertinya aku dan agenku akan kembali ke Imperial City lebih awal." Kata Zelene pada Sutradara Long yang tengah sibuk menonton adegan terakhir dari film-nya.


"Kau akan berangkat malam ini?"


"Iya, sepertinya malam ini." Sahut Zelene membenahi penampilannya yang berantakan.


"Aku ingin cepat-cepat pulang dan beristirahat. Aku akan pergi membersihkan diri." Zelene melangkah pergi menuju kamar rias ditemani agennya.


🍁🍁🍁


Langit malam tanpa sepotong awan menghalangi cahaya bulan yang sedang bersinar penuh terlihat dari Bandar Udara Marseille Provence. Cahaya bulan purnama semakin menambah kecantikan malam, kala kaki jenjang Zelene turun dari mobil, ia mengedarkan pandangan ke langit, lalu terpaku pada bulan besar.


Zelene dan agennya sampai di bandara; setelah mengamati bulan, ia melirik pada jam tangannya. "Masih ada waktu sekitar 30 menit hingga pesawat take off. Kita ke lounge saja!" ajaknya pada Hanna dan Xu Mo.


"Kak Liang, sepertinya aku melihat orang yang kita kenal ...." Pupil mata Xu Mo melebar melihat pria berambut coklat yang berjalan tidak jauh dari mereka; pria itu menarik koper di tangan kirinya sementara tangan kanannya memainkan smartphone.


Hanna pun menajamkan pengelihatannya. "Bukannya dia Xie Yu Fan?" Ia lantas melambaikan tangannya, "Xie Yu Fan!!!" panggil Hanna dengan nada kencang.


"Kak Hanna, hentikan! Bagaimana jika ada penggemar yang mendengar?!" Zelene geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa Hanna begitu ceroboh karena saking senangnya bertemu dengan Xie Yu Fan?


"Maaf, aku lupa!" Hanna langsung menutup mulutnya.


Beruntungnya tidak ada penggemar yang mengetahui jadwal keberangkatan mereka, kalau tidak bisa-bisa mereka sudah dikepung. Namun, pria berambut coklat itu sudah mendengar teriakan Hanna; ia membalikkan badan mengarahkan pandangan ke asal suara.


Xie Yu Fan menggunakan masker penutup mulut, hanya bagian mata yang terlihat—ujung matanya terangkat tinggi menyiratkan bahwa ia sedang tersenyum dibalik maskernya. Mengetahui bahwa Zelene dan agennya sudah sampai di bandara, ia lantas melambaikan tangan ke arah mereka.


"Kalian sudah sampai?" tanya Xie Yu Fan, ketika Zelene berjalan lebih dekat ke arahnya.


Langkah kaki Zelene berhenti tepat di hadapan Xie Yu Fan. "Kau juga berangkat malam ini?"


"Ah, iya, aku juga ingin pulang lebih cepat." Jawabnya malu-malu. Sejak Zelene memutuskan untuk pulang ke Negara C malam ini juga, Xie Yu Fan memutuskan untuk mengemas pakaiannya dengan terburu-buru agar ia bisa pulang satu pesawat dengan Zelene.


Hati Xie Yu Fan tidak tenang jika harus membiarkan Zelene dan agennya pulang tanpa pengawalan. Namun pria itu tidak tahu bahwa, pengawal yang dikirim oleh Tony Huo, selalu mengikuti Zelene dari kejauhan.


"Ayo, kita ke lounge, kau pasti sangat lelah."


Zelene mengangguk menerima ajakan Xie Yu Fan, mereka berlima menuju lounge untuk beristirahat sebentar sembari menunggu jam keberangkatan.


Sementara itu, di suatu sudut gelap yang tak terlihat; dua pria berbusana hitam mengawasi mereka lamat-lamat. Keduanya lebih mirip mata-mata ketimbang pengawal karena tidak pernah muncul di hadapan Zelene. Selama 2 tahun ini tidak ada yang mencoba mencelakai Zelene, maka dari itu, kedua pengawal berdada bidang itu memutuskan untuk tidak menampakan diri mereka.


"Xiao Xuan, Nyonya selalu bersama dengan pria itu. " Xiao Juan melirik ke samping, "apa kita beritahu pada Tuan Muda?"


"Kita hanya ditugaskan untuk melindungi Nyonya, bukan melaporkan setiap pergerakannya, lagipula Tuan Muda tidak pernah bertanya." Ucapnya santai.


"Bagaimana dengan para paparazi itu?" Xiao Juan menoleh ke sudut kirinya yang menampakkan para paparazi bersembunyi seperti mereka.


Mulut Xiao Xuan tidak bergerak, namun matanya menoleh ke arah kamera yang tak hentinya mengambil gambar Zelene dan Xie Yu Fan. Ia sebenarnya ingin menghentikan mereka, tetapi jika diingat kembali, Tony Huo tidak pernah menyuruh mereka berurusan dengan paparazi.


"Sepertinya kita tidak harus menghentikan mereka, mereka juga sedang mencari uang."


Xiao Juan, "...."


Benarkah mereka boleh membiarkan para paparazi itu mengambil gambar Zelene seenaknya? Mengapa dihatinya Xiao Juan merasa sangat ragu dengan keputusan saudaranya itu?


🍁Bersambung🍁