
Tony Huo tertidur di samping Zelene, setelah mengeringkan rambut wanita itu, bahkan handuk yang digunakan untuk mengeringkan rambut itu—tergeletak di lantai. Ia merasa kelelahan dan sakit kepala yang dialaminya tadi malam terasa membaik berkat teh aromaterapi yang dibuatkan oleh butler Kim, dan pria itu pun tertidur lelap.
Sebenarnya, ia tak mau melakukan hal tersebut, akan tetapi ia juga tidak ingin membiarkan Qin Zhuo An mengurus Zelene hingga larut malam, karena Qin Zhuo An sudah ia anggap seperti bibinya sendiri. Sewaktu kecil, ketika ibu dan ayahnya berpergian keluar negeri, Qin Zhuo An lah yang menemaninya, hingga sampai saat ini Qin Zhuo An masih menemani Tony Huo dan tinggal di dalam mansion sebagai pelayan senior. Lalu mengapa ia repot-repot mengurus Zelene? Bukankah tidak ada perasaan apa pun pada wanita itu? Lagipula siapa yang bisa menebak jalan pikirannya.
Sementara itu, Zelene Liang mengerjapkan mata, dan sesekali kesulitan untuk menelan salivanya. Telapak tangannya mengusap area tenggorokannya, namun mata itu masih terpejam. Saat ia menengadahkan badannya, kepalanya terasa pusing dan tenggorokannya pun menjadi sangat kering. Zelene buru-buru bangun dengan mata yang setengah terbuka, ia merentangkan tangannya ke arah nakas di sebelah kanan, tetapi matanya yang setengah terbuka menangkap sesuatu yang aneh.
Zelene mengerjapkan mata berulang kali, setelah dirasa matanya benar-benar terbuka, ia menoleh ke samping kanan dan mendapati tubuh seorang pria terlentang di ranjang tersebut. Zelene mengalihkan pandangan ke depan, kemudian terkekeh garing.
"Siapa aku? Di mana aku? Sepertinya aku sedang bermimpi, haha ... haha ...." Ia kembali berbaring dan menutup wajahnya dengan selimut, lantas memejamkan matanya untuk beberapa saat. Meskipun, ia sudah memejamkan mata, tetapi pria yang tidur di sebelahnya masih bisa ia rasakan keberadaannya.
Wanita itu mendadak bangun dan menarik selimut yang mereka pakai, didapatinya lelaki itu berpakaian lengkap, lalu ia beralih memindai dirinya yang menggunakan gaun tidur berwarna hitam dan tidak ada bekas apa pun di tubuhnya. Zelene menghela napas lega, matanya mengerling ke arah pria di sampingnya, kemudian kakinya bergerak dan menendang pria itu hingga terjungkal. Bruk!
"Akk!"
Sontak saja, perbuatan Zelene Liang membuat Tony Huo terbangun dari tidur lelapnya. Pria itu memberikan tatapan yang menukik ke arah Zelene. Bekas tendangannya masih terasa, dan juga lututnya terbentur lantai. Tony Huo bangkit perlahan dan sorot tajamnya tetap di arahkan pada wanita di atas ranjang.
"Zelene Liang! Kamu sudah bosan hidup?!" bentaknya dengan nada keras. Percuma! Percuma saja, ia berbaik hati pada wanita itu semalam, harusnya ia biarkan saja agar Zelene tidur dengan rambut basah dan mendapat flu pagi ini.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di ranjangku?" tanya Zelene dengan nada menilik sembari memijat pelipisnya, "ah, kepalaku."
Sekarang Zelene ingat bahwa semalam, ia minum terlalu banyak dan tidak mengingat apa-apa lagi setelah itu. Apakah pria yang berdiri dengan kemarahan di wajahnya itu telah membawanya pulang dan mengambil kesempatan untuk keuntungannya sendiri? Zelene bertanya dalam hati.
Tony Huo, "...."
Pria itu bungkam tidak menjawab pertanyaan dari Zelene. Wanita ini sudah melakukan hal tidak bermoral padaku semalam, dan sekarang malah tidak mengingatku? Apakah otaknya telah tenggelam?
"Aku pasti mabuk berat semalam." Kata Zelene kembali memperdalam terawangan tentang ingatannya tentang semalam.
"Baguslah kalau kamu ingat." Celetuk Tony Huo.
"Tapi, Xu Mo dan Kak Hanna menemaniku semalam dan juga dua pengawal gelap yang selalu mengawasiku pastilah di sana ...," Zelene berhenti sejenak dan menatap tidak senang pada pria di hadapannya itu, lalu bibirnya kembali bergerak, "bagaimana caramu membawaku ke rumahku sendiri tanpa dihalangi oleh penjaga? Duh! Mengapa mereka membiarkanmu untuk masuk dan ... juga tidur di ranjangku?"
" ... Hahahaha~"
Tony Huo tertawa kencang mendengar ucapan yang keluar dari bibir mungil Zelene. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang tersebut.
"Mengapa kamu tertawa?" Zelene Liang menatap curiga, "jangan-jangan ... kamu ...."
"Aku apa? Zelene Liang, bukalah matamu lebar-lebar dan lihat siapa aku!"
"Apa maksudmu? Mataku sudah terbuka lebar, dan tetap saja siapa kamu?" Mata Zelene semakin lebar dan tajam di arahkan pada pria itu.
"Otakmu memang sudah tenggelam karena mabuk, ya? Kamu tidak mengenaliku?"
Mengenali pria ini? Zelene terus menggali ingatannya yang masih terkontaminasi dengan wine semalam, siapa pria tinggi dan tampan di hadapannya ini? Ia terus bertanya dalam pikirannya, hingga membuat kepalanya makin pusing dan kerongkongannya sangat kering karena tidak mendapatkan setetes air sejak ia bangun.
"Aku bertemu puluhan orang setiap hari, apa aku harus mengenalmu? Haah ...," terbesit sesuatu dipikirannya dan ia pun menduga bahwa pria ini sebenarnya masuk tanpa ijin setelah mengantarnya pulang dari Club dan ingin mengambil kesempatan darinya. Zelene tidak mendapatkan ingatan apa pun setelah mabuk, ia kemudian menatap serius pada Tony Huo dan berucap kembali, "sudahlah! Jangan mencari alasan dengan sok kenal denganku, memangnya siapa yang tidak mengenalku? Katakan berapa uang tutup mulut yang kamu inginkan? Aku sudah sangat berbaik hati dengan memberimu kompensasi, aku bisa saja melaporkan hal ini, tetapi aku tidak ingin media mengetahui hal seperti ini."
Kembali, Tony Huo dibuat bungkam oleh istrinya itu.
"Uang tutup ... mulut?" Tony Huo membungkam bibirnya dengan punggung tangan kanannya dan sudut matanya berkerut, sepertinya ia mengulas senyum kecil. Sungguh lucu! Seorang Tony Huo, ingin diberikan uang tutup mulut oleh istrinya sendiri?
"Masih pura-pura tidak mengerti?" di atas ranjang tersebut, Zelene Liang melipat tangan ke depan.
Tony Huo memiliki ekspresi serius di wajahnya, saat ia menurunkan tangannya yang menutupi bibirnya barusan. Ia mendekat ke tengah ranjang—yang mana Zelene masih berada di atas ranjang tersebut, kemudian mencubit dagunya dengan lembut.
"Sekarang lihat aku baik-baik." Desisnya di depan wajah putih Zelene.
Zelene Liang mengamati wajah bersih pria itu, sangat memukau dan juga menawan. Ia memiliki keinginan untuk menyentuh wajah itu, namun diurungkan. Setelah sekian kali mencoba untuk mengingat, Zelene tetap tidak bisa mengingat pria di depannya itu. Wajahnya seperti tidak asing juga aroma pria itu, pernah ia cium sebelumnya. Apakah karena ia masih pengar, jadi, tidak bisa mengingat pria itu?
"Sudah ingat?" tanya Tony Huo, pelan.
"Aku. Tidak. Ingat." Ucap Zelene dengan lantang. Ia lantas memalingkan muka ke samping dan tak menatap pria itu lagi. Dalam benaknya Zelene bertanya enggan, memangnya siapa pria ini?
Suara wanita itu membuat Tony Huo mengerutkan dahi. Sepertinya kepala Zelene Liang yang seperti kubangan alkohol harus dikuras terlebih dahulu, pikirnya.
"Aku, Tony Huo." Ujarnya santai.
Zelene melepaskan dagunya yang dicubit oleh Tony Huo dan bertanya dengan malas, "Siapa Tony Huo? Jangan katakan kamu dari keluarga Huo yang kukenal, pria sepertimu tidak mungkinlah."
Tony Huo menjentikkan jarinya ke kening Zelene hingga mengeluarkan bunyi, tak!
"Ah—" Zelene menyentuh dahinya, "beraninya kamu! Butler Kim, cepat bawa pengawal kemari!" perintahnya sembari menyeringai.
"Hmph!" Tony Huo tetap di posisinya yaitu, duduk di hadapan Zelene, dan menunggu butler Kim dan para pengawal yang dipanggilnya.
Di depan pintu terdengar hentakan kaki dari beberapa orang termasuk butler Kim.
"Ada apa, Nyonya?" tanya butler Kim, namun ia tidak berani membuka pintu.
"Masuklah dan keluarkan pria ini dari kamarku."
Butler Kim yang berdiri di depan pintu bersama Xiao Juan dan beberapa pengawal lainnya, agak ragu untuk membuka pintu, karena tuan mereka ada di dalam kamar tersebut dan pria yang Zelene maksud itu, pastilah Tony Huo.
"Cepatlah! Apa aku perlu membukakan pintu untuk kalian?" Zelene membungkus dirinya dengan selimut dan membuang muka.
Pintu pun terbuka pelan, tetapi tidak ada yang berani melangkah masuk karena mereka melihat penampakan Tony Huo yang memberi mereka seringai, kemudian pintu tertutup kembali tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.
"Kenapa mereka malah menutup pintu?" tanya Zelene, heran. Ia beralih menatap Tony Huo dan makin keheranan, "siapa kamu sebenarnya, Tony Huo?" tanyanya sekali lagi.
"Masih belum ingat juga?"
"Siapa?" Zelene kelimpungan dengan situasi ini dan kepalanya rasanya ingin pecah.
Tony Huo sudah kehilangan kesabarannya, dan menyadari kebodohannya sendiri sejak tadi, untuk apa dia repot-repot menjelaskan? Ia beranjak dari tempat tidur dan berkata dengan lantang untuk terakhir kalinya memberitahu wanita itu, "Aku suamimu!"
🍁 Bersambung🍁