My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Zele



"Dasar pria tidak tahu malu, sok dingin padahal sangat ahli dalam menggoda wanita." Gerutu Zelene ketika dia memasuki kamar utama dengan rasa kesal yang membludak. Pintu ditutup mengeluarkan suara bang!


Dia berkacak pinggang dan untuk kesekian kalinya memaki Tony Huo dalam hatinya. Ribuan kutukan dia layangkan dalam benaknya pada pria itu, namun bibirnya tetap terkatup, sementara gigi atas dan bawahnya saling beradu. Zelene tidak percaya juga tidak bisa memahami pria itu, sebentar dingin dan sebentar menjadi pria penggoda. Yang mana Tony Huo sebenarnya?


Zelene merilekskan napasnya yang tadinya menggebu akibat rasa kesalnya terhadap Tony Huo. "Hmph! Aku tidak akan lupa perlakuannya terhadapku. Dia harus menunggu balasan dariku." Katanya dengan seringai tajam menghiasi bibir mungilnya. Zelene Liang menghempaskan tubuhnya di atas ranjang mewah yang semalam dia tinggalkan.


Terasa sangat nyaman dan aman baginya jika tidur di kamar utama. Terserah Tony Huo ingin tidur di mana asalkan dirinya bisa menguasai kamar utama. Walaupun begitu, Zelene agaknya tahu bahwa Tony Huo terkadang plin-plan. Bisa saja sebentar lagi pria itu akan naik ke ranjangnya tanpa dia ketahui. Siapa yang tahu?


🍁🍁🍁


Sementara di ruang makan menjadi hening, Tony Huo tidak lagi memakan makan malamnya. Ia tetap duduk di sana memandang lurus ke depan. Sedang butler Kim memperhatikannya dengan tatapan kecewa.


Sejak semalam mereka bertengkar hingga pisah kamar sampai tadi di dalam kamar juga masih bertengkar, namun setelahnya suasana beku diantara mereka bisa cair lantaran spontanitas Tony Huo dalam mengerjai Zelene Liang.


Tony Huo tersenyum kecut. Salahnya sendiri karena tidak bisa mengontrol dirinya saat melihat wajah menggemaskan Zelene dan juga salahnya sendiri karena mendadak berubah dingin pada wanita itu.


"Butler Kim, siapkan sebotol anggur untukku dan bawa ke ruang belajar." Pinta Tony Huo saat dirinya bangkit dari kursi. Ia sudah tidak punya nafsu makan setelah Zelene Liang menggebrak meja makan beberapa saat lalu. Mood-nya pun menjadi jelek, tentu salahnya sendiri, mana bisa ia menyalahkan Zelene Liang.


"Tuan Muda, Anda belum menyelesaikan makan malam. Tidak baik minum anggur saat perut kosong." Ucap butler Kim ketika dia memperhatikan piring di atas meja makan masih berisi steak. Tuannya hanya memakan dua potongan kecil steak yang berarti perutnya masih kosong.


"Bawakan saja! Jangan membuatku mengulangi perkataanku untuk kedua kalinya." Dengan nada dingin Tony Huo berucap.


Atmosfer dalam ruangan tersebut menjadi semakin dingin, saat matanya yang dalam menyorot dingin pada butler Kim. Langkah pelan diambil oleh pria itu ketika keluar dari ruang makan. Ekspresinya masih saja tetap dingin seperti saat ia memasuki ruang makan sebelumnya.


"Baik, Tuan Muda."


Bulter Kim agaknya menggigil ketika bayangan Tony Huo sudah menghilang sepenuhnya dari ruang makan. Dia bisa bernapas lega lantaran barusan napasnya seperti tercekat oleh hunusan pedang dingin yang terasa mengarah ke lehernya. Pria berambut perak itu menghela napas sejenak dan sesudahnya menggeleng pelan.


Sedangkan, Tony Huo berjalan menuju tangga dan tatapan memuja dari balik tiang penyangga masih mengikutinya ketika keluar dari ruang makan. Ia merasa jengkel dengan tatapan tersebut, dan seketika memutar tubuhnya menghadap tiang penyangga di arah utaranya. Benar saja, Tony Huo mendapati seorang pelayan wanita tengah menatapnya dengan penuh harap.


"Keluarlah!" perintahnya dengan nada mencekam. Dirinya sudah kesal dan sekarang makin ditambah kesal oleh pelayan yang dianggapnya sedang menguntit dirinya.


Tony Huo menunggu beberapa saat di dasar tangga, namun pelayan itu belum juga menampakkan dirinya. "Kubilang cepat keluar!" Tony Huo mengulangi perintahnya sekali lagi. Tetapi tetap saja pelayan tersebut seperti orang tuli tidak mendengar perintahnya atau memang sengaja tidak ingin menampakkan dirinya.


"Xiao Xuan, Xiao Juan!" panggil Tony Huo.


Tidak butuh waktu lama bagi kedua pengawal itu untuk sampai di dasar tangga, mereka selanjutnya memberi hormat pada Tony Huo. Keduanya saling pandang sehabis melihat ekspresi gelap pada wajah Tony Huo. Tampaknya salah satu dari mereka mengira akan membunuh orang malam ini.


"Tuan Muda, siapa yang ingin Anda habisi?" tanya Xiao Xuan dengan wajah serius.


Sementara itu, pelayan wanita yang bersembunyi di balik tiang penyangga menggigil ketakutan, bulu mata lentiknya bergetar hebat ketika melihat kedua pengawal yang ditakutinya muncul di dasar tangga. Dia ingin sekali kabur dari tempatnya saat ini, namun kakinya seperti tak bisa digerakkan. Dengan rasa takut dia hanya bisa menyimak percakapan mereka.


Keduanya mengalihkan pandangan ke arah tiang penyangga dan merasakan kehadiran seseorang di sana. Mereka berdua menjawab Tony Huo dengan anggukan, kemudian melangkah mendekat ke arah tiang penyangga tersebut.


Mereka tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk menangkap pelayan itu. Bahkan mereka sempat kaget karena mengira ada penyusup sedang mengawasi tuan mereka tanpa sepengetahuan dari para pengawal.


"Apa-apaan ini, aku kira pembunuh bayaran atau setidaknya seorang pencuri?!" Xiao Juan nampak kecewa karena hanya menemukan seorang pelayan wanita yang menggigil ketakutan.


"Xiao Juan, jangan menganggap remeh seseorang. Bisa saja dia seorang pembunuh bayaran yang sedang menyamar." Ujar Xiao Xuan dengan nada seriusnya tak seperti adiknya Xiao Juan.


Xiao Juan sangat suka bermain-main juga suka akan tantangan dan tidak pernah serius. Jadi, ketika menemukan seorang pelayan yang menurutnya amat lemah di matanya, dia sangat kecewa karena tidak ada tantangan apa pun.


"Hmph! Ternyata pelayan ini lagi? Harusnya aku patahkan tangannya kemarin." Xiao Juan memberikan tatapan menghunus pada pelayan wanita tersebut.


"A-aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Sarah Wu, getir. Tubuhnya yang bergetar dia sandarkan pada tiang penyangga berwarna putih tersebut. Dia sungguh takut pada kedua pengawal yang hampir mematahkan tangannya kemarin akibat insiden sup panas.


"Kenapa kau bersembunyi di balik tiang penyangga?" tanya Xiao Juan dengan nada geram.


"Xiao Juan, jangan banyak bertanya. Bawa saja pelayan ini kepada Tuan Muda." Xiao Xuan berujar, kini suaranya agak santai.


Xiao Juan menyeringai lantas menarik lengan kanan Sarah Wu. Mereka membawanya ke Tony Huo yang sudah menunggu di sofa ruang tamu.


Pria itu menekuk dahinya kala kedua pengawal tersebut membawa seorang pelayan wanita ke hadapannya. Ia tidak perlu melihatnya dengan saksama karena sejak kepulangannya pelayan satu ini telah melihatnya dengan tatapan berbeda.


"Tuan Muda, pelayan satu ini yang sejak tadi mengawasi Anda, kemungkinan saja dia seorang mata-mata atau dari organisasi pembunuh bayaran." Xiao Xuan memberi asumsinya.


"Bukan, bukan, saya bukan mata-mata ataupun pembunuh bayaran." Sarah Wu menggeleng kuat-kuat. "Saya memiliki latar belakang yang baik sehingga diterima di kediaman ini." Setelah berucap, Sarah Wu menggigit bibir bawahnya. Mata perempuan itu dipenuhi genangan air mata yang bisa menetes kapan saja. Dia seperti menahan air matanya agar tidak jatuh tatkala matanya sengaja bertemu dengan mata hitam milik Tony Huo.


"Lalu apa yang sebenarnya kau lakukan di balik tiang penyangga, jika kau bukan mata-mata atau semacamnya?"


🍁🍁🍁


Tony Huo membuka pintu kamar utama yang tak terkunci, dirinya mendapati wanita berkulit putih itu tertidur lelap di atas ranjang mewah mereka. Setelah pertengkarannya juga interogasi yang dilakukannya barusan terhadap pelayan wanita bernama Sarah Wu, kini Tony Huo merasa sangat lelah. Ia mendekat ke arah ranjang dan perlahan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Diperhatikannya Zelene Liang terlelap dan dalam tidurnya pun wajah cantiknya masih tetap sama, juga semakin menggemaskankan.


Tony Huo mendekatkan dirinya, kemudian menyentuh rambut Zelene dengan lembut. Apa yang ada dipikirannya saat ini?


"Zele," bisiknya lembut di telinga Zelene.


🍁 Bersambung🍁