
Tawa mereka sudah lenyap dari lobi, meninggalkan berpasang-pasang mata yang menatap wanita berbusana dengan belahan dada terbuka; di papah oleh asistennya menuju sebuah kursi.
Alice Pei menenangkan dirinya, ia mengamati kakinya yang diinjak oleh Zelene. Dalam pikirannya di penuhi dengan rencana-rencana untuk menjatuhkan Zelene. Dia menganggap bahwa Zelene adalah saingan terberatnya selama ini, sejak debut mereka untuk pertama kalinya 7 tahun yang lalu; dia selalu bersaing dengan Zelene.
"Xiao Ying ...," panggilnya pelan.
Xiao Ying mendekatkan telinganya ketika Alice Pei membisikkan sesuatu, membuatnya agak kaku untuk beberapa saat.
"Tapi, Kak, jika Direktur Ming tahu kebenarannya ...." Xiao Ying merasa ragu, juga takut dengan rencana yang di perintahkan Alice Pei padanya. Jika rencana itu tidak berjalan dengan lancar, maka mereka akan mendapatkan masalah yang seharusnya tidak mereka cari.
"Kau hanya perlu mencari orang untuk melakukannya!" perintah Alice Pei, "Sudah cepat lakukan tugasmu." Dia membulatkan mata dipenuhi amarah tertuju pada Xiao Ying yang bergeming di tempatnya.
Akhirnya Xiao Ying menggerakkan mulutnya, ragu. "B-Baik, Kak." Xiao Ying lekas pergi melaksanakan perintah Alice Pei, meskipun dia masih memiliki keraguan dalam rencana tersebut.
πππ
"Hahaha~"
Tawa Hanna dan Xu Mo, nyaring terdengar di koridor yang mereka lalui; Zelene pun ikut terkekeh mengingat aksinya tadi.
Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya, menginjak kaki Alice Pei dalam kerumunan orang banyak. Tapi, perempuan itu memang pantas mendapatkannya.
"Lene, aku berharap tidak ada paparazi yang mengambil gambar, ketika kamu menginjak kaki Alice Pei." Hanna berkata dengan serius kala tawanya telah memudar dari mulutnya.
"Entahlah, biarkan saja." Sahut Zelene, santai. Ia tidak terlalu memikirkan konsekuensi dari tindakannya barusan.
Mereka berjalan menuju ruang penandatanganan di kamar 304.
"Kita sudah sampai!" seru Hanna yang berdiri di depan pintu kamar 304. Hanna mengetuk pintu yang sesaat kemudian terbuka untuk mereka.
Di dalam sana terlihat pria tambun yang mengenakan kaca mata minus tersemat rapi melingkari kedua matanya, ia duduk di sofa kulit sedari tadi telah menunggu kedatangan peran utama wanita. Semburat di wajahnya yang memiliki kerutan tipis, berseri mendapati sosok ramping di depan pintu.
Zelene mengambil langkah memasuki ruangan, ia menundukkan kepalanya memberi salam pada pria tambun yang kini berdiri di hadapannya.
"Akhirnya kau datang, Zelene."
"Maaf, telah membuat Anda menunggu, Sutradara Long. Tadi, ada sebuah kejadian yang tidak menyenangkan di bawah." Kata Zelene, memberi alasan keterlambatannya. Ia kemudian duduk di sofa berseberangan dengan Sutradara Long, sementara Hanna dan Xu Mo berdiri di sampingnya.
"Oh, kejadian seperti apa?" tanya Sutradara Long penasaran. Mungkinkah para artis mengganggunya karena iri pada kemampuan Zelene yang tidak mereka miliki.
"Sebenarnya tidak terlalu penting, aku hanya bertemu dengan orang-orang pencari perhatian, mereka berada di mana-mana seperti lalat."
Sutradara Long duduk dengan santai menyimak ucapan Zelene, sepertinya ia mengerti apa yang Zelene maksud. "Begitu, ya, abaikan saja orang-orang seperti itu. Mereka hanya iri dan suka mengganggu, " ia menyodorkan sebuah dokumen pada Zelene, "bacalah."
Zelene mengambil dokumen dari tangan sang sutradara, lantas membaca setiap paragraf dengan saksama. Setelah selesai dengan bacaannya, ia mengambil pulpen, membubuhkan tanda tangannya di atas kertas putih di atas meja kaca.
Zelene tersenyum hangat laksana sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kaca yang tertutup, membuat ruangan ber-AC seketika menghangat. "Terima kasih atas kepercayaan Anda Sutradara Long. Aku tidak akan mengecewakan Anda."
"Baik, Sutrada Long! Kalau begitu, kami akan pergi sekarang, sekali lagi terima kasih." Zelene beranjak dari tempatnya, menebarkan senyum cerah yang ia tinggalkan di ruangan itu.
Sesaat setelah mereka keluar dari ruangan, sosok wanita berpakaian rapi seperti seorang staf, gelagatnya sedikit malu-malu ingin menyapa Zelene. Lalu, dia membuka mulutnya perlahan. "H-halo, Kak Liang." Wanita itu menunduk, dia mengigit bibir bawahnya setelah menyapa Zelene.
"Siapa kau?" tanya Zelene dengan nada pelan. Zelene mengamati wanita di depannya, usianya kira-kira 25 tahun-an. Mungkinkah seorang penggemar?
Wanita yang tadinya menunduk, tiba-tiba mendongakkan kepala, mendengar suara halus Zelene. Matanya dipenuhi tekanan bertemu dengan mata jernih milik Zelene; entah kenapa dia merasa seperti ter-intimidasi hanya dengan berdiri beberapa saat di hadapan Zelene.
"I-Ini ...." Dia dengan ragu menyerahkan sepucuk surat, tergenggam di tangannya yang bergetar saking gugupnya.
Zelene meraih kertas yang sudah sedikit lecek dari tangan wanita itu, namun belum sempat Zelene menanyakan maksud dari sepucuk kertas di tangannya; wanita itu sudah pergi dengan tergesa-gesa seperti dikejar oleh anggota kepolisian.
"Bodoh!" seru Zelene. Ia membaca tulisan yang terdapat dalam kertas lecek di tangannya, "apa dia ingin membodohi ku? Lihat ini, Kak." Zelene menyerahkan kertas itu pada Hanna.
"Mari bertemu di atap gedung, pengirim: Direktur Ming." Hanna mematung sejenak, "apa maksudnya ini? Apakah wanita tadi, bawahan Direktur Ming?" Hanna sangat bingung dengan isi surat itu, untuk apa Direktur Ming mencari Zelene? Dia salah satu Direktur mesum yang sudah terkenal dikalangan selebritas.
"Wanita tadi terlihat sangat gugup, mencurigakan ...." Jari telunjuk Zelene menyentuh bibirnya, menyiratkan ia sedang berpikir. Dari perilaku wanita tadi yang sedikit malu-malu, jemari serta bibirnya nampak sedikit bergetar; mungkinkah sebenarnya wanita itu ketakutan, akankah sepucuk surat ini menjadi sebuah jebakan untuknya? Atau si mesum tertarik padanya?
"Apa kamu akan menemuinya? Lene, bisa saja ini sebuah jebakan. Paparazi ada di mana-mana, sebaiknya ...." Hanna menggeleng-gelengkan kepala.
"Mari kita lihat sebentar, Kak. Jika memang ada yang ingin bermain denganku, mengapa tidak?" ucapnya dengan mata cerah di barengi seringai tipis. Setelah insiden di lobi, kini ia kembali tertantang, jika memang sebuah jebakan; ia harus menampar mereka terlebih dahulu sebelum mereka dapat menyentuhnya. Setelah berpikir untuk beberapa saat, Zelene melirik Xu Mo dengan senyum iblis.
Xu Mo merinding, menciutkan dirinya di sebelah Hanna. "Uhh! Kakak, aku sudah sangat sering melihat senyum iblismu itu. Kamu akan mengorbankanku lagi, 'kan?" Xu Mo menggerutu. Sudah menjadi hal biasa yang dikatakan Xu Mo tentang mengorbankan dirinya untuk keamanan Zelene.
"Hehehe ...," Zelene terkekeh, "katakan apa yang Xu Mo kami inginkan?"
"Hpmh! Akan kuminta nanti, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Xu Mo, kesal. Ia memutar bola matanya menunjukkan kemarahan yang ia rasakan. Meskipun begitu, ia tetap membantu Zelene dengan segenap hati.
πππ
Di atap gedung
Laki-laki berambut hijau tua berdiri tegak membelakangi pintu atap gedung. Penampilannya sangat rapi terkesan seperti seorang pebisnis kaya, namun ia hanyalah seorang Direktur yang masih bekerja di bawah seseorang. Meskipun demikian, pengaruhnya di industri hiburan begitu penting bagi artis-artis pendatang baru mau pun senior yang ingin mencapai ketenaran dalam sekejap.
"Hm ..., Zelene Liang, ada apa dia ingin menemuiku? Apa mungkin dia terpikat oleh ketampananku? Hohoho ..., Kalau begitu malam ini...," Pupil matanya melebar hanya karena memikirkan Zelene yang ingin menemuinya, pikirannya sudah melayang jauh. Ia mengusap-usap tangannya tidak sabar ingin bertemu wanita cantik seperti Zelene.
Tak-tak-tak.
Suara hak tinggi berdetak merdu di lantai atap gedung, pembawaannya sangat anggun dan lembut terdengar di telinga laki-laki itu.
"Direktur Ming." Suara manis nan menghanyutkan menyapa lelaki yang sedikit menggerakkan badannya.
πBersambungπ
Terima kasih untuk 100 list favoritnya.