My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Keluarlah!



Setelah menyelesaikan urusannya dengan Duan Che, Tony Huo berdiri di balkon ruang belajarnya. Menghirup udara malam, membiarkan angin malam itu menyapa rambutnya yang telah mengering.


Aroma lemon menguar masuk ke indra penciumannya berkat hembusan pelan dari angin. Tony Huo menghirup aroma itu dalam-dalam, dan merasakan kehadiran Zelene Liang di sampingnya. Mungkin saat ini wanita itu tengah tertidur pulas di kamar mereka.


Tony Huo sengaja memakai shampoo milik Zelene Liang agar ia bisa mencium aroma tersebut yang selalu berada disisinya.


Tidak menunggu lagi, Tony Huo beranjak dari tempatnya berdiri menuju pintu keluar. Sudah sangat larut ketika ia melihat arlojinya. Saat ini Zelene Liang pasti tertidur lelap, langkah Tony Huo berhenti ketika sudah berada di depan pintu kamar utama. Ia membuka kenop pintu yang tidak dikunci dan masuk ke dalam ruangan yang masih terang karena Zelene Liang tidak mematikan lampunya.


“Zele, kamu sudah tidur?”


Zelene Liang tidak menyahut, nampaknya wanita itu sudah tertidur pulas di bawah hangatnya selimut yang membungkus dirinya. Pandangan Tony Huo teralihkan pada pintu balkon yang masih terbuka, dia melangkah cepat dan menutup pintu tersebut. Tidak membiarkan angin masuk ke dalam, tetapi sesuatu menghentikan pergerakannya karena sesosok merah tertangkap oleh netranya.


Tony Huo keluar dan melihat ke sekitar tidak ada sosok merah yang ia lihat tadi. Ia kembali masuk ke dalam dan mengunci rapat-rapat pintu balkon lantas menarik tirainya.


Segera dia memanggil butler Kim karena merasa khawatir akan keselamatan Zelene Liang. Tidak mungkin sosok merah yang melintas tadi adalah orang yang dilihatnya dalam rekaman barusan.


Bagaimana mungkin perempuan itu bisa masuk ke taman kediamannya, sedang kediamannya sendiri dijaga dengan ketat?


“Tuan Muda memanggil saya?” butler Kim tengah berdiri di depan pintu kamar utama.


“Iya,” sahut Tony Huo seraya membuka pintu kamar. “Aku sudah menyuruh Duan Che untuk memperketat keamanan mansion. Tambah penjagaan menjadi dua kali lipat dan jika ada yang aneh, segera beritahukan padaku.” titahnya tanpa basa-basi.


“Baik, Tuan Muda. Masih ada lagi yang Anda inginkan?” butler Kim memastikan jika ada sesuatu yang dibutuhkan oleh Tony Huo. Dia tidak heran jika Tony Huo semakin memperketat keamanan mansion demi keamanan istrinya. Takutnya kalau pembunuh Maureen Lee sedang mengawasi Zelene Liang saat ini karena kemungkinan itu akan selalu ada.


“Lihat seluruh rekaman CCTV yang ada di kediaman ini sekitar setengah jam yang lalu dan sampai saat ini. Segera beritahu aku jika ada yang mencurigakan.”


“Baik, kalau begitu saya akan periksa sekarang.”


Tony Huo kembali masuk ke dalam kamar, menutup kamar utama lantas menguncinya. Ia berjalan ke arah tempat tidur, lalu naik ke atas ranjang dan perlahan merebahkan dirinya di sebelah Zelene Liang. Perlahan agar wanita itu tidak terbangun dari tidur lelapnya.


Sebelum ia memejamkan mata, tidak lupa memberikan kecupan hangat di dahi Zelene Liang.


“Sudah. Tidurlah lagi, sudah larut malam.” Memeluk Zelene Liang dengan erat dalam dekapannya. Sekali lagi Tony Huo mendaratkan ciuman. Bukan di dahi Zelene, melainkan pada bibir penuh milik wanita itu.


“Kamu yang membangunkanku tengah malam begini.” Dengan gemas Zelene Liang mencubit pinggang Tony Huo sampai-sampai menggelinjang.


“Aw! Hentikan Zele, kamu akan memancaingku.” Nada seram melebih-lebihkan terdengar dari ucapan Tony Huo ketika ia meraih tangan Zelene Liang. “Aku bisa menyakiti kakimu nanti. Jadi diam dan tidurlah.”


Karena tangannya di cekal, dan tubuhnya didekap oleh Tony Huo serta kakinya juga masih sakit mengakibatkan Zelene Liang tidak dapat melawan dan perlahan memejamkan matanya.


🍁🍁🍁


Keesokan pagi, mereka bangun bersama. Zelene Liang dibantu oleh Qin Zhuo An ketika dia mandi, sedang Tony Huo menunggunya dengan sabar agar mereka bisa sarapan bersama sebelum ia pergi ke kantor.


Duduk di sofa sembari menyimak tablet PC di tangannya, dan sesekali menoleh ke arah kamar mandi dengan sabar menunggu Zelene Liang. Takut kalau-kalau Zelene berteriak kesakitan. Oleh karena itu, Tony Huo tetap berada di kamarnya.


Beberapa menit kemudian Qin Zhuo An mendorong kursi roda Zelene Liang keluar dari kamar mandi di bantu oleh dua pelayan lainnya.


“Kalian sudah boleh keluar.” Perintah Qin Zhuo An pada kedua pelayan tersebut yang langsung mengambil langkah keluar dari kamar utama.


“Tuan Muda, Nyonya akan berganti pakaian sekarang. Apakah Anda akan tetap di sini?”


“Tentu saja. Kalian tidak perlu menghiraukanku.” Memasang wajah datarnya, Tony Huo masih tetap memperhatikan tablet PC di tangannya.


“Keluarlah!”


Ketika satu kata itu terlontar dari bibir Zelene Liang, Tony Huo menoleh dan menatapnya dengan intens. “Tidak akan.” Ucapnya ngotot dan tetap memaku di tempatnya.


🍁Bersambung🍁