My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Jika aku menghilang apakah kamu akan sangat sedih?



Zelene Liang merasa kaget akan dekapan hangat dari Tony Huo yang tiba-tiba. Namun, beberapa saat kemudian Zelene Liang membalas pelukan Tony Huo. Dia mengulas senyum hangat karena baru pertama kalinya sejak mereka menikah, Tony Huo langsung melayangkan pelukan hangat ketika pulang kerja.


“Wah, kalian ini, manis sekali.” Mata Nan Si Yue berbinar melihat keduanya yang sangat mesra. Dalam benaknya, dia sudah bisa membayangkan dan mendengarkan suara tangisan bayi akan mewarnai mansion ini secepatnya. Setelah Zelene Liang sembuh nanti, dia akan merencanakan bulan madu untuk mereka. “Ehem, jika kalian sudah selesai. Akan lebih baik kalau kalian kembali ke kamar dan menunggu makan malam. Lagi pula, dalam keadaan seperti ini, Zelene juga tidak bisa berada di dapur lama-lama.”


Perkataan Nan Si Yue di dengar oleh keduanya, mereka saling melepaskan pelukan setelahnya. Wajah Zelene agak merah karena Tony Huo tidak melepaskan pandangan mata darinya.


“Maaf, Mom, aku tidak bisa membantu banyak.” Kata Zelene Liang dengan nada agak sedih.


Seharusnya dia bisa membantu membersihkan sayur, tapi kehadiran Tony Huo malah membuat kebersamaan mertua-menantu itu menjadi terhenti.


“Tidak apa-apa, sayang,” Nan Si Yue mengelus pucuk kepala Zelene Liang dengan lembut.


“Ibu, apa aku mengganggu kebersamaan kalian? Hum, bukankah kalian sudah bersama-sama sejak tadi pagi?”


Nan Si Yue menatap malas pada Tony Huo. Dia senang kalau putra dan menantunya bisa harmonis seperti sekarang ini, tapi dia juga ingin melakukan hal seperti mertua-menantu kebanyakan seperti memasak bersama, shopping dan jalan-jalan. Namun, masih ada banyak kesempatan di lain hari ketika Zelene Liang sembuh nanti. Untuk sekarang ini, lebih baik memupuk hubungan keduanya agar lebih dekat lagi, dan tidak lama lagi suara tangisan bayi akan didengar oleh semua orang di kediaman Huo.


“Hmph!” Nan Si Yue melengos, dia melanjutkan kembali pekerjaannya yang barusan tertunda. “Bawa menantuku ke atas. Aku akan memanggil kalian kalau makan malam sudah siap.”


“Baiklah,” Tony Huo meraih pegangan kursi roda dan bersiap mendorong kursi roda tersebut. “Kami ke atas, Bu.”


“Hm.”


🍁🍁🍁


“Ada apa hari ini denganmu? Wajahmu nampak khawatir ketika memelukku tadi?”


“Aku khawatir karena tidak melihatmu saat aku masuk tadi, dan aku juga tidak melihatmu di kamar.” Ia berkata dengan nada sendu yang belum pernah di dengar oleh Zelene Liang sebelumnya. “Kupikir kamu menghilang, hehehe.” Tony Huo terkekeh, ia mendudukkan dirinya dengan santai di tepi ranjang dan mengamati wajah Zelene Liang yang tidak dia lihat seharian ini.


Meskipun, Tony Huo sedang tertawa, tapi tawanya tetap terdengar sendu di telinga Zelene Liang.


Telapak tangan Zelene Liang perlahan menggapai pipi Tony Huo. Dia memindai wajah pria itu. Diperhatikannya dengan saksama, wajah itu sangat halus, pori-porinya tertutup, hidung mancung juga matanya yang dalam. Membuat Zelene Liang ingin berlama-lama menatap Tony Huo.


“Ada apa? Kamu merindukanku, Zele?”


Tony Huo meraih tangan Zelene Liang, lalu mencium punggung tangannya beberapa kali.


“Jika aku menghilang apakah kamu akan sangat sedih?”


Ketika mendengar kabar bahwa kakeknya akan datang ke Imperial City, sejak tadi meski dia tertawa dan nampak bahagia dengan Nan Si Yue, tapi dalam hatinya ada kekhawatiran yang dirasakan oleh Zelene Liang. Tony Huo belum mengetahui hal ini dan dia merasa sangsi untuk memberitahunya.


Zelene Liang sedang mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Tony Huo. Lagi pula perasaan Tony Huo padanya belumlah menemui titik terang, dia masih belum mengetahui apakah dia ada di hatinya atau tidak?


Kalau memang tidak ada dalam hati pria itu, tidak mungkin Tony Huo menjadi sangat takut hanya karena tidak menemukan dirinya. Dia juga merasa sangsi jika harus bertanya pada Tony Huo, sedang dia sendiri juga belum bisa menjawab jika ditanyai hal serupa. Maka dari itu, dia akan menunggu waktu yang tepat, mungkin ketika kakeknya datang nanti karena Zelene Liang sendiri tidak dapat menghentikan kakeknya.


“Mengapa bertanya seperti itu? Dasar bodoh! Aku suamimu dan teman hidupmu untuk selamanya. Bagaimana mungkin aku tidak sedih kalau kamu menghilang?” Tony Huo meletakan tangan Zelene Liang pada dagunya dan ia pura-pura berpikir, “tapi, di luar sana sangat banyak wanita yang menginginkanku, kalau kamu menghilang mereka pasti akan mengerumuniku. Apakah kamu akan membiarkan hal itu terjadi?”


Bibir mungil Zelene Liang, mengulas sebuah senyum hangat, “Akan aku biarkan saja.” Ujarnya dengan nada bercanda. Kemudian dia menatap Tony Huo dengan wajah seriusnya dan berkata penuh penekanan, “Tony Huo, aku tidak suka di bohongi. Aku harap kamu tidak akan pernah membohongiku dikemudian hari.”


...🍁Bersambung🍁...