
"Sepertinya CEO Huo sangat terburu-buru. Maaf atas keterlambatanku." Chairman Lee berhenti di depan Tony Huo. Dia segera mengulurkan tangan dan dibalas oleh Tony Huo.
Karena Chairman Lee lebih tua dari Huo Tian— dan ayahnya juga menghormatinya, maka Tony Huo cukup menghormati orang tua ini. Meskipun dalam hatinya ia cukup kesal menunggu selama 5 menit saja. Bukan karena itu saja, mood Tony Huo cepat berubah hari ini disebabkan oleh pertemuannya dengan Lana Wei pagi ini.
"Silahkan duduk, Chairman Lee. Aku sedang sibuk, berkas di mejaku masih menumpuk dan harus aku tinjau sesegera mungkin." Tony Huo berucap tanpa memikirkan perasaan orang tua itu. Ucapannya menandakan bahwa ia sangatlah sibuk dan tidak ada waktu untuk berbasa-basi mengenai hal-hal sepele.
"Haha," Chairman Lee tertawa renyah. Dia melirik gadis manis di sebelahnya. "Sebelum itu, perkenalkan dia adalah cucuku, Maureen Lee." Lantas kembali mengarahkan pandangannya pada Tony Huo.
Tersenyum malu-malu, Maureen Lee menundukkan kepalanya sejenak, kemudian mengulurkan tangan ke arah Tony Huo. Dia memiliki senyum manis dengan lesung bibir. Matanya cukup jernih saat binar mata itu tak hentinya menatap Tony Huo dengan kagum.
"Aku, Maureen Lee."
Tony Huo hanya menatap tangan gadis yang mengambang di udara tersebut. Belum ada keinginan untuk menjabatnya. Sampai Chairman Lee berdehem, barulah Tony Huo mengulurkan tangan guna menjabat tangan Maureen Lee. Tatapan pria itu datar ketika pandangannya bertemu dengan Maureen Lee.
"Tony Huo." Beberapa detik menjabat tangan Maureen Lee, Tony Huo langsung duduk di kursinya. Diikuti oleh keduanya.
Maureen Lee sengaja memilih tempat duduk di sebelah Tony Huo. Gadis dalam balutan gaun sifon berwarna merah jambu itu melirik Tony Huo melalui ekor matanya.
"Mari pesan makanan lebih dulu. Haha~" Chairman menatap Tony Huo dan Maureen Lee secara bergantian. Dalam benaknya mereka adalah pasangan yang serasi, mulai dari penampilan, wajah serta kekayaan. Mereka sangat cocok satu sama lain. Dia mengangguk pelan dalam imajinasinya. Bukan hanya untuk berbicara masalah bisnis, namun tujuannya juga memperkenalkan Maureen Lee kepada Tony Huo. "Kalian berdua santai saja. Mengapa terlihat begitu canggung?" mencoba menggoda keduanya dengan candaan, tetapi malah mendapatkan tatapan tidak senang dari Tony Huo.
"Canggung?" Tony Huo tersenyum miring. Ia tentu telah mengetahui maksud dari pak tua itu, dengan sengaja membawa cucunya agar bisa berkenalan dengannya. "Mengapa Anda bisa berkata seperti itu? Aku bahkan tidak memperhatikan cucumu." Ucapan menusuk Tony Huo sudah cukup membuat pasangan kakek-cucu itu cukup tercengang. Tony Huo memang menghormati Chairman Lee, namun bukan berarti ia harus menghormati cucunya juga.
"Ehem, kau terlalu serius, CEO Huo. Aku hanya bercanda, tetapi sepertinya Maureen cukup sedih dengan ucapanmu tadi. Dia gadis yang berhati lembut dan tidak bisa mendengar ucapan sarkas." Menepuk bahu cucunya, Chairman Lee memiliki tatapan iba. "Maafkan kakek, sayang, karena bercanda kelewatan." Dia menghela napas merasa bersalah akan ucapannya barusan. Akan tetapi ekspresinya segera berubah ketika dia memilih menu makanan. Ekspresi tidak senang samar terlihat dari Chairman Lee, tidak ada yang menangkap ekspresi tersebut.
"Tidak apa-apa, Kakek. CEO Huo mungkin dalam mood yang buruk hari ini. Nampak dari wajahnya, dia terlihat cukup kesal." Terlihat santai dalam menghadapi penolakan dari Tony Huo. Maureen Lee berinisiatif memilihkan menu makan siang untuk mereka.
Tony Huo melirik arlojinya, dan bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah Zelene Liang juga telah makan siang? Di mana kiranya wanita itu makan siang dan bersama siapa? Tony Huo tidak memperhatikan kedua orang yang asik memilih menu makanan, ia malah sibuk memikirkan istrinya.
🍁🍁🍁
Di dalam bangsal yang mana Laura Ji dirawat. Wanita itu termenung di atas ranjang rumah sakit. Tatapan matanya sangat kelam, dia melihat ke arah luar jendela. Mengingat kembali ketika dia ditikam Oleh wanita bernama Yan Li. Laura Ji bergidik hanya membayangkan wajah Yan Li—wanita itu amat bengis dan tak kenal ampun saat melukai musuhnya. Beruntung Laura Ji bisa melarikan diri karena cukupnya pelatihan yang dia jalani selama ini. Kalau tidak, mungkin saja dirinya telah menjadi mayat dan Lira Ji tidak akan ada yang merawat.
Laura Ji menggeleng. "Tidak ada. Bagaimana keadaan Kakak?" dalam keadaan apa pun dia masih tetap memikirkan Lira Ji—satu-satunya saudari yang dimilikinya.
"Tidak perlu mengkhawatirkan Kakakmu. Pikirkan saja kesehatanmu." David Ji memakan apel di tangannya. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela memandang jauh ke luar sana. "Apakah kau tahu siapa yang menyelamatkanmu?" nada serius terdengar dalam pertanyaan David Ji. Pria tambun itu membuang sisa apel yang dimakannya barusan.
Tentu saja Laura Ji kembali menggeleng. Saat itu dia sudah pingsan, bagaimana mungkin dia mengetahui orang yang menyelamatkannya? "Dari nada Paman, sepertinya orang yang menyelamatkanku, bukanlah orang sembarangan."
"Hm," David Ji mengangguk. Dia membawa tangannya ke belakang, mengalihkan pandangannya pada Laura Ji yang memiliki wajah penasaran. "Zelene Liang." Ucapnya singkat.
Laura Ji mengerutkan kening. "Zelene Liang?" dia mengulangi menyebutkan nama Zelene Liang. "Bukankah dia aktris terkenal itu?" dia tertegun lantaran aktris terkenal seperti Zelene Liang repot-repot menyelamatkan dirinya. Dia berpikir untuk berterimakasih pada Zelene Liang ketika dirinya keluar dari rumah sakit nanti.
"Benar. Tapi ...," sengaja memotong ucapannya sendiri. David Ji menghela napas sejenak sebelum kembali berkata, "aku sudah berterimakasih padanya dan, dia merupakan istri dari Tony Huo. Aku bertemu dengan mereka di koridor rumah sakit kemarin."
🍁🍁🍁
Sementara itu, di waktu yang sama. Zelene Liang berserta rombongannya telah berada di kamar VIP—di Royal Restoran. Kamar tersebut bersebelahan dengan kamar VIP yang tempati oleh Tony Huo dan Chairman Lee.
Keduanya tidak saling menghubungi setelah kebohongan tadi pagi. Apalagi Zelene Liang penasaran, namun merasa enggan untuk menghubungi Tony Huo kembali. Saat ini air mukanya sangat membosankan. Dia tidak fokus memakan makan siangnya sehingga potongan daging dari garpunya terjatuh sehingga mengenai gaunnya.
"Apakah kau baik-baik saja? Kau ... nampak lelah hari ini." Tanya Xie Yu Fan yang memperhatikan Zelene Liang sedari tadi. Pria itu tidak melepaskan pandangannya dari Zelene Liang karena wanita itu sama sekali tidak berbicara ketika mereka sampai di Royal Restoran. Jadi dia merasa heran dengan kemurungan dari Zelene Liang yang biasanya memiliki mimik angkuh dan ceria. Sementara Huang Fu Lie hanya memberikan tatapan datar, tidak begitu peduli dengan makhluk-makhluk yang berada satu meja dengannya.
Zelene Liang berdecak kesal. "Tidak apa. Aku akan ke kamar mandi, kalian lanjutkan saja." Dengan malas Zelene Liang berdiri dari duduknya, melangkahkan kaki ke keluar kamar VIP ketika seorang pelayan membukakan pintu untuknya.
"Ahk!" Zelene Liang hampir saja berteriak kesal. Tapi dengan cepat dia memperbaiki mood-nya, meskipun agak susah. Dia mengepalkan jemari tangannya agar tidak terbawa suasana hati yang sedang kesal. "Benar-benar menyebalkan!"
"Bisa bicara sebentar, Nona Liang?!" suara asing menyapa di belakang Zelene Liang.
🍁Bersambung🍁