
Setelah menyelesaikan makan malam; Zelene Liang pergi ke kamarnya, sementara Tony Huo kembali ke ruang belajar dan menyelesaikan sisa pekerjaannya.
Sudah dua jam berlalu sejak makan malam dan pria itu tetap setia menatap dokumen-dokumen di atas mejanya. Sekitar lima dokumen belum tersentuh olehnya, jadi malam ini Tony Huo berniat menyelesaikannya sekaligus karena tadi pagi dan tadi siang pula pekerjaannya terhambat oleh Nan Si Yue dan Zelene Liang.
Tony Huo menoleh ke arah pintu ketika terdengar ketukan di sana. Ia menghentikan gerakan tangannya dan bertanya, "Siapa?"
"Ini saya, butler Kim."
"Masuklah." Pinta Tony Huo.
Pintu tersebut dibuka oleh butler Kim dan diikuti oleh seorang pelayan perempuan yang membawa sebuah nampan berisi teko teh di atasnya. Mereka berdua masuk perlahan menuju ke depan meja Tony Huo.
"Tuan Muda, harusnya Anda beristirahat. Mengapa masih berkutat dengan dokumen-dokumen itu? Saya memang tidak punya hak untuk melarang Anda, namun Nyonya Huo telah memperingatkan agar Anda beristirahat." Butler Kim menghela napas karena Tony Huo masih saja bekerja hingga malam, meski telah memutuskan untuk mengambil cuti. Cuti apa? Dia tidak bisa diam dalam sehari saja jika tidak membaca dokumen-dokumen itu.
Dokumen di meja Tony Huo masih terbuka dan ia membiarkannya bersama bolpoin yang baru saja ditaruhnya. Ia dengan perlahan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Jangan terlalu khawatir, butler Kim, aku tidak akan pingsan hanya dengan meninjau dokumen-dokumen ini dan sakit kepalaku juga sudah agak membaik. Ibu juga tidak akan tahu, jika seseorang tidak dengan sengaja memberikan laporan padanya." Sindir Tony Huo.
"Cough!" butler Kim terbatuk, rupanya sindiran Tony Huo menikam tepat mengenai ulu hatinya.
Butler Kim lantas mengambil nampan di tangan pelayan itu dan menaruhnya di meja Tony Huo. Dia meraih teko teh yang terbuat dari keramik dengan motif bunga lotus merah di kedua sisi teko tersebut, kemudian menuangkan teh ke dalam cangkir dengan cekatannya.
Ditaruhnya kembali teko keramik tersebut dan cangkir yang telah terisi teh dibawanya ke depan Tony Huo.
"Silahkan nikmati teh Anda, Tuan Muda, dan beristirahatlah setelah ini karena sewaktu-waktu Nyonya Huo bisa saja menelepon." Ucap butler Kim membalas sindiran Tony Huo. "Uhm, apa perlu saya menemani Anda di sini agar Nyonya Huo bisa berbicara langsung dengan Anda saat beliau menelepon?" dengan sengaja butler Kim bertanya.
Tony Huo memiliki ekspresi kosong di wajahnya. Dua kali! Dua kali ia merasa dipermainkan hari ini. Pertama istrinya juga telah menyindirnya, sampai-sampai ia membisu tak bisa memberikan tanggapan pada Zelene Liang. Kali ini, dia melampiaskan pada butler Kim, namun dirinya masih tetap kalah. Ada apa dengannya hari ini?
"Kalian keluarlah! Biarkan aku sendiri!" Tony Huo kembali memijat pelipisnya lantaran dirasa kepalanya agak panas. Dalam debat sekalipun dengan pimpinan dari perusahaan asing, dirinya tak pernah kalah dan hari ini dia berpikir bahwa, dirinya kurang beruntung saja.
Tony Huo menghela napas berulang kali, dia melihat teh di mejanya dan mengambil cangkir teh tersebut. Cangkir itu didekatkan ke bibir tipisnya dengan santai dia menyesap teh beraroma terapi yang perlahan menenangkan pikirannya. Butler Kim sungguh tahu apa yang dibutuhkan oleh Tony Huo.
🍁🍁🍁
Zelene Liang tengah duduk di meja riasnya setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi beberapa menit yang lalu. Dia menepuk-nepuk wajahnya, lalu mengaplikasikan perawatan wajah. Zelene Liang memiliki pipi tirus dan dagu lancip, pun kulit wajahnya sangat kenyal dan halus.
Tanpa sengaja ia menoleh ke arah jam dinding, lalu mengarahkan pandangannya ke pintu.
"Pria itu masih bekerja rupanya. Tidak heran jika dia bisa mendapatkan posisi CEO dalam beberapa tahun, ternyata dia sangat giat bekerja. Atau bisa disebut sebagai penggila kerja? Tidak, dia lebih cocok dikatakan sebagai tambang emas. Hahaha," Zelene terkekeh dengan nama julukan baru yang dibuatnya untuk Tony Huo. "Tambang emas." Ucapnya sekali lagi.
"Tambang emas?" suara rendah dari ambang pintu yang mengulangi ucapan Zelene membuat wanita itu seketika terdiam.
"Tony Huo."
Zelene Liang berdiri dari duduknya dengan reaksi kaget saat Tony Huo melangkah masuk. Pria itu berjalan melewatinya dengan lirikan dan seulas senyum—entah apa arti di balik senyum tiba-tibanya.
"Siapa tambang emasmu? Bukannya keluarga Liang sendiri sudah merupakan tambang emas, apa kamu masih membutuhkan tambang emas?" Tony Huo bertanya meledek.
Tangan Zelene Liang bertumpu pada meja rias dan ia tersenyum memaksa. "Bukan apa-apa. Aku hanya teringat pada sebuah dialog yang pernah kuucapkan."
Dahi Zelene berkerut dan saat ini, ia hanya memakai jas mandi berwarna putih—membungkus tubuhnya hingga ke bawah lutut. Zelene menjauhkan kepalanya ke belakang, sorot matanya penuh tanya, mengapa pria itu mengamati wajahnya dengan ekspresi penasaran? Dia baru saja selesai memakai perawatan malam untuk kulitnya, tidak mungkin sesuatu yang aneh akan menempel di wajahnya, 'kan?
"Tony Huo, bisakah kamu tidak menatapku seperti itu?! Apakah sekarang kamu sedang menggodaku?"
Tony Huo sempat membeku sesaat karena ia tanpa sadar memperhatikan Zelene Liang—yang sesungguhnya sedang menatap penuh tanda tanya pada dirinya. Ia segera mengalihkan pandangannya dan mengakhiri kecanggungan yang dirasakannya.
"Aku hanya sedang memperhatikan wajah tanpa daging itu, jangan berpikir berlebihan, Zelene Liang. Aku akan mandi." Pria itu berucap dengan nada datar, kemudian mempercepat langkah menuju kamar mandi.
"Wajah tanpa daging?!" geram Zelene.
Meskipun, pipi Zelene Liang agak panas, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu kembali terduduk di depan meja riasnya. Terlihat dengan jelas pantulan wajahnya yang memerah pada cermin. Dia menepuk-nepuk wajahnya pelan seperti sebelum mengaplikasikan tonic pada kulit wajah mulusnya. Yang lebih tak karuan lagi, dada Zelene berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Ada apa denganku? Seperti sesuatu sedang menyeruak masuk ke dadaku." tanyanya pada pantulan dirinya di cermin.
🍁🍁🍁
Beberapa menit kemudian, Tony Huo belum juga selesai mandi, sementara Zelene Liang sedang mondar-mandir di dalam kamar megah tersebut. Malam ini apakah mereka akan tidur satu kamar atau dia harus pindah ke kamar lain? Saat itu, Zelene menggigit kukunya dan terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan seorang pria jangkung keluar dari dalam sana dengan rambut setengah basah.
Tatapan mereka tak sengaja bertemu, Tony Huo segera mengalihkan pandangannya, meskipun demikian tidak dengan Zelene yang masih mempertahatikan pria itu.
Tony Huo sendiri merasakan tatapan tersebut dan ia bertanya, "Ada yang ingin kamu katakan?"
"Uhm, itu, jadi—"
"Jangan bertele-tele Zelene Liang, katakan saja."
"Mungkinkah kamu akan tidur di kamarku lagi?"
Tony Huo menoleh pada Zelene, "Apa maksudmu dengan kamarmu? Ini kamarku dan sejak awal memang kamarku."
Zelene duduk di tepi ranjang dan meletakkan tangannya di depan dada. "Sekarang merupakan kamarku." Ia berucap dengan nada datar sama seperti tatapan datar pada mata almond itu.
"Lalu apa maumu?" Tony Huo bertanya, geram.
"Kamu pindah kamar saja. Aku akan tidur di sini, aku sudah terlalu nyaman di sini dan tidak mungkin aku akan pindah dari kamar ini."
Tony Huo menghela napas sejenak. "Ya, sudah, kita tidur bersama di sini karena tidak mungkin aku tidur di kamar tamu, sementara aku pemilik dari kamar ini."
Zelene Liang membeku. Tidur bersama?
"Kenapa? Takut aku akan menyentuhmu? Hmph! Jika aku memang ingin menyentuhmu, tadi malam kamu pasti sudah tidak utuh lagi. Aku tidak tertarik dengan tubuhmu itu, Zelene Liang."
Zelene Liang bahkan tidak berpikir sampai di sana, namun Tony Huo sudah menusuknya dengan ucapan tajamnya. Entah mengapa hati Zelene terasa seperti tertusuk? Sesuatu yang tak menentu hinggap ke dalam relung hatinya. Apakah dia terluka karena sebuah penolakan, bahkan tanpa Zelene inginkan?
🍁 Bersambung🍁