
"Kamu sendiri yang berkata bahwa semua itu hanya rumor, bukan? Lalu mengapa masih menyebut Xie Yu Fan sebagai kekasihku? Hm ...?" tanya Zelene dengan santai, setelah ia berhasil menenangkan batinnya dan meredakan rasa malu, meski wajahnya masih terasa agak panas. Ia mencoba agar tidak terlihat malu di hadapan Tony Huo.
"Entahlah, apakah hal itu memang rumor belaka atau sebuah kebenaran, hanya pihak bersangkutan yang mengetahui hal tersebut dengan pasti." Jawabnya sangsi.
Tony Huo menyeringai tajam. Entah pria itu sebenarnya mempercayai Zelene atau lebih percaya pada rumor. Tetapi, tidak semua kegiatan Zelene yang bersangkutan dengan Xie Yu Fan dilaporkan oleh kedua pengawal yang menjaga Zelene. Baru ketika beberapa hari yang lalu sebelum dirinya kembali dari Kanada, Xiao Xuan melaporkan kedekatan istrinya dengan Xie Yu Fan, padanya.
Sekiranya, Zelene Liang mengerti maksud dari perkataan Tony Huo. Pria itu tidak sepenuhnya percaya pada dirinya. "Soal tadi malam bukanlah sepenuhnya kesalahanku. Memang benar karena aku mabuk, jadi tidak sadarkan diri dan mana aku tahu kamu akan datang membantu kami, juga membawaku pulang. Aku tahu kamu tidak akan mudah percaya padaku, tapi aku tidak ingin disalahpahami oleh anggota keluargaku, meski aku sendiri tidak ingin mengakuimu sebagai suamiku." Kata Zelene berterus-terang.
Kelima jari-jari tangan Tony Huo perlahan ia kepalkan. Rahang pria itu terkatup mendengar lontaran Zelene Liang yang amat terus terang di bagian kalimat terakhir. Entah mengapa kalimat terakhir tersebut membuat hati Tony Huo agak gundah. Harusnya dirinyalah yang berkata demikian pada Zelene Liang.
"Bagus! Karena aku juga tidak ingin mengakuimu sebagai istriku, namun tetap saja kita sudah menikah secara sah dan seperti yang aku katakan tadi pagi, tidak ada kontrak dalam pernikahan kita. Maka dari itu, aku pun tak menginginkan anggota keluargaku terkena rumor yang akan mengakibatkan nama baik keluarga Huo ikut terseret." Ucap Tony Huo lugas.
Saat ini pasangan suami istri yang duduk di sofa kamar utama—saling menatap dingin satu sama lain dan ruangan itu hening karena mulut mereka bergeming.
Suara hembusan angin bisa terdengar melalui jendela dan pintu balkon yang terbuka menyebabkan tirai yang menutupi pintu tersebut—melambai-lambai bak sebuah tarian rumba.
AC dalam ruangan itu sengaja tidak dinyalakan karena Tony Huo lebih menikmati hembusan angin segar yang membawa keharuman bunga-bunga mawar dari belakang mansion tersebut. Kamar utama yang terletak di lantai dua tepat mengarah ke taman mawar, hingga pemandangan indah pada taman tersebut senantiasa memanjakan mata, meski kedua orang itu sedang tidak menikmati pemandangan dan dalam keheningan, namun harumnya berbagai jenis mawar telah menyeruak ke indra penciuman mereka.
Beberapa saat kemudian, Zelene Liang memecah keheningan. "Jadi, kita menginginkan hal yang sama dan aku tegaskan padamu, bahwa aku tidak memiliki hubungan spesial dengan Xie Yu Fan. Kami hanya berteman dan tidak lebih dari itu, lagi pula agensiku akan menangani rumor itu sesegera mungkin hingga tuntas." Tegas Zelene dengan nada serius.
Tunggu sebentar, mengapa aku harus menjelaskan padanya? Toh, dia tetap akan memiliki keraguan padaku.
Zelene Liang memalingkan muka dan perlahan beranjak dari duduknya, namun Tony Huo segera bangkit dan meraih pergelangan tangannya membuatnya seketika menoleh pada Tony Huo.
Sayang sekali, ada batas yang memisahkan mereka, yaitu meja sofa di antara keduanya, kalau tidak Tony Huo pasti sudah menarik Zelene mendekat padanya. Zelene Liang memperhatikan pergelangan tangan yang dicengkeram oleh tangan besar milik pria itu dan berpikir, akankah pergelangan tangannya memiliki bekas memar lagi karena saat ini cengkeraman pada pergelangan tangannya cukup kuat.
"Tony Huo, masih belum jelaskah yang kukatakan barusan?" sorot mata sengitnya, kini di arahkan ke bola mata hitam Tony Huo. "Lepaskan pergelangan tanganku agar tidak ada bekas memar lagi di sana."
Tony Huo melepaskan cengkeramannya dan membalas tatapan sengit wanita itu dengan melunakkan tatapannya sendiri. Dia kembali duduk di tempatnya semula dan jemarinya bermain pada tumpukan dokumen di atas meja sofa, hingga dia menemukan sebuah dokumen dengan map berwarna biru.
"Duduklah. Bukankah kamu ingin tahu dalang di balik para reporter tadi malam?" Tony Huo mengulurkan dokumen di tangan kanannya pada Zelene Liang.
Perempuan dalam foto itu memiliki rambut lurus sepinggang, wajahnya pun sungguh cantik dengan tahi lalat di bagian pipi kirinya.
"Ternyata perempuan ini ...," gumam Zelene. Matanya tidak menunjukkan keterkejutan karena dia sendiri telah menebak-nebak siapa saja yang mungkin ingin menjatuhkannya tadi malam, namun ia tidak berani menyimpulkan dan hanya praduga semata sampai dokumen di tangannya menjadi sebuah bukti, bahwa dalang di balik insiden reporter tadi malam—adalah seseorang yang di kenalnya.
Ya, perempuan dalam foto tersebut tidak lain merupakan Julia Qin yang menantang Zelene minum bersama dengannya.
"Nampaknya kamu tidak terkejut?" tanya Tony Huo santai sembari mengambil dokumen dan bolpoin yang barusan ia telantarkan di atas meja sofa.
"Aku hanya menduga-duga Julia Qin ada di balik insiden ini, tetapi aku tidak memiliki bukti sebelumnya. Oleh sebab itu, aku tidak berani menyimpulkan dugaanku." Dia tersenyum tipis dan ekor matanya agak berkerut. Dipikirnya Tony Huo ingin melanjutkan perdebatan mereka, tapi ia malah salah sangka dan memberi pria itu tatapan sengit. "Terima kasih atas bantuannu tadi malam dan juga ..., sudah menemukan pelakunya."
"Apa yang akan kamu lakukan pada perempuan itu? Apa perlu aku menyuruh Duan Che untuk membereskannya?" tanya Tony Huo dengan nada lunak tidak seperti barusan. Kemungkinan dia sendiri juga tidak ingin berdebat dengan Zelene terlalu lama dan masalah Xie Yu Fan. Jika pria itu benar menganggap Zelene sebagai temannya, maka Tony Huo tidak akan terlalu mempermasalahkan, namun jikalau Xie Yu Fan memiliki keinginan lebih dari itu, tentunya dia akan mengurus Xie Yu Fan dengan caranya sendiri.
Tony Huo menjatuhkan bolpoin di tangan kanannya karena tersentak dengan pemikirannya sendiri dan dia menatap ke arah Zelene Liang untuk beberapa saat. Setelah diperhatikannya baru disadari oleh pria itu, bahwa istrinya cukup cantik dan manis sampai-sampai dia memiliki keinginan untuk memisahkan Zelene Liang dan Xie Yu Fan.
Tony Huo menggeleng dan matanya seketika mengerjap saat Zelene Juga ikut menilik ekspresinya. Dia buru-buru mengalihkan pandangannya ke bawah di mana bolpoinnya terjatuh. Pria itu mengambil bolpoin yang terguling di lantai, lantas membenahi kembali posturnya.
"Aku akan menelepon Kak Hanna dan berkonsultasi dengan agensiku terlebih dahulu, sebelum memutuskan cara yang tepat menghadapi perempuan seperti Julia Qin. Dia ... tidak begitu akur denganku sejak dimulainya syuting, tapi dia tidak pernah bertindak sebelumnya. Mungkin kekesalannya padaku tadi malam sudah berada di ubun-ubunnya." Kata Zelene dibarengi sedikit nada bercanda.
"Terserah kamu saja." Tony Huo membereskan semua dokumen di atas meja tersebut dengan cekatan dan membawanya dengan kedua tangannya. "Aku akan kembali ke ruang belajar dan ingat ... jangan terlalu lunak pada perempuan itu karena kamu sendiri bukanlah tipe yang akan memberikan maaf dengan mudah. Juga, kamu termasuk wanita kejam yang tidak segan memukuli suamimu sendiri." Tony Huo tersenyum mengejek.
Zelene Liang terdiam lantaran ucapan pria itu yang mengingatkannya akan adegan tadi malam yang tidak bisa diingat olehnya.
Sial! Kenapa aku tidak bisa ingat apa pun?! Lagi-lagi pria itu mengejekku! Pekiknya dalam hati.
Dia memperhatikan langkah pria itu menjauh dari sofa dan masih memampangkan ejekan di wajah tampannya. Meski sebenarnya pria itu terlihat dingin di depan orang lain dan di depan dirinya juga, namun sejak pagi tadi, Zelene agaknya melihat samar semburat merah pada wajah itu. Seperti saat ini ekor mata Zelene mengikuti ke arah perginya pria itu—yang membuka pintu sembari melihat ke arahnya.
Tony Huo masih memiliki senyum mengejek di wajahnya dan bibirnya mulai bergerak, "Belum puas melihat wajahku?"
🍁 Bersambung🍁