My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Ayo, jalan



Kursi roda Zelene Liang didorong oleh Maureen Lee melewati koridor rumah sakit sampai tiba di depan lift, diawasi sendiri oleh Tony Huo. Duan Che menekan tombol lift lantas mereka berempat masuk ke dalam sana. Tidak ada hal ganjil yang dilakukan oleh gadis itu terhadap Zelene Liang. Jelasnya Maureen Lee hanya mencari muka agar terlihat lebih rupawan.


“Nona Lee, apakah kau tahu siapa yang telah membuatku menjadi seperti ini?” Zelene Liang bertanya tiba-tiba, membuat Maureen Lee tersentak dan membiarkan punggungnya menabrak dinding lift.


Tentu saja sudah dipastikan gadis itu akan terkejut karena pertanyaan itu seketika terlontar saat mereka baru saja memasuki lift.


Tony Huo dan Duan Che juga sedikit terkejut dengan pertanyaan Zelene Liang, namun Tony Huo tahu kalau dia sengaja mempertanyakan hal tersebut untuk menakut-nakuti Maureen Lee. Senyum dingin nampak tersungging di ujung bibir tipis milik pria itu, menatap lurus ke depan setelah selesai memperhatikan Zelene Liang.


Nampak begitu gugup, Maureen Lee mencengkeram pegangan kursi roda dengan erat. Bibir gadis itu terkatup rapat, dia menggertakan gigi lantaran cukup kesal dibarengi dengan getir atas perbuatannya dua Minggu lalu. Gadis itu masih ingat dengan jelas bagaimana dia menyuruh Song Xi menyabotase sepatu hak tinggi milik Zelene Liang, dan setelah Song Xi tertangkap pun dia mengancam perempuan itu agar mengakui seluruh kesalahan.


“Ah,” Zelene Liang menganggukkan kepalanya. “Aku yang bodoh karena telah bertanya seperti itu. Bagaimana mungkin kau bisa tahu?”


Cengkeraman jemari tangan Maureen Lee semakin kuat, dalam pikirannya saat ini, gadis itu ingin sekali melempar Zelene Liang dari atap gedung atau memberi makan tubuhnya pada singa laut.


“Aku dengar pelakunya adalah salah satu dari kru iklan. Entah dendam apa yang dia miliki padamu sehingga mencelakaimu sampai seperti ini.” Nada iba terdengar jelas dari ucapan Maureen Lee. Akhirnya dia bisa membalas perkataan Zelene Liang.


“Ya, tapi sungguh kasihan karena dia hanya menjadi kambing hitam.” Mendongakkan kepalanya, Zelene Liang mengulas senyum halus menatap kedua manik mata hijau milik Maureen Lee.


Bulir-bulir keringat dingin membasahi dahi Maureen Lee. Gadis itu merasakan sesak di dadanya bagaikan ditekan keras oleh benda berat. Sepertinya Zelene Liang tahu kalau dirinya kemungkinan adalah dalang yang telah membuat kakinya cedera, atau kemungkinan mereka semua telah mengetahuinya, pikir Maureen Lee.


Duan Che yang berdiri di sebelah Maureen Lee, mengukir senyum sinis, sementara Tony Huo tak berkata apa pun dan hanya memberi gadis itu pandangan menghunus. Saat ini Maureen Lee bak berdiri di sebuah perahu es yang bisa tenggelam kapan saja. Gadis itu menggigil bukan karena dalam lift tersebut teramat dingin, melainkan dia telah menyadari sesuatu yang salah dengan keadaan saat ini.


Maureen Lee ingin melarikan diri saat itu juga, dia tidak berani membalas perkataan Zelene Liang, dan hanya bungkam di belakangnya. Sedang Zelene Liang sangat puas membuat Maureen Lee sampai ketakutan.


Pria berambut cokelat itu melemparkan senyum ramah pada penghuni lift yang saat ini keluar satu persatu diawali oleh Tony Huo.


“Selamat siang. Aku tidak tahu kalau hari ini Zelene akan keluar dari rumah sakit. Maaf kalau aku terlambat menjengukmu.” Xie Yu Fan menelengkan kepala, menatap ke arah Zelene Liang yang baru saja keluar dari dalam lift.


“Tidak apa-apa, jangan sungkan.” Balas Zelene Liang melemparkan senyum canggung. Dia mengarahkan pandangan pada Tony Huo yang berdiri di depannya layaknya sebuah perisai. Pada saat itu, dia ingin sekali tertawa lantaran Tony Huo nampak kaku.


“CEO Huo ... juga ada di sini?” secara bergantian menatap Tony Huo dan Zelene Liang.


Xie Yu Fan masih belum mengetahui hubungan antara keduanya. Meskipun Tony Huo senantiasa menjaga Zelene Liang di rumah sakit, namun tak satu media pun yang mendapatkan kabar mengenai keduanya. Bahkan informasi yang didapat oleh Xie Yu Fan tidak seberapa, sehingga hubungan keduanya masih abu-abu dalam pandangan Xie Yu Fan, namun tidak dengan Maureen Lee yang telah mengetahui kebenaran tersebut dari mata-mata milik keluarganya.


“Tuan Xie sepertinya kami harus kembali ke kediaman sekarang juga. Seperti yang dapat kau lihat, Nona Liang saat ini harus banyak istirahat.” Duan Che mengambil alih pembicaraan karena dia tahu kalau atasannya tidak akan menjawab Xie Yu Fan.


Tony Huo lebih memilih untuk bungkam menatap lekat pada Xie Yu Fan.


“Ayo, jalan.” Tony Huo mengambil langkah lebih dulu.


Lantas disusul oleh Maureen Lee masih mendorong kursi roda tersebut, dia menghela napas karena merasa terselamatkan untuk sesaat oleh kehadiran Xie Yu Fan.


🍁Bersambung🍁