My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Hei, Nyonya Huo, aku benar-benar putramu, huh!



"Sudah aku katakan, saat ini aku sedang terburu-buru, jadi ambillah cek ini dan pergi dengan taksi." Ujar Tony Huo dengan nada datar. Ia segera menepis tangan wanita itu dan melangkah ke mobilnya meninggalkan cek tersebut pada wanita itu.


Sudah jam makan siang dan ia belum sampai di Xue Garden. Ia tidak tahu apakah Zelene Liang sudah bangun atau belum. Jadi, selain dengan alasan makan siang, ia juga pulang untuk melihat keadaan Zelene Liang. Hatinya sedang dipenuhi bunga mawar, namun kehadiran wanita muda di tengah jalan yang saat ini masih menangis memandang ke arahnya, membuat mood Tony Huo menjadi buram.


Tony Huo sudah masuk ke mobilnya, sementara perempuan berambut panjang tersebut dengan kaki gontai berdiri di depan mobil Tony Huo.


"Perempuan gila! Kau ingin mati?!" pekik Tony Huo, geram. Ia memukul setirnya dan dengan segera memundurkan mobilnya, kemudian membanting setir ke kiri agar tidak menabrak perempuan itu. Setelahnya, ia melajukan mobilnya ke kembali ke jalan dan meninggalkan wanita itu. Jika tahu akan seperti ini, harusnya ia fokus saat menyetir dan menyingkirkan wajah Zelene Liang untuk sesaat. Perempuan yang tidak dikenalnya itu benar-benar membuatnya kesal.


Sedangkan perempuan dengan balutan gaun biru tua tersebut, tetap berdiri di sana. Air matanya mengalir membasahi pipi putih itu, sesekali matanya mengerjap dan ada rasa sakit juga kecewa dari sorot matanya. Dengan mata berkabut dia mengarahkan tatapannya ke arah mobil Tony Huo yang sebentar lagi menghilang dari pandangannya.


Perempuan itu menghapus air matanya dan sesaat kemudian dia tersenyum kecut sambil berucap lirih, "Tony Huo, apakah kamu sudah melupakan Kakakku? Saat ini dia ... hah, sudahlah. Lagipula kalian telah menganggapnya tiada. Tapi, akhirnya kita bertemu kembali, bukan?"


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Beberapa menit kemudian, Tony Huo sampai di mansion Xue Garden. Wajahnya menghitam akibat insiden barusan. Ia turun dari mobilnya, namun tidak segera memasuki mansion. Ia tahu dirinya saat ini sedang kesal dan jika ia masuk begitu saja, kemungkinan orang-orang di dalam mansion akan menanggung amarahnya. Apalagi ia tidak ingin merusak momen yang telah ia lalui dengan Zelene Liang, hanya karena kekesalannya semata.


Ia memejamkan mata dan perlahan menghirup segarnya udara di sana. Beberapa detik kemudian, ketika terasa amarahnya telah memudar, ia melangkahkan kakinya memasuki pintu mansion yang telah terbuka untuknya sejak tadi.


"Tuan Muda, Anda pulang cepat hari ini, apakah Anda merasa tidak sehat?" tanya Qin Zhuo An, buru-buru menghampiri pria itu.


Tony Huo tidak memberitahu bahwa, ia akan makan siang di kediamannya, maka dari itu Qin Zhuo bertanya karena merasa khawatir padanya.


"Hari ini, aku akan makan siang di rumah." Sahutnya datar. Tony Huo mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zelene Liang. "Bibi Qin, apakah dia belum bangun?"


"Nyonya Muda sudah bangun, saat ini ia sedang berada di taman belakang bersama Nyonya Huo." Sahut Qin Zhuo An dengan senyum mengembang. Agaknya ia paham mengapa Tony Huo memilih makan siang di kediamannya hari ini. Tentu saja untuk mengetahui keadaan Zelene Liang.


"Ibu datang kemari ...? Apakah mereka tidak makan siang? Mengapa masih di taman?" tanyanya lagi sembari berjalan menuju ke arah taman belakang.


Qin Zhuo dengan langkah pendeknya mengikuti Tony Huo dari belakang. "Benar, Tuan Muda, Nyonya Huo kemari membawakan sarapan bergizi untuk Nyonya Muda. Nyonya Muda sendiri bangun pukul 10 pagi dan langsung makan siang pukul 11 dan Nyonya Huo juga ikut makan siang lebih awal atas permintaan Nyonya Muda."


"Sarapan bergizi?" Tony Huo mengernyitkan dahi ketika langkah kakinya terhenti, ia menoleh pada Qin Zhuo An.


Wanita paruh baya itu menundukkan kepalanya dan menjawab, "Karena Nyonya Muda tidak bangun pada waktu seperti biasanya, jadi saya khawatir dan menelepon Nyonya Huo. Beliau bergegas membawakan makanan kemari."


Tatapan datar diarahkan oleh Tony Huo pada wanita paruh baya itu, ia tahu Qin Zhuo An pasti telah mengabari Nan Si Yue. Harusnya ia tidak memanggil Qin Zhuo An ke kamar utama pagi-pagi buta agar momennya dengan Zelene Liang tidak tersebar. "Tidak usah mengikutiku, Bibi Qin, siapkan saja makan siang untukku. Aku akan ke taman belakang dan menyapa Ibu."


"Baik, Tuan Muda."


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Ia berdiri di hadapan keduanya sembari mengamati wajah lelah Zelene Liang. Senyum hangat muncul perlahan dari sudut bibirnya. "Apa yang sedang kalian obrolkan?" tanyanya dengan nada lembut. Tony Huo mengambil tempat duduk pada ayunan di depan mereka.


Nan Si Yue serta Zelene Liang menoleh ke asal suara dan mendapati senyum cerah Tony Huo menyapa mereka.


"Kenapa kau sudah pulang?" Nan Si Yue bertanya penasaran sama seperti Qin Zhuo An barusan. Dia mengetahui bagaimana Tony Huo yang gila kerja. Bahkan ketika waktu makan siang tidak akan lebih dari 30 menit. Jika diamati dari senyum cerah putranya, Nan Si Yue pasti telah mengetahui alasannya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Zelene Liang yang duduk di sebelahnya. Tiba-tiba wajahnya berubah sumringah.


"Aku ingin makan siang di rumah." Tony Huo menyahut, namun sorot matanya mengarah pada Zelene Liang.


Pandangan mereka bertemu, tetapi Zelene Liang menatapnya dengan wajah kesal. Wanita muda itu mendengus, ia bahkan tidak menyapa Tony Huo. Pria itu sudah membuat tubuhnya terasa remuk dan kini, ia tersenyum hangat padanya.


"Sudah pukul setengah satu, mengapa kau baru tiba? Seharusnya makan siang saja di restoran dekat kantor. Butuh waktu lama agar kau bisa sampai di sini. Apakah kau menyetir sendiri?"


"Iya, aku menyetir sendiri. Seharusnya aku sudah sampai lebih awal, tapi ada hal tak terduga di jalan. Ibu tidak perlu khawatir. Aku kesini untuk menyapa Ibu karena Bibi Qin mengatakan Ibu datang kemari pagi-pagi."


Sebelum Nan Si Yue berucap, dia meraih tangan Zelene dan menepuknya dengan lembut. "Bibi Qin khawatir pada Zelene, jadi aku segera datang." Dia sengaja mengalihkan pandangannya ke Tony Huo, lantas kembali berucap dengan nada menggoda, "kau anak nakal, berani sekali membuat menantuku kelelahan."


Wajah Zelene Liang memerah mendengar ucapan Nan Si Yue yang terang-terangan menggoda dirinya dan Tony Huo.


"Cough!" Zelene terbatuk kecil. Ia merasakan wajahnya sangat panas, bahkan angin yang berhembus ke arah merekaโ€”tidak mampu menyejukkan dirinya. "Mom, aku akan ke kamar sebentar. Aku tidak ikut makan siang, jadi, Mom, temanilah dia makan siang." Ucapnya malu-malu.


Zelene Liang segera berdiri dan melangkah pergi meninggalkan keduanya. Ia sangatlah pemberani, namun hari ini ia malu-malu karena digoda oleh ibu mertuanya.


"Pfffttt!" Tony Huo tidak bisa menahan tawanya setelah Zelene hilang dari pandangannya, tawanya pun meletus. "Hahahaha~" tawa itu dipenuhi kehangatan.


Nan Si Yue bangkit dan mencubit lengan putranya.


"Akhโ€”" tawa Tony Huo digantikan oleh pekikan kesakitan lantaran Nan Si Yue mencubitnya dengan sekuat tenaga. "Apa yang Ibu lakukan?!"


"Bagus, Nak, ternyata kau memang benar anakku. Aku pikir kau tertukar di rumah sakit. Kau memang anak Ayah dan Ibu." Ujarnya sembari tersenyum penuh arti. Dia lantas beranjak dari sana meninggalkan Tony Huo.


"Apakah Ibu mengatakan aku bukan anaknya barusan?" Tony Huo mengernyit. "Hei, Nyonya Huo, aku benar-benar putramu, huh!"


๐Ÿ Bersambung๐Ÿ