
Huo Enterprise, Toronto.
Sebuah mobil Audi R8 berwarna biru berhenti di depan gedung Huo Enterprise, pria tinggi yang mengenakan setelan suit berwarna dim gray turun dari kursi penumpang, dia tidak lupa membenarkan kancing manset-nya sebelum mengambil langkah memasuki gedung.
Para staf yang bekerja di bawah pria bermata dalam itu—berjejer di pintu depan gedung, mereka menunduk memberi salam pada atasan yang tidak mereka lihat dalam dua minggu terakhir.
"Selamat pagi, Pak CEO." Ucap mereka secara bersamaan.
Tony Huo hanya mengangguk kecil, langkah pelan pria itu diikuti dengan bubarnya barisan tersebut secara teratur.
Perempuan berbusana atasan merah dan rok hitam di atas lutut yang berada dalam barisan tadi, menghampiri Tony Huo dengan senyum menghiasi wajahnya yang merona. "Selamat pagi, Tuan." Perempuan itu memberi salam pada Tony Huo.
Lelaki yang berjalan menuju lift pribadinya hanya mengangguk ringan, tanpa melihat wajah cerah perempuan yang menyapanya.
kemudian perempuan itu beralih menoleh ke Duan Che yang berjalan di belakang Tony Huo. "Selamat pagi, asisten Duan."
Duan Che mengangguk. "Selamat pagi juga, sekretaris Yun."
Kerumunan staf wanita yang suka bergosip, berbisik-bisik membicarakan Boss mereka. Mata mereka menyala, ketika memperhatikan pria idaman para wanita yang baru saja melewati mereka.
"Wah, CEO Huo, sudah kembali. Bukankah beliau akan tinggal di Negara C, kenapa kembali secepat ini?"
"Apa kau tidak suka dia kembali? Hanya dengan melihat saja, kita sudah mencuci mata yang kekeringan akan pria tampan."
"Apa dia kembali untuk sekretaris Yun? Beberapa sekretaris yang bekerja di sekretariat CEO mengatakan, bahwa mereka sangat dekat. Aku sangat iri padanya, aku juga ingin dipindahkan ke sekretariat CEO."
"Jangan bicara omong kosong! Mereka hanya atasan dan bawahan tentu saja mereka dekat."
Gosip dari para staf wanita, terdengar sampai ke telinga Yun Ruo Xi sebelum pintu lift tertutup. Perempuan dengan rambut bergelombang itu tersenyum puas, hatinya senang ketika mendengar Tony Huo kemungkinan saja kembali untuknya. Apa yang membuatnya meyakini ucapan para staf itu?
Lain halnya dengan Tony Huo, tidak memedulikan para staf yang menggosipkan dirinya. Perbincangan mereka seperti angin di telinganya, berdesir tanpa meninggalkan sebuah jejak.
Ding!
Lift berhenti di lantai 7, yakni kantor CEO dan para anteknya, para sekretaris sudah sibuk dengan pekerjaan yang mereka tangani.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Tony Huo sembari melihat jam tangan Vacheron Constantin yang terpasang di pergelangan tangan kirinya.
"Jam 9 pagi diadakan rapat mengenai duta produk terbaru perusahaan. Anda juga akan makan siang bersama Nona Susan Collins dan Tuan Collins." Sahut Duan Che, membacakan jadwal Tony Huo yang tersusun rapi dalam tablet PC di tangannya. Hari ini Duan Che tidak mengenakan kaca mata hitamnya, kemungkinan dia sudah tidak kesal lagi berkat hidangan semalam.
Tony Huo menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, membuat kedua orang di belakangnya juga mendadak berhenti. Wajah tampan itu menunjukkan ketidaksenangan saat mendengar jadwal makan siang.
"Kapan aku setuju untuk makan siang bersama Nona Collins?" Tony Huo kembali berjalan menuju ruangannya. Sama seperti di bawah tadi, semua staf di kesekretariatan memberi salam padanya.
Duan Che menggaruk pelipisnya, heran. "Anda selalu menerima tawaran makan siang dari Nona Collins. Tadi malam Nona Collins menelepon karena dia mengetahui Anda sudah kembali." Sahutnya santai.
"Hah ..., batalkan saja."
"Hm ..., sepertinya Nona Collins menganggap, Tuan Muda, memiliki hubungan spesial dengannya. Maka dari itu, dia sangat percaya diri bisa mengajak Anda makan siang dengan seenaknya." Sahut Yun Ruo Xi yang mendengarkan pembicaraan mereka dari belakang, kemudian dia undur diri dan berjalan ke mejanya.
Alis Tony Huo berkerut mendengar ucapan Yun Ruo Xi barusan. Memang benar bahwa selama ini, ia tidak pernah menolak ajakan makan siang dari Susan Collins. Tapi, itu hanya makan siang biasa dan tidak lebih.
"Tuan Collins sangat ingin bertemu dengan Anda, kemungkinan Tuan Collins ingin mendekatkan diri pada Anda melalui putrinya. Perusahaannya baru saja mendapatkan sebuah proyek, mungkin dia kekurangan dana." Terang Duan Che sembari membukakan pintu kantor Tony Huo.
Tony Huo memasuki kantornya yang luas dengan gaya interior kontemporer dipadukan dengan kaca bening menjadi dinding sekaligus jendela di belakang meja kerjanya. Dalam ruangan besar itu terdapat ruang tamu— yang tidak memiliki kaca pembatas—yang terhubung dengan meja kerja Tony Huo. Rak besar berisi berkas-berkas berdiri kokoh di dinding berwarna grayscal, di samping rak itu terdapat sebuah pintu yang mengarah ke dapur mini. Ruangan itu juga memiliki satu kamar tidur di arah yang berlawanan dengan dengan dapur mini tersebut.
"Dasar rubah tua. Aku hanya makan siang bersama putrinya, apa dia menganggap hubungan kami begitu dekat?" hubungannya dengan Susan Collins tidak lebih dari teman bicara maupun teman makan siang, karena wanita itu selalu menempel dan memaksanya untuk makan siang bersamanya. Namun, Tuan Collins mungkin saja mengartikan hal itu berbeda.
"Mungkin begitu, Tuan. Saya akan menelepon Nona Collins dan membatalkan janji makan siang." Duan Che merogoh smartphone-nya dan bersiap menekan nomor Susan Collins.
Namun, Tony Huo menghentikannya setelah berpikir untuk beberapa saat."Jangan dibatalkan! Aku ingin tahu, apa yang rubah tua itu inginkan." Ia duduk di kursi eksekutif-nya, menyandarkan tubuhnya sejenak sebelum membaca berkas-berkas yang tertumpuk rapi di atas mejanya.
"Baik, Tuan. Saya akan kembali ke ruangan saya." Duan Che mengangguk, lalu keluar dari ruangan luas tersebut.
🍂🍂🍂
Satu jam kemudian di ruang rapat.
Direktur Sean Shen dari divisi desain memperkenalkan duta untuk set produk perhiasan terbaru dari Huo Jewelry. "Sekian presentasi saya."
"Lana Wei, model yang sudah Go International itu, memang sangat cantik dan visual-nya juga cocok dengan set perhiasan terbaru perusahaan. Aku sangat setuju dengan Direktur Shen." Ujar Direktur Chu dengan antusias, "jika perusahaan bisa mengontrak Lana Wei, tidak akan butuh waktu lama untuk produk itu terjual. Kalangan atas sangat menyukai Lana Wei dan setiap produk yang dia iklankan selalu laris dipasaran." Terang Direktur Chu yang terkagum akan kecantikan dan potensi besar yang dimiliki oleh model asal Negara C itu.
Sean Shen menoleh ke Tony Huo yang tidak berkata apa pun. "Bagaimana pendapat Anda, Pak CEO?"
Tony Huo, "...."
"T-Tuan, bagaimana menurut Anda?" tanya Duan Che ragu, ia memperhatikan pria yang memimpin rapat itu, tetap bungkam di tempatnya.
Ruangan rapat menjadi hening, ketika para anggota rapat menunggu jawaban dari Tony Huo dengan mata yang berbinar. Jari-jari Tony Huo mengepal erat, sorot matanya yang dingin seperti bisa membekukan atmosfer di ruangan itu. Mereka tidak sadar bahwa pimpinan mereka sedang bergulat dengan pikirannya.
Lana Wei. Batin Tony menyebut nama perempuan yang tidak ingin ia sebut sebenarnya.
Sigh! Seharusnya kalian tidak menyebut nama itu! Duan Che menggelengkan kepalanya, resah. Akankah Tuan marah-marah dan meminta mereka untuk mengganti duta produk?
"Ehem ..., apa tidak ada kandidat lain yang cocok?" Duan Che bertanya pelan.
"Tim kami sudah mendiskusikannya berulang kali. Lana Wei yang paling cocok dan reputasinya juga sangat baik, perusahaan akan sangat diuntungkan dengan kehadiran Lana Wei sebagai duta produk terbaru. Seperti yang dikatakan oleh Direktur Chu sebelumnya: potensi Lana Wei akan memberikan imbas yang baik bagi reputasi perusahaan." Sean Shen mengamati ekspresi Tony Huo, sepertinya ia mengerti apa yang dipikirkan oleh pria yang masih bungkam hingga saat ini, "semua orang harus profesional dalam bisnis."
Ucapan terkahir Sean Shen menyadarkannya; Tony menarik napas kecil, lantas meregangkan jari-jarinya yang sebelumnya terkepal erat. Tony Huo berpikir bahwa bisnis tetaplah bisnis, ia tidak bisa mencampur adukkan perasaan emosional ke dalamnya, maka dari itu, ia harus menjadi profesional.
Pria yang sejak tadi bungkam itu, akhirnya menggerakkan badannya yang kaku, ia tiba-tiba bangkit dari kursinya dan melonggarkan dasinya.
"Tuan ...," Duan Che memperhatikan Tony yang beranjak dari kursinya.
"Aku setuju." Jawab Tony Huo, singkat.
Duan Che, "...."
Duan Che merasa cemas dengan jawaban atasannya. Setahunya, Tony Huo sudah menjauhkan diri dari perempuan itu bertahun-tahun yang lalu. Apakah, ia akan baik-baik saja ketika bertemu kembali dengan wanita itu? Duan Che tidak mengetahui serumit apa hubungan atasannya dengan wanita itu di masa lalu, dia hanya khawatir karena sekarang Tony Huo sudah menikah.
🍂🍂🍂
Moxe Seafood & Steak House
Pukul 12:15 PM, Tony Huo sampai di tempat makan siang yang sudah dipilih oleh pasangan ayah-anak Collins. Mereka sudah menunggu kedatangan Tony Huo dengan senyum mekar di wajah mereka.
Tony Huo segera disapa oleh pria paruh baya yang menjulurkan tangan padanya.
Pria paruh baya itu tersenyum lebar, "CEO Huo, perkenalkan, aku Aland Collins, Ayah dari Susan."
Ia mengamati Aland Collins yang masih menjulurkan tangan dengan senyum cerah masih terpampang di wajahnya. Ia belum menjabat tangan pria paruh baya itu, membuat Aland Collins sedikit tercengang.
"Ayah, kenapa tidak membiarkan Tony untuk duduk terlebih dahulu." Ujar Susan Collins dalam balutan gaun pendek berwarna crimson.
"Silahkan duduk, CEO Huo, maaf telah membuat Anda berdiri." Kata Aland Collins seraya mengantar Tony Huo ke tempat duduknya di samping Susan Collins.
Mereka memilih menu setelah Tony Huo duduk dengan tenang bersama mereka. Susan Collins meraih lengan kiri Tony Huo, tanpa rasa malu sedikit pun. "Tony, kenapa kau sangat lama di Negara C? Apa seseorang menarik perhatianmu di sana?" Susan Collins bertanya dengan nada kekanak-kanakan yang membuat ayahnya tertawa.
"Hahaha, Susan jangan kekanak-kanakan. Standar CEO Huo pasti sangat tinggi, untuk menarik perhatiannya pasti sangat sulit. Aku rasa ada banyak wanita di luar sana yang tidak seberuntung dirimu, Nak, bisa menjadi kekasih CEO Huo." Aland Collins berkata tanpa ragu-ragu. Hatinya sangat senang karena tingkah anaknya tidak membuat Tony Huo marah, yang artinya Susan Collins telah memenangkan hati Tony Huo, pikirnya.
Alis Tony Huo dinaikkan. "Kekasih? Tuan Collins, putrimu bukan kekasihku!"
Pernyataan Tony Huo membuat kedua ayah-anak itu terperangah dan merasa malu seketika itu juga.
🍂 Bersambung🍂
🌬️MINI DRAMA🌫️
Red Maple, " Tony, Chat Story-nya sudah sampai episode 40. Sebenarnya hubunganmu dengan Lana Wei apa?"
Tony Huo, "Kan situ author-nya. Kenapa tanya ke saya?"
Zelene Liang datang dengan wajah tertekuk.
Zelene Liang, "Apakah Lana Wei adalah mantan pacarmu?"
Tony Huo, "Bukan, Wifey."
Zelene Liang, "Lalu? Mantan istrimu?"
Tony Huo, "Astaga! Tentu saja bukan!"
Red Maple, "Terus apa? Jangan bikin gue penasaran! keluarkan isi pikiranmu, biar gue bisa tahu!"
Zelene ngambek.
Tony Huo, "Wifey ...,"