My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Kau mau dia mati di sini?



Di waktu yang sama, atap gedung LC Entertainment. Seruan halus menghampiri telinga Xu Mo dari belakang punggungnya. Sempat bergeming untuk beberapa saat, Xu Mo mulai menengok ke belakang. Namun tanpa menduga pun dia sudah tahu sang pemilik suara.


Zelene Liang memasang wajah datar ketika memperhatikan Xu Mo yang memiliki wajah kaget. Mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Xu Mo dan beberapa langkah, Zelene Liang telah berada di depan Xu Mo.


Smartphone di tangan Xu Mo hampir terjatuh ketika gadis itu mencoba mematikan panggilan dengan tergesa-gesa. Akan tetapi, Zelene Liang segera merenggut smartphone berwarna gold tersebut. Xu Mo memperhatikan tangannya yang kosong lantas mengalihkan sorot matanya pada smartphone di tangan Zelene Liang.


Sementara, si penelepon masih di seberang sana. Zelene Liang meletakkan benda pipih berwarna emas itu ke telinga kanannya.


"Kak Liang, biarkan aku menjelaskan—"


Tangan kiri Zelene Liang terangkat menyiratkan agar Xu Mo tidak berkata apa pun padanya. Dia mendengarkan suara Ah Mo di seberang sana.


"Ah Mo," panggil Zelene dengan nada tenang—setenang angin sore yang berhembus dengan bebas membelai pucuk kepalanya. Menerbangkan beberapa helaian rambutnya sehingga keluar dari tempatnya yang sudah tersisir dengan rapi sebelumnya.


Beberapa detik Zelene Liang tidak mendengar suara di seberang telepon. Dia mengembangkan senyum dangkal, sedang pandangannya teralih pada Xu Mo yang kini memiliki wajah panik. Zelene Liang menepuk bahu Xu Mo dan sorot mata wanita itu berubah dalam serta senyum barusan telah menghilang, layaknya angin menyapa lantas pergi begitu saja.


"Tidak apa-apa, Xu Mo, tenanglah!" ujarnya masih dengan nada santai, seperti semua yang didengar olehnya barusan tidak pernah masuk ke dalam telinganya.


Dari seberang sana Zelene kembali mendengar suara canggung dari Ah Mo. "Nona Ke-tujuh." Ucapnya sopan layaknya memberi hormat pada atasannya.


"Di mana kau sekarang?" pertanyaan Zelene Liang tidak terlalu panjang atau bertele-tele. Dia ingin tahu keberadaan Ah Mo dan apakah pria itu mengikutinya hingga ke Imperial City hanya untuk mengawasinya?


"Saya berada di sebuah hotel di pusat Imperial City. Saya telah mengikuti Nona Ke-tujuh dari Perancis. Mohon maafkan saya karena tidak memberitahu Anda." Jawab Ah Mo dengan nada setenang mungkin.


"Aku sudah tahu." Zelene Liang berjalan mengitari tempat di mana Xu Mo berdiri sembari memegang bahu Xu Mo secara bergantian, dan berhenti lagi di depannya, lantas melanjutkan ucapannya, "hanya saja aku diam agar kau tidak menggangguku. Bukankah sudah aku katakan sebelumnya, bahwa Tony Huo menyiapkan dua pengawal untukku dan saat ini mereka sedang berada di gedung yang sama ... dan juga, di mana kau saat aku mabuk di klub beberapa hari lalu, Ah Mo?"


Ah Mo segera menjawab, "Saya juga berada di sana. Saya tahu kedua pengawal itu bersama Nona Ke-tujuh, jadi saya memutuskan untuk tidak menampakkan diri seperti yang Anda anjurkan. Hal itu akan menambah masalah bagi Anda jika saya tiba-tiba muncul di depan semua orang."


"Ah, bagus. Tapi akan lebih baik lagi jika kau pulang saja Ah Mo. Karena tidak ada gunanya kau menunggu dan mengawasiku di sini." Zelene Liang segera menutup panggilan dan mengembalikan smartphone Xu Mo. Dia menatap gadis itu dengan serius.


Sorot mata Zelene Liang tak seperti Zelene Liang—sang aktris papan atas, melainkan sorot yang sudah sering Xu Mo lihat ketika dia masih berusia anak-anak. Ketika Zelene Liang memberikan tatapan sadis pada orang-orang yang akan mati di tangannya dahulu.


"Tidak perlu memasang wajah takut. Aku tidak akan mengakhiri hidup dari orang yang telah aku anggap sebagai keluarga." Zelene Liang menepuk lembut bahu Xu Mo, "jangan melakukan apa pun di belakang punggungku lagi, meskipun kamu memiliki niat yang baik. Aku tidak suka akan tindakanmu itu."


"Baik, Kak Liang. Aku minta maaf, aku akan minta persetujuanmu sebelum melakukan sesuatu."


"Bagus." Zelene Liang melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu Xu Mo setelah dia menepuk lembut di sana. "Ayo kita pulang!"


🍁🍁🍁


Di dalam mobil Hanna Gu melihat adanya kecanggungan dari kedua orang itu. Dia ingin bertanya, namun niatnya diurungkan lantaran Zelene Liang menutup kelopak matanya setelah wanita itu menghempaskan dirinya ke kursi belakang—kursi yang biasa dia duduki. Sementara Xu Mo menutup mulutnya sejak mengemudikan mobil. Hanna Gu hanya dapat berpikir dalam benaknya, serta meluruskan pandangannya ke depan.


Tiba-tiba saja seseorang melintas di depan mobil mereka. Xu Mo seketika menginjak rem, namun orang itu telah terkapar di depan mobil mereka. Sempat panik Hanna Gu dan Xu Mo bergegas keluar dari mobil dan melihat keadaan orang tersebut.


Seorang wanita berpenampilan biasa dengan kaos putih polos dan celana jeans ketat membalut tubuhnya. Darah mengalir dari perutnya membuat keduanya kebingungan. Sedang jalanan tengah ramai, namun tak ada mobil yang berhenti untuk membantu mereka.


"Kak Hanna, bagaimana ini? Apakah aku telah menabraknya tadi?" Xu Mo nampak panik.


"Tenanglah!" Hanna Gu membalikkan tubuh wanita itu melihat ada bekas luka tusuk pada perutnya. "Dia tidak tertabrak oleh mobil kita. Sepertinya ada orang yang sengaja ingin melukainya."


Sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Dua pengawal berbadan kekar keluar dari dalam mobil tersebut yang tidak lain adalah Xiao Juan dan Xiao Xuan. Mereka berlari menghampiri tempat kejadian.


"Apakah dia tertabrak?"


Hanna menggeleng. "Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit."


"Tapi kita tidak tahu siapa wanita ini." Tukas Xiao Juan. Bukannya dia tidak ingin menolong, namun Xiao Juan hanya ingin berhati-hati agar orang yang mereka tolong bukanlah orang yang akan menjadi pisau bagi mereka dikemudian hari.


Sementara itu, Zelene Liang membuka kelopak matanya dan memutuskan untuk turun dari mobil. Dia melihat genangan darah telah membasahi setengah dari badan wanita itu.


"Panggil ambulan." Ujarnya singkat ketika berjalan menghampiri mereka. Wajahnya tetap tenang tidak menampakkan sedikit rasa takut pada wajah manis yang kini berubah angkuh itu.


"Tapi Nyonya—"


Ucapan Xiao Xuan dipotong oleh Zelene Liang, "Kau mau dia mati di sini? Cepat panggil ambulan!"


"Baik, Nyonya." Xiao Xuan segera melaksanakan perintah Zelene Liang dengan merogoh smartphone-nya dan memanggil ambulan. Sedangkan, Hanna Gu dan Xu Mo meneken perut wanita itu. Darah terus saja mengucur dari sana.


Sementara itu, dari kejauhan sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan melihat ke arah mereka dengan sorot mata misterius.


🍁 Bersambung🍁