My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Apakah kamu terpesona dengan ketampananku?



Zelene menggelengkan kepalanya, meski Tony Huo telah bersedia menyuapinya, tetapi ia menutup bibirnya rapat-rapat padahal Tony Huo sudah menanti dengan sendok di tangannya dan pria itu tetap sabar.


Sedang, butler Kim yang berdiri tidak jauh menonton adegan itu dengan senyum yang tersembunyi. Hatinya merasa senang karena tuannya baru pulang, tetapi sudah sangat perhatian pada Zelene. Meskipun demikian, jika dipikirkan kembali, bukankah hal itu sangat aneh, mengapa tiba-tiba Tony Huo menjadi pria hangat yang menyayangi istrinya? Terbesit pertanyaan itu dalam benak butler Kim, tetapi ia berharap agar tidak ada maksud lain dari kebaikan Tony Huo terhadap Zelene Liang karena pria itu sangat perhitungan.


"Buka mulutmu, cepat!" pinta Tony Huo agak tidak sabar. Ia sudah berbaik hati mengurus Zelene, bahkan ia sendiri sedang sakit kepala dan Zelene tidak mengetahui hal tersebut.


"Jangan pura-pura baik, apakah kamu telah menaruh racun pada sup itu sehingga kamu sendiri bersedia menyuapiku?" tukas Zelene tanpa alasan. Ia sepertinya mencurigai Tony Huo yang sifatnya tidak mudah ditebak; sesaat baik dan sekejap kemudian berubah dingin. Jadi, ia tidak ingin terlalu mempercayai Tony Huo.


"Butler Kim sendiri yang membawakan sup ini dan kamu menuduhku ingin meracunimu?! Zelene Liang, pikiranmu terlalu picik. Jika aku meracunimu dan kamu mati di mansion ini, maka Ibuku pasti akan menguburku bersama denganmu." Kata Tony Huo gamblang. Sebenarnya, ia tidak memiliki begitu banyak kesabaran juga tidak ingin terlalu peduli pada Zelene Liang, apalagi sampai memberinya harapan, namun entah mengapa setelah pulang dari Kanada dan mendapati kejadian seperti semalam di Club, pikiran dan hatinya jadi bertolak belakang.


Disamping mencurigai Tony Huo, kebenarannya ialah, Zelene tidak mau meminum sup pahit itu. Zelene mengeluarkan senyum memaksa yang di arahkan ke Tony Huo, lantas bibir mungilnya berucap, "Haha ..., kepalaku sudah tidak pening lagi, sepertinya karena aku sudah sarapan, jadi tidak perlu minum sup obat lagi." Zelene menggoyangkan kepalanya untuk memberikan kepastian bahwa, kepalanya sudah tidak sakit lagi, tetapi konyolnya kepalanya malah semakin pusing. Ia memegangi kepalanya mengunakan kedua tangannya.


"Masih mengaku kalau peningmu sudah hilang?" tanya Tony Huo seraya mengangkat kedua alisnya, kemudian ia melanjutkan, "cepatlah minum dan kerjakan hukumanmu."


Oh! Zelene pikir Tony Huo akan melupakan untuk memberikannya hukuman, namun tetap saja perkataan pria itu tidak bisa ditawar


"Iya, iya, akan aku minum," Zelene memutar bola mata malas, lalu mendelik ke Tony Huo dalam hitungan detik tatapannya kembali normal, agar pria itu tidak menangkap sorot tajam yang di arahkan padanya, lalu Zelene melanjutkan ucapannya kembali, "sini, biar aku minum sendiri."


Tony Huo menaruh kembali sendok di tangannya ke atas meja, lalu memperhatikan Zelene yang dengan enggan mengambil mangkuk sup obat tersebut. Wanita itu meniup-niup sup tersebut untuk menghilangkan hawa panasnya dan ia pun memejamkan mata ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir mangkuk.


Hal itu pun, lantas membuat Tony Huo mengembangkan senyum hangat ketika memperhatikan Zelene Liang meneguk sup itu dan sesekali wanita itu akan berhenti karena rasa pahit dari sup. Butler Kim sendiri yang menyaksikan juga tersenyum, bukan karena tingkah Zelene yang enggan minum obat, melainkan pria itu tersenyum bahagia saat melihat senyum hangat Tony Huo.


"Ah! Sudah puas, kan?" Zelene menghabiskan sup obatnya dalam beberapa teguk, lalu menaruh kembali mangkuknya ke atas meja, namun rasa pahit dan bau obat herbal di dalam sup tersebut masih tersisa. Zelene jadi agak mual setelah meminum sup itu, lantas ia segera meminum air putih untuk menghilangkan rasa pahitnya.


"Butler Kim, bawa keluar mangkuk ini dan ambilkan makanan manis, juga yang aku minta padamu sebelumnya." Ujar Tony Huo yang menoleh pada butler Kim.


Butler Kim yang memperhatikan pasangan suami-istri itu—tersadar, kemudian dia melangkah ke arah meja makan, lantas mengambil mangkuk kosong itu dan berkata, "Baik, Tuan Muda." Butler Kim melangkah keluar dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.


"Mengapa?" tanya Zelene.


"Hm ...?" Tony Huo menaikkan salah satu alisnya karena tidak terlalu paham dengan pertanyaan Zelene yang hanya satu kata.


"Mengapa tiba-tiba kamu peduli?" tanya Zelene lebih lanjut.


"Sudah kukatakan sebelumnya, aku akan memberimu kompensasi karena ketidakhadiranku selama dua tahun ini." Jawab Tony Huo dengan santai.


"Oh, kompensasi, haha ..., aku lupa bahwa, Tuan Muda Huo, tidak akan pernah berbaik hati kepada orang lain secara cuma-cuma. Tetapi, aku tidak membutuhkan kepedulian palsumu itu. Jadi, berhentilah berpura-pura peduli! Aku akan minta kompensasiku ketika aku sudah membutuhkannya." Kata Zelene acuh tak acuh.


Sesaat kemudian, butler Kim tiba di ruang makan bersama Ji Meng yang membawa sebuah pakaian berwarna burlywood, sedang butler Kim sendiri membawa kue cokelat. Pria berambut perak itu meletakkan kue cokelat di atas meja—dan mendapati suasana di meja makan itu—sudah berubah. Sepertinya Nyonya membuat Tuan Muda marah, pikirnya.


Zelene Liang mencomot kue cokelat itu satu per satu dan di masukkan ke mulutnya dengan perlahan, namun cepat agar rasa pahit di lidahnya cepat menghilang.


"Zelene Liang, aku peringatkan padamu dan dengarkan baik-baik," kata Tony Huo, memotong ucapannya sendiri seraya jemarinya mengetuk meja, lalu ia melanjutkan kembali ucapannya dengan wajah serius, "kamu ... tidak diijinkan untuk mabuk. Kalau sekali lagi aku menemukanmu dalam keadaan mabuk, saat itu juga aku akan—"


"Aku akan apa? Menceraikanku, huh?" Zelene Liang memotong ucapan Tony Huo.


"Maka dari itu, dengarkan baik-baik dan hilangkan kebiasaan burukmu memotong ucapan orang. Kamu tidak diijinkan untuk minum!" tegasnya dengan nada yang sangat serius. Tony Huo kemudian berdiri dan melangkah keluar, namun ketika ia sampai di palang pintu, pria itu mengehentikan langkahnya dan berkata lagi tanpa menoleh, "aku tunggu di taman mawar." Ia langsung mengambil langkah besar.


Zelene Liang termenung menatap punggung Tony Huo yang telah menghilang.


"Ish! Baru pulang sudah banyak aturan, bagaimana dengan nanti? Dia pasti akan membuat daftar aturan seperti daftar belanjaan. Bukan begitu, butler Kim?" Zelene Liang menoleh pada butler Kim.


"Eh ...? Tuan Muda mengkhawatirkan kesehatan Anda, jadi akan lebih baik jika Nyonya menurut saja pada Tuan Muda. Alkohol sangat tidak baik bagi kesehatan." Kata butler Kim yang tiba-tiba mendapatkan pertanyaan aneh dari Zelene. Pria itu memiliki keinginan untuk mengatakan keadaan Tony Huo dan dia berkata dengan terbata, "N-Nyonya ... sebenarnya ...,"


"Katakanlah!" Zelene meneguk air putih dalam gelas di tangannya.


"Sebenarnya, Tuan Muda, sedang tidak sehat. Dia mengalami sakit kepala hebat karena terus bekerja dan tidur tidak teratur di Kanada. Semalam Dr. Su memeriksa kondisi Tuan Muda, tetapi Dr. Su keluar dari kamar utama dengan keringat dingin. Agaknya, Tuan Muda marah karena sesuatu setelah menerima sebuah pesan. Tuan Muda juga memaksakan diri untuk menjemput Anda dari Club, dan nengurus Anda semalaman." Kata butler Kim, panjang lebar.


Zelene terdiam sejenak di kursinya mendengar hal tersebut. Jadi, bukan pura-pura peduli, lirihnya dalam hati.


🍁🍁🍁


Beberapa menit kemudian, Zelene telah berganti ke seragam gardener yang dibawakan oleh Ji Meng barusan, dan langsung menuju ke taman mawar yang ada di belakang mansion tersebut. Zelene sendiri heran ketika melihat penampilannya yang tetap cantik ketika mengenakan pakaian apa pun, bahkan seragam sederhana seperti seragam gardener pun memperlihatkan kecantikan alaminya. Tentu saja, ia sangat percaya diri mengenai kecantikan dirinya.


Setelah berjalan sekitar 2 menit menuju ke taman mawar, wanita cantik berseragam gardener itu, akhirnya tiba di taman mawar, ia mencari keberadaan Tony Huo dan masuk ke dalam rumah kaca.


Pria bertubuh tegap itu sedang bersandar di kursinya sembari sesekali menyesap teh herbal. Kemungkinan ia mengalami sakit kepala lagi. Pria itu menoleh ke pintu masuk rumah kaca hanya untuk mendapati Zelene Liang berdiri di sana sambil mengamati dirinya.


"Apakah kamu terpesona dengan ketampananku, sehingga matamu tak berkedip ketika melihatku?" tanya Tony Huo dengan nada menggoda.


Pria ini sedang menggodaku lagi?


🍁 Bersambung🍁