My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Kencan



"Ngomong-ngomong, syuting iklan akan dilaksanakan 2 hari lagi." Gumam Tony Huo sembari menciumi leher belakang Zelene Liang. Mengingat bahwa Zelene Liang akan beradu akting dengan Xie Yu Fan dalam iklan perusahaannya, Tony Huo ingin sekali mencekik pria itu. Baru saja ia berkata tidak akan memberikan hatinya pada Zelene Liang, namun setelah mengingat Xie Yu Fan—kepala Tony Huo menjadi panas.


"Hm, memangnya kenapa?" Zelene Liang menengok kebelakang, "bisakah kamu berhenti?! Katamu hanya mandi bersama?"


Tidak dapat Zelene Liang pungkiri bahwa dia menikmati hujaman ciuman dari Tony Huo, meskipun demikian dirinya sedikit merasa kecewa karena Tony Huo masih saja berkata tidak akan menaruh hati padanya. Awalnya Zelene Liang sama sekali tidak peduli, maka dari itu dia juga berkata demikian.


"Kamu tidak suka?" malah balik bertanya, dan tidak menjawab pertanyaan Zelene Liang. Tony Huo membalikkan posisi mereka, saat ini Zelene Liang berada di bawah tubuh pria itu. Air hangat dengan busa-busa putih tersebut, terciprat hingga ke lantai.


Tony Huo mendaratkan ciuman ke bibir mungil Zelene Liang, dan dia tahu apa yang diinginkan oleh Tony Huo. Zelene Liang melingkarkan kedua lengannya ke leher Tony Huo.


🍁🍁🍁


Setelah apa yang mereka lakukan di kamar mandi, makan malam mereka diundur. Padahal Zelene Liang sudah cukup lapar, apalagi setelah pemanasan yang mereka lakukan di sore hari tadi.


Tony Huo berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan dengan sedikit senyum sumringah merekah pada bibir tipisnya. Tidak menyangka bahwa Zelene Liang menerima dirinya, bukan hatinya yang diterima melainkan tubuhnya.


Ia melipat lengan kemejanya dan bersiap duduk di kursinya. Tony Huo masih menunggu kedatangan Zelene Liang karena saat ia meninggalkan kamarnya, wanita itu masih memilah-milah busana juga dia nampak kelelahan. Jadi Tony Huo tidak menunggu lagi dan turun lebih dulu.


Dari dalam saku celananya, Tony Huo merasakan smartphone-nya bergetar. Ia merogoh smartphone tersebut dan mendapati si penelepon ialah Huo Tian. Segera Tony Huo mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa Ayah?"


"Besok gantikan aku makan siang bersama Chairman Lee. Aku sangat sibuk besok." Huo Tian langsung menuju pokok pembahasan. Suaranya sangat jelas menandakan tidak boleh ada penolakan dari Tony Huo.


"Apakah makan siang besok sangat penting?" tanyanya lagi sebelum menyetujui permintaan ayahnya—lebih tepatnya perintah. Tony Huo menyesap air putih yang sudah dituangkan ke dalam gelasnya beberapa saat lalu oleh butler Kim.


"Chairman Lee ingin membicarakan sebuah usulan proyek baru. Katakan padanya aku tidak bisa menemaninya." Setelah berkata dengan wibawa sebagai seorang Chairman dari Huo Enterprise. Huo Tian berbisik malu, "Ibumu ingin piknik bersama ke tempat kami pertama kali bertemu."


"Cough!" Tony Huo terbatuk kecil mendengar ucapan ayahnya. Air putih yang baru dia minum seperti akan keluar dari tenggorokannya. Ia mengambil serbet lantas menyeka bibirnya. Sama sekali tidak percaya bahwa orang tuanya sangat romantis hingga sekarang dan sudah sampai setua itu mereka tetap bernostalgia ke tempat-tempat ketika mereka pertama kali bertemu. Tony Huo sebenarnya kagum akan kemesraan orang tuanya, apalagi kekuatan ibunya yang mampu menenggelamkan sifat-sifat buruk Huo Tian saat masih muda. Sekarang ayahnya selalu menuruti perkataan ibunya. Ia sedikit menggeleng, dan berpikir apakah dirinya juga akan seperti itu?


"Siapa yang menelepon?" Zelene Liang bertanya sembari bersiap untuk duduk di kursinya.


"Pelan-pelan saja." Tony Huo berujar seraya bangkit dari duduknya, ia menaruh smartphone-nya, kemudian menarik kursi untuk Zelene Liang.


Zelene Liang duduk perlahan di kursinya. Mengetahui bahwa Zelene Liang kelelahan setelah mandi, Tony Huo bertingkah baik padanya. Pria itu kembali duduk di kursinya dan meletakkan smartphone-nya ke telinga sebelum menjawab Zelene Liang.


"Ayah menyuruhku untuk mengantikannya makan siang besok."


Zelene Liang mengangguk. Ia memotong steak di piringnya dan memasukkan potongan pertama ke dalam mulutnya.


Sementara itu, Huo Tian masih berbicara di seberang telepon, "Apakah saat ini kalian sedang makan malam? Nah, kalau begitu aku tutup teleponnya. Jadilah putra yang baik dan jangan kecewakan menantu kami." Nada peringatan diberikan pada Tony Huo. Sekarang bahkan Huo Tian sendiri memberikannya peringatan, belum lagi Nan Si Yue sering mewanti-wantinya agar menjaga Zelene Liang dengan baik dan tidak menyakiti perasaannya sedikit pun karena dirinya sudah bersalah dua tahun lalu, meninggalkan Zelene Liang di malam pertama mereka. Beruntung Zelene Liang tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut dan malah menerima dirinya, meskipun tidak ada perasaan cinta dalam penerimaan itu.


"Hm, baiklah. Berikan salam kami pada Ibu dan bersenang-senanglah." Panggilan tersebut lantas ditutup oleh Tony Huo.


"Apakah mereka akan pergi ke suatu tempat?"


"Kencan." Kata Tony Huo singkat. Ia memasukan potongan kecil steak ke dalam mulutnya.


Zelene Liang terkekeh setelah mendengar kalau mertuanya akan berkencan. Dari yang terlihat selama ini, pasangan itu memang sangat harmonis dan mesra. Entah resep apa yang mereka gunakan sehingga menjadi pasangan yang begitu romantis bahkan pasangan muda saat ini kalah akan keromantisan ayah dan ibu Tony Huo. Kedua bola mata Zelene Liang melirik Tony Huo, dia memperhatikan pria itu dan sama sekali tidak melihat ada aura romantis dalam diri pria itu.


"Aku tahu yang kamu pikirkan saat ini. Kamu mengira aku tidak romantis?" ia menaruh garpu dan pisau yang digunakannya, kemudian mengambil serbet dan menyeka bibirnya. Tony Huo menatap hangat pada Zelene Liang, "bagaimana kalau kita juga berkencan?" ajaknya tanpa pikir panjang.


Termenung sejenak. Beberapa detik kemudian tangan Zelene Liang mengambil gelas di sebelah kanannya. Ia meneguk air putih tersebut membasahi tenggorokan. Segar. Zelene Liang menatap Tony Huo dengan ekspresi datar. "Apakah kamu pernah berkencan seperti orang tuamu sebelumnya?"


"Belum pernah. Tapi aku pernah berkencan dengan beberapa wanita yang mengejarku. Mereka mengajakku makan malam di hotel-hotel mewah."


"Setelah itu apa yang terjadi?" bertanya penasaran, fantasi Zelene Liang telah jauh di depan. Biasanya dalam drama-drama setelah pasangan berkencan di hotel mewah, mereka pula akan memesan kamar di sana, dan ... begitulah yang ada dipikiran Zelene Liang saat ini.


"Jangan berpikir berlebihan Zelene Liang. Kamu pikir aku tidak bisa mengetahui fantasimu melalui wajah garingmu itu? Aku tidak pernah tidur dengan mereka, jadi kamu tenang saja karena tubuhku hanya kamu yang pernah melihatnya." Tanpa rasa malu sedikit pun, Tony Huo berucap demikian membuat Zelene Liang membulatkan matanya.


Beruntung saat ini di ruang makan hanya ada mereka berdua, jadi para pelayan tidak bisa mendengar ucapan Tony Huo barusan. Setelahnya wajah Zelene Liang berubah merah lantaran mengingat adegan di dalam bak mandi sore tadi.


🍁 Bersambung🍁