
Kota T, Negara C
Zelene masih terlelap di atas ranjang empuk di hotel tempatnya menginap. Tubuh jenjangnya dibungkus sepenuhnya oleh selimut tebal, membuatnya enggan membuka mata. Ketika Hanna menggoyangkan tubuhnya; ia tetap berjalan dalam mimpinya.
Saat di pesawat Zelene tidak bisa tidur dengan nyaman, ia merupakan tipe yang pilih-pilih bila berurusan dengan kenyamanan. Hanna sudah mengetahui hal tersebut, namun tangan Hanna tetap mengguncang badan Zelene.
"Bangunlah! Jika tidak kita akan terlambat." Hanna menarik selimut Zelene, membuat wanita di tempat tidur terperanjat tanpa membuka mata.
"Jam berapa sekarang?" mata Zelene masih terpejam, ia sangat malas membuka mata.
Meski penerbangan dari Imperial City menuju Kota T hanya memakan waktu 2 jam, tetapi mereka berangkat pukul 1 dini hari. Zelene hanya bisa memejamkan mata beberapa jam sebelum Hanna membangunkannya. Meskipun, kadang kala seorang aktris harus syuting hingga pagi, namun Zelene tidak mengambil jadwal syuting hingga dini hari, ia lebih mementingkan kesehatannya.
Hanna menuangkan segelas air di atas nakas, lalu melirik jam tangan Gucci di pergelangan tangan kanannya. "Pukul 7 kurang 15 menit." Ia menyerahkan gelas di tangannya pada Zelene.
Air itu ditenggaknya, mata Zelene kini terbuka sepenuhnya. Ia menaruh gelas itu kembali ke atas nakas, lantas turun dari tempat tidur. "Aku akan mandi dulu." Langkahnya masih sempoyongan karena kantuk tetap menyapa.
🍁🍁🍁
1 jam kemudian Zelene dan agennya sampai di perkampungan, tempat yang dikatakan adalah kampung kelahiran Zhang Mei Lin. Hari ini mereka akan mulai meninjau lokasi sebelum melakukan pengambilan adegan.
"Ah, di sini sangat dingin. Apa semua pedesaan sangat dingin?" Zelene menggertakan giginya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku trench coat warna aprikot.
"Sekarang sudah memasuki musim gugur, Lene. Tentu saja dingin, apa lagi di pedesaan memang lebih dingin. Haha ...." Sahut Hanna sembari terkekeh, ia menepuk-nepuk pipinya agar tidak kaku.
"Akhirnya, Kak Liang, bisa syuting dengan tenang tanpa gangguan Alice Pei, dia sudah dikeluarkan." Celetuk Xu Mo, membuat kedua wanita di sampingnya agak terperangah.
"Alice Pei dikeluarkan?" pupil Zelene terbuka lebar, ada perasaan senang di hatinya karena ia tidak perlu melihat wajah Alice Pei selama masa syuting yang akan memakan waktu cukup lama. Namun, dalam benaknya ia bertanya, mengapa wanita itu di keluarkan?
"Aku mendengar dari beberapa kru, bahwa Alice Pei dikeluarkan karena alasan kesehatan." Xu Mo mengedikkan bahu, ia juga kurang tahu masalah kesehatan apa yang diderita wanita dengan dandanan penggoda itu.
Sementara itu dari kejauhan seorang lelaki dalam busana hitam terus-menerus menatap mereka dengan tekun.
Zelene menyadari kehadiran lelaki yang bersembunyi di antara rumah-rumah warga yang mereka lewati barusan. Ia tahu bahwa pria dalam busana hitam itu, bukanlah pengawal yang dikirim oleh Tony Huo; ia kemudian pamit kepada Hanna sebentar mengatakan bahwa, ia harus menelepon kediaman Huo.
Zelene melangkah memasuki sebuah gang kecil seraya memainkan smartphone di tangannya. Ia melirik tajam pada bayangan lelaki yang telah lama mengawasinya.
Lelaki layaknya bayangan hitam keluar dari persembunyiannya, lalu menghampiri Zelene di dalam gang.
"Sudah berapa lama?" Zelene memutar badannya, menghadap lelaki yang berdiri tegak bak tentara sedang berbaris menerima perintah.
Sebelum menggerakkan bibir tebalnya, pria itu menundukkan kepala—memberi hormat pada wanita yang memandang malas di hadapannya. "Nona Ke-tujuh," pria itu kembali mengangkat kepalanya, "kapan Anda akan kembali?"
Dimasukannya smartphone di tangan Zelene ke dalam sakunya; ia melipat tangan. "Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku dan malah bertanya balik?!" Zelene mendekati pria yang menundukkan pandangan, "katakan sudah berapa lama?"
"Sejak Anda sampai di Kota T." Sahutnya gamblang. Lelaki yang masih berdiri tegak dengan pandangan ke bawah—sudah mengikuti Zelene sejak ia turun dari pesawat dan menginap di hotel yang sama pula.
"Oh, hanya itu saja yang ingin kau tanyakan?" Zelene berjalan ke sisi lelaki dalam busana hitam, "aku tidak akan kembali, Ah Mo. Jangan buang-buang waktumu!"
"Tapi ... Tuan besar ...." Pria bernama Ah Mo, menatap dalam ke mata Zelene.
"Ah Mo, apa tidak cukup hanya dengan Xu Mo yang sudah mengikutiku, sekarang kau juga menampakkan wajahmu?"
"Saya tidak bermaksud mengganggu, Nona Ke-tujuh, saya hanya menyampaikan pesan untuk Anda." Ucapnya jelas.
"Katakan!"
"Tuan besar ingin agar Nona ke-tujuh segera kembali."
Zelene menarik napas, tangannya dengan sigap meraih pistol yang terselip di pinggang Ah Mo. Ah Mo terperangah dengan kecepatan Zelene dalam merenggut pistol miliknya.
Mata Ah Mo terfokus pada wanita di depannya, meskipun sudah begitu lama; ketika Ah Mo mengajarinya memegang pistol, namun kecakapan Zelene sepertinya makin meningkat.
"N-Nona Ke-tujuh ...." Ah Mo tidak menyangka, bahwa gadis cilik yang dulu diajarkannya memegang pistol, kini menodongkan senjata padanya. Ia hanya menjadi pengantar pesan, tak berharap untuk mati di tangan Zelene. Meskipun ia bisa membalikkan keadaan, meraih pistol itu kembali dari tangan Zelene, akan tetapi ia tidak akan bisa menyakiti Zelene.
"Tony Huo menyiapkan dua pengawal untukku, berhati-hatilah saat kau kembali!" Zelene menaruh pistol itu di tangan Ah Mo. Ia memasukan jemari rampingnya ke dalam saku coat, dan melangkah pergi.
"Baik, Nona Ke-tujuh." Ah Mo kembali menunduk, memberi hormat pada Zelene yang telah keluar dari gang.
🍁🍁🍁
Toronto, Ontario, Canada
Atas permintaan Ling Ling, semua rumor yang beredar di Negara C berhasil dibungkam oleh Duan Che. Tidak ada satu surat kabar atau majalah daring yang berani menyebarkan rumor tentang Tony Huo, jadi sekarang ia sudah bebas dari rumor kencan dengan berbagai wanita dari kalangan atas.
Tony Huo duduk di kursinya mendengarkan penjelasan dari Duan Che, mengenai keberhasilannya membungkam media.
"Semua sudah di bereskan, Tuan. Bagaimana dengan wanita dan pria itu?" Duan Che melirik sepasang pria dan wanita yang terduduk di lantai—di awasi para pengawal yang telah menangkap mereka dari mimpi indah saat di Imperial City.
Alice Pei dan Direktur Ming ditemukan dalam kamar hotel yang sama oleh bawahan Tony Huo; mereka langsung diculik ke Kanada tanpa penjelasan apa pun.
Rambut Alice Pei masih awut-awutan, begitupun dengan busana yang dikenakannya, sangat tidak pantas bila dipandang mata. Pria di sebelah Alice Pei tidak lain adalah Direktur Ming—orang itu tampak pucat, bibirnya memutih seolah jantungnya berhenti memompa darah. Dia memperhatikan Tony Huo yang belum menyapa sejak kedatangannya.
Bukannya memberi tempat duduk yang layak dan disajikan teh, Direktur Ming malah diperlakukan bagaikan tawanan kalah perang. Dia seorang direktur sebuah industri hiburan yang memegang pengaruh besar, namun di hadapan pria ber-aura dingin seperti Tony Huo; jabatannya sebagai direktur tidak ada artinya, dia hanyalah seekor semut yang bisa diinjak kalau Tony Huo mau.
"CEO Huo, sebenarnya apa maksudmu memperlakukan kami seperti ini?" Direktur Ming akhirnya memiliki keberanian untuk membuka mulutnya.
Raut muka Tony Huo datar sembari melemparkan pandangan jejap ke arah pasangan di lantai kantornya. Ia bangkit dari kursinya, melangkah ke depan mereka. Haruskah Tony Huo membawa mereka ke kantornya, mengapa tidak membawa mereka ke gudang di mana rumah para tikus tinggal?
"Tidak bisakah kau menebak?" pandangan tajam Tony Huo di arahkan ke Alice Pei seakan-akan sembilu mengiris kulit wanita yang bergeming menahan napasnya.
Dalam batinnya, Direktur Ming sedang bergulat. Tony Huo mengarahkan tatapan tajam pada Alice Pei, apakah semua karena Alice Pei? Pria itu menengadah. "Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu?! Bisakah kita bicarakan baik-baik, tanpa perlu memperlakukanku seperti tawanan?" dia melirik pada Alice Pei, "apa mungkin semua karena wanita ini?"
"A-aku tidak tahu apa-apa." Ucap Alice Pei ketakutan. Awalnya ketika dia dibawa ke kantor Tony Huo; wanita itu agaknya terpesona oleh wajah tampan Tony Huo, namun pria di hadapannya sangatlah menakutkan. Dia tidak mengetahui kesalahannya, mengapa dia tiba-tiba dibawa ke Kanada dalam semalam. Jika Alice Pei bisa bebas dengan cara merayu Tony Huo, pastinya dia akan melakukan segala rayuan yang dia bisa.
"Kau," Tony Huo berjongkok di depan Alice Pei, "otak kotormu ingin menjebak istriku dengan pria mesum ini?"
Kedua orang itu tersentak mendengar pertanyaan Tony Huo. Menjebak istrinya? Siapa istri Tony Huo? Mereka berdua saling pandang, mengedikkan bahu.
Alice Pei tersadar dari kagetnya, ia segera menggeleng. "A-aku t-tidak tahu siapa yang kau maksud. Aku bahkan tidak tahu siapa istrimu." Dia terus menggeleng hingga kepalanya pusing.
Seringai terpasang di wajah tampan Tony Huo. "Benarkah?" ia kembali berdiri, kaki panjangnya berjalan menuju kursi, "kau pasti mengenal Zelene Liang—wanita yang ingin kau jebak berselingkuh dengan pria di sampingmu itu," Tony Huo duduk di kursinya, santai. "Dia adalah istriku."
Mulut Alice Pei menganga, tidak berani mempercayai pernyataan Tony Huo. Zelene Liang adalah istrinya—menantu keluarga Huo. Alice Pei jatuh dari lamunannya, jika dia tahu dari awal, maka hal seperti kemarin tidak akan pernah dia lakukan. Meskipun demikian, nasi sudah menjadi bubur, Alice Pei harus menghadapi konsekuensinya.
"Jadi kau dalangnya? Dasar wanita rendahan! Kau menyeretku ke dalam masalah!" Direktur Ming sangat marah, dia bangkit dan menendang perut Alice Pei menggunakan kaki kanannya.
Tubuh wanita berbusana tak layak itu terhempas, hingga 2 meter jauhnya. Alice Pei mengerang kesakitan, memegangi perutnya yang memungkinkan sudah membiru.
"Bawa mereka pergi! Aku tidak ingin melihat mereka berada di Negara C, saat aku kembali nanti." Perintah Tony Huo dengan nada mencekam.
"Baik, Tuan." Duan Che segera menyuruh para pengawal mengusir kedua orang itu.
Mereka ditarik secara kasar oleh pengawal berbadan kekar dalam balutan hitam, mata mereka dipenuhi aura membunuh. Beruntung mereka hanya diusir dari Negara C, dan tidak di kurung dalam penjara bawah tanah.
"CEO Huo aku tidak melakukan kesalahan apa pun! Semua ulah wanita itu! Aku dijebak!" pekik Direktur Ming, memekakkan seluruh ruangan.
"Bersalah atau tidak, kau sudah terlibat." Ucap Tony Huo datar. Ia memutar kursinya menghadap dinding kaca, pemandangan gedung-gedung bertingkat di Kota Toronto terlihat jelas dari kantornya.
🍁Bersambung🍁