
Suara detak jantung Tony Huo terdengar kencang, hingga ia sendiri menutupi dadanya dengan tangan besarnya. Ia berjalan menuju ruang belajarnya dengan langkah dipercepat, demikian pula dengan gelombang jantungnya yang bergejolak semakin kencang kala wajah manis Zelene Liang kembali singgah dalam pikirannya.
Pintu ruang belajar dibuka olehnya dan dengan cepat pula ditutup. Tony Huo bersandar pada pintu tersebut sembari menghela napas. Tangannya tetap berada pada dadanya, kini makin terarah ke dada kiri di mana detaknya sangat kencang. Ia menelengkan kepala ke kiri dan mendekatkan telinga pada dada kirinya.
"Keras sekali detaknya. Apakah aku perlu meminta si tua Su untuk memeriksa jantungku?" tanyanya pada dirinya sendiri karena agak bingung dengan detak jantungnya yang kian cepat. "Tidak, tidak, dia hanya akan menertawakanku, jika tahu penyebab jantungku berdebar cepat."
Tony Huo menggeleng dan melangkah menuju kursinya setelah ia merasa agak tenang berkat mengolah pernapasannya barusan. Dia mendudukkan dirinya pada kursi eksekutif tersebut dan masih mengatur pernapasannya. Kepala Tony Huo bersandar pada kursi tersebut, jemarinya mengusap lembut pada kedua matanya yang telah melihat wajah manis Zelene Liang barusan.
"Zelene Liang, apa yang telah kamu lakukan padaku?"
Ketika menyebut nama Zelene Liang, wajah manis dan bibir mungilnya kembali terlintas dalam benak pria itu. Ia semakin tidak mengerti akan dirinya sekarang, apalagi dengan hatinya. Belum lagi debaran keras yang terasa jantungnya ingin keluar dari tempatnya.
๐๐๐
Sementara itu di waktu yang sama di kamar utama. Zelene terdiam sejenak karena melihat tingkah Tony Huo yang agaknya aneh ketika melihat dirinya keluar dari kamar mandi. Dia melihat pada dirinya dari bawah hingga atas, tidak ada yang salah. Tony Huo juga pernah melihatnya memakai jas mandi, namun pandangannya kali ini sepertinya berbeda.
"Ada apa dengan pria itu? Masihkah dia marah? Huh! Harusnya aku yang marah!" Zelene menggerutu karena tak bisa menangkap arti di balik tatapan Tony Huo. Dia tidak tahu bahwa pria itu kini bergulat dengan hatinya yang tak karuan akibat dirinya.
Karena sebentar lagi waktu makan malam, jadi Zelene bersiap mengganti pakaiannya dan tidak lagi memikirkan Tony Huo.
Akan tetapi, sesaat setelah Zelene selesai mengganti pakaian; Tony Huo muncul kembali di ambang pintu. Pria itu belum masuk dan melihat keadaan dalam ruangan, Zelene Liang terlihat sedang berdandan di depan cermin riasnya. Dengan wajah datar Tony Huo masuk ke dalam kamar, ia melepaskan jasnya, juga dasi yang telah mengerat lehernya sejak pagi.
Zelene Liang tidak begitu kaget saat melihat Tony Huo sudah berada di dalam kamar mereka. Dia sudah selesai berdandan dan bersiap untuk turun ke ruang makan.
"Tony Huo, aku sudah menduga bahwa kamu adalah orang sombong. Apa salahnya dengan menjabat tangan seseorang? Kamu ... tidak perlu menjabat jika tidak ingin, tapi tidak bisakah kamu bersikap sopan pada seorang tamu?" Zelene bertanya ketika dia melangkah dari meja rias-menghampiri Tony Huo yang kini duduk di sofa setelah menaruh jasnya di sana.
Pria itu menatap Zelene. "Kamu tidak senang karena aku tidak mau menjabat tangan pria yang dianggap sebagai kekasihmu itu?" tanyanya balik. Tony Huo bersandar pada sofa tersebut dan sorot matanya tetap mengarah pada wanita bertubuh langsing dalam balutan gaun merah di depannya.
"Bukankah kamu tahu tidak ada hubungan seperti itu antara aku dan Xie Yu Fan. Aku hanya kecewa padamu karena mengusir kami layaknya orang yang hanya diperlukan ketika kamu membutuhkan." Zelene melipat kedua tangan di dada. Sorot matanya tajam juga mengarah pada Tony Huo.
Mereka saling mengarahkan sorot tajam satu sama lain. Hingga Tony Huo merasa tidak senang dengan keadaan tersebut, ia ingin sekali marah karena perkataan yang dilontarkan oleh Zelene Liang. Pria berwajah tampan itu bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Zelene Liang. Jarak antara mereka sangat dekat sampai Zelene bisa merasakan napas pria itu terhembus pada pucuk kepalanya.
"Zelene Liang, aku melihat kalian sangat serasi ketika berjalan bersama pada saat keluar dari kantorku. Pantas saja mereka para penggemar menjodohkan kalian, aku sendiri tidak menyangka bahwa pengelihatan mereka memang benar. Kalian berdua memang sangat cocok."
Zelene Liang tersenyum masam karena apa yang Tony Huo katakan padanya. Seorang suami mengatakan bahwa istrinya cocok dengan pria lain dan di hadapan istrinya pula. Sudah gilakah pria ini? Ia mendongak lantas menatap mata Tony Huo dengan berani. "Kamu sungguh berpikiran seperti itu? Hah, sayang sekali karena Presdir Wang sudah menangani rumor kami, jadi kamu tidak perlu cemburu, Tony Huo." Dari senyum masam di bibirnya berubah menjadi seringai. Entah dari mana Zelene mendapatkan ide menuduh Tony Huo cemburu pada rumornya dengan Xie Yu Fan.
Tony Huo terdiam. Kini ia memperhatikan wanita di depannya, mereka sangat dekat sehingga ia sendiri bisa merasakan aroma cherry pada tubuh Zelene Liang. Sorot mata Tony Huo melunak karena aroma tersebut perlahan menenangkan pikirannya yang berkecamuk.
Mungkinkah benar karena cemburu? Tapi, aku tidak mencintai wanita ini sama sekali, bagaimana mungkin aku bisa cemburu? Dia hanya mengada-ada. Tony Huo membatin, ia tidak percaya bahwa dirinya saat ini sedang cemburu.
"Kamu tidak bisa mengakui bahwa, kamu cemburu pada Xie Yu Fan? Mungkinkah kamu malu untuk mengakui telah menaruh hati padaku?" tanya Zelene kembali dan makin berani dengan pertanyaan yang dilontarkannya langsung pada wajah Tony Huo. "Mengaku saja! Siapa yang tidak akan jatuh hati pada wajah manis dan cantik ini? Buktinya matamu tidak bisa berhenti memandangku sejak tadi dan aku perhatikan, kamu bahkan tidak berkedip." Entah dari mana keberanian Zelene muncul atau memang dari keangkuhannya berkata sehingga dia tidak malu-malu berucap demikian pada Tony Huo.
"Haha," Tony menempelkan tangannya di dahi, sungguh tidak percaya akan kepercayaan diri Zelene Liang yang mampu berkata demikian pada dirinya. "Zelene Liang, dari mana kepercayaan dirimu itu datang? Aku tidak memiliki perasaan apa pun padamu bagaimana mungkin aku cemburu pada padamu dan pria itu? Hahaha!" ia tertawa garing.
"Sungguh?" Zelene semakin dalam menatap iris hitam milik Tony Huo. "Kamu tidak perlu memiliki perasaan padaku agar bisa cemburu. Jika aku benar, kamu cemburu karena harga dirimu, bukan? Kamu merasa diremehkan karena tidak bisa menjaga istrimu dan malah dirumorkan dengan pria lain. Akui saja Tony Huo, bahwa kamu cemburu!"
"Zelene Liang, jangan berlebihan." Tony Huo meraih dagu Zelene karena kesal pada wanita itu telah mengatakan ia cemburu.
"Tony Huo, lepaskan! Apa yang kamu lakukan? Kamu akan menyakitiku lagi?" pergelangan tangan Tony Huo dicekal oleh Zelene, namun ia tetap tidak bisa membebaskan dagunya dari tangan besar pria itu.
Pada saat wajah mereka berdekatan, debaran jantung Tony Huo sama seperti sebelumnya. Ia merasakan debaran aneh dan bahkan kini lebih aneh lagi karena makin kencang dan ada rasa tak diketahui olehnya menyeruak di dalam sana. Hangat juga terasa agak perih ketika matanya beralih menatap iris Zelene Liang.
Zelene merasakan perbedaan pada tatapan tersebut dan mulai bertanya, "Tony Huo, ada apa denganmu? Lepaskan daguku, mau sampai kapan kita akan begini?"
Tony Huo sama sekali tidak mendengar pertanyaan Zelene Liang, karena ia fokus melihat wajah manis itu. Menelusurinya dari mata hingga pada bibir mungil yang tadi dirasakan olehnya. Ada keinginan untuk sekali lagi merasakan bibir tersebut dan tanpa sadar bibir tipis Tony Huo sudah mendarat pada bibir mungil itu.
Kembali bibir mereka menyatu dan entah mengapa Zelene tidak melawan dan menerima ciuman tersebut. Ciuman mereka kali tidak dipaksakan seperti sebelumnya ketika di kamar mandi. Bibir mereka terus bertautan hingga udara yang mereka rasakan makin menyempit lantas Tony Huo mengakhiri ciuman tersebut.
๐ Bersambung๐
Halo reader! Author punya chat story baru judulnya "Make A Wish" genre: Romantis, Horor, Misteri. Kasih dukungan ya! Terima kasih