
Udara dalam paru-paru Zelene Liang terasa sudah menipis, bisa terdengar dari suara napas kasarnya. Tony Huo membuka matanya dan seketika menemukan wajah Zelene Liang telah memerah. Bibirnya yang bertautan dengan bibir Zelene Liang secara perlahan memutuskan benang salivanya.
Menghirup udara tergesa-gesa, kelopak mata Zelene Liang mulai terangkat perlahan. Mata keduanya bertemu serta wajah mereka masih berdekatan. Bahkan detak jantung dari keduanya saling beradu satu sama lain. Suara dari debaran jantung keduanya serupa ombak menyibak lautan di kala senja nan tenang.
Tony Huo memindahkan tangannya dan menyeka bibir Zelene Liang yang agak basah mengunakan ibu jarinya. "Ayo keluar dan mandi bersama." Bisiknya lembut.
Tercengang. Zelene Liang tidak dapat berkata apa pun untuk beberapa detik sembari meluruskan pernapasannya. Tersenyum datar, lantas Zelene Liang berkata, "Sepertinya kamu terkena gangguan bipolar." Tangan Zelene Liang meraih gagang pintu dan dia turun dari mobil meninggalkan Tony Huo dengan harapan kosong.
Bagaimana tidak, sebelumnya wajah Tony Huo hangat lantas menjadi muram karena teringat oleh kotak hitam berisi liontin itu, apalagi dengan si pemberi liontin. Sekarang Tony Huo malah memiliki wajah antusias dan mengajak Zelene Liang mandi bersama. Tentunya membuat wanita itu terkejut dengan mood swing Tony Huo.
"Hah, bipolar? Aku?" Tony Huo bertanya pada dirinya sendiri, ia tersenyum masam. "Berani sekali meledekku."
Keluar dari mobilnya, langkah besar di ambil oleh Tony Huo sehingga bisa menyusul langkah Zelene Liang. Terpasang senyum miring pada wajah tampannya, Tony Huo meraih tangan Zelene Liang. Pria itu belum menyerah dengan ide mandi bersama.
"Lepaskan!" langkah kaki Zelene Liang terhenti, dan dia menatap malas pada Tony Huo.
"Kamu tidak suka bergandengan tangan?" menyeringai halus, "jadi aku harus menggendongmu bak permaisuri?" tanpa menunggu respon dari Zelene Liang, kedua tangan Tony Huo merangkul tubuh jenjang Zelene Liang dan menggendongnya ala bridal.
"Ahk! Tony Huo, turunkan aku!" wajah Zelene Liang memiliki semburat merah. Bukan hanya butler Kim saja yang menyaksikan, namun banyak pelayan sedang mengamati mereka dengan mata membelalak. Dirinya merasa malu karena saat ini Tony Huo sedang memanjakannya demi mandi bersama.
Selangkah demi selangkah kaki Tony Huo menaiki tangga. Ia memampangkan senyum tanpa peduli wanita itu meronta, hingga mencubit lengannya. Layaknya pasangan suami-istri yang baru menikah, begitulah Tony Huo memperlakukan Zelene Liang. Entah apa yang ada dipikiran pria itu sehingga ia sangat ingin mandi bersama Zelene Liang?
"Kamu sangat ingin mandi bersamaku? Aku heran apakah kamu selalu mengajak para wanita itu untuk mandi bersamamu?" bertanya sinis, Zelene Liang masih mencubit lengan Tony Huo bahkan menambahkan tenaganya.
"Tidak pernah! Aku bahkan tidak melihat mereka." Jawabnya santai.
Meskipun para wanita yang mengejar Tony Huo—nyata adanya, namun tidak pernah menganggap mereka ada di matanya—berarti mereka adalah mahkluk astral tidak jelas di mata pria itu. Bagaimanapun cara mereka mengejar dan menghujamnya dengan kata cinta, Tony Huo tidak pernah tersentuh akan aksi dari para wanita itu.
Layaknya orang yang berbeda Zelene Liang semakin ingin mengenal Tony Huo. Dia melepaskan cubitan pada lengan Tony Huo dan tidak bermaksud untuk melawan lagi. Setelah sampai di depan kamar, Zelene Liang membuka pintu tersebut dan menjatuhkan tasnya ke lantai.
"Hanya mandi bersama saja, 'kan? Tidak ada hal lain lagi?" mau bagaimana lagi, mereka merupakan pasangan yang sudah menikah dan tidur bersama.
"Hm, apakah kamu malu? Aku sudah melihat semuanya, jadi kamu tidak perlu malu."
"Sedikit." Bagaimanapun juga rasa malu pasti akan ada ketika mereka hanya berdua tanpa mengenakan busana menutupi tubuh mereka.
Tony Huo membawa Zelene Liang ke dalam kamar mandi. Ia melepaskan semua busana yang menempel pada tubuh Zelene Liang. Layaknya pasangan suami-istri pada umumnya, tidak ada dari mereka yang menjaga image di saat seperti ini.
Ataukah mungkin mereka sudah saling menerima satu sama lain, namun tidak mereka sadari?
Keduanya berendam di air panas pada bak mandi besar tersebut. Busa-busa putih menutupi tubuh mereka dan yang nampak hanya leher putih Zelene Liang, sementara Tony Huo merapikan rambut Zelene Liang mengikatnya tinggi, menampilkan tengkuk Zelene Liang.
Zelene Liang sendiri tidak mengerti dengan suasana saat ini, apakah yang berada dalam bak mandi adalah dirinya ataukah orang lain telah merasuki tubuhnya? Dia masih kesal dengan Tony Huo, dan mereka selalu saja bertengkar. Tetapi saat ini, suasananya amat beda. Dirinya seperti berada dalam lautan besar dan menenangkan pikirannya, membiarkan waktu berjalan dengan semestinya.
"Kamu menjilat ludahmu sendiri, Tony Huo. Tidakkah kamu ingat apa yang pernah kamu katakan padaku beberapa hari yang lalu? Begitu cepat kamu sudah melupakan perkataanmu sendiri dan malah jatuh cinta padaku?" Zelene Liang mengejek kesombongan Tony Huo beberapa hari lalu ketika mereka selalu bertengkar. Dia menoleh ke belakang seraya mengembangkan senyum meledek.
Tony Huo terkekeh garing, "Aku belum lupa." Ia mendekatkan wajahnya ke daun telinga Zelene Liang dan berkata pelan, "aku juga ingin menikmati kehidupan suami-istri seperti yang Ibu katakan. Semuanya masih sama, kamu tidak boleh mengharapkan perasaanku. Aku bisa memberikan apa pun padamu, kecuali memberikan perasaanku."
"Heh ..., benarkah saat ini kamu tidak menaruh perasaanmu padaku?" Zelene Liang tidak begitu yakin dengan perkataan Tony Huo. Walaupun demikian, dirinya juga tidak akan mengharapkan hati Tony Huo menjadi miliknya karena dia sendiri tidak mengetahui bagaimana cara kerja perasaan. "Aku tidak butuh hatimu karena aku sendiri tidak memberikan hatiku padamu."
Tony Huo tidak memberikan tanggapan, malah mendaratkan bibir tipisnya pada tengkuk Zelene Liang. Merasa sangat geli, Zelene Liang memejamkan matanya dan mendesah pelan.
🍁 Bersambung🍁