
“Kamu mau melihatku berganti pakaian?” Zelene Liang mendengus kesal menghadapi bagaimana keras kepalanya Tony Huo. “Dasar mata keranjang!”
Zelene Liang membawa tangannya ke depan dan tidak ingin menatap Tony Huo. Dia merasa kesal dan malu di hadapan Qin Zhuo An yang tengah berdiri di belakangnya. Meskipun mereka suami-istri, tapi Tony Huo sama sekali tidak menghargai privasi daripada Zelene Liang.
Sesekali manik mata Zelene Liang mengelih pada Tony Huo yang tidak memiliki niatan untuk bangkit dari duduknya, menyebabkan Zelene Liang semakin mengkal hati karena kelakuannya.
“Kamu keras kepala sekali, Tony Huo! Kalau kamu tidak keluar, aku tidak mau berbicara denganmu lagi.” Ucap Zelene Liang dengan sungguh-sungguh lantaran sudah terlalu kesal.
Helaan napas kasar terdengar dari sofa. Tony Huo akhirnya memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Ia menatap Zelene Liang untuk beberapa saat dan tidak mengatakan apa pun ketika melangkahkan kakinya.
Pintu ditutup oleh Tony Huo dan dalam kamar tersebut hanya menyisakan Zelene Liang dan Qin Zhuo An.
“Hebat sekali. Tuan Muda akhirnya mengalah pada Nyonya. Memang benar ketika orang jatuh cinta mereka akan mengalah dengan sukarela.” Qin Zhuo An tersenyum bahagia ketika berucap. Wanita setengah baya itu melangkah ke arah almari dan mengambil baju ganti yang akan dikenakan oleh Zelene Liang.
“Dia? Tony Huo jatuh cinta padaku?” Zelene Liang bertanya tidak percaya, serta wajahnya dilingkupi oleh ketidakpercayaan yang teramat besar. “Tidak mungkin!” katanya.
Namun, semburat merah mulai nampak pada kedua pipinya dan rona itu tertangkap oleh mata Qin Zhuo An.
Wanita setengah baya itu terkekeh melihat Zelene Liang tidak sadar dengan perasaan Tony Huo, dan bahkan dengan perasaannya sendiri.
🍁🍁🍁
Keduanya telah berada di ruang makan saat ini. Tony Huo dengan cekatan memasukkan satu sendok nasi dan sayur ke dalam mulut Zelene Liang. Pria itu nampak sangat perhatian dan telaten ketika mengurus Zelene Liang, tidak membiarkan pelayan lain membantu.
Sebenarnya, Zelene Liang bisa makan menggunakan tangannya sendiri, tapi Tony Huo tidak mengijinkannya dan menyuruhnya untuk tetap diam.
“Kalau kamu menyuapiku terus, lalu kapan kamu akan sarapan?” bertanya perhatian karena sedari tadi Tony Huo hanya memasukkan makanan ke dalam mulutnya saja. Bahkan pria itu sendiri belum menyentuh makanannya.
Bisa-bisa Tony Huo akan terlambat pergi ke kantor karena malah sibuk mengurus Zelene Liang.
“Aku akan makan setelah selesai menyuapimu.” Tony Huo berucap seakan menyuapi Zelene Liang saat ini lebih penting daripada menyuapi sarapan untuk dirinya sendiri, dan bahkan merasa lebih penting daripada pekerjaannya di kantor.
Bukannya merasa tidak enak, tapi Zelene Liang cukup senang diperlakukan bak putri oleh Tony Huo. Namun hal itu juga membuatnya merasa bersalah karena sebagian besar waktu pria itu dihabiskan untuk merawatnya tanpa henti.
“Kamu lupa aku ini siapa? Memangnya siapa yang akan berani berkata macam-macam pada CEO Huo Enterprise?”
Nampak angkuh dengan ucapannya saat ini. Tony Huo masih giat melakukan pekerjaan menyuapi istrinya karena menurutnya, menyuapi Zelene Liang bak menyuapi seorang bayi mungil.
Pikiran itu tiba-tiba menyentak benaknya. Tony Huo seketika memperhatikan perut datar Zelene Liang dan bertanya-tanya, kapan perut Zelene Liang akan membesar?
“Dasar pria angkuh. Kamu tidak akan tahu berapa orang di belakangmu yang sedang memakimu saat ini.” Zelene Liang mendengus kesal. Tanpa sengaja dia menangkap tatapan Tony Huo yang sedang memperhatikan ke arah perutnya. “Apa yang kamu lihat?”
“Itu!” jari Tony Huo menunjuk pada perut datar Zelene Liang. “Kapan perutmu akan membesar?” bertanya polos menyababkan Zelene Liang terbatuk.
“Cough ... cough ....”
“Cepat minum,” Tony Huo mengarahkan gelas air putih ke mulut Zelene Liang. “Pelan-pelan saja.”
Dengan lembut menepuk bahu Zelene Liang menggunakan tangannya yang lain. Tony Huo tidak tahu kalau mata Zelene Liang seperti silet akan di arahkan padanya sebentar lagi.
Masih menundukkan kepalanya, tangan Zelene Liang terkepal erat. Di saat seperti ini Tony Huo malah bertanya mengapa perutnya masih datar? Apakah perutnya akan membesar ketika mereka hanya tidur sebanyak dua kali saja.
Pertanyaan itu membuat Zelene Liang malu. “Dasar bodoh!” pekiknya.
“Bodoh?” Tony Huo tidak mengerti mengapa Zelene Liang mengatainya bodoh, dia hanya bertanya karena penasaran. “Mengapa wajahmu memerah, Zele?”
“Iya, kamu bodoh! Dasar bodoh! Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”
🍁Bersambung🍁