
Setelah dua Minggu melakukan perawatan intensif di rumah sakit akibat cedera kaki yang dialaminya, Zelene Liang menghentikan seluruh aktivitasnya di industri hiburan sampai kakinya sembuh nanti. Hari ini Zelene Liang sudah bisa keluar dari rumah sakit, namun dia masih belum bisa berjalan.
Selama dua Minggu di rumah sakit, selama itu pula Tony Huo menemaninya siang dan malam. Pria itu sampai membawa dokumen-dokumennya dan bekerja dari rumah sakit. Akan tetapi Zelene Liang selalu menyuruhnya untuk pergi ke kantor, barulah Tony Huo beranjak dari sisinya hanya untuk pergi rapat dan setelahnya kembali ke rumah sakit.
Selama itu pula pelaku yang telah membuatnya celaka telah ditemukan. Setelah Zelene Liang sampai di mansion nanti akan diurus olehnya karena dia sendiri ingin tahu orang seperti apa yang telah dengan berani menyabotase sepatu hak tingginya. Dendam apa yang dimiliki oleh orang itu terhadap dirinya.
Perempuan yang membawakan sepatu untuknya hanyalah salah satu kaki tangan dan sampai sekarang perempuan itu masih belum mengakui orang yang telah menyuruhnya. Meskipun begitu, para anak buah Tony Huo sudah mendapatkan informasi lebih dulu, mereka telah siap bergerak hanya tinggal menunggu perintah saja.
“Kamu tidak pergi ke kantor lagi?” Zelene Liang bertanya seraya menegakkan punggungnya sebelum memasukkan sepotong apel yang telah disiapkan oleh ibunya barusan sebelum pergi ke kantin bersama ibu dan ayah mertuanya.
“Hari ini kan kamu sudah boleh pulang dari rumah sakit. Aku akan menemanimu di sini dan kita pulang bersama.”
Tony Huo menyeka bibir Zelene Liang menggunakan saputangan miliknya. Pria itu sangat perhatian belakang ini setelah Zelene Liang mengalami cedera. Tony Huo bahkan merawatnya sendiri, serta mereka cukup dekat setelah terjadinya insiden tersebut.
“Alasan saja.” Zelene Liang kembali memasukkan sepotong kecil apel ke dalam mulutnya. Kemudian dia kembali berkata, “aku bahkan belum sempat membalas semua perbuatan burukmu padaku dan saat ini aku bahkan tidak bisa berjalan apalagi membalasmu.” Dia melengos seraya melipat tangannya ke depan. Lantaran begitu sibuk dengan pekerjaan dia lupa membalas kejahatan-kejahatan yang dilakukan Tony Huo padanya. Ya, Zelene Liang menyebutnya sebagai kejahatan dari tambang emas.
Pria itu terkekeh seraya menutup bibirnya dengan punggung tangan melihat istrinya yang sedang merajuk saat ini begitu lucu di matanya. Tony Huo tak mengerti mengapa mereka bisa seperti ini, padahal sebelum dan sesudah kembali dari Kanada—mereka seperti musuh yang tak bisa akur.
“Mengapa malah tertawa? Aku berkata serius. Setelah ini aku benar-benar akan membalas semua perbuatanmu padaku, Tony Huo.” Mendelik tajam pada pria itu. Zelene Liang merupakan wanita yang tidak akan melupakan dendamnya apalagi terhadap Tony Huo.
Kesal malah ditertawakan oleh Tony Huo membuat Zelene Liang tidak segan balik mencubit pinggang pria berambut hitam dengan mata dalam itu.
“Hentikan Zelene Liang! Kamu mencari masalah denganku.”
Tony Huo kehilangan keseimbangan, tubuh kekarnya menimpa Zelene Liang. Mereka jatuh ke ranjang rumah sakit, beruntung salah satu telapak tangan Tony Huo dengan cepat menopang tubuhnya sehingga ketika terjatuh tidak membuat Zelene Liang kesakitan akibat badannya menimpa tubuh kurus wanita itu.
Zelene Liang mengerutkan kening, kedua lengannya melingkar kuat di pinggang pria itu. “Tony Huo.” Lirihnya.
“Apakah kakimu sakit?” nampak khawatir karena suara Zelene Liang amat lemah, ia ingin berdiri, namun kedua lengan Zelene Liang tidak membebaskannya sehingga posisi mereka saat ini terkunci. “Biarkan aku memeriksa kakimu. Kalau sakit katakan saja.” Ia sangat khawatir, tapi Zelene Liang tak juga melepaskannya. Ia sendiri tidak dapat melawan keinginan wanita itu dan membiarkan dirinya dipeluk seperti itu.
“Tony Huo!” Nan Si Yue berseru dari ambang pintu ketika membuka pintu bangsal tersebut mendapati Tony Huo seperti memaksakan dirinya pada Zelene Liang. “Dasar anak kurang ajar! Lepaskan menantuku atau aku akan mengutukmu. Dia masih sakit dan kau dengan tega memaksakan dirimu bahkan ketika matahari masih begitu tinggi?!” Nan Si Yue menarik tubuh Tony Huo serta memukulnya beberapa kali dengan keras menggunakan bantal yang tadi di ambilnya dari sofa.
Meski tidak terasa, namun semua orang yang berdiri di ambang pintu melihat ia dipukuli oleh ibunya, membuat wibawa Tony Huo rasanya jatuh ke lantai. “Ibu ini tidak seperti—”
Tawa hangat meletus dari ranjang rumah sakit.
🍁Bersambung🍁