My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Dia adalah Nyonya Muda Huo



Brak! Pintu rumah kaca tiba-tiba terbuka dengan suara keras dan angin berdesir melalui pintu serta daun-daun kering yang masih berserakan pun berterbangan di dalam ruangan itu.


"Siapa yang terluka?"


Mereka berempat menoleh ke asal suara yang tidak lain dari pintu masuk dan mendapati seorang wanita paruh baya berkacak pinggang di ambang pintu tersebut.


"Ibu?" Tony Huo kaget melihat ibunya tiba-tiba sudah berada di kediamannya tanpa memberitahukan kedatangannya.


Nan Si Yue menurunkan tangannya dan memperhatikan keadaan dalam ruangan tersebut, mendadak kepalanya berkedut, dia menghela napas, kemudian tatapannya jatuh pada Zelene dan Tony Huo.


Wanita paruh baya berambut hitam legam tak ada satu rambut putih pun di sela-sela rambutnya karena Nan Si Yue sangat rajin ke salon kecantikan untuk mengecat rambutnya. Dia berjalan ke arah putra serta menantu kesayangannya, juga tak lupa melirik Yun Ruo Xi yang masih terduduk di lantai.


"Sayang, apakah kau terluka?" Nan Si Yue mendorong Tony Huo kebelakang dan meraih tangan Zelene yang tertusuk oleh duri, kemudian mendelik pada Tony Huo.


Tony Huo mengedikkan bahu. "Bukan salahku."


"Kenapa kau memakai seragam gardener dan apakah ... kau yang mengerjakan tugas mereka?" tanya Nan Si Yue sembari mengambil saputangan dari tasnya, lantas mengelap jari Zelene yang berdarah menggunakan saputangannya sendiri.


"Mom, kenapa menggunakan saputanganmu?"


"Mom ...?" gumam Yun Ruo Xi yang bangkit dari lantai dibantu oleh Duan Che, namun dia sudah dikejutkan dengan cara Zelene memanggil Nan Si Yue dengan sebutan 'Mom'.


"Selamat pagi, Nyonya Huo." Sapa Duan Che.


Nan Si Yue mengangguk pada Duan Che.


Yun Ruo membenahi roknya dan tidak mau ketinggalan menyapa Nan Si Yue. "Selamat pagi, Nyonya Huo." Dia tersenyum manis seakan bokongnya yang beradu dengan lantai barusan telah hilang rasa sakitnya.


Nan Si Yue memindai wanita dalam blouses merah itu, dan memberinya tatapan datar, sesaat kemudian dia bertanya, "Kau siapa?"


"Saya Yun Ruo Xi, sekretaris Pak CEO. Sebenarnya saya dipindahkan dari Kanada ke Negara C. Jadi, kemarin saya ikut bersama Pak CEO." Terang Yun Ruo Xi. Dirinya sangat senang karena baru pertama kali datang ke kediaman Tony Huo dan langsung bertemu dengan Nyonya Huo. Tetapi, yang belum diketahuinya mengapa tukang kebun itu memanggil Nan Si Yue dengan sebutan 'Mom' karena setahunya, Tony Huo tidak memiliki saudara perempuan. Dia ingin sekali bertanya, akan tetapi dia sudah mencari gara-gara dengan Zelene barusan.


"Oh, begitu rupanya, lalu mengapa kau duduk di lantai barusan?" Nan Si Yue sebenarnya tidak ingin menanyakan hal itu, namun situasi di dalam rumah kaca itu mengharuskannya untuk bertanya.


"Uhm, itu ...," Yun Ruo Xi menoleh pada Zelene, menyiratkan bahwa Zelene merupakan pelaku yang telah membuatnya terjungkal. "Saya ingin membantu mengobati luka kecil di tangan perempuan ini, tapi dia malah mendorong saya hingga jatuh. Orang-orang sekarang ini, memang susah jika ingin dibantu karena mereka merasa bahwa dirinya juga memiliki status yang tinggi."


Yun Ruo Xi berkata dengan lancar dan tidak memikirkan terlebih dahulu mengenai status Zelene. Sehingga keempat orang yang berdiri dalam satu ruangan itu menatap padanya secara bersamaan.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Zelene menyuarakan pertanyaannya. Sejak tadi ia sudah tidak menyukai kehadiran Yun Ruo Xi, karena belangnya sangat mencolok di mata Zelene.


"Ah, saya hanya ingin membantu Anda barusan, tidak ada maksud lain." Jawabnya santai.


"Sudah, sudah, asisten Duan, tolong ambilkan plester luka." Pinta Nan Si Yue pada Duan Che.


Duan Che lantas memeriksa kotak obat di dalam rumah kaca tersebut. Sedangkan, Nan Si Yue mengajak Zelene untuk duduk. Setelah Duan Che memberikan plester luka—wanita paruh baya itu merekatkan plester luka tersebut ke jari telunjuk Zelene.


"Bu, itu hanya luka kecil tidak perlu dibalut dengan plester luka." Kata Tony Huo, malu dengan cara ibunya menanjakan Zelene Liang.


"Mom, terima kasih telah memperhatikanku." Ucap Zelene dengan nada manja. Ia meraih lengan Nan Si Yue dan mendaratkan kepalanya di bahu wanita paruh baya itu.


Tony Huo menepuk jidat melihat tingkah mertua dan menantu itu. Apalagi ibunya, bukannya menanyakan keadaan putranya sendiri, tapi malah lebih peduli dengan luka kecil yang hampir tak terlihat. Sedang, Zelene Liang memberikan tatapan penuh kemenangan pada Tony Huo dan membuat pria itu ingin muntah darah.


Sementara ketiga orang itu duduk dan bercakap, Yun Ruo Xi tercengang mendengar kata menantu yang keluar dari bibir Nan Si Yue. Untuk sesaat dia masih mencerna percakapan mereka karena yang dia tahu Tony Huo belum menikah dan tiba-tiba saja ibunya menyebut perempuan tukang kebun itu sebagai menantu. Siapa yang sebenarnya salah terka di sini? Dia lantas melirik Duan Che karena tidak berani menanyakan secara langsung, maka ia menggunakan mata untuk bertanya.


Duan Che berbisik, "Dia adalah Nyonya Muda Huo."


Deg! Yun Ruo Xi makin tercengang. Sejak kapan? Dia bertanya dalam benaknya dan tanpa sadar bergumam dengan nada yang bisa didengar oleh penghuni ruangan tersebut, "Nyonya Muda Huo ...."


Seketika semua mata memandang ke arahnya. Yun Ruo Xi sendiri bagaikan sedang dilingkupi oleh kabut karena tidak mengetahui pria yang dikagumi olehnya selama 5 tahun itu—sudah menikah tanpa sepengetahuannya.


"Ada apa, sekretaris Yun?" tanya Nan Si Yue, merasa percakapannya tiba-tiba terganggu karena gumaman keras Yun Ruo Xi dan dari nadanya sudah jelas terdengar bahwa wanita itu kaget dan ada sedikit rasa tidak terima.


"B-Bukan apa-apa, Nyonya Huo." Ucapnya gugup. Dia sudah salah beberapa saat lalu dan jika Nan Si Yue tahu bahwa, dia telah mengatai menantunya, dia tidak akan tahu tindakan apa yang akan diambil oleh Nan Si Yue, apalagi tadi dia juga sudah berkata mengenai status dari perempuan yang dianggapnya sebagai tukang kebun. Dia hanya berharap agar tidak ada lagi yang mengungkitnya.


"Kalau begitu, bisakah kalian keluar sebentar? Aku ingin berbicara dengan putra dan menantuku."


"Baik, Nyonya." Sahut kedua orang itu secara bersamaan lantas mereka keluar dari rumah kaca.


Rumah kaca itu hening sejenak sampai Nan Si Yue kembali bertanya, "Apa penjelasanmu, Tony Huo?"


Tony Huo menyeringai dan melirik Zelene dengan sorot mata iblisnya. Tadi wanita itu tersenyum penuh kemenangan, kini ia akan membalasnya.


"Menantu kesayanganmu mabuk berat tadi malam dan aku harus merepotkan diri untuk menjemputnya dari Club, juga ... merawatnya semalaman. Dalam hal ini, apakah aku salah dengan memberinya hukuman atas kesalahannya?"


Mendengar penjelasan Tony Huo, membuat senyum Zelene seketika memudar. Dasar pria iblis, perhitungan sekali. Kamu pikir aku akan kalah?


"Jadi, kau mabuk semalam?" tanya Nan Si Yue tanpa basa-basi pada Zelene.


"Jangan ditanya lagi, Bu, dia sudah seperti orang-orang yang mabuk di jalanan." Tony Huo menyeringai penuh kemenangan. Plak!


Nan Si Yue memukul kepala Tony Huo dengan berkas yang ada di meja tersebut, wanita itu menatap tidak senang pada putranya. "Memangnya aku bertanya padamu? Kau bahkan lebih buruk lagi dan masih berani menjelekkan menantuku. Aku belum memulai perhitunganku denganmu."


Pada akhirnya, Nan Si Yue tetap membela Zelene, meski apa pun yang dikatakan oleh Tony Huo tidak akan bisa membuat wanita itu membela dirinya. Maka, Tony Huo bungkam dan bersandar pada kursinya sembari memijat kepalanya.


"Begini, Mom, semalam para wanita itu terus saja menuangkan minuman ke gelasku, aku jadi tidak enak hati jika menolak dan terpaksa aku harus menemani mereka." Terang Zelene.


"Lalu bagaimana dengan para reporter itu? Mengapa mereka bisa berada di pintu belakang Club?" nada Nan Si Yue berubah serius begitupula dengan ekspresi wajahnya.


Zelene maupun Tony Huo tercengang karena informasi itu sudah sampai, bahkan ke telinga Nan Si Yue.


🍁 Bersambung🍁