My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Atau apa?



“Lene, kau tidak apa-apa?” Zhuo Ning segera menghampiri Zelene Liang yang tengah terbahak melihat Tony Huo dipukuli oleh Nan Si Yue. Dia sengaja melakukannya karena tahu kalau kedua orang tuanya akan datang, alhasil Tony Huo telah mendapatkan balas dendam kecil dari Zelene Liang dengan mengunakan kekuatan dari ibu mertuanya.


“Aku tidak apa-apa, Bu, hanya saja dia terlihat sangat lucu.” Dia kembali tertawa lepas.


“Zelene Liang!” Tony Huo mendesis karena merasa dipermainkan olehnya. Pria itu menatap tajam padanya. “Kamu sengaja mengerjaiku?”


Zelene Liang berhenti tertawa lantas mengelih ke arah lain layaknya anak kecil yang tak memiliki kesalahan apa pun. “Itu balasan untukmu.” Gumamnnya pelan.


“Kalian ini seperti anak kecil saja.” Zhuo Ning tidak habis pikir rupanya Zelene Liang dengan sengaja mengerjai Tony Huo. Tapi dia cukup senang karena hubungan keduanya membaik setelah insiden ini terjadi, walaupun dia belum tahu sampai mana perasaan keduanya telah mengalir. Setidaknya keduanya telah cukup dekat sampai berani mengerjai satu sama lain.


“Tony Huo, sebagai pria sejati, mengalah pada istrimu bukanlah hal yang memalukan.” Huo Tian duduk si sofa bersama Liang Zheng Hao. Lelaki itu ikut menggoda Tony Huo membuat wajahnya makin kesal.


Menarik napasnya perlahan-lahan seraya mendelik pada Zelene Liang karena masih tidak terima dikerjai olehnya. Tony Huo hanya merasa sedikit kesal bukannya marah seperti dulu, dia tidak mungkin marah pada Zelene Liang yang sedang sakit. Mengerutkan kening saja sudah membuat jantung Tony Huo melonjak khawatir seperti tadi.


“Lihatkan, Bu, bukan aku yang salah? Menantumu sangat hebat bermain drama.” Tony Huo berucap sambil merapikan kemejanya yang sedikit berantakan akibat dipukuli dengan bantal oleh ibunya barusan.


“Tetap saja kau yang salah. Menantuku selalu benar.” Nan Si Yue tetap ngotot kalau yang bersalah dalam hal ini adalah Tony Huo karena menantunya selalu benar. Dia menghampiri Zelene Liang, setelahnya duduk di tepi ranjang seraya melemparkan tatapan menghunus pada putranya.


“Haha, kau bisa saja, Nyonya Huo. Jangan terlalu memanjakan Zelene, dia bisa besar kepala nanti dan tidak hormat pada suaminya.” Liang Zheng Hao berada di pihak Tony Huo, bukan karena ingin menjilat menantunya, namun yang dikatakan pria itu ada benarnya karena Zelene Liang dididik olehnya menjadi wanita yang kuat dan tidak gampang dijatuhkan oleh para lelaki. Tapi tidak pernah mengajarkannya untuk melawan pada suaminya sendiri.


“Tetap saja, dia tidak boleh berlaku kasar pada Zelene.” Nan Si Yue bersikeras. Ibu mertua satu ini cukup keras kepala pada anaknya sendiri.


Tony Huo melangkahkan kakinya ke arah Liang Zheng Hao, lantas duduk di sebelah pria itu. “Ayah mertua, meskipun kita jarang mengobrol selama dua tahun ini. Tapi aku sungguh menghormatimu. Sepertinya kita berada di pihak yang sama. Haruskah kita pergi minum setelah ini?” ajaknya karena Tony Huo cukup senang Liang Zheng Hao berada di pihaknya, sementara ketiga orang itu berdiri di sisi Zelene Liang dan tidak memedulikannya. Bahkan ayahnya sendiri lebih memilih memperhatikan menantu kesayangannya.


Obrolan mereka menjadi begitu hangat layaknya keluarga harmonis. Sudah begitu lama sejak terakhir kali mereka berkumpul. Siapa yang menyangka dengan sebuah perjodohan tanpa adanya cinta dari kedua belah pihak akan membuat kedua keluarga menjadi semakin hangat dan harmonis seperti saat ini.


Zhuo Ning yang duduk di sebelah Zelene Liang, matanya agak berkabut menyaksikan pemandangan ini. Dia berharap tidak ada yang mengusik kehangatan dan keharmonisan keluarga ini apalagi mengusik kebahagiaan Zelene Liang. Tidak juga dengan ayahnya—yang tidak lain kakek dari Zelene Liang yang tinggal di luar negeri. Zhuo Ning tidak akan membiarkannya mengusik putrinya.


“Baiklah, sudah waktunya kita berkemas.” Ujar Huo Tian bangkit dari duduknya. Sementara, Nan Si Yue dan Zhuo Ning berbenah mempersiapkan kepulangan Zelene Liang.


Zelene Liang menatap Tony Huo yang amsih asik mengobrol bersama ayahnya. Pria itu melirik ke arahnya dan memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dengan Liang Zheng Hao, kemudian menghampiri dirinya.


“Kamu marah padaku?” bertanya dengan rendah, Zelene Liang menatap mata hitam pria itu.


Menggelengkan kepalanya, Tony Huo duduk di tepi ranjang seraya mengelus pucuk kepala Zelene Liang. “Aku tidak marah. Hanya sedikit kesal karena kupikir tadi kakimu sakit lagi. Dasar! Jangan mengerjaiku seperti itu lagi kedepannya atau ....” dia menghentikan ucapannya.


“Atau apa?” Zelene Liang bertanya dengan wajah imut.


“Atau aku akan—”


“Selamat siang semuanya.” Suara halus dan manis menyapa telinga mereka ketika suara itu memotong ucapan Tony Huo.


🍁Bersambung🍁