
"Cough ... cough!" terbatuk, Sarah Wu mengeluarkan darah dari dahaknya. Matanya terbelalak ketika mendapati darah telah menempel di punggung tangan saat dia mengelap bibirnya.
Kedua pengawal itu tersentak. Mereka tidak pernah berlaku kasar pada Sarah Wu ataupun memukul. Mereka malah menjaganya seharian juga memberikan makan secara teratur, ataukah mungkin luka lepuh yang dialami kemarin menyebabkan infeksi hingga Sarah Wu terbatuk darah?
Zelene Liang malah tidak memiliki reaksi apa pun. Dia diam melihat Sarah Wu yang masih terbatuk-batuk. Zelene melirik pada jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Seharusnya dia sudah berangkat 5 menit lalu, namun keadaan saat ini membuatnya cukup malas untuk sekadar menggerakkan kakinya.
"Nyonya, kami tidak melakukan apa pun pada pelayan ini." Xiao Xuan memberitahu, sebelum bertanya ragu-ragu, "mungkinkah luka lepuh di tubuhnya terkena infeksi ...?"
Xiao Juan berdehem sebelum mengeluarkan pendapatnya, "Dia sudah diberi pengobatan, bahkan dibawa ke rumah sakit terkenal di Imperial City. Kita juga telah mengawasinya dan tidak terjadi apa pun sebelum ini.
Sementara itu, Sarah Wu menekan dadanya dan masih terbatuk. "Nyonya, dada saya sesak dan luka lepuh saya juga perih. Mohon biarkan saya menyembuhkan diri sebelum Anda memutuskan hukuman saya." Ucapnya memohon pada Zelene.
Zelene Liang memutar bola mata malas, dia bangkit dari duduknya dan tidak lupa merapikan mini dress berwarna hitam dengan motif bunga mawar merah pada ujung dress yang digunakannya tersebut.
Dia melirik malas pada Sarah Wu, namun dengan cepat mengalihkan pandangannya pada kedua penjaga lantas berucap, "Bawa dia ke rumah sakit untuk pemeriksaan secara menyeluruh. Meskipun dia melakukan kesalahan karena telah menguntit tuannya, namun dia juga manusia yang membutuhkan pengobatan dan layak diperlakukan sebagai manusia pula. Kediaman ini tidak memperlakukan seseorang dengan kejam, seperti yang dikatakannya kemarin." Zelene menyeringai seraya mengalihkan sorot mata ke Sarah Wu, "oh, iya, kalau perlu biarkan dia dirawat inap. Benar-benar hiburan yang buruk."
Zelene mengibaskan tangannya dan berjalan ke arah tangga menuju kamarnya.
🍁🍁🍁
Badan Zelene Liang sudah agak membaik. Jadi, hari ini dia kembali ke kantor dan mengatur jadwalnya. Dia melihat jauh dari jendela mobil, bibirnya bungkam sejak masuk ke dalam mobil van.
Lirikan yang sedari tadi mengawasinya dari kursi depan mengambil alih perhatian Zelene. Dia menatap penuh tanya pada orang tersebut—yang tidak lain adalah Hanna Gu.
"Ada apa denganmu pagi ini? Biasanya kamu tidak pernah terlambat, mengapa pagi ini menyuruh kami untuk menunggu?" Hanna Gu bertanya sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Pagi ini sangat hangat, lalu tiba-tiba banyak kupu-kupu yang terbang di perutku." Pandangan Zelene kembali beralih ke luar jendela. Dia memperhatikan mobil yang berlalu-lalang di jalanan tersebut, kemudian berucap kembali, "dia menyiapkan hiburan yang mengaduk perutku dan ternyata hiburan itu sama sekali tidak menyenangkan. Huh, terlalu sulit untuk memahami maksud dari pria itu."
"Kak Liang, aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapanmu itu. Seperti kiasan, namun bukan kiasan. Layaknya pesan tersembunyi yang ingin kamu sampaikan." Kata Xu Mo, mengemudikan mobil dengan santai seraya sesekali melirik Zelene Liang dari kaca spion depan.
Ucapan Zelene Liang agaknya dimengerti oleh Hanna Gu. Wanita berambut sebahu itu tersenyum tipis. "Hubungan kalian sudah sejauh itu, sehingga kamu ingin mengetahui lebih banyak tentangnya? Aku bisa menebak dari raut wajahmu, kalian sudah melakukan—"
"Kak Hanna!" potong Zelene.
Hanna Gu nampak menutup mulutnya, namun kedua alisnya meninggi sangat kentara bahwa, Hanna Gu tersenyum lebar di balik telapak tangan yang menutupi bibirnya itu.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti!" Xu Mo mengerutkan kening lantaran tidak dapat memahami pembicaraan Zelene Liang dan Hanna Gu.
Hanna Gu menjulurkan lengannya ke kursi pengemudi dan mengelus, juga menepuk pucuk kepala Xu Mo. "Kamu masih kecil, jadi tidak perlu tahu obrolan orang dewasa."
"Aku bukan anak kecil lagi! Usiaku sudah 21 tahun." Tukas Xu Mo. Sekilas Xu Mo mengarahkan tatapan sengit pada Hanna Gu, dua detik kemudian Xu Mo meluruskan pandangannya ke depan dan kembali fokus mengemudikan mobil van tersebut.
"Baik, Kak Liang."
🍁🍁🍁
Beberapa menit kemudian mereka sampai di kantor LC Entertainment.
Seperti biasa mereka akan disapa oleh para karyawan. Meskipun demikian beberapa orang mungkin terlihat ramah di depan, namun di belakang—mereka mendecih pada Zelene karena telah dengan berani terlalu dekat dengan pangeran mereka—yakni Xie Yu Fan. Bukan hanya itu saja, tetapi perlakuan Zelene terhadap mereka juga kadang dingin dan semaunya sendiri.
Mengenai gosipnya dengan Xie Yu Fan yang menjadi perbincangan hangat telah tuntas diatasi oleh tim HRD sehingga tidak ada berita, majalah, surat kabar atau artikel daring memberitakan hubungan Zelene yang terlihat mesra dengan pria itu. Maka dari itu, dia telah terbebas dari gosip tersebut.
"Mereka semakin berani saja." Hanna Gu bergumam di sebelah Zelene Liang.
Zelene memiliki senyum tipis dan tidak begitu peduli terhadap karyawan-karyawan yang berbicara buruk tentangnya. Seorang aktris haruslah memiliki telinga kebal akan cercaan dan hati baja. Jika tidak dia pasti sudah tenggelam dan memilih untuk mengasingkan diri saat dirinya dibully. Malah Zelene Liang lebih memilih menjadi pembully, meskipun dia dianggap kasar dan sombong. Memang benar begitu adanya.
"Biarkan saja, aku tidak peduli dengan omong kosong yang terlontar dari mulut mereka selama aku tidak mendengarnya, tidak akan jadi masalah. Tatapan mereka tidak akan mampu menjatuhkan kepercayaan diriku. Lagipula, jika mereka sudah mencapai batas, aku bisa memecat mereka dengan kekuasaanku." Zelene Liang berucap angkuh. Dengan kekuasaan sebagai pemegang saham di agensi itu, dia bisa memecat siapa saja, tetapi dengan alasan yang jelas. Dia tidak akan melakukan hal tersebut, jika para karyawan tidak melewati garis batasnya.
"Kamu selalu saja seperti itu."
"Zelene!" seru seorang pria dari belakang.
Menengok ke belakang dan Zelene Liang mendapati Xie Yu Fan melambaikan tangan setelah membuka kacamata hitam yang menutupi mata indah pria itu.
Seketika berpasangan-pasang mata di lobi itu melihat ke arah mereka. Beberapa dari mereka memiliki senyum cerah juga mata berbinar melihat pasangan dalam fantasi mereka dan beberapa lagi amat tidak senang, sehingga tanpa sadar mereka mengerutkan alis dan menghentakkan kaki tanda kekesalan mereka.
Tapi, siapa yang peduli? Senang ataupun tidak senang hanya ada dalam fantasi dan pemikiran mereka sendiri.
"Oh, hai, Yu Fan!" balas Zelene Singkat.
Pria berambut coklat dengan tubuh tinggi itu berjalan cepat menghampiri Zelene Liang dan berhenti di hadapannya.
"Bagaimana keadaanmu? Kemarin kau mengajukan cuti karena kurang sehat, sebenarnya aku ingin menghubungimu, tapi aku takut mengganggu." Xie Yu Fan berujar tanpa basa-basi dan langsung menanyakan keadaan Zelene Liang. Sorot mata pria itu nampak lembut penuh kepedulian juga ada sedikit rasa khawatir di dalam pupil indah itu.
Zelene menjadi agak canggung dengan situasi saat ini, dia menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. "Aku hanya lelah saja. Sekarang sudah terasa lebih baik. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku."
"Tidak perlu berterimakasih, bukankah kita teman? Sudah sewajarnya seorang teman merasa khawatir pada temannya, 'kan?" seulas senyum yang menyiratkan arti berbeda dengan pertanyaan Xie Yu Fan. Tak dapat diartikan oleh Zelene Liang.
🍁 Bersambung🍁