My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Ingat saja kata-kataku



Tony Huo menepis tangan Yun Ruo Xi, alis pria itu terajut dan rahangnya mengeras ketika mendelik pada sekretarisnya. Tony Huo tidak terlalu senang ketika disentuh oleh orang lain apalagi Yun Ruo Xi ingin menyentuh bahunya. Sementara Yun Ruo Xi merasakan kekecewaan juga rasa getir kala menatap mata Tony Huo. Ia segera menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya.


"Sekretaris Yun, sebaiknya kau cepat keluar selagi aku masih menganggapmu sebagai sekretarisku." Tony Huo berujar dingin. Ia bahkan tidak melihat lagi pada wanita itu.


"Baik, Tuan Muda." Kepala Yun Ruo Xi masih tetap menunduk, lalu dia mengambil langkah mundur, lantas berjalan ke arah pintu.


Sebelum Yun Ruo Xi membuka pintu, Tony Huo kembali berucap dengan nada dingin, "Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya dan ... panggil aku sebagaimana karyawan lain memanggilku. Aku hanya akan memaafkanmu sekali saja dan tidak menghitung kesalahanmu ketika berada di kediamanku."


Tangan Yun Ruo Xi yang memegang gagang pintu—bergetar hebat. Dia berbalik menghadap Tony Huo lantas membungkukkan badannya. "Maafkan saya, Pak CEO, saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi." Setelah berucap, dia membuka pintu dan keluar dari kantor Tony Huo dengan rasa malu yang membelenggu hatinya.


Wanita itu menghentakkan kakinya lantaran kesal, malu dan kecewa bercampur aduk. Jemarinya membuat kepalan tangan hingga kuku ibu jarinya menekan salah satu jarinya. Dia pergi dari sana dengan langkah kesal menuju ke dapur.


"Hmph! Seberapa hebatnya aktris tanpa latar belakang itu? Zelene Liang, kau belum mengetahui latar belakang yang kumiliki, 'kan? Aku yakin bisa bersaing denganmu." Dia menengok ke belakang ke arah pintu kantor Tony Huo. "Tony Huo, lihat saja apa yang dapat aku lakukan. Aku tidak akan menunggu lagi!"


🍁🍁🍁


Akhirnya, Tony Huo menyelesaikan pekerjaannya, kini ia bersiap memasuki mobilnya bersama Duan Che. Pria itu meraba tengkuknya yang dirasa sakit lantas melakukan peregangan pada lehernya. Sesaat kemudian Yun Ruo Xi berjalan cepat ke arah mereka ketika Tony Huo masuk ke dalam mobil.


Wanita itu berhenti di belakang Duan Che dengan napas yang agak ngos-ngosan. "Aku pikir sudah terlambat. Begini asisten Duan ... hari ini aku tidak membawa mobil, jadi apa bisa kau mengantarkanku?" tanyanya tanpa sungkan pada Duan Che. Dia sengaja tidak membawa mobil hari ini karena ingin pulang bersama dengan atasannya. Yun Ruo Xi memulai melancarkan pengejarannya terhadap pria beristri tersebut dengan memotong urat malunya sendiri.


Pintu di kursi penumpang belum ditutup oleh Duan Che, jadi, Tony Huo bisa mendengar Yun Ruo Xi. Ia perlahan menyandarkan kepalanya ke belakang dan mulai memejamkan kedua matanya. Pria berwajah dingin itu tidak berkata apa pun.


Duan Che juga tidak bertanya pada atasannya karena dirasa tidak perlu. "Naiklah, sekretaris Yun." Ujarnya sembari menutup pintu pada kursi penumpang.


"Terima kasih, asisten Duan."


🍁🍁🍁


Di sisi lain, Laura Ji bersama David Ji harus menyelesaikan sebuah tantangan agar mereka bisa bergabung dengan salah satu organisasi yang terkenal kejam. Saat ini kedua orang tersebut sedang mengincar seorang penghianat yang kabur dari organisasi tersebut.


Tak tanggung-tanggung mereka dipersenjatai dengan masing-masing diberikan satu buah pistol oleh orang yang bernama Ah Zhong. Ah Zhong sendiri merupakan perantara yang menghubungkan Laura Ji dengan organisasi tersebut, pria itu juga merupakan anggota yang memegang kekuasaan di sana.


"Paman, haruskah kita benar-benar membunuhnya?" tanya Laura Ji agak ragu. Matanya bagaikan elang mengintai buronan, yang sejak tadi target mereka tidak lepas dari mata gadis itu.


"Kita diperintahkan untuk menghabisinya. Apakah kau takut?"


David Ji terlihat sangat santai dengan misi pertamanya, bukan karena dia memiliki kemampuan yang hebat ketika menghabisi orang, tetapi kemampuan keponakannya tidak diragukan lagi. Hanya dengan Laura Ji saja sudah cukup untuk melenyapkan seorang penghianat.


Mereka saat ini berada di sebuah kasino terbesar di Imperial City.


Pria kurus yang sejak tadi mereka awasi telah beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju sebuah koridor yang mengarah ke kamar pribadi. Dua wanita cantik dalam pelukan pria itu juga ikut menemaninya.


"Sekaranglah saatnya. Aku akan melindungimu, jadi jangan ragu. Kau tahu sendiri akibatnya jika kita sampai gagal, 'kan?" David Ji menepuk bahu keponakannya.


"Aku tahu!" dia bangkit dari duduknya. "Tidak terlalu sulit untuk menghabisi seekor tikus jalanan." Ucapannya diiringi dengan seringai sadis.


Pria kurus bersama dua wanita tersebut masuk ke salah satu kamar. Sedang Laura Ji tidak menunggu lebih lama, dia berjalan cepat dan masuk ke dalam kamar tersebut sebelum salah satu dari wanita itu menutup pintunya—dia sudah berada di sana. Dia tahu kamar apa yang mereka masuki, jadi Laura Ji tidak perlu berpikir panjang lagi saat mengikuti mereka ke dalam kamar.


Ketiga orang itu terkejut melihat seorang gadis berwajah cantik juga juga ke kamar pribadi tersebut. Dalam kamar luas berisi satu ranjang mewah, hanya terdapat empat orang di sana.


"Siapa kau? Aku tidak mengundangmu ke sini." tanya pria kurus itu. Dia menyentuh dagunya seraya mengamati kecantikan Laura Ji.


"Aku ke sini atas kemauanku sendiri. Sejak tadi aku sudah mengawasimu, namun Taun sama sekali tidak melirik ke arahku. Apakah aku kurang cantik?" Laura Ji bertanya basa-basi. Dia melepas jaketnya dan memperlihatkan gaun ketat yang dia kenakan.


Pria itu menelan salivanya. "Cantik." Gumamnya.


Laura Ji tersenyum manis dan perlahan mendekat ke arah targetnya, dia menyibak gaunnya, menyebabkan pria tersebut terbelalak. Bukan karena kecantikan gadis itu, namun pistol yang terselip di pahanya.


"Kau—" sebelum pria kurus itu bisa melanjutkan ucapannya, tangan Laura Ji dengan kecepatan yang tak terduga telah menarik pelatuk pada pistol di tangannya dan peluru panas menembus di tengah-tengah dahi pria tersebut tanpa perlawanan. Tubuhnya tumbang setelah peluru kedua meluncur tepat di mana peluru pertama bersemayam.


"Kyaaaaaa!" kedua wanita itu memekik ketakutan lantaran aksi Laura Ji yang tak pernah mereka bayangkan. Mereka ingin berlari dari sana, tetapi kaki mereka seperti terkena lem. Mereka tidak dapat melangkahkan kaki dari tempat di mana mereka berdiri saat ini, sementara mayat pria itu ada di sebelah kaki jenjang mereka.


"Sshh! Jangan berisik! Di dalam pistol ini masih tersisa dua peluru." Ucapnya sembari memperlihatkan senyum sadis. Laura Ji berani menembak pria itu karena dia tahu kamar pribadi tersebut kedap suara, sedangkan David Ji telah berjaga di depan pintu. Tidak akan menjadi masalah jika dia melepaskan beberapa peluru.


"J-Jangan—"


Laura Ji menurunkan ujung bibirnya, wajahnya terlihat datar ketika dia kembali menarik pelatuk dan menembak kedua wanita yang ketakutan itu. Tubuh keduanya luruh di sebelah pria tadi. Harusnya malam ini dia hanya menghabisi satu orang target, namun dia juga tidak bisa meninggalkan saksi mata. Sementara dia sendiri tidak menutupi wajahnya, jadi kedua wanita malang itu harus mati bersama si penghianat.


🍁🍁🍁


Mobil hitam yang dikendarai oleh Duan Che telah sampai di kediaman Xue Garden. Tony Huo turun dari mobil tersebut, tanpa berkata apa pun kepada dua bawahannya. Ia segera mengambil langkah memasuki mansion, sedang Yun Ruo Xi mengamati punggung pria pujaannya yang semakin menjauh.


Duan Che kembali mengemudikan mobil meninggalkan Xue Garden. Dia melirik Yun Ruo Xi melalui ekor matanya.


"Sekretaris Yun, kurasa kau tidak perlu terlalu berharap."


Seketika Yun Ruo Xi mengalihkan pandangan pada Duan Che. Dia mengerti akan maksud pria itu, namun tetap saja dia menolak untuk mengakui, "Uhm, apa maksudmu, asisten Duan?"


"Ingat saja kata-kataku."


"Oh, baiklah, aku akan mengingatnya, meskipun aku tidak mengerti." Ucapnya sembari tersenyum canggung.


Di waktu yang sama, yakni di kediaman Xue Garden. Tony Huo masuk ke kamar utama dan menemukan Zelene Liang tertidur lelap di atas ranjang mewah mereka. Ia kemudian melepaskan jas juga dasinya dan menaruhnya di atas sofa. Pria itu berjalan ke arah ranjang dan duduk di sana, ia memperhatikan istrinya yang tertidur lelap bak putri tidur.


"Zele." Bibir Tony Huo menampakan senyum manis dan wajah dinginnya perlahan berubah menjadi hangat.


🍁 Bersambung🍁