
Tony Huo keluar dari kamar mandi setelah 30 menit berada di dalam, ia juga harus berhati-hati saat membersihkan lukanya. Pria itu keluar mengenakan mantel mandi berwarna hitam dan sebuah handuk bertengger di atas kepalanya, tangannya sibuk menggosokkan handuk tersebut ke rambut basahnya.
Sedangkan, Zelene duduk di tepi ranjang sembari mengamati kuku-kuku cantiknya yang telah rusak, ia berdecak kesal, ketika melihat Tony Huo keluar dari kamar mandi. Matanya menyoroti tubuh tegap itu, namun perlahan tatapannya yang semula tajam berubah menjadi tatapan kagum. Bibir Zelene sedikit terbuka dan ucapan Tony Huo mengenai kelakuannya yang tidak bermoral semalam terhadap pria itu, seakan menerjang pikirannya kala Zelene memperhatikan pria itu tanpa berkedip. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya dan berlari ke arah kamar mandi secepat kilat.
Zelene menutup pintu kamar mandi dan menepuk-nepuk lembut kedua pipi tirusnya, kemudian menekan pipi tersebut, "Ah! Bukan hanya mencakarnya, aku yakin kalau, aku melakukan hal yang lebih dari itu ... ugh!" ia terus menepuk pipinya.
Sementara itu, Tony Huo mengangkat kedua alisnya dan menatap ke arah kamar mandi, ia mengingat tatapan Zelene barusan—merupakan tatapan kagum dan menginginkan.
"Huh ...? Apakah dia malu? Hahaha," Tony Huo tergelak kecil. Ia kembali mengeringkan rambutnya.
🍁🍁🍁
Ketika, Zelene keluar dari kamar mandi, ia tidak mendapati Tony Huo dalam kamar tersebut, kemungkinan saja Tony Huo sudah berada di meja makan atau sudah berangkat kerja sekarang, pikirnya.
"Aku kira dia tidak akan kembali, dasar plin plan." Gumam Zelene. Ia memegangi kepalanya yang masih pening, lantas berjalan ke arah meja rias.
Tubuh jenjangnya yang terbalut jubah mandi berwarna putih terlihat dari pantulan cermin rias, kemudian ia terpaku sesaat memikirkan alasan kepulangan Tony Huo yang menurutnya sangat mendadak dan ia pun terpikir, "Mungkinkah karena rumorku dan Xie Yu Fan?"
Zelene menatap wajahnya di cermin besar tersebut dan mengamati lekuk wajahnya perlahan, kemudian berkata pada dirinya sendiri, "Dia mungkin cemburu karena rumor itu."
Dengan penuh percaya diri, kalimat itu keluar dari bibir mungilnya. Sekejap kemudian, Zelene merasa perutnya sangat lapar dan ia bergegas untuk merias dirinya seperti biasa. Riasan tipis dan memperlihatkan kecantikan alaminya.
🍁🍁🍁
Semua makanan sudah tertata rapi di meja makan dan Tony Huo duduk di kursi utama, tetapi ia belum menyentuh sarapannya sejak 15 menit yang lalu. Ketika mendengar gemercik air di kamar mandi telah berhenti, pria itu turun ke ruang makan dan membiarkan Zelene menggunakan kamar itu dengan leluasa, dan saat ini ia sedang menunggu Zelene untuk sarapan bersama dan untuk yang pertama kalinya pula dalam dua tahun pernikahan mereka.
Sesaat kemudian, terdengar suara langkah halus menuruni tangga dan langkah itu perlahan mendekat ke ruang makan dan berhenti di belakang kursi. Pemilik langkah itu mengenakan gaun berwarna hijau muda dari bahan Lycra.
"Silahkan, Nyonya." Butler Kim menarik kursi untuk Zelene, kursi yang biasanya di duduki olehnya yaitu, di sebelah kiri kursi utama. Setelah Zelene duduk, butler Kim kembali berujar, "selamat menikmati sarapan Anda, Nyonya, saya akan menyiapkan sup obat pengar untuk Anda."
Zelene menganggukkan kepala, lalu menoleh pada Tony Huo. Mereka berdua dalam mode hening dan menoleh satu sama lain. Tidak lama kemudian Zelene mengambil omelette dan menaruhnya di atas piringnya.
"Sudah membuatku menunggu lama, dan kamu hanya mengisi perutmu sesampainya di meja makan?" tanya Tony Huo dengan nada sarkas.
Sepotong omelette yang sudah berada di depan mulut Zelene, akhirnya ia letakan kembali dan menatap Tony Huo dengan tidak senang. "Kamu, kan, bisa makan lebih dulu. Mengapa harus menungguku? Aku sudah sangat lapar dan kepalaku juga pening. Apa aku juga harus menyuapimu, Tuan Muda Huo?"
"Kamu—" bibir Tony Huo tercekat dan ia menghela napas kecil. Jika ia meneruskannya, maka pertengkaran mereka tidak akan pernah usai dan hanya akan menambah sakit kepala yang sudah mereda. Ia bisa membalasnya nanti dengan memberikan hukuman pada Zelene, lantas ia mengalihkan pandangan dan memotong omelette di mejanya, kemudian menyuapi dirinya.
Zelene Liang mendelik ke arah Tony Huo, lalu memasukkan omelette yang tidak jadi ia makan barusan ke dalam mulutnya dengan setengah hati. Mood-nya pagi ini sudah dihancurkan oleh pria yang duduk di sebelahnya itu.
"Zelene Liang, apa kamu memiliki masalah dengan matamu?" tanya Tony Huo, santai.
"Tapi, kenapa dengan tatapan matamu itu, sekejap kamu menatapku dengan kemarahan dan mendelik tajam, sesaat kemudian, kamu menatap kagum. Apa kamu ...," Tony Huo menghentikan ucapannya dengan sengaja.
"Huh? Apa maksudmu dengan menatap kagum?" wajah Zelene menjadi agak panas karena Tony Huo menangkap tatapan kagum yang ia lemparkan pada pria itu setelah melihatnya keluar dari kamar mandi. Zelene membawa omelette ke dalam mulutnya dengan canggung, hingga akhirnya ia tersedak, "chough! Chough!"
"Ini," Tony Huo memberikan segelas air pada Zelene dan dengan cepat gelas itu beralih ke tangan Zelene.
Zelene Liang meneguk air tersebut dan hanya menyisakan air setengah dari gelas tersebut, ia menaruh gelas tersebut dan sebuah tangan menepuk lembut pada punggungnya. Ia mendongak ke belakang hanya untuk mendapati, Tony Huo sedang menepuk-nepuk punggungnya.
"Kamu ... apa yang kamu lakukan?" tanyanya pelan.
Tony Huo menyeringai, "Apalagi kalau bukan menepuk punggungmu?!"
Tepukan lembut pada punggungnya memang sangat membantu, tetapi Zelene malah merasa ngeri ketika melihat seringai di bibir Tony Huo, dan benar saja, pria itu menundukkan badannya hingga wajah Tony Huo tepat berada di sebelah telinganya. Bibir tipis milik pria itu sedikit terbuka dan napas hangatnya melingkupi telinga Zelene. Hal itu membuat telinga Zelene menjadi merah serta wajahnya pun ikut memerah.
"Tony Huo, apa yang sedang kamu lakukan? Aku sudah baik-baik saja dan kembalilah ke kursimu." Zelene menjauhkan kepalanya beberapa centimeter dari wajah pria itu dan mendorong bahu Tony Huo agar menjauhinya.
"Pfffttt." Tony Huo terkekeh kecil, ia menutupi bibirnya dengan punggung tangan, lalu menegakkan kembali tubuhnya dan kembali duduk ke kursinya.
Zelene mengambil gelas yang tadi ia taruh dan langsung membawa gelas itu ke mulutnya, ia meneguk air tersebut hingga tak menyisakannya. Mengapa pagi ini sangat panas? Apa pria itu sebenarnya sedang menggodaku? Kenapa juga aku ... ah, sudahlah. Zelene sedang bergulat dalam pikirannya.
"Nyonya, saya membawakan sup obat pengar untuk Anda."
Bukan suara butler Kim, melainkan Sarah Wu yang berjalan ke arah meja makan sembari membawa nampan di tangannya. Sup di atas nampan yang dibawanya masih sangat panas terlihat dari uap putih dalam sup tersebut. Wanita itu berjalan hati-hati dan mengulas sebuah seringai tipis di bibirnya, ketika jaraknya hanya beberapa langkah dari kursi Zelene, tiba-tiba kaki Sarah Wu tersandung oleh kakinya sendiri dan, alhasil nampan di tangannya terguncang di sisi kiri Zelene.
Zelene memiliki wajah datar, ia tidak menoleh pada Sarah Wu ataupun ke arah nampan di sampingnya, melainkan ia mengangkat tangan kirinya dengan gesit dan mengibaskan punggung tangannya ke nampan tersebut.
"Kyaaaa!" Sarah Wu berteriak kesakitan dikarenakan sup panas itu tumpah ke bagian dada hingga perutnya.
Semua pelayan bergegas menghampiri ke ruang makan, di samping merasa khawatir pada Zelene, mereka juga merasa getir karena Zelene pasti akan mengeluarkan kemarahannya. Sedangkan, Xiao Xuan dan Xiao Juan dengan segera membekuk Sarah Wu.
"Nyonya, apakah Anda terluka?" tanya butler Kim khawatir.
"Tidak apa-apa." Sahut Zelene dengan nada datar. Sorot menghunus di arahkan pada Sarah Wu yang mengeluarkan isak tangis.
"Hiks ... hei, kalian lepaskan aku. Panas sekali, hiks ...," air matanya terus mengalir dan sesekali wanita itu menatap ke Zelene yang masih bungkam di kursinya dan juga tatapan menghunus Zelene, membuat Sarah Wu menelan saliva, getir.
Mengapa aura wanita itu agak berbeda? Sarah Wu merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapan mata Zelene, seperti ada rasa ingin menghabisinya ataukah mungkin hanya perasaannya saja?
🍁 Bersambung🍁