My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Katakan saja kalau kamu takut



"Hentikan!" lirihnya lagi.


Tangan Zelene Liang terasa lemas dan tak bisa mendorong tubuh pria itu. Sejak kapan Zelene Liang merasa tak memiliki tenaga seperti saat ini? Bahkan ketika syuting adegan berat tidak memerlukan peran pengganti, ia tetap memiliki tenaga dan mampu melakukan aksi yang cemerlang di depan kamera. Saat ini, berkat hujaman kecupan lembut yang didapat dari pria itu membuat Zelene Liang menggeliat geli.


"Tony Huo, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?" tanyanya lirih. Nada suara Zelene amat lemah, juga tubuhnya agak bergetar karena aksi Tony Huo yang tiada hentinya membuat wajahnya terasa geli.


Kecupan lembut Tony Huo berakhir saat pertanyaan tersebut dilayangkan oleh Zelene Liang. "Kamu belum paham juga, Zele? Kita suami-istri yang sah." Ucapnya pelan. Tony Huo kembali mengamati wajah Zelene dan membelainya dengan jemarinya.


"Tapi," debaran jantung Zelene Liang tak terkendali. Memang benar mereka suami-istri sah, akan tetapi malam pertama mereka belum dilaksanakan setelah dua tahun pernikahan mereka. Apakah Tony Huo menginginkan malam pertama mereka, malam ini juga? Tetapi mengapa? Jika diingat kembali perlakuan Tony Huo terhadapnya dari kemarin, agaknya tidak ada perasaan apa pun dari pria itu terhadap dirinya. Zelene Liang menatap iris hitam milik pria itu, kemudian melanjutkan ucapannya, "kamu mabuk, Tony Huo. Bukankah kamu mengatakan tidak memiliki perasaan terhadapku? Mengapa sekarang ...?"


"Tidak bisakah aku menginginkanmu? Kamu istriku, Zele. Ada perasaan ataupun tidak ada kita tetaplah suami-istri yang harus menjalankan kewajiban kita. Sepertinya kita harus cepat-cepat memberikan seorang cucu pada Ayah dan Ibu. Mereka sudah menunggu selama dua tahun."


Seorang cucu? Tony Huo benar-benar tidak main-main. Pria itu ingin agar Zelene Liang cepat hamil?


"Tony Huo! Aku seorang aktris dan bagaimana dengan karirku?" Zelene Liang bertanya tanpa ragu. Dia masih muda dan saat ini tengah berusia 26 tahun.


"Kamu masih memikirkan karir, sementara keluarga Huo memikirkan seorang penerus?" tanyanya balik.


"Kita bisa bicarakan itu untuk beberapa bulan ke depan. Kenapa kamu sangat buru-buru, Tony Huo?!" Zelene berusaha membebaskan dirinya dari himpitan pria itu, namun sayang sekali tubuh Tony Huo terlalu kuat untuk tangan rampingnya, sehingga dia tidak bisa mendorong pria itu.


"Katakan saja kalau kamu takut, aku tidak akan melukaimu, Zele." Tanpa berlama-lama lagi, Tony Huo bangkit dan membuka kancing kemejanya satu per satu.


Ia tersenyum kala melihat mata Zelene Liang terbelalak melihat satu per satu dari kancing kemejanya yang telah terbuka. Segera Tony Huo melemparkan kemejanya ke lantai. Ia perlahan mendaratkan bibir tipisnya di atas bibir mungil tersebut. Oksigen dalam paru-paru mereka mulai terasa menipis, lantas Tony Huo menjauhkan bibirnya. Napas keduanya berpacu dengan detak jantung yang semakin tak terkendali.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Keesokan paginya; Tony Huo tengah mengancingkan kemejanya, setelah membersihkan dirinya setengah jam yang lalu. Sedangkan, Zelene Liang masih terlelap dalam tidurnya. Tony Huo sengaja tidak membangunkannya karena ia tahu, istrinya pasti sangat lelah setelah malam pertama mereka.


Pria itu terus saja tersenyum ketika memperhatikan Zelene Liang. Raut wajahnya sangat hangat dibandingkan tadi malam saat di meja makan. Setelah selesai memasang dasinya, ia mengenakan jas berwarna dark blue. Tony Huo melangkahkan kakinya ke arah ranjang, kemudian duduk di tepi ranjang tersebut sembari menyisir rambut Zelene Liang.


Wanita di atas ranjang tersebut nampak lelap dan ada sedikit raut lelah pada wajahnya.


Malam pertama mereka sudah resmi dan Zelene Liang telah seutuhnya menjadi milik Tony Huo, meskipun pria itu berkata tidak akan memberikan harapan pada Zelene Liang. Namun, tampaknya Tony Huo telah mengubah pikirannya karena sesuatu hal sejak di ruang belajar semalam. Entah apa pun itu, kini Zelene adalah miliknya, walaupun hati wanita itu belum tentu memiliki dirinya di dalam sana. Tetapi, Tony Huo tidak peduli karena mereka tidak akan bercerai dan dirinya sendiri juga belumlah yakin akan perasaannya terhadap Zelene. Perlahan hubungan mereka pasti akan berjalan di mulai sejak tadi malam.


"Tidurlah yang nyenyak, Zele." Senyum cerah Tony Huo masih menghiasi wajahnya, ketika ia meninggalkan ranjang dan melangkah menuju pintu keluar.


Pintu tertutup pelan dan Tony Huo bersiap turun ke ruang makan. Ia merasakan perutnya sangat lapar lantaran tadi malam, ia hanya makan dua potong kecil dari steaknya, juga melakukan aksi yang cukup melelahkan bersama istrinya.


Para pelayan memiliki wajah ceria pagi ini, apalagi lagi butler Kim dan Qin Zhuo An yang tengah berdiri di samping meja makan. Senyum mereka merekah sejak pagi buta ketika Tony Huo memanggil Qin Zhuo An ke kamar utama pukul tiga pagi.


Qin Zhuo An masih mengingat ketika itu, Tony Huo menggendong Zelene Liang dalam dekapannya. Tatapan pria itu sangat lembut menghujam wanita dengan rambut berantakan dalam dekapannya tersebut. Qin Zhuo An tak bisa menahan senyumnya kala melihat bercak darah pada sprei di atas ranjang tersebut. Tentu saja Qin Zhuo An mengetahui apa yang tengah terjadi sebelum dirinya dipanggil untuk membersihkan kamar utama. Kabar bahagia itupun segera dia bagikan pada butler Kim, dan entah bagaimana para pelayan juga mendengar kabar yang dia sampaikan.


"Berhentilah tersenyum." Ujar Tony Huo. Ia duduk di kursinya dan siap menyantap sarapan yang telah dipersiapkan untuknya.


"Hari ini sangat cerah, Tuan Muda, kami sedang menikmati keindahan pagi juga udara segar yang kami hirup beberapa saat yang lalu sungguh membuat hati kami menjadi tenang. Burung-burung juga berkicau dengan riang pagi ini, mungkin saja tidur mereka amat nyenyak tadi malam." Kata Qin Zhuo An yang tengah menuangkan air putih ke dalam gelas Tony Huo.


"Cough! Bibi Qin, apa kau sedang membaca puisi pagi-pagi?" sembari melahap sarapannya, ia melirik ke arah Qin Zhuo An.


Qin Zhuo An tersenyum seraya mengedikan bahunya. "Ya, Anda bisa mengatakannya seperti itu. Setelah badai besar dalam perjalanan kembali di mana tidak ada kehangatan sama sekali. Akhirnya, dengan malu-malu mentari menampakkan wajah kuningnya. Meskipun malam lebih panjang juga dingin, namun dengan kegigihannya sang mentari mampu menghangatkan kembali dunia yang telah beku tersebut."


Tony Huo mengerutkan keningnya lantaran semakin tidak mengerti dengan ucapan Qin Zhuo An. Sedang butler Kim terkekeh ringan mendengar setiap kata sentilan yang keluar dari bibir wanita setengah baya itu. Namun, tuannya sendiri tidak mengerti dengan kiasan yang menyertakan dirinya di dalamnya.


"Ada apa dengan kalian berdua hari ini? Yang satu berpuisi dan yang lain hanya terkekeh? Apa aku juga perlu tertawa?"


"Tidak ada yang melarang Anda untuk tertawa, Tuan Muda, tetapi isi tenaga Anda sebelum tertawa karena tertawa juga membutuhkan tenaga yang lumayan banyak." Ujar Qin Zhuo An.


"Hahaha!" butler Kim tidak bisa menahan tawanya lagi.


"Kalian berdua!" Tony Huo sepertinya sadar akan apa yang sedari tadi diucapkan oleh Qin Zhuo An.


๐Ÿ Bersambung๐Ÿ