
Semua persiapan telah selesai untuk berperang melawan musuh yang tersembunyi di balik bayang-bayang sebuah kertas lecek. Zelene telah berada dibalik pintu atap gedung, mempersiapkan dirinya akan hal cukup menantang.
Saat ide gila menyelundup dalam pikirannya, sesuatu yang direncanakan di depan matanya telah selesai ia poles dengan baik tanpa sedikit pun celah bagi orang itu untuk mendekat.
"Lene, kamu yakin akan melakukan ini?" Hanna menoleh pada Zelene yang sedang mengembangkan senyum.
"Tentu saja! Tidak ada yang perlu ditakutkan." Zelene sangat percaya diri, ia mengobarkan matanya, mempersiapkan adegan saat sang antagonis akan melangkah mundur meninggalkan kepercayaan diri mereka ke sumur terdalam.
"Bagaimana jika pengirim surat itu memang Direktur Ming?"
"Hmph, jika benar begitu tentu saja Kakak sudah tahu jawabannya, 'kan?" Zelene melipat tangannya, "tidak akan ada hal baik jika bertemu dengan orang mesum."
Hanna mengangguk. "Kau benar. Mari berikan tamparan pada siapa pun yang merancang ini!" Hanna mulai berapi-api, percikan semangatnya telah tumbuh untuk menyaksikan kelanjutan apa yang akan mereka lihat setelah bertemu Direktur Ming.
"Baiklah, semuanya sudah siap." Jemari ramping Zelene memegang gagang pintu yang terbuat dari logam, hembusan angin bertiup kala pintu terbuka.
Bendera perang telah dikibarkan dan sosok perempuan dalam balutan merah keluar dari pintu, rambutnya yang bergelombang bagai ombak tersisir oleh hempasan angin yang menerbangkan rambut bergelombang itu bak adegan seorang Dewi turun dari istana langit.
Ia menarik napas pelan kemudian menghembuskannya perlahan.
Semoga dia tidak memiliki penyakit jantung. Atau aku akan menjadi seorang tahanan, karena membunuh orang secara tidak langsung dengan kecantikanku ini. Ia membatin sebelum melangkahkan kaki mulusnya.
Tak-tak-tak ....
Suara langkah kaki, anggun nan merdu terhentak di atas lantai batu alam hitam. Langkah itu terdengar sungguh merdu di telinga lelaki yang terpaku di tempatnya membelakangi wanita tersebut.
"Direktur Ming ...," wanita itu membuat suara termanis yang dia bisa, bahkan madu yang meleleh di atas lidah tidak semanis suaranya.
Direktur Ming yang sejak tadi menunggu kedatangan wanita tercantik di Imperial City itu—jantungnya mendadak berdebar kencang. Hanya dengan mendengar suara manis wanita di belakangnya saja membuat saliva pria itu hampir mengalir ke dagunya, namun dengan cepat ia mengusapnya.
Pria itu membalikkan badannya ke asal suara. "Nona Li—" ia terperanjat melihat orang yang datang, seketika matanya membeliak tidak percaya pada dengan apa yang dilihatnya. Kecantikan macam apa yang membuat matanya melotot sampai bola mata itu bisa terjatuh kapan saja?
"S-Siapa kamu?" tangannya bergetar menunjuk ke wanita dengan kecantikan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. "Ugh ..., kenapa burik sekali?!" Direktur Ming mengucek kedua matanya, berharap bahwa ia tidak melihat penampakan di pagi hari ketika langit sedang cerah tanpa jejak awan di atas sana.
"Aku Zelene Liang, bukankah kau ingin bertemu denganku?" suara manisnya telah berubah menjadi asam macam Tamarindus Indica, lalu ia mendekat ke arah Direktur Ming.
Direktur Ming menggelengkan kepalanya dengan intens. "Bukan! Bukan kau! Jangan mendekat!" ia mundur beberapa langkah dan hampir terjungkal berkat wanita yang terus mendekat padanya.
Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku juga sangat mual ketika melihat wajahku. Tapi aku tidak burik! Apa kau buta Pak tua genit?!
Dilihat dari penampilan wanita yang membuat seorang pria mesum menjadi ketakutan, seberapa jelekkah dia?
"Apa kalian sedang mempermainkanku sekarang?" tanya Direktur Ming, suaranya mendengking.
Xu Mo hampir terlonjak karena suara Direktur Ming, membuat telinganya kebas. "Hm ..., apa maksudmu? Bukankah, kau sendiri yang ingin bertemu denganku?" ia menyerahkan bukti sepucuk surat lecek. "Apa ini, bukan surat yang kau tulis?"
Tangan Direktur Ming meraih surat itu dengan jejap. "Apa-apaan ini, jelas-jelas aku menerima surat dari Zelene Liang. Kenapa jadi ada dua surat?" ia mengambil surat dalam saku jas-nya, surat itu diberikan dari wanita yang sama.
"Oh, Jadi kau juga mendapatkan surat yang sama?" Xu Mo mendekatkan dirinya, ia mengerucutkan bibir, "apakah kau tahu artinya? Seseorang sedang mempermainkanmu!"
Huh! Seperti yang diperkirakan oleh, Kak Liang, tangan-tangan jahat berserakan di mana-mana.
Direktur Ming terkejut dengan ucapan Xu Mo. Seseorang merancang pertemuan ini, tujuannya sudah pasti untuk menghancurkannya! Direktur Ming mengepalkan tangannya, mukanya merah karena marah. Namun benarkah seperti yang dikatakan oleh wanita yang berdiri di hadapannya atau wanita ini sedang mengerjainya sekarang?
🍁🍁🍁
Sementara Zelene dan Hanna berjalan ke lobi, namun langkah mereka terhenti ketika mendapati para reporter yang masuk dari pintu utama. Atribut mereka sudah lengkap untuk menangkap basah pasangan yang berselingkuh, seperti yang ada dalam pikiran mereka.
"Ternyata benar saja! Semua sudah direncanakan," Hanna menghela napas lega karena Zelene sudah mengira bahwa ini akan terjadi, "apa yang akan kita lakukan sekarang? Apa kita membiarkan mereka mengambil gambar Xu Mo?"
"Tentu saja tidak!" Zelene memperhatikan para para reporter yang sedang berkicau ria, mendapatkan berita besar. Jika benar ia sampai kedapatan bersama Direktur Ming di atap gedung, maka seluruh Negara C akan gempar.
"Ayo cepat kita harus mengambil gambarnya. Ini akan menjadi berita ekslusif."
"Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa Zelene Liang bisa memiliki hubungan dengan pria beristri. Betapa buruknya dia, ingin memanjat ke atas dengan menjual dirinya!"
"Hmph! Benar-benar memalukan. Jika kita dapat gambarnya di ranjang, itu pasti akan menggemparkan Negara C. Kenapa mereka malah bertemu di atap gedung?"
"Di mana pun mereka bertemu, kalau sudah mendapat gambarnya pasti tidak akan mengecewakan."
"Kau benar! Kita harus cepat, sebelum mereka pergi!"
Setidaknya ada 11 reporter yang mendatangi hotel, mereka semua mencerca Zelene tanpa mengetahui kebenarannya. Ada yang tampak marah karena mendapat berita bahwa Zelene Liang bertemu dengan pria beristri, selain itu sisanya sangat antusias karena mereka akan mendapatkan berita ekslusif untuk perusahaan mereka.
Langkah-langkah mereka dipercepat sambil mengembangkan senyum antusias, namun kecepatan itu mendadak terhenti; mereka mendapati sosok ramping dengan gaya casual tersenyum lebar di hadapan mereka, seketika senyum mereka musnah ditelan harapan palsu.
"Yo, kalian tampak bersemangat, sepertinya ada scandal menarik di hotel ini? Sehingga membuat kalian tergesa-gesa, benar begitu para reporter yang baik hati?!" senyum Zelene merekah di bibirnya yang dipoles dengan lipstik berwarna pale violet red.
🍁 Bersambung🍁