My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Di mana Zelene kami yang angkuh dan berani?



"Belum puas melihat wajahku?"


Mendengar pertanyaan narsis dari Tony Huo membuat wajah Zelene Liang berubah melongo. Tatapan matanya ketahuan mengikuti langkah pria itu, apalagi sorot mengangumi itu sebelumnya di arahkan pada wajah tampan milik Tony Huo.


"Tony Huo!"


Zelene Liang melempar bantal di sebelahnya dengan sekuat tenaga, sebelum bantal itu sampai ke tempat Tony Huo berdiri, pria itu bergegas melangkah keluar dari kamar utama dengan gelak tawanya. Sehingga bantal yang Zelene lemparkan jatuh ke lantai dan tak mengenai sasarannya.


"Hahaha~" gelak tawa Tony Huo menggelegar di koridor lantai dua menuju ruang belajarnya.


Dia berjalan santai dan langkahnya berhenti di depan pintu ruang belajar. Setelah selesai dengan tawanya, pun bibirnya tetap membentuk senyum simpul, barangkali ekspresi Zelene Liang yang tiba-tiba berubah melongo saat ketahuan memperhatikan dirinya, membuat hati pria itu menjadi hangat. Sehangat ruang belajar tersebut—yang semua jendelanya tertutup bahkan AC pun tak dinyalakan.


Tony Huo menaruh dokumennya di atas meja kerja dan dia berjalan pelan ke arah jendela. Tangan besarnya menyibak tirai yang menutupi jendela lantas membuka jendela kaca tersebut dan membiarkan hembusan angin menerobos masuk ke dalam ruang belajar. Tony Huo menghirup udara segar, meski tak sesegar dan seharum udara di kamar utama, namun ia tetap menikmatinya.


Ia melakukan peregangan pada lehernya, kemudian berbalik arah menuju meja kerjanya. Pria itu duduk tegak dan kembali mengambil dokumen yang sempat ia baca barusan. Tetapi setelah dokumen itu dibuka ia tidak bisa fokus sama sekali.


"Tony Huo, ada apa denganmu?" tanyanya pada dirinya sendiri. Sekali lagi ia mencoba untuk fokus pada dokumen di atas mejanya dan sekali lagi, ia gagal fokus. Tony Huo mengusap wajahnya karena tidak percaya, pada wajah cantik Zelene Liang yang kini telah menghantuinya setiap kali ia membuka dokumen, maka wajah Zelene Liang akan terpampang di sana.


"Ada apa denganku? Aku baru saja bertemu dengannya setelah dua tahun. Tidak mungkin dia memberikanku sebuah sihir yang membuatku membayangkan wajahnya, 'kan?" Tony Huo menyentakkan kepalanya ke sandaran kursi dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Terlihat sekali bahwa Tony Huo sedang kebingungan dengan dirinya. Memang benar bahwa, mereka baru bertemu kembali setelah dua tahun perpisahan mereka berkat jarak yang dibangun oleh Tony Huo sendiri. Akan tetapi, Tony Huo selalu mendapat kabar dan juga foto atau video tentang Zelene Liang, yang berarti dirinya hampir setiap hari melihat wajah wanita itu. Lain halnya dengan Zelene Liang yang tidak mengetahui kabar Tony Huo, apalagi Zelene Liang sibuk dan tidak sempat yang namanya melihat wajah Tony Huo di dalam foto sekalipun, hingga wanita itu tiba-tiba lupa pada wajah juga nama Tony Huo—saat dirinya terbangun dari mabuk.


Tony Huo sadar akan hal itu dan ia semakin bimbang dengan dirinya sendiri, juga karena membiarkan Zelene melupakannya untuk sesaat. Dirinya tidak mengakui wanita itu sebagai istri dan harusnya ia tidak dipusingkan oleh wajah cantik Zelene Liang yang mendadak menghuni pikirannya, 'kan?


"Fokuslah! Kamu profesional!" ucapnya, menguatkan tekadnya agar gangguan dari rupa cantik itu tak menghalangi pekerjaan yang tertunda.


🍁🍁🍁


Di kamar utama Zelene melepas scarf-nya dan memperhatikan bekas gigitan yang dibuat oleh Tony Huo pada bahu kanannya. Zelene menghela napas kesal karena ia lupa mengoleskan salep pada lukanya tersebut. Kukunya saja belum sempat ia rapikan ke salon kecantikan dan sekarang malah bahunya berisikan bekas gigitan.


"Dasar pria kurang ajar! Aku tidak bisa memakai gaun berkerah sebahu lagi." Zelene menghentakkan kakinya, kesal. Dia menuju ke sebuah nakas di samping ranjangnya dan membuka laci terakhir. Dalam laci tersebut ia mengambil sebuah kotak obat lalu membuka tutupnya dan segera dia membubuhkan salep itu ke jari telunjuknya.


"Apakah akan meninggalkan bekas?" gumamnya. Zelene membawa salep di jari telunjuknya dan mengusapkannya ke area luka pada bahu putihnya.


Setelah selesai merawat lukanya, Zelene duduk di tepi ranjang dan mengambil smartphone di dalam tasnya yang berada di atas ranjang, kemudian ia teringat kembali akan kotak yang diberikan oleh Xie Yu Fan padanya saat berada di depan restoran Ho.


Zelene menaruh smartphone-nya lantas mengeluarkan kotak hitam itu dari dalam tasnya. Sejenak ia memperhatikan kotak hitam di tangannya. Tanpa ekspresi Zelene Liang membuka kotak kecil itu dan menemukan sebuah kalung emas putih. Liontin pada kalung tersebut berbentuk white-swan yang terbuat dari berlian.


"Untuk apa dia memberiku sebuah kalung berlian?" Zelene Liang bertanya-tanya, maksud dari Xie Yu Fan yang memberikan dirinya sebuah perhiasan mahal. Ini tidak benar! Mereka hanya teman.


Zelene kembali menaruh kalung itu ke dalam kotak dan menyimpannya di dalam salah satu laci pada nakas di dekat ranjangnya. Dia tidak lupa mengambil smartphone dan mencari nomor Hanna Gu.


"Kak Hanna." Panggil Zelene.


"Ada apa, Lene?" sahut Hanna Gu dari seberang telepon.


"Tony Huo sudah menemukan dalang dari insiden tadi malam."


"Apa? Siapa orangnya? Apakah kita mengenalnya?" tanya Hanna Gu, antusias. Dia sendiri telah mengerahkan orang-orangnya juga bantuan dari agensinya untuk mengusut insiden tadi malam, namun belum mendapatkan hasil. Tentunya dia sangat antusias karena Tony Huo telah menemukan pelakunya dan dia bisa segera menyuruh orang-orangnya agar berhenti menyelidiki insiden tadi malam.


"Iya, orang yang kita kenal, Julia Qin." Sahut Zelene, dia melangkah dari ranjang menuju ke arah sofa dan mengambil dokumen yang didapatnya dari Tony Huo, kemudian ia duduk di sofa dan melanjutkan perkataannya, "dia menyuruh salah satu reporter kenalannya agar membawa lebih banyak reporter ke Club. Malam itu dia masih berada di Club dan mengawasi kita dari persembunyian."


"Perempuan itu, sudah kuduga." Geram Hanna.


Sejak semalam Hanna sudah memiliki firasat bahwa Julia Qin berniat buruk, namun dia menepis firasatnya karena Zelene sendiri menerima tantangan dari Julia Qin, juga para perempuan yang hadir di sana ikut minum bersama.


"Maafkan aku, Kak Hanna, semua salahku karena tidak mendengarkan ucapanmu dan malah memuaskan egoku. Ini semua salahku karena telah membuat kalian repot." Ucap Zelene dengan rasa bersalah.


Kalau saja aku tidak keras kepala, maka tidak akan terjadi pertengkaran dengan Tony Huo dan kuku tanganku tidak akan rusak. Pria itu juga tidak akan mengejekku karena tingkah bar-barku padanya semalam, batin Zelene. Dia menepuk dahinya dan menyalahkan dirinya karena terlalu percaya diri tidak akan kalah dari Julia Qin. Namun, rupanya perempuan itu sudah merencanakannya dari awal dan ia berhasil dikelabui oleh Julia Qin.


"Jangan menyalahkan dirimu, Lene. Kami yang tidak berhati-hati sehingga membiarkan kita terjebak dalam rencana Julia Qin. Kini, kita sudah tahu pelakunya, besok kita harus mendiskusikan hal ini dengan Presdir Wang. Kamu seperti bukan dirimu saja. Di mana Zelene kami yang angkuh dan berani?"


"Hehe, aku tetaplah diriku. Pastinya aku akan membalasnya lebih buruk dari ini. Hehehe ...." Zelene terkekeh renyah setelah mendapat semangat dari Hanna Gu.


"Kalau begitu istirahatlah dan kumpulkan tenagamu untuk membalas Julia Qin."


"Hm, terima kasih, Kak Hanna. Aku tutup panggilannya sekarang."


🍁🍁🍁


Sementara itu, di sebuah apartemen mewah. Penerangan dalam ruangan itu redup dan bau alkohol menguar hingga menusuk hidung, namun sosok pria tinggi yang duduk di mini bar dalam apartemen—terus menuangkan wine untuk dirinya. Entah sudah berapa gelas yang ditenggaknya. Sedang rokok di tangan kanannya dia hisap sesekali dan asap rokok tersebut berpadu dengan bau alkohol.


Saat itu, smartphone yang tergeletak di atas meja mini bar—bergetar. Pria itu mengambil smartphone-nya dan tidak langsung menjawab panggilan, dia membiarkan smartphone-nya berdering untuk beberapa saat. Sebelum dia memutuskan untuk mengangkat panggilan—wine yang tersisa di tangan kirinya, ia habiskan dalam sekali tegukan.


"Julia," ucapannya pelan, suaranya begitu rendah dan merdu juga sangat halus saat mengucapkan nama si pemanggil.


🍁 Bersambung🍁