My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Aku bahkan tidak punya nomor ponselnya



Setelah sibuk seharian penuh latihan adegan iklan bersama Xie Yu Fan. Hingga malam hari Zelene Liang masih melakukan latihan akting seperti biasa. Meskipun dia merupakan aktris papan atas, dia tetap latihan rutin. Kini wanita itu tertidur di kantornya karena kelelahan. Sedang Xu Mo juga ikut tertidur dalam beberapa menit, namun Xu Mo telah terjaga kembali. Sementara Hanna Gu duduk di sofa sembari membaca majalah dan menunggu mereka bangun. Hanna Gu sengaja tidak membangunkan Zelene Liang agar bisa istirahat dan mengisi tenaganya.


Xu Mo melihat pada jam dinding setelah mengerjapkan mata beberapa kali dan melihat ke atas sofa di seberangnya di mana Zelene Liang masih dalam dunia mimpi. Xu Mo melirik ke arah Hanna yang senantiasa menjaga mereka.


"Kak Hanna, sudah sangat larut. Mengapa tidak membangunkanku dan Kak Liang?" Xu Mo bertanya dengan suara serak khas orang yang baru bangun.


"Dia kelelahan, jadi biarkan saja tidur untuk beberapa jam." Jawab Hanna, santai sembari melirik jam tangan merk Gucci pada pergelangan tangan kanannya. "Aku yang akan menyetir."


"Tapi, kan, Kakak juga lelah. Biar aku saja. Aku akan mencuci muka." Xu Mo beranjak dari tempatnya dan mengambil langkah keluar dari kantor tersebut.


Sekali lagi, Hanna Gu melirik pada jam tangannya dan memutuskan untuk membangunkan Zelene Liang. Dengan gerakan pelan Hanna Gu menggoyangkan bahu Zelene.


"Lene, ayo bangun! Kita harus pulang, jika tidak suamimu akan datang kemari bersama puluhan pengawal itu."


Setelah beberapa kali Hanna Gu membangunkan Zeleneโ€”akhirnya wanita itu menggerakkan badannya perlahan dan kelopak matanya mulai terangkat sedikit demi sedikit mengakibatkan bulu matanya bergetar. Zelene Liang membuka mata dan mengedarkan pandangannya, dalam benaknya ternyata dirinya masih di kantor dan ketiduran hingga larut malam. Dia dengan perlahan menegakkan tubuhnya.


"Sudah berapa jam aku tertidur?" tanyanya sambil melihat kesepuluh jari yang masih utuh di tempatnya. Dia melihat Hanna Gu dan mengembangkan sedikit cengiran manis.


"Dua jam. Sekarang sudah lewat pukul 11 malam. Kita harus segera pulang." Ujar Hanna Gu, santai. Wanita berambut sebahu itu beranjak dan mengambil segelas air hangat untuk Zelene. "Minumlah!"


Sebelum mengambil gelas dari tangan Hanna Gu, Zelene Liang menambah senyuman hingga matanya menyipit. "Terima kasih, Kak Hanna." Dia mengedarkan pandangan dan tidak melihat Xu Mo di mana pun, sementara itu perutnya terasa lapar lantaran dia tertidur tanpa makan malam terlebih dahulu. "Ngomong-ngomong di mana Xu Mo?"


Hanna Gu kembali duduk. "Dia sedang mencuci muka."


"Oh, aku sangat lapar! Mengapa baru membangunkanku?" protesnya. Dia menyesap perlahan air hangat pada gelas di tangannya, kemudian menaruh gelas itu di atas meja sofa. Zelene bangkit dari sofa dan melakukan sedikit peregangan.


"Kamu terlihat lelah, jadi aku tidak tega membangunkanmu." Sahut Hanna Gu, ada sedikit nada tidak tega dalam suara rendahnya. "Apa kamu ingin singgah ke restoran sebelum pulang?"


Zelene menggelengkan kepala. "Tidak! Kita langsung pulang saja. Aku juga akan mencuci muka."


"Baiklah, aku akan bersiap dan menunggu kalian."


Zelene berjalan keluar dari kantornya. Di dalam gedung LC Entertainment, tidak hanya ada dirinya dan agennya saja, melainkan para trainee masih aktif melakukan latihan mereka hingga tengah malam nanti.


Tiba-tiba sekujur tubuh Zelene merasa kedinginan seperti angin menerpa dirinya, tetapi tak ada hembusan angin yang melintasi koridor tersebut.


Ditengoknya ke belakang, tetap saja tidak ada siapa pun. Zelene Liang menggeleng pelan dan mempercepat langkahnya menuju kamar mandi. Dalam perjalanan dia berpapasan dengan Xu Mo.


"Oh, Kak Liang sudah bangun?" Xu Mo bertanya sembari celingukan seperti mencari seseorang.


"Hm," jawabnya singkat, lalu dia bertanya sambil menguap, "ada apa dengan raut wajahmu itu, dan siapa yang sedang kamu cari?"


"Kak, apa kamu tidak merasakan hawa dingin saat lewat koridor ini?" Xu Mo memutar bola mata ke kiri dan ke kanan, dia mengusap-usap tengkuknya.


Xu Mo mengangguk.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Disisi lain, seorang pria berambut hitam legam dengan alis saling bertautan. Ia duduk di sofa mewah, kedua lengannya bersilangan di depan dada. Sesekali ia bersandar dan beberapa menit kemudian, ia kembali menegakkan punggungnya.


Mata hitam pria itu tidak beralih dari jam dinding yang terpaku pada dinding putih di seberangnya. Detik demi detik ia perhatikan, tetapi orang yang ditunggu tidak kunjung datang. Agaknya sudah lebih dari satu jam pria itu duduk di sana sembari menyesap kopi.


Ia mengambil cangkir kopi di atas meja tersebut dan ternyata kopi dalam cangkir itu sudah habis. Ia kembali memerintahkan untuk membawa kopi yang baru pada butler tanpa mengalihkan pandangannya dari jam dinding.


Ruangan itu hening dari suara-suara manusia dan hanya bunyi dari jam berdetak yang terdengar di gendang telinga pria itu. Beberapa menit kemudian kopi baru telah siap.


"Tuan Muda, ini cangkir kopi ketiga yang Anda minta." Sembari menghela napas, butler Kim menaruh cangkir tersebut di atas meja. Setelahnya ikut memperhatikan jarum jam dinding.


Pandangan Tony Huo beralih ke butler Kim, ia bertanya dengan nada serius, "Apakah dia selalu pulang larut malam?"


"Pekerjaannya membuat Nyonya sibuk. Terkadang beliau pulang larut malam, apalagi jika syuting sudah di mulai." Terang butler Kim dengan sabar. "Tuan Muda, mengapa tidak menelepon Nyonya?" tanya butler Kim tanpa berpikir panjang.


"Lupakan saja!" Tony Huo mengambil cangkir kopi di atas meja, ia sesaat memperhatikan kopi hitam layaknya malam pekat. Sama seperti malam ini hitam pekat di luar sana, bahkan angin dengan berani melintasi setiap celah pada mansion itu dan menyentuh rambut hitamnya. "Aku bahkan tidak punya nomor ponselnya." Tony Huo berucap santai.


Terkejut. Itulah yang dilihat oleh Tony Huo nampak dari wajah butler Kim saat ini. Tiba-tiba ia mendapatkan tatapan malas setelah keterkejutan dalam raut muka butler Kim menghilang.


"Ada apa?"


"Tidak ada, Tuan Muda. Hanya saja, bukankah sangat aneh jika seorang suami tidak memiliki nomor ponsel istrinya?" pertanyaan yang terlontar dari pria berambut perak itu menyiratkan ledekan halus di dalamnya. Dia menyentuh dagu kotaknya sambil berpura-pura memikirkan hal tersebut.


"Berhentilah berpura-pura memikirkan hal yang telah kau ketahui. Kau tahu itu sangat menyebalkan, butler Kim?" cangkir di tangannya diletakkan kembali di tas meja dengan bunyi tak!


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Sementara itu, di parkir bawah tanah LC Entertainment. Zelene Liang, Hanna Gu dan Xu Mo bersiap naik ke mobil. Akan tetapi, Zelene Liang melihat gelagat aneh Hanna Gu. Dia pun merasakan hal yang sekiranya sama. Tengkuknya terasa dingin bagaikan es menempel di sana.


"Ada apa, Kak?" Zelene tetap bertanya.


"Aku merasakan aura dingin entah darimana." Hanna Gu mengedarkan pandangannya ke sekitar.


Ding! Bunyi pintu lift bawah tanah terdengar oleh ketiganya. Sontak mereka mengarahkan pandangan pada pintu lift yang terbuka sedikit demi sedikit. Mata mereka penuh antisipasi lantaran hawa dingin terhembus dari sana.


๐Ÿ Bersambung๐Ÿ