My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Lanjutkan! Apa yang terjadi di Club saat aku mabuk?



Zelene Liang sampai di kediaman Xue Garden sekitar 20 menit kemudian. Xiao Juan menghentikan mobilnya di depan pintu masuk mansion. Pria itu lantas keluar dari mobil dan tangan besarnya meraih gagang pintu yang mana dia membukakan pintu mobil untuk Zelene.


Wanita bertubuh jenjang itu keluar dari mobilnya dan tak lupa membawa kotak kecil yang diberikan oleh Xie Yu Fan. Sewaktu di dalam mobil, Zelene tidak membuka kotak itu dan malahan memegang benda itu di tangannya. Ia memasukkan kotak hitam nan kecil itu ke dalam tasnya. Sekiranya dia tahu isi kotak itu, namun maksud di balik pemberian kotak yang sudah pasti berisikan hadiah untuk dirinya masih belum ia ketahui.


Setelah menaruh kotak ke dalam tasnya, Zelene berjalan pelan menunju ke arah pintu masuk mansion. Pintu masuk dari mansion tersebut sudah terbuka dan para pelayan mengucapkan selamat datang padanya. Dia hanya mengangguk pada mereka dan melihat sekeliling ruang depan. Tidak ada sosok Tony Huo ataupun Nan Si Yue di sana. Kemungkinan Nan Si Yue sudah kembali ke Manor Huo dan Tony Huo sendiri pasti ada di kamar.


"Apakah, Mom, sudah pulang?" Zelene tetap bertanya pada salah satu pelayan untuk memastikan Nan Si Yue masih berada di mansion atau tidak.


Salah satu pelayan wanita yang berdiri di samping kirinya tersebut menjawab dengan cepat. "Nyonya Huo sudah pulang 20 menit yang lalu, setelah makan siang bersama Tuan Muda."


"Lalu ..., di mana dia?"


Pelayan itu mendongak dan tidak menjawab untuk beberapa detik sampai dia menemukan bahwa, yang ditanyakan oleh Zelene Liang adalah Tony Huo. "Tuan Muda berada di ruang belajar, Nyonya. Apa perlu saya beritahu pada Tuan Muda bahwa Anda sudah pulang?"


"Tidak perlu repot-repot memberitahunya. Aku akan pergi ke kamarku."


"Baik, Nyonya."


Zelene Liang melanjutkan langkahnya menuju kamar utama, meninggalkan pelayan tersebut. Langkah itu pelan menaiki satu anak tangga demi anak tangga. Dari ujung mata almond-nya dia sekilas melirik seorang pelayan mengawasi langkahnya sejak ia memasuki kediaman. Zelene Liang tentu tahu siapa pelayan tersebut.


Dari ujung mata Zelene terlihat Sarah Wu sedang mengamatinya dengan sorot dendam. Zelene baru saja pulang tidak lebih dari 2 Minggu dan ia belum mengenal Sarah Wu dengan pasti. Tetapi, sudah dipastikan bahwa Sarah Wu menyimpan dendam padanya bukan hanya karena kejadian tadi pagi saja, mungkin juga akan sesuatu hal lain yang tidak Zelene ketahui.


Ia berhenti ketika sampai di lantai dua dan seketika menoleh ke lantai bawah—tempat Sarah Wu sedang mengawasinya di balik tiang penyangga mansion tersebut.


Tatapan Zelene pun di sadari oleh Sarah Wu sehingga wanita itu menghilang di balik tiang. Zelene memalingkan tatapannya dan kembali melanjutkan langkahnya ke kamar utama. Dia meraih gagang pintu dan segera membuka pintu kamar. Namun, dia mendapati Tony Huo duduk di sofa kamar tersebut.


Bukannya dia sedang di ruang belajar kata pelayan barusan?


Zelene masih berdiri di ambang pintu sembari memperhatikan pria yang sedang membaca sebuah dokumen di tangannya. Kepala pria itu sedikit tertunduk, dan ketika Zelene tanpa sadar menatap terus-menerus tanpa ada keinginan untuk masuk ke dalam kamar; pria itu mengangkat kepalanya.


"Mengapa masih berdiri di sana? Jika tidak ada niatan untuk masuk, keluar saja." Ketusnya.


Zelene memberikan tatapan datar pada Tony Huo. Kedua kaki jenjang itu masuk ke dalam kamar dan bam! Dia menutup pintu tanpa mengatur kekuatan tangannya.


"Kenapa kamu membawa berkas-berkasmu kemari? Bekerjalah di ruang belajar atau pergi saja ke kantormu." Zelene menaruh tasnya di atas ranjang dan ia bergumam setelahnya, "merusak pemandangan saja."


"Sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu. Baru pulang dan kamu sudah membuat kepalaku pusing dengan perdebatan. Entah besok dan seterusnya kamu pasti akan mencari gara-gara agar kita berdebat, 'kan?"


Tony Huo mengentikan kegiatannya dari membaca dokumen. "Jadi, kamu menyalahkanku karena kita berdebat tadi pagi? Zelene Liang, ingat kembali hal-hal mengerikan yang telah kamu perbuat padaku." Kemudian ia kembali membaca dokumennya, bahkan kini lebih fokus lagi, hingga dahinya berkerut. Mungkin kehadiran Zelene Liang membuyarkan fokusnya perlahan.


Zelene merasa lelah juga mengantuk setelah makan siang dan kepalanya masih agak pening. Dia tidak ingin menanggapi Tony Huo juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja karena pria itu duduk di sofa dalam kamar tersebut.


"Aku tahu maksudmu. Aku yang bersalah di sini karena telah mengotori dada bidangmu dengan kukuku. Namun, aku sedang tidak ingin membahas masalah itu." Kata Zelene.


Dia menghela napasnya pelan, lalu berjalan ke arah Tony Huo, serta dengan elegan duduk di seberang pria itu. Dia duduk tegak dan menatap Tony Huo. Wajah Zelene mulai serius karena mengingat perbincangannya dengan Xie Yu Fan di restoran Ho saat makan siang tadi.


"Tony Huo, aku tahu kamu mendapatkan informasi keberadaanku dari kedua pengawal itu. Kamu menaruh mereka di dekatku selama dua tahun dan aku tahu akan hal tersebut. Tapi, aku tidak mempermasalahkannya, saat ini yang ingin kuketahui; mengapa kamu datang sendiri ke Club?" nada Zelene terdengar serius kala ia mempertanyakan kehadiran Tony Huo di Club tersebut.


Perlahan Tony Huo menaruh dokumennya di atas meja sofa. Dia menyilangkan kakinya dan mulai bersandar ke belakang serta sikunya bertumpu di atas sandaran sofa. Perlahan ia menelengkan kepala dan jari telunjuknya menopang kepalanya.


"Aku sedang berbicara serius padamu." Zelene kembali berucap karena Tony Huo belum menjawab pertanyaannya.


"Jadi, Nyonya Muda Huo bisa berbicara dengan serius juga dan bukan hanya ber-akting ..., apakah penting kamu mengetahui kehadiranku di sana?"


"Tony Huo!" seru Zelene. Dia tidak tahu apakah Tony Huo bisa diajak berbincang dengan serius atau pria itu hanya dapat diajak bertengkar saja? Zelene menggelengkan kepala. "Ingatlah bahwa pernikahan kita masih dirahasiakan dan aku tidak mau sampai terungkap. Tadi malam bisa menjadi kecerobohan jika para reporter itu menggali tentang hubungan kita. Mereka tidak bodoh, Tony Huo." Zelene menatap jengkel pada Tony Huo.


Sedangkan, pria itu tersenyum samar. Jari telunjuknya menari di atas alisnya dan setelah ia bosan dengan posisi tersebut, ia lantas duduk tegak dan mengarahkan pandangan serius pada Zelene.


"Jika aku tidak datang semalam. Hari ini pasti Negara C telah digemparkan oleh gosip kencanmu dengan pria bermarga Xie itu. Tidakkah seharusnya kamu berterimakasih padaku karena dengan kehadiranku saja sudah menutup mulut para reporter itu. Kamu pikir bisa selamat dari terjangan rumor hanya dengan bantuan agensimu dan kamu tahu, saat kamu mabuk semalam," Tony Huo berhenti berucap karena ia mengingat letak tangan Zelene yang berbeda di leher Xie Yu Fan tadi malam dan mengakibatkan darahnya mendidih. Wanita yang tak diakuinya sebagai istri dalam benaknya telah membuat dirinya terbakar dalam kerisauan.


"Lanjutkan! Apa yang terjadi di Club saat aku mabuk? Aku tidak sempat bertanya pada Kak Hanna di perusahaan."


"Haha ...," Tony Huo tertawa masam. "Kamu berada dalam pelukan Xie Yu Fan dan bergelayut di lehernya ketika para reporter itu mengambil gambar kalian. Kamu pasti tidak bisa mengingatnya, 'kan? Kamu terlihat sangat nyaman berada dalam pelukan pria itu sampai-sampai kamu memukul wajahku karena tidak ingin berpisah dengan kekasihmu itu."


Wajah Zelene berubah merah mendengar kelakuannya ketika mabuk semalam. Xie Yu Fan tidak mengatakan hal itu padanya dan memang beruntung sekali dia tidak mendengarnya dari pria itu, melainkan dari Tony Huo. Jadi, dia tidak perlu merasa canggung pada pria itu, namun saat ini dia tidak bisa membela dirinya lantaran dialah yang bersalah. Bersalah karena mabuk hingga lupa diri dan berada di pelukan pria lain, juga didapati oleh suami sendiri.


Beruntung pria ini tidak memiliki perasaan padaku dan tidak akan menjadikannya salah paham, 'kan? Tetapi, aku rasa dia sudah salah paham dan agaknya geram padaku. Duh, bagaimana aku harus menanggapinya? Haruskah aku minta maaf? Tapi, aku mabuk dan tidak sepenuhnya salahku, 'kan? Zelene Liang beradu dengan batinnya karena kebimbangan tengah menerpa batin sekaligus pikirannya.


🍁 Bersambung🍁