My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Apakah Nyonya dalam bahaya?



Langit Toronto tampak cerah terlihat dari dinding kaca di belakang meja kerja Tony Huo; ia melonggarkan dasinya dengan kasar. Pikiran Tony Huo mengambang ke sela-sela gumpalan awan abu yang bersembunyi di antara awan lainnya, barusan pikirannya terganggu karena Lana Wei, namun sekarang ia sedang memikirkan ucapan butler Kim.


Apa aku harus membantunya? Tidak, tidak. Untuk apa aku peduli.


Ia merasa sangat bimbang juga gusar kembali merambah hingga ke sum-sum tulangannya. Tony Huo kembali duduk di kursi ekskutif-nya, ia memijat alisnya berulang kali.


Duan Che berdiri di depan meja Tony Huo; ia mengamati atasannya yang sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. "Apa ada masalah, Tuan?"


Tony Huo menatap sebuah figura dari emas berlapis lazuli sebelum pandangannya dialihkan ke Duan Che, lalu berkata dengan datar. "Seseorang berusaha menjebak Zelene Liang." Ia menyandarkan kepalanya dengan santai.


"Apakah Nyonya dalam bahaya?" tanya Duan Che. Ia sedikit terkejut mendengar ucapan datar Tony Huo; seseorang berusaha menjebak istrinya, namun di sini pria itu memperlihatkan ketidakpeduliannya, lalu untuk apa berpikir begitu keras? Duan Che kembali bertanya, "apa Tuan ingin mencari pelakunya?"


"Bawa pelakunya kemari!" kali ini Tony Huo sudah memikirkannya dengan matang, meski ia tahu bahwa Zelene pasti bisa menghadapi siapa pun yang ingin menghalangi jalannya, akan tetapi lebih baik memotong gangguan sedini mungkin sebelum menjadi ancaman yang lebih berbahaya dikemudian hari.


"Baik, Tuan."


"Tempatkan beberapa pengawal di sisinya." Perintah Tony Huo. Selain membasmi pelaku yang ingin menjebak istrinya; ia juga akan memperketat keamanan Zelene Liang, meski ia tidak dapat bersamanya untuk saat ini karena keinginannya sendiri.


Aku hanya merasa punya tanggung jawab saja. Jadi, Zelene Liang, jangan berpikir berlebihan.


"Akan saya laksanakan, Tuan." Duan Che tidak perlu menanyakan alasannya. Sudah jelas bahwa Tony Huo khawatir, hanya saja atasannya itu terlalu malu untuk mengakuinya.


Duan Che ingin undur diri—kembali ke ruangannya, tetapi tidak lama kemudian ...


Braaakkk


Pintu kantor Tony Huo dibuka dengan kasar, dipenuhi amarah dari si pembuka pintu—kini, berkacak pinggang di ambang pintu.


"Tony Huo!!!" Wanita mungil di ambang pintu memekik dengan suara kencang seolah genderang perang ditabuh di atas lautan.


Kedua orang yang berada di dalam ruangan, bungkam memperlihatkan mata nanap mereka.


"Kenapa kamu membiarkan wanita itu menjadi duta perhiasan?! Apa kamu tidak waras?!" Ling Ling masuk dan menutup pintu. Bam! Ia memelototi Tony Huo yang masih bungkam; Ling Ling mengedarkan pandangan hingga menemukan sosok Duan Che—orang yang baru saja ia lewati.


Gosh! Che juga ada disini? Sikapku barusan tidak seperti wanita anggun, bagaimana ini?


"Ehem ...." Ling Ling kembali bersikap normal, "jadi, apa ini alasanmu kembali ke sini?"


"Tentu saja bukan, kau bertemu dengannya?" tanya Tony Huo yang kembali sibuk dengan bolpoin bercorak emas di tangan kanannya, sementara tangan kirinya membalik-balikan halaman dokumen.


"Aku bertemu dengannya di lobi, jika bisa aku tidak ingin melihat wanita itu! Kenapa dia bisa menjadi duta perhiasanmu?"


"Untuk keuntungan perusahaan." Ucap Tony Huo acuh tak acuh. Tangannya berhenti menggoreskan tinta, lantas menatap Ling Ling, "hei! Kau sendiri untuk apa datang pagi-pagi dan langsung berteriak seperti gorila?"


"Go ... Gorila?" mulut Ling Ling ternganga, tidak habis pikir pada pria dalam setelan suit bermotif garis vertikal dengan warna steel blue itu bisa bercanda juga.


"Pfffttt."


Duan Che sedari tadi menjadi pengamat, kini tawanya menggema. Ling Ling sungguh terlihat lucu di mata Duan Che, wajah batu pria itu seperti terkikis oleh kelucuan Ling Ling.


Tawa Duan Che segera terhenti. "Maafkan aku, untuk apa kau ke sini, Nona Ling?"


"Oh, iya, aku hampir saja lupa," braakk! Ling Ling menggebrak meja Tony Huo, "kamu tidak membaca berita? Seluruh Negara C digemparkan dengan kabar tentangmu yang kembali mengandeng wanita di bandara, dan aku juga ikut terseret! Meskipun, wajahku tidak terlihat."


"Itu kan sudah biasa." Sahut Tony Huo memandang malas pada Ling Ling yang berbuat seenaknya.


"Sudah biasa katamu?! Bagaimana jika berita itu membesar dan mereka menggali lebih dalam? Harga diriku akan hancur. Bagaimana aku bisa mendapatkan kekasih nanti?! Lalu, bagaimana dengan istrimu? Apa kamu tidak menjelaskan apa pun padanya?!" pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Ling Ling tanpa jeda.


Tony Huo menggeleng, ia belum menghubungi Zelene sejak sampai di Kanada; ia sudah disibukan dengan pekerjaannya karena, ia memang sengaja tidak menghubungi Zelene, menurutnya itu adalah hal yang sama sekali tidak harus dilakukannya. Apalagi menjelaskan berita yang baru saja diketahuinya hari ini dari Ling Ling.


🍁🍁🍁


Imperial City, Negara C


Sementara itu, di kediaman Xue Garden. Zelene mengemas pakaiannya tergesa-gesa sambil menekan tombol loud speaker pada layar smartphone-nya. Jemari Zelene tak hentinya memasukan pakaian dan perlengkapan lain yang ia butuhkan.


"Kenapa mendadak sekali, sih? Padahal penandatanganan kontraknya baru kemarin." Zelene berbicara pada orang di seberang telepon.


"Aku juga kurang tahu, mereka memajukan jadwal seenaknya saja. Mungkin karena kita akan syuting di beberapa negara. Aku sudah sampai di depan mansion." Ucap Hanna, memberi tahu Zelene.


"Iya, iya, aku akan turun sebentar lagi." Zelene mematikan panggilannya, ia bergegas turun setelah semua keperluannya tertumpuk rapi dalam koper Chevron Trolley Rolling Suitcase di tangan kirinya.


Langkahnya dipercepat menuju ke halaman depan, ia mendapati sebuah mobil Van hitam sudah terparkir. Hanna dan Xu Mo sudah berdiri tidak sabar menunggu kedatangan Zelene—tokoh utama wanita.


Koper Zelene sudah dimasukan ke dalam Van oleh butler Kim.


"Kenapa Anda pergi sangat mendadak, Nyonya?" tanya butler Kim. Wajahnya nampak murung—baru saja kediaman Xue Garden yang dingin mendapatkan kehangatan dari Nyonya rumah. Kini, wanita itu harus pergi—melaksanakan aktivitasnya sebagai seorang aktris.


"Kami akan syuting di beberapa negara, butler Kim. Jangan terlalu sedih, aku akan pulang dalam beberapa bulan." Sahut Zelene, tenang. Walaupun, ia mengatakan beberapa bulan, kemungkinan saja bisa menjadi beberapa tahun karena genre dari film terbarunya merupakan genre action. Genre tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pengambilan adegannya.


"Baiklah, butler Kim, aku harus pergi sekarang." Zelene masuk ke dalam Van.


"Nyonya, apa tidak perlu saya antar ke bandara?"


Zelene menggeleng, ia tidak mau merepotkan butler Kim. "Tidak perlu. Kami berangkat sekarang!"


"Jaga kesehatan Anda, Nyonya!"


Mobil Van melaju melewati pintu gerbang; pandangan butler Kim masih di sana—di arah perginya Nyonya rumah mereka. Ia merogoh sakunya, lantas mengambil smartphone miliknya.


"Tuan Muda, Nyonya sudah berangkat ke bandara." Ucapnya, sembari menunggu jawaban dari seberang telepon.


"Mm ... bagaimana dengan pengawalnya?"


"Mereka sudah mengikuti Nyonya."


🍁 Bersambung🍁