My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Kenapa kamu menanyakan dia?



"Sudahlah jangan bahas itu lagi. Semua artikel itu sudah dilenyapkan oleh asisten Duan." Berujar santai, Zelene Liang sesekali melihat smartphone di tangannya. Tidak ada panggilan dari Tony Huo, dia lantas memejamkan matanya. Melipat tangannya ke depan dan tidak memedulikan smartphone yang dia buang ke kursi di sebelahnya.


Meski dia tidak ingin membahas hal itu, namun tak dapat dipungkiri kalau dia sesungguhnya sedang memikirkan Tony Huo dan Lana Wei. Tony Huo sendiri memang dirumorkan dengan banyak wanita, namun kali ini dengan Lana Wei—model internasional yang baru tiba di Imperial City.


Mengapa Lana Wei tiba Imperial City lantas bertemu Tony Huo di kedai kopi dekat kantornya? Zelene Liang tidak dapat memejamkan matanya dengan benar lantaran pikirannya terganggu akan hal ini. Saat ini dia ingin cepat-cepat pulang ke mansion dan bertanya pada Tony Huo. Akan tetapi dia juga terlalu malas jika Tony Huo malah menjawabnya dengan kebohongan seperti tadi.


Kesal. Tentu saja Zelene Liang merasa kesal telah dibohongi. Istri mana yang tidak kesal dibohongi oleh suaminya sendiri? Dia membuka matanya dan mengambil smartphone lantas mencari artikel mengenai Lana Wei. Belum sempat Zelene Liang membuka artikel pertama, dia kembali melemparkan smartphone-nya ke samping.


"Lebih baik kamu telepon suamimu daripada kamu terus penasaran." Kata Hanna Gu memberikan saran pada Zelene Liang. Dia tahu kalau Zelene Liang sangat penasaran, namun enggan untuk berucap dan hanya memikirkannya saja.


"Aku merasa sangat malas, Kak Hanna. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Lana Wei?"


"Kenapa kamu menanyakan dia?" Hanna Gu menengok ke belakang dengan tatapan heran.


"Dia tiba-tiba saja pingsan. Apakah dia memang memiliki penyakit tertentu?" tentu saja aneh ketika Lana Wei pagi-pagi pingsan di kedai kopi dan ketika bertemu dengan Tony Huo pula.


"Aku dengar dia memiliki penyakit maag akut. Mungkin saja dia lupa sarapan dan langsung meminum kopi. Bisa saja, 'kan?" Jawab Hanna Gu, dia meluruskan pandangannya ke depan. Beberapa menit lagi mereka akan segera sampai di Royal Restoran.


Zelene Liang hanya mengangguk pelan, namun dia tetap memikirkan wanita yang digendong oleh suaminya tersebut.


🍁🍁🍁


Sementara itu, di waktu yang sama. Bangsal VIP tempat Lana Wei dirawat, seorang pria bertubuh tinggi dan ramping masuk ke dalam bangsal tersebut mengenakan setelan suit berwarna biru gelap. Dia melangkahkan kakinya dengan pelan berjalan ke arah ranjang Lana Wei. Nampak dari wajahnya laki-laki itu berusia sekitar 32 tahun. Rambut hitamnya di sisir ke belakang dan bau maskulin dari parfumnya menguar di ke dalam hidung Lana. Bau parfum yang sudah tidak asing lagi.


Tatapan Lana Wei terus mengikuti langkah pria itu. Sedikit kegetiran nampak dalam kerlingan mata jernih wanita itu. Jemarinya bergetar ketika pria itu perlahan mendudukkan dirinya di atas ranjang rumah sakit tersebut.


"Kak Wen ...." lirih Lana Wei. Suaranya sangat lemah ketika menyebut nama pria itu.


"Kak Wen, aku bisa jelaskan—"


Wen Si memotong ucapan asisten Lana Wei. Asisten itu diam di tempatnya setelah Wen Si mengangkat tangannya. Ruangan tersebut hening, tak ada yang berani bersuara karena Wen Si memberikan tatapan bak malam pekat di bangsal itu.


Lana Wei sendiri sampai bergetar ketika melihat mata pria itu. Mata itu sungguh dingin dan ambigu, tidak ada kehangatan sama sekali yang terpancar di sana.


Seketika jemari besar pria itu meraih dagu Lana Wei. Dia mencengkeram dagu wanita itu dengan keras tanpa memikirkan rasa sakit yang dialami oleh wanita lemah itu.


"K-kak Wen," Lana Wei berucap lemah, air matanya telah tumpah ke pipi sampai ke jemari pria itu.


"Siapa yang menyuruhmu menemui Tony Huo?" Wen Si bertanya dengan nada sedingin es, bahkan lebih dingin dari nada Tony Huo.


Tubuh Lana Wei yang masih lemah menggigil karena suara Wen Si bagaikan jarum es menusuk telinganya. Sedang asisten Lana Wei—mulai menangis. Dia takut kalau-kalau Wen Si akan menyakiti Lana Wei, meskipun Wen Si adalah manajer Lana Wei dan hubungan mereka sangat rumit satu sama lain. Tapi asisten itu tidak tega melihat tubuh lemah Lana Wei bergetar hebat.


"Yi Yi!" seru Wen Si. Pandangannya seketika di arahkan pada Yi Yi—asisten Lana Wei. Yi Yi ikut merasakan kegetiran dan badannya bergetar karena tidak sanggup melihat ekspresi gelap milik Wen Si. Dia tahu kalau Wen Si saat ini sedang marah pada Lana Wei dan tidak akan segan menyakiti wanita itu, meski sedang dalam keadaan sakit sekalipun.


"I-iya, Kak Wen." Dengan takut-takut Yi Yi melangkah mendekati Wen Si. Dia menundukkan kepalanya seraya memejamkan mata. Berhenti di depan Wen Si, Yi Yi mencoba menatap mata Wen Si, "Kak Wen, mohon lepaskan Kak Wei. Dia sedang sakit saat ini." Nada memelas dari Yi Yi tak dapat melunakkan hati Wen Si.


Pria itu mencengkeram dagu Lana Wei semakin kencang. Sehingga isak kesakitan wanita itu makin terdengar jelas.


"Mengapa kau mengijinkannya menemui Tony Huo? Bukankah sudah kukatakan dia tidak boleh bertemu siapa pun apalagi Tony Huo?!" Wen Si membentak dengan nada tinggi membuat kedua wanita itu semakin menggigil. Khusunya Lana Wei, wajahnya semakin pucat, mungkin sebentar lagi dia akan pingsan.


Yi Yi masih bungkam ketika Wen Si selesai membentaknya dengan pertanyaan. Dia menatap Lana Wei yang menggeleng, nampaknya Lana Wei sendiri ingin menjelaskan pada Wen Si.


"Biarkan aku yang jelaskan." Lana Wei berucap dengan nada sendu. Bulir air mata terus berjatuhan membasahi pipi serta jemari Wen Si sudah basah akan air mata Lana Wei.


Wen Si memperhatikan Lana Wei yang nampak kesakitan, "Keluarlah!"


Tanpa disuruh dua kali, Yi Yi melangkah keluar dari bangsal. Yi Yi tahu bahwa mereka harus menyelesaikan urusan ini berdua saja karena hubungan mereka memang tidaklah sebagai manajer dan aktris saja. Yi Yi bahkan tidak ingin memikirkan hubungan pelik antara keduanya.


🍁🍁🍁


Dalam ruang VIP di Royal Restoran. Tony Huo sudah sampai 5 menit yang lalu, namun ruangan tersebut masih kosong. Rupanya Chairman Lee belum datang dan ia harus menunggu kedatangan orang tua itu.


"Mengajak makan siang dengan alasan urusan bisnis. Tapi sampai sekarang Pak tua itu masih belum datang juga." Gerutu Tony Huo. Menunggu selama 5 menit sudah seperti menunggu 5 jam baginya. Setiap detik dari waktunya sangatlah berharga bagi Tony Huo. "1 menit lagi dia tidak muncul, aku akan pergi dari sini!"


"Dasar tidak sabaran. Tadi berlama-lama di rumah sakit dan waktu tidak terasa sudah berjam-jam berlalu. Sekarang menunggu 5 menit saja sudah tidak betah." Duan Che bergumam amat pelan di belakang Tony Huo.


Tony Huo melirik melirik Duan Che melalui ekor matanya, namun pria dengan wajah batu itu segera meluruskan ekspresinya menjadi lebih serius dan profesional. Tony Huo tidak dapat mendengar gumaman tersebut, akan tetapi ia seperti mendengar desis mahkluk halus di belakang lehernya.


"Sudah 1 menit. Ayo kembali ke kantor!" ia berdiri dari duduknya. Ketika itu pintu ruangan VIP dibuka oleh pelayan dan menampakkan dua orang berdiri di sana—tidak lain ialah Chairman Lee berdiri di sebelah kanan dan seorang gadis cantik nan anggun menemani di sebelah kirinya. Mereka berjalan masuk secara beriringan dan ketika gadis itu melihat Tony Huo—matanya seolah tak dapat berkedip.


🍁Bersambung🍁