
Jangan lupa follow IG author : red_maple0
Mereka masih berciuman layaknya dunia hanya dihuni oleh kedua orang itu saja. Saat ini mereka tengah menikmati momen di mana terasa awan putih tengah berada di atas kepala mereka. Begitu cerah, putih dan suci seperti benih cinta yang tumbuh tanpa mereka sadari dan tidak ingin mereka akui begitu saja karena logika mereka menolak akan hal tersebut.
Beberapa saat kemudian mereka bak kehabisan oksigen dalam paru-paru mereka serta napas keduanya mulai tersengal. Tony Huo menyunggingkan ujung-ujung bibirnya ketika memperhatikan wajah Zelene Liang bersemu merah. Ia kembali memberikan kecupan singkat pada bibir mungil itu.
Nampak malu karena kelakuannya yang seperti anak-anak barusan, Zelene Liang membenamkan wajahnya pada bahu Tony Huo. Sementara pria itu mencium bahu Zelene Liang, serta menamamkan kecupan singkat pada bahunya yang sedikit terbuka.
“Bukankah kamu mengatakan akan ke taman belakang?” ia bertanya, tapi malah memeluk Zelene Liang dengan erat. Jika bisa saat ini juga Tony Huo ingin membawanya pulang ke mansion dan membenamkannya dalam pelukannya di kamar mereka.
“Aku pergi sekarang.” Zelene Liang melepaskan pelukannya dari bahu Tony Huo. Sesaat kemudian dia tersadar bahwa ada sesuatu yang cukup aneh dengan mereka. Baru kemarin mereka bertengkar dan terus saja bertengkar tidak ada akurnya sama sekali, namun saat ini dengan sedikit candaan serta ciuman dan beberapa kecupan telah membuat hatinya begitu hangat. Entah mengapa Zelene Liang seperti merasa dicintai oleh pria itu atau mungkin hanya perasaannya saja. Dia juga tidak berharap lebih pada Tony Huo dan berpikir bahwa tadi mereka hanya terbawa suasana saja.
Zelene Liang beranjak dari pangkuan Tony Huo, raut mukanya sedikit muram karena saat ini perasaan yang tak dia ketahui menelusup ke dalam relungnya membuatnya enggan untuk beranjak dari pangkuan pria itu dan ingin tetap membenamkan wajahnya di sana. Dia membenarkan gaun yang sedikit terlipat karena posisi duduknya tadi.
Tony Huo masih menyunggingkan senyum, sebenarnya ia juga cukup enggan membiarkan Zelene Liang pergi dari pelukannya. Ia berdiri, merangkul pinggang Zelene Liang dan kembali membenamkan ciuman pada bahu wanita itu.
“Zelene Liang, bukankah kita cukup aneh sekarang?” Tony Huo bertanya dan suasana di dalam sana semakin terasa aneh. Seolah mereka sedang bermain drama saat ini, namun semua itu adalah nyata. Mereka hanya berdua dalam kamar tertutup itu, menghabiskan waktu berdua—entah sudah berapa menit yang mereka habiskan di sana.
“Aneh? Apa maksudmu Tony Huo?” dia sendiri juga merasakan sesuatu yang aneh, padahal barusan dia hanya bercanda saja karena ingin mendapatkan smartphone Tony Huo, dan menghapus fotonya. Zelene Liang sampai memberikan kecupan untuk pertama kalinya, dia merasa malu akan hal itu. Memejamkan matanya, mengingat ketika pertama kali dengan sengaja mendaratkan bibirnya pada bibir tipis pria itu. Wajahnya kini semakin merasa panas. “Aku pergi sekarang.”
Seolah sesuatu yang tak diinginkan bisa meluap kapan saja dari hatinya yang sudah tak karuan dan debaran jantung yang semakin memuncak. Zelene Liang berjalan cepat menuju ke arah pintu, tapi sebelum membuka pintu dia berhenti ketika tangannya sudah mencapai gagang pintu.
Zelene Liang menengok ke belakang, senyum hangat Tony Huo masih terpampang di wajahnya.
“Ada apa? Kamu tidak ingin pergi karena merasa nyaman di pelukanku?” bertanya dengan nada menggoda, Tony Huo terkekeh melihat wajah datar yang diperlihatkan oleh istrinya.
Rasa bimbang karena sudah terbawa akan suasana membuat Zelene Liang, mengurungkan niatnya untuk membuka pintu tersebut. Tony Huo akan menang jika dapat selalu menggodanya dengan mudah. Dia berbalik berjalan cepat ke arah pria itu dan menghamburkan dirinya ke dalam pelukan hangatnya.
“Zelene Liang apakah kamu sangat mencintaiku sehingga tidak ingin lepas dari pelukanku? Bagaimana kalau kita pulang saja dan batalkan syuting hari ini? Aku ingin ....” Tony Huo memotong kalimatnya dan membisikkan kata yang membuat wajah Zelene Liang semakin memerah.
“Tidak! Aku sama sekali tidak mencintaimu. Hanya ... aku terbawa suasana saja. Kamu berpikir terlalu jauh. Jangan-jangan kamu sendiri yang telah jatuh cinta padaku saat ini. Aku masih mengingat kebohonganmu kemarin pagi, Tony Huo.” Zelene Liang tidak terima karena Tony Huo masih belum menjelaskan perkara kebohongannya kemarin.
“Hah, aku bisa merasakan detak jantungmu semakin kencang, dasar wanita bodoh!” ia diam sejenak, memeluk Zelene Liang semakin erat sampai membenamkan wajahnya pada bahu Zelene Liang, kemudian kembali berkata, “bukankah kamu sudah mengetahuinya dari Duan Che? Perlu aku jelaskan lagi? Aku—”
Perkataan Tony Huo dipotong oleh Zelene Liang. Dia kembali mendaratkan bibirnya pada bibir tipis itu. Mata Tony Huo terbelalak sempurna memperhatikan wajah istrinya yang begitu dekat, serta matanya yang terpejam memperlihatkan bulu mata lentiknya.
Kini giliran Zelene Liang menuntun ciuman tersebut dan Tony Huo mengikuti bibir wanita itu sembari memperhatikan wajah manisnya, namun sesaat kemudian dia memejamkan matanya.
🍁🍁🍁
Zelene Liang telah sampai di belakang villa, langkahnya sejak tadi diperhatikan oleh Derrick Qi yang sudah tidak sabar menunggunya. Sang sutradara sudah merasa geram karena Zelene Liang sangat terlambat dan menunda waktu syuting yang telah dia tentukan.
Derrick Qi ingin memberikan protes padanya, namun tidak jauh dia melihat Tony Huo datang dari arah yang sama dengan Zelene Liang. Derrick Qi sendiri tahu kalau sepupunya telah menikah dua tahun yang lalu, namun dia tidak begitu peduli dengan wanita mana Tony Huo menikah. Saat ini dia dapat menduga kalau kakak iparnya kemungkinan adalah Zelene Liang.
Meskipun begitu mereka tetap saja tidak bisa seenaknya di lokasi syuting, apalagi dia sebagai sutradara merasa sangat tidak senang jika tidak dihargai.
“Aku tidak ingin tahu alasanmu sampai terlambat dan menunda syuting hanya karena menunggu dirimu saja. Aku tidak akan memaafkanmu karena keterlambatanmu.” Derrick Qi berucap dingin pada Zelene Liang ketika wanita itu berhenti di hadapannya dan belum sempat mengatakan permintaan maaf pula. “Semuanya cepat bersiap-siap!”
“Aku sungguh minta maaf, Sutradara Qi.” Zelene Liang menundukkan kepalanya serta meminta maaf kepada semua kru. “Semuanya aku minta maaf atas keterlambatanku dan membuat kalian menunggu.” Ucapnya dengan penuh kerendahan hati karena dia tahu bahwa dia memang bersalah kali ini, dan bersama Tony Huo untuk waktu yang cukup lama. Dia sadar kalau kali ini sudah tidak profesional dan malah terbawa suasana.
“Kau sungguh tidak profesional kali ini, Nona Liang. Membuang-buang waktu semua orang hanya untuk menunggumu seorang.” Maureen Lee tidak mau ketinggalan mengkritik Zelene Liang. Gadis itu tersenyum miring sembari melipat tangannya ke depan. “Sangat disayangkan jika aku pernah mengidolakanmu.” Dia berkata seperti itu lantaran amat kesal karena Tony Huo dan Zelene Liang begitu lama di dalam kamar tersebut.
“Aku baru tahu kalau Zelene Liang bisa tidak profesional juga.”
“Tutup mulutmu, jangan menyebut nama CEO Huo, jika kau tidak ingin terkena masalah.”
Beberapa kru berbisik, namun suara mereka masih terdengar jelas.
Zelene Liang menatap mereka satu persatu, namun tidak ada niatan untuk membalas perkataan mereka. Dia mengelih pada Maureen Lee dan sudah merasakan sesuatu yang salah sejak melihatnya tadi. Zelene Liang memberikan seringai pada gadis itu karena kemungkinan dia tahu kalau saat ini, gadis itu tengah mengejar Tony Huo, nampak jelas sekali dari wajahnya yang sudah kesal ketika melihatnya barusan.
“Kau tidak perlu menjadi penggemarku karena aku sudah memiliki banyak penggemar di luar sana dan kehadiranmu sebagai penggemarku malah tidak memberikan kontribusi apa pun.”
“Kau—” Maureen Lee merasa sangat terhina dengan perkataan Zelene Liang, tapi sebisa mungkin dia menahan dirinya karena Tony Huo telah sampai di sana.
Sementara Xie Yu Fan mendekati Zelene Liang dan bertanya padanya. “Dari mana saja kau?”
“Kenapa kalian masih mengobrol? Apakah sekarang waktunya acara keluarga?” Derrick Qi sudah sangat tidak sabar, dia mendelik pada Tony Huo yang saat ini telah duduk di sampingnya dengan wajah sumringah tanpa sedikitpun rasa bersalah. Pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya. “Sudah puas mengacaukan waktuku?”
“Heh,” tersenyum miring Tony Huo menatap Derrick Qi, “kenapa kau tidak menikah saja dan merasakannya sendiri?”
“Dasar gila!” ujarnya dengan nada benci karena Derrick Qi sendiri tidak ingin berpacaran apalagi menikah.
🍁🍁🍁
Syuting tengah berjalan saat ini. Keseluruh pasang mata menyaksikan bagaimana adegan itu berlangsung.
Zelene Liang menarik tangan Xie Yu Fan, kemudian berlari pelan menyusuri taman bunga di belakang villa tersebut. Tony Huo yang menyaksikan adegan itu—wajahnya telah menghitam melihat jemari Zelene Liang bertautan dengan jemari Xie Yu Fan.
Tony Huo sudah tidak tahan dengan adegan itu, sampai ia beranjak dari duduknya dan ingin meninggalkan lokasi syuting seketika itu juga. Sampai ia mendengar sebuah teriakan yang sangat ia kenal.
Zelene Liang terjatuh ketika berlari menarik tangan Xie Yu Fan, tapi hal yang tak terduga adalah Xie Yu Fan ikut terjatuh menimpa Zelene Liang.
“Zele!” Tony Huo berseru menghampiri Zelene Liang seperti kilat memisahkan Xie Yu Fan dan Zelene Liang. “Minggir!” ia menghempaskan tubuh Xie Yu Fan.
Semua orang terkejut akan hal itu, mereka menghambur dan berkerumun di taman bunga tersebut. Tony Huo sudah amat kesal begitu juga panik melihat wajah istrinya kesakitan.
“Mana yang sakit?”
“Kakiku sakit sekali.” Mata Zelene Liang berkabut akibat rasa sakit yang tak tertahankan. “Sakit sekali.”
“Hak sepatumu patah ...,” Tony Huo mengangkat Zelene Liang membawanya dalam pelukannya. “Siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang juga!”
Tony Huo bergegas membawa Zelene Liang keluar dari villa, ia tidak mendengar Maureen Lee memanggil namanya dan mengikutinya dari belakang. Sementara Duan Che berlari menyiapkan mobil.
Sesampainya di depan villa, ia segera mendudukkan Zelene Liang di kursi belakang. Tony Huo masuk ke dalam mobil setelahnya.
“Cepatlah!” teriaknya.
“Akh!” Zelene Liang membenamkan wajahnya di dada Tony Huo.
Tony Huo nampak panik, bahkan lebih panik ketika ia membawa Lana Wei ke rumah sakit kemarin. Hari ini seperti langit runtuh baginya melihat Zelene Liang mengeluarkan keringat dingin karena rasa sakit pada kakinya. Ia mencium dahi Zelene Liang untuk menenangkan wanita itu. “Tenanglah sayang.”
🍁End Season 1🍁