My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Apakah kamu terlambat menemui kekasihmu karena suamimu yang sedang sakit?



"Kak Hanna langsung saja menuju ke perusahaan. Aku akan menyusul ke sana bersama pengawal."


"Baiklah, aku akan menunggumu."


Setelahnya, Zelene mematikan panggilan dan tidak sengaja menoleh pada Tony Huo. Alis pria itu terajut serta ekspresi wajahnya menghitam. Zelene tidak mengerti dengan ekspresi pria itu, dia hanya berpikir mungkin sakit kepalanya telah membunuh otaknya sehingga alis tebal dan rapi itu seperti rajutan kusut.


Zelene membuang muka lantas beranjak dari tempatnya tanpa berkata apa pun pada Tony Huo karena menurutnya, ia tidak perlu berpamitan padanya. Tetapi, sebelum Zelene mengambil tasnya di kamar utama. Ia pergi ke dapur untuk menemui Nan Si Yue yang tengah sibuk memotong sayuran. Setelah tiba di dapur, Zelene Liang memeluk Nan Si Yue dari belakang dengan tingkah manja.


"Mom, aku harus pergi ke kantor saat ini juga. Jadi, aku tidak bisa makan siang denganmu." Zelene membenamkan wajahnya di punggung Nan Si Yue. Tingkahnya itu dilihat oleh penghuni dapur dan mereka melongo melihat kedekatan mertua-menantu itu.


Dalam benak para penghuni dapur keheranan juga merasa sedikit terharu dengan pemandangan di depan mereka. Sungguh langka ketika melihat hubungan harmonis antara mertua-menantu, mata mereka sempat tidak percaya, terlebih lagi hubungan Zelene Liang dan Tony Huo tidaklah begitu dekat. Meskipun mereka suami-istri, namun tidak dapat dipungkiri bahwa mereka telah terpisah jarak dan perlu waktu untuk mengembangkan hubungan mereka. Tetapi, perlakuan Nan Si Yue yang membiarkan Zelene Liang bermanja-manja sudah membuktikan bahwa Zelene Liang memanglah menantu istimewa.


"Kepalamu, kan, masih pening. Apakah tidak boleh minta cuti satu hari saja? Agensimu sangat pelit akan cuti." gerutu Nan Si Yue. Padahal dia menyiapkan makan siang dan akan tinggal sampai malam agar bisa menyaksikan Zelene dan Tony Huo tetap bersama sepanjang hari.


"Presdir Wang memintaku untuk segera datang. Mungkin karena insiden semalam. Aku harus menyelesaikan semua yang telah aku sebabkan, Mom. Kita makan siang bersama lain kali, juga aku tidak lupa dengan janji shopping bersama." Sahut Zelene.


Tadi pagi sebelum menerima hukuman, Zelene menelepon Hanna Gu agar memberikan cuti untuknya dan telah disetujui oleh agensinya tersebut. Ia juga kurang tahu pastinya mengapa Presdir Wang memanggilnya ke perusahaan saat ini juga beserta Xie Yu Fan.


Xie Yu Fan bukanlah artis di bawah naungan agensi Zelene. Itulah yang menyebabkan Zelene bertanya-tanya dan asumsinya mengarah pada insiden tadi malam. Tetapi, apa pun itu yang jelas hari ini Zelene akan meminta kepada agensinya untuk menindak dengan tegas rumor yang beredar antara dirinya dan Xie Yu Fan.


Nan Si Yue menghela napas dan hanya bisa menyalahkan Presdir Wang dalam pikirannya. "Baiklah, jangan pulang terlalu malam dan ingat makan siang, meskipun kau sangat sibuk. Sempatkan juga untuk beristirahat beberapa saat di perusahaanmu ... jangan bekerja terlalu keras. Aku tahu kau sangat menyukai pekerjaanmu, tapi tetap saja kesehatanmu yang utama."


Zelene mempererat pelukannya. "Aku tahu, Mom. Tenang saja, aku akan menurut," saat ini Zelene melepaskan dekapannya dari Nan Si Yue setelah cukup bermanja-manja, lantas ia berpamitan pada Nan Si Yue, "aku akan mengambil tasku, lalu berangkat, Mom."


"Hati-hati, sayang. Mom, akan menyimpan beberapa makanan untuk makan malammu." Nan Si Yue melanjutkan pekerjaannya yang tertunda barusan setelah menghela napas sekali lagi.


"Terima kasih, Mom." Zelene Liang bergegas naik ke lantai dua menunju kamar utama berencana mengambil tasnya. Saat ia membuka kamar tersebut, dilihatnya seorang pria bertubuh tinggi terlentang di atas ranjang. Pria itu tidak lain adalah Tony Huo.


Zelene memperhatikan mata Tony Huo terpejam dan napasnya pun santai. Ia memiringkan kepalanya dan bertanya dalam benaknya, apakah Tony Huo tidur secepat itu? Baru beberapa saat lalu ia tinggalkan di ruang tamu dan pria itu sudah tertidur pulas dan tidak terganggu pula dengan kehadirannya.


Kepala Zelene kembali ditegakkan lantas ia menuju almarinya dan memutuskan untuk berganti pakaian menjadi gaun merah jambu. Ia berjalan ke arah kamar mandi tanpa memedulikan pria yang sedang berbaring di ranjang besar tersebut karena ia tidak ingin membangunkan Tony Huo dan bertengkar lagi dengannya.


"Tony Huo!" pekik Zelene sambil menggelinjang karena merasa geli dengan napas pria itu tepat di tengguknya.


"Kepalaku sakit." Ucapnya pelan.


Zelene berhenti melakukan aksi sia-sianya dan membiarkan Tony Huo memeluknya dari belakang. Mana bisa ia percaya ucapan lelaki itu. Sesaat lalu, lelaki itu tertidur pulas, apakah semua itu hanya kamuflase dan menunggu kesempatan ini untuk menangkapnya? Kini, Zelene semakin tidak mengerti dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba, namun tidak akan ada yang baik meskipun Tony Huo merubah sikapnya dalam sekejap atau tidak.


"Bukankah tadi kamu tertidur? Kalau sakit panggil saja dokter. Aku bukan dokter dan tidak akan bisa menyembuhkan sakit kepalamu. Heh ... bukan salahku juga kamu mengalami sakit kepala, hal itu disebabkan oleh sifat burukmu."


Wanita ini dengan percaya diri mengatakan dia bukan penyebab dari sakit kepalaku? Berani sekali.


Tanpa berucap lagi, Tony Huo mendekatkan bibirnya ke bahu Zelene yang terbuka. Bukan untuk memberikan kecupan, melainkan ia membuka mulutnya dan menggigit bahu putih Zelene—sehingga memberikan bekas gigitan besar pada bahu Zelene.


"Ah— Tony Huo, kamu sudah gila!" bentaknya.


Zelene Liang membebaskan dirinya dengan paksa lantas memelototi Tony Huo dengan sorot tajam. Ia ingin sekali meremukkan pria yang menurutnya mengidap bipolar itu—menjadi berkeping-keping. Sedangkan, Tony Huo menyeringai puas melihat karya yang dibuatnya pada bahu Zelene. Walaupun demikian, Tony Huo sendiri tidak terlalu yakin akan perbuatannya barusan karena kepalanya memang terasa pening lagi dan hal itu menimbulkan keinginannya untuk menggigit bahu Zelene guna meredakan sakit kepalanya.


Setelah mendengar nama Xie Yu Fan meluncur dari bibir Zelene, seketika itu kepala Tony Huo berdenyut kembali dan ia memutuskan untuk merebahkan dirinya di dalam kamar. Namun, ia tidak menyangka bahwa, Zelene Liang akan kembali ke kamar dan mengganti gaunnya, serta aroma wanita itu memenuhi kamar tersebut yang menyebabkan Tony Huo tidak bisa memejamkan matanya dengan pulas. Sehingga, saat Zelene akan membuka pintu, ia bersicepat menghalanginya juga merangkulnya dari belakang.


"Apakah seperti itu kelakuanmu ketika sedang sakit, merangkul dan menggigit bahu orang sembarangan? Aku tidak yakin apakah kamu juga telah memeluk dan menggigit bahu sekretarismu itu?!" ejek Zelene. Namun, ia menyadari telah melontarkan ejekan yang salah karena ia terdengar seperti wanita yang sedang cemburu akan kehadiran Yun Ruo Xi barusan.


"Jaga perkataanmu, Zelene Liang. Aku hanya sedang pusing dan ingin meredam sakit kepala, lagi pula kamu adalah istriku dan kita menikah secara sah pun tak ada kontrak perjajian seperti dalam drama-drama yang kamu perankan. Kita suami istri sungguhan, masih tidak mengerti?"


Zelene Liang terdiam di tempatnya. Tentu saja ia mengerti arti dari suami-istri sungguhan, walau begitu ia tetap menganggap Tony Huo asing baginya, dan kelakuan pria itu barusan tidak dapat ia terima begitu saja.


"Meskipun begitu, kamu tidak bisa bertindak seenaknya tanpa persetujuanku. Saat ini aku sedang terburu-buru dan kamu sudah membuatku terlambat." Bentaknya lagi.


"Terlambat ...?" Tony Huo menundukkan kepalanya agar tingginya menyamai Zelene, lalu bibir tipis itu kembali bertanya, "apakah kamu terlambat menemui kekasihmu karena suamimu yang sedang sakit?"


🍁 Bersambung🍁