
Toronto, Ontario, Canada
Bolpoin di tangan kanan Tony Huo terus-menerus menorehkan tinta hitam di atas kertas putih yang penuhi ketikan, rangkaian kata-kata mengenai proyek-proyek perusahaan. Kepalanya tetap tegak, meski ia tidak berhenti membaca dokumen di atas meja kerjanya.
Ruangan itu terasa damai yang terdengar hanya suara goresan bolpoin, dan sesekali terdengar suara dari halaman dokumen yang dibalik.
Drrrttt!
Smartphone Tony Huo bergetar di sebelah dokumen yang sedang ia perhatikan, ia menolehkan pandangan pada nama si penelepon yang tertera di layar smartphone.
Tony Huo menaruh bolpoin bercorak emas tersebut, lalu mengambil smartphone warna hitam; menempelkan benda itu ke telinganya. Ia mendapatkan panggilan masuk dari kediaman Xue Garden.
"Ada apa?" Intonasi-nya begitu datar, ia seperti enggan mengangkat panggilan dari kediamannya di Imperial City.
Orang dari seberang telepon dengan cepat menjawab. "Tuan Muda, sepertinya ada orang yang ingin mencelakakan Nyonya." Itu suara butler Kim yang dipenuhi kecemasan.
Mata Tony Huo menyorotkan sedikit keresahan; menyimak ucapan butler Kim. Seseorang ingin mencelakakan putri dari pebisnis sukses, kedengarannya sudah biasa karena banyaknya saingan yang menginginkan kejatuhan keluarga Liang. Sekarang Zelene Liang sudah berada dalam tanggung jawabnya, melindunginya merupakan sebuah kewajiban baginya.
Tony Huo menghela napas. "Katakan dengan jelas!"
"Tadi pagi Nyonya pergi ke Hotel H, untuk menandatangani kontrak film terbarunya. Seseorang membuat skema ingin menjebak Nyonya." terang butler Kim.
Setelah mendengar penuturan butler Kim; Tony Huo menghembuskan napas lega, ternyata tidak seperti yang dipikirkannya."Ah," Tony Huo menyentuh alisnya yang berkerut, guyuran hujan dalam hatinya sedikit mereda. "aku kira dia diculik atau ditenggelamkan. Jangan terlalu khawatir, dia bisa mengatasinya sendiri."
Butler Kim di seberang telepon, telinganya dengan jelas mendengar ketidakpedulian dari suara Tony Huo. Apakah ia benar-benar tidak peduli?
"Tapi, Tuan ...." Suara butler Kim tercekat.
"Siapa yang tidak perlu dikhawatirkan?" Wanita dalam balutan gaun ungu yang sedari tadi duduk di sofa, tangan rampingnya membalik halaman demi halaman buku. Rasa ingin tahunya tergugah untuk sekedar bertanya pada pria yang duduk di belakang meja.
Butler Kim mendengar suara wanita yang bertanya pada Tony Huo. Ia merasa suara lembut wanita itu sangat familiar di telinganya.
"Lain kali jangan menghubungiku karena hal tidak penting." Ujar Tony Huo, langsung mematikan panggilan telepon. Ia menaruh kembali smartphone-nya di atas meja, lalu menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit ruangan.
"Ada apa? Kenapa air mukamu berubah setelah menerima panggilan telepon? Apa sesuatu mengganggumu?" tanya wanita itu kembali, ia menaruh buku yang dibacanya. Wanita bertubuh ramping dengan tinggi 179 centimeter itu berdiri membenahi gaunnya, kaki rampingnya melangkah ke arah Tony Huo.
"Kau benar sekali, Nona Wei, sesuatu sedang menggangguku. Dengan kau berada di kantorku saja, sudah cukup mengganggu. Silahkan keluar!" nada dingin keluar dari bibir tipis Tony Huo, seolah bisa membekukan Lana Wei yang langkahnya tersekat.
Lana Wei terpaku di tempatnya; ratusan kupu-kupu seperti terbang di dalam perutnya. "Kenapa kamu tiba-tiba bicara sangat formal? Kita sudah lama berteman." Lirihnya dengan suara halus.
Roh Lana Wei seperti tidak berada di tempatnya, terasa seperti kupu-kupu yang terbang di perutnya beralih menggigit jantungnya. "Aku tidak membunuh siapa pun, Tony Huo! Dia sendiri yang menginginkan kematian, itu bukan kesalahanku! Kau tidak bisa menyalahkan aku selamanya." Lana Wei tidak percaya setelah sekian lama, Tony Huo tetap menyalahkannya; ia menggeleng, miris.
"Keluarlah sekarang!" suruh Tony Huo dengan nada sarkas.
Kuku ibu jari Lana Wei menekan kuat telapak tangannya, wanita itu menggigit bibir bawahnya; menyembunyikan kegelisahan dalam matanya, ia menunduk perlahan. "Tapi, bukankah kamu yang memintaku menjadi duta perhiasan W.E? Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini?" kegelisahan Lana Wei membuatnya sedikit terhuyung. Hatinya benar-benar sakit, Tony Huo sama sekali tidak memberinya tatapan hangat seperti dahulu ketika mereka berteman.
"Bukan! Manajemen tim desain yang mengajukan namamu." Tony Huo mengalihkan pandangannya dari Lana Wei, namun sorot matanya tetap dingin.
"Tetapi kamu menyetujuinya, tidakkah itu sama saja?" tanya Lana Wei, wajah manisnya semakin sendu begitupula nada suaranya seperti orang yang teraniaya oleh waktu.
Banyak sekali pertanyaan yang mendera pikiran Lana Wei. Misalnya, mengapa Tony masih tidak memaafkannya setelah sekian lama kejadian itu berlalu, Lana Wei mengingat kembali bagaimana Tony Huo memperhatikannya dengan penuh kasih sayang, namun kini, dirinya dianggap sebagai musuh oleh Tony Huo.
"Aku akan menyetujui siapa pun yang bisa menghasilkan keuntungan maksimal untuk perusahaanku. Bukan karenamu! Aku harap kau mengerti!" Tony Huo menekan intercom dan memanggil Duan Che, "Asisten Duan, bawa Nona Wei keluar dari kantorku. Cepatlah!" perintahnya.
"Baik, Tuan."
Kurang dari 30 detik Duan Che sudah berada di depan pintu, ia segera memasuki ruangan Tony Huo. Matanya melirik Lana Wei yang bergeming di tempatnya, raut mukanya sangat menyedihkan.
"Nona Wei, silahkan ikut saya keluar." Ujar Duan Che sopan, meski ia tidak menyukai kehadiran Lana Wei.
Wanita dengan wajah sendu itu menganggukkan kepala. "Baik, aku mengerti." Lana Wei mengikuti Duan Che, sampai di depan pintu dia menengok ke Tony Huo, "sampai berjumpa lagi, CEO Huo." Lana Wei menghela napas. Dia keluar dari ruangan bersama Duan Che.
"Asisten Duan," Lana Wei menoleh ke Duan Che yang berdiri tegak di sebelahnya, "apa kau juga tidak menyukaiku?"
Duan Che mengarahkan pandangannya ke depan. "Kenapa kau bertanya begitu?"
Lana Wei tersenyum kecut, ia menggeleng. "Aku hanya ingin tahu saja."
"Begitu, karena kau sudah bertanya. Maka, aku akan menjawab, iya, aku tidak menyukaimu. Maaf, Nona Wei, jika ucapanku secara langsung menyakiti perasaanmu. Meski aku tidak mengetahui masa lalu kalian, tapi aku tidak menyukaimu, bukan karena hal itu."
"Tidak mengapa, aku mengerti. Kalian memang pantas membenciku. Aku pergi sekarang." Lana Wei tidak menoleh lagi, langkahnya terhuyung bagai orang mabuk. Ia menempelkan tangannya di dinding; menopang tubuhnya yang bergetar karena kesedihan perlahan-lahan menelusup ke dalam setiap celah di hatinya.
Salah satu tangannya terkepal di dada, ia merasakan kesakitan yang luar biasa kini memusut jantungnya. Cairan hangat perlahan menetes tanpa disadarinya, Lana Wei menutup matanya sejenak, sebelum menghapus tangisnya dalam keheningan.
Duan Che memperhatikan wanita itu dari tempatnya, hatinya sedikit merasa iba melihat tubuh Lana Wei yang bergetar menyusuri koridor, sampai siluet wanita itu hilang ke dalam lift. Duan Che menghela napas, ia kembali ke ruangan Tony Huo.
🍁Bersambung🍁