
Xue Garden, Imperial City
Sejuknya angin pagi menerpa tubuh ramping Zelene—yang tengah disinari oleh mentari melalui pintu balkon yang terbuka. Aroma bunga yang diterbangkan oleh angin, menelusup ke hidung mancung Zelene, lalu ia menghirup wanginya bunga dengan senang hati.
Ia berjalan ke arah balkon yang di lalui aroma segar barusan, Zelene sedang menunggu Hanna Gu untuk menjemputnya. Jadi, selama menunggu, ia memperhatikan pemandangan Xue Garden dari atas balkon.
Mata almond-nya memerhatikan taman bunga mawar yang disirami oleh para gardener, mereka merawat taman dengan penuh perhatian; menjadikan pemandangan yang sangat indah di mata Zelene.
"Di sini sangat menenangkan! Hpmh, pria itu pintar juga membangun mansion." Gumamnya.
Tok-tok-tok.
Zelene mendengar suara ketukan pintu, kaki jenjang nan rampingnya berjalan elegan ke arah pintu. "Sebentar," ia membuka pintu, "ada apa butler Kim?"
"Nyonya, agen Anda sudah datang. Mereka berada di ruang tamu sekarang." Sahut butler Kim.
Zelene mengangguk. "Baik, aku akan segera turun, hidangkan teh untuk mereka."
Butler Kim menundukkan kepalanya. "Baik, Nyonya." Kemudian dia meninggalkan kamar utama.
Zelene kembali menutup pintu, ia mengambil tas LV kesayangannya di lemari khusus untuk menyimpan tas LV tersebut. Tak lupa melirik jam tangan Gucci berlapis emas putih yang menunjukkan pukul 07:45 AM.
🍁🍁🍁
Di ruang tamu Hanna dan Xu Mo bercengkrama sembari mengamati interior mansion, sampai sebuah suara halus menyapa mereka.
"Kak Hanna, Xu Mo, kalian sudah tiba? Apa aku membuat kalian menunggu?" tanya Zelene yang menuruni tangga dengan pelan. Hari ini adalah penandatanganan kontrak untuk film terbarunya, ia berdandan casual, namun tetap rapi. Ia mengenakan setelan atasan putih berlengan panjang dengan kerah terbuka sampai ke bahu, dipadukan celana skinny jeans berwarna biru medium.
"Wah, Kak Liang, semakin cantik saja setelah menikah." Xu Mo bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri Zelene yang sudah berada di ruang tamu, "tapi ada apa dengan berita itu, Kak?" berita yang Xu Mo maksud, yaitu rumor Tony Huo yang menggadeng kekasihnya di bandara baru-baru ini.
Hanna menghampiri mereka, ia segera mencubit lengan Xu Mo. Sorot matanya mengatakan 'jangan tanya apa pun!'
"Ah—" Xu Mo mengerutkan dahinya karena tidak senang dengan perlakuan Hanna.
"Sudah! Ayo, berangkat!" seru Hanna.
Zelene tersenyum melihat kedua orang yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. "Tidak apa-apa, Kak Hanna. Xu Mo pasti penasaran, aku juga tidak tahu kebenaran tentang berita itu. Tapi, butler Kim mengatakan, bahwa wanita itu adalah temannya ...," Zelene mengedikkan bahu. Ia tidak tahu kebenaran dari berita itu, namun kemarin butler Kim mengatakan bahwa perempuan dalam foto tersebut merupakan teman Tony Huo. Kemudian Zelene melanjutkan, "hei, apa kalian tidak ingin sarapan dulu? Aku baru saja sarapan, tapi jika kalian mau; aku bisa menemani kalian, bagaimana?"
Hanna menggeleng pelan, "Tidak perlu, kita langsung berangkat saja. Toh, kami juga sudah sarapan."
Mereka berjalan ke mobil Van yang terparkir di halaman depan.
Zelene mengagetkan Xu Mo dengan menepuk bahunya. "Xu Mo, aku beri tahu, jika kamu mencari pacar suatu saat nanti. Jangan pernah melihat dari wajahnya yang tampan. Karena wajah tampan itu sangat berbahaya, mereka dikelilingi oleh banyak wanita." Kata Zelene, suaranya terdengar berkarisma memberikan saran pada Xu Mo; ia memicingkan mata juga meninggikan dagu lancipnya, padahal dia sendiri terjebak dengan pria tampan.
"Duh! Aku kira, Kak Liang menepukku karena apa," Xu Mo sedikit menggelengkan kepalanya, "jadi, Tuan Muda Huo sangat tampan karena itu, dia selalu dikelilingi banyak wanita, 'kan?" tanyanya polos.
"Xu Mo, jangan terlalu polos! Kita tidak bisa mengetahui isi pikiran seseorang, apalagi seorang pria. Mereka tidak akan bisa selalu menjadi vegetarian saat didekati oleh begitu banyak wanita." Terang Zelene yang ucapannya makin berkarisma, ia melihat ke dalam mata Xu Mo dengan sungguh-sungguh.
Kini dalam pikirannya, Tony merupakan pria buruk yang sebenarnya tidak menghargai wanita. Ia heran bagaimana wanita-wanita yang mengejarnya rela diperlakukan dengan semena-mena oleh pria kasar itu. Ya, kasar! Zelene masih ingat bagaimana Tony menarik tangannya terlalu kuat, bahkan memar masih membekas di pergelangan tangannya.
Sorot mata Xu Mo menunjukkan keluguannya, "Kak Liang membuatku bingung, apa sekarang kakak sedang menjelekkan suamimu sendiri?"
"Aku tidak perlu menjelekkannya, reputasinya di mataku memang sudah jelek sejak awal." Sahut Zelene, meninggikan ujung bibir kanannya. Tidak ada hal baik dalam diri Tony Huo dalam bayangannya.
Xu Mo, "...."
Hanna, "...."
🍁🍁🍁
30 menit kemudian mereka bertiga sampai di Hotel H, yaitu lokasi penandatangan kontrak film terbarunya yang berjudul 'Separate Lover'.
Para artis yang lolos audisi sudah berkerumun menunggu giliran untuk penandatanganan kontrak mereka. Beberapa artis berkumpul saling bergosip membicarakan artis lain yang mereka suka dan tidak suka. Dalam dunia hiburan, meskipun memiliki banyak penggemar dan mendapatkan pujian atas keterampilan mereka, namun tidak dapat dipungkiri bahwa haters selalu ada di sela-sela para penggemar. Apalagi, Zelene yang dianggap cukup sombong oleh artis lainnya, sebenarnya mereka iri dengan bakat alami Zelene. Walaupun, ya, memang benar Zelene memiliki karakter yang angkuh.
"Zelene Liang sudah datang. Kudengar dia sedikit sombong?!"
"Apa yang kau katakan? Sedikit sombong? Haha ..., dia benar-benar wanita yang sangat sombong."
"Heh, dari yang kudengar dia memiliki asal-usul yang tidak jelas."
Xu Mo yang mendengar perbincangan mereka, merasa geram dengan ketidaktahuan mereka. "Hei! Mereka itu!" pekik Xu Mo dengan wajah marah.
"Tidak usah menghiraukan mereka." Zelene meraih bahu Xu Mo yang siap menerkam para penggosip itu. "Mereka ada benarnya juga, aku memang cukup sombong di mata mereka. Xu Mo, jika kamu menerkam mereka sekarang, kita tidak akan bisa melihat akting mereka yang ala kadarnya." Ucap Zelene dengan nada menghina, bibirnya membentuk seringai tajam.
Para artis yang baru saja menggosipkan Zelene; kepala mereka tertunduk sampai tidak kelihatan ujung hidung mereka.
"Fufu ..., Nona Liang memang luar biasa, begitu percaya diri."
Suara tawa dari belakang tidak membuat Zelene menengok untuk mengetahui siapa si pemilik tawa, karena suara ini sudah tidak asing lagi di telinga Zelene.
"Bukankah kau sudah tahu, aku orang yang seperti apa, Kak Alice Pei?!" dengan mengangkat kedua ujung bibirnya, nada Zelene terdengar akrab seolah mereka teman sejawat yang mengetahui kepribadian satu sama lain.
Di mana pun Zelene mengikuti audisi, Alice Pei akan ada di sana. Namun Alice Pei selalu mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari Zelene dalam kemampuan berakting, apalagi dengan bentuk tubuhnya yang lebih memukau daripada Zelene. Apakah otaknya juga, sebagus tubunya?
Zelene tidak habis pikir pada wanita di depannya yang saat ini memandang sengit padanya. "Apa yang seharusnya menjadi milikmu? Hahaha ..., " Zelene tertawa nyaring, "jika kau ingin mendapatkan peran utama, maka berusahalah untuk berakting lebih bagus lagi."
"Kau!" Alice Pei merasa terhina, jemarinya terkepal erat.
"Jangan hanya menyalahkanku yang lebih unggul darimu. Kau pikir dengan tubuh indahmu dan otak logammu akan menjadi kesatuan yang menawan?" Zelene tersenyum tipis, kini gilirannya yang menatap iris biru milik Alice Pei; jari ramping Zelene menepuk lembut pipi Alice Pei, "tubuh indah haruslah dibarengi dengan otak berlian."
Alice Pei terperangah, karena Zelene mengatinya bodoh. "A-apa? Jika kau tidak ikut dalam audisi ini, maka sudah pasti peran utama akan menjadi milikku." Geramnya.
"Selalu saja menyalahkan orang lain. Apa kau lupa berkaca pagi ini? Hm ...," Zelene memperhatikan perempuan di depannya yang mengenakan gaun panjang dengan belahan dada agak terbuka, "tapi, aku rasa tidak. Kau bahkan sampai berdandan sangat terbuka." Pupil Zelene melirik dada Alice Pei.
Alice Pei menyadari ke mana mata Zelene mengarah. "Huh?" dia tersenyum bangga seraya melipat tangan, lalu meninggikan dadanya, "apa kau iri?"
"Hahaha!" Zelene menepuk-nepuk bahu Alice Pei, tawanya terdengar sangat keras, "kau ... kau memang lebih cocok menjadi wanita penggoda."
"Pfftt. Haha! Wanita penggoda!"
Hanna yang sedari tadi menyimak percakapan mereka, tawanya pecah, begitu pula dengan Xu Mo, tawa mereka menggelar memenuhi lobi Hotel H, sehingga berpasang-pasangan mata yang keheranan tertuju pada mereka.
"Ka-kau!" jari telunjuk Alice Pei di arahkan pada Zelene. Dia sudah sangat geram, asam lambung dalam perutnya sudah mendidih karena terlalu lama diaduk.
Zelene sudah muak dengan tingkah dan ucapan dengki Alice Pei, ia tidak memedulikannya dan melangkahkan kakinya ke depan.
Kaki berisi Alice Pei terjulur ke depan dengan sengaja, niatnya untuk menjatuhkan Zelene.
Hmph! dia sendiri yang meminta, maka jangan salahkan aku. Seringai tipis terbentuk di bibir Zelene.
Kriut~
"Kyaaaaaaa!" Alice Pei menjerit kesakitan.
Barusan merupakan suara hak tinggi milik Zelene yang menginjak kaki besar Alice Pei.
Zelene menutup mulut dengan jemari kanannya. "Opps! Maafkan aku! Kau menjulurkan kakimu, aku tidak sengaja menginjaknya." Ucap Zelene dengan nada bersalah, ia memberikan senyuman manis pada Alice Pei yang sedang menahan rasa sakit.
"Pfftt!"
"Hahaha~"
Sekali lagi tawa nyaring pecah di lobi, mereka tidak bisa menahan tawa.
"K-kalian!!!" pekik Alice Pei yang sudah merasa sangat terhina, wajahnya memerah karena marah, "Zelene liang!!!"
Bentakan Alice Pei tak dihiraukan oleh Zelene, ia menutup telinga dan bergegas meninggalkan lobi bersama Hanna dan Xu Mo yang masih tertawa.
Sementara Alice Pei yang geram di tempatnya, merengut. "Zelene Liang aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, aku pasti membalas penghinaan ini." Dia bersungguh-sungguh dengan angan-angannya untuk membasmi Zelene sampai ke akar.
"Kak Alice, k-kakimu tidak apa-apa?"
Alice Pei mendelik pada asistennya yang tidak berani mengeluarkan suara sejak tadi. "Diamlah, Xiao Ying! Kau tidak lihat aku sedang kesakitan?! Cepat bantu aku!"
🍁Bersambung🍁
🌬️ MINI DRAMA🌫️
Alice Pei, "Hei, Apakah kau si pembunuh bayaran, Red Maple dari Mafia Tembok Dingin?"
Red Maple sedang mengasah pisau di tangannya, "Kau ingin aku membunuh seseorang untukmu?"
Alice Pei, "Tepat sekali."
Red Maple acuh tak acuh bertanya. "Siapa orangnya?" Ia membuang permen karet.
"Zelene Liang." Kata Alice Pei dengan nada benci.
"Bayarannya?"
"Berapa yang kau kau inginkan?"
Red Maple menggelengkan kepala, "Aku tidak menginginkan uang."
"Lalu?!"
"Aku ingin menjadi raja di bulan!"
Alice Pei, "...." Muntah darah.