My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Kalau begitu, biarkan saja dia tidur di sana



Akhirnya, mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama kediaman Xue Garden. Segera, seorang pria berambut perak bergegas menuju ke sisi mobil, lantas meletakkan tangannya pada gagang pintu mobil dan menariknya perlahan. Tony Huo turun dari mobil tersebut setelah pintu terbuka, ia tidak menoleh lagi ke belakang dan membiarkan wanita mabuk yang masih duduk di dalam mobil sendirian, sambil termenung memandangi punggungnya yang beranjak menjauh. Butler Kim agak melongo melihat suit yang dikenakan oleh Tony Huo, seperti habis bergulat dengan macan, hingga pakaiannya robat-rabit.


"Tuan Muda, Anda habis berkelahi?" tanya butler Kim penasaran juga khawatir dengan keadaan Tony Huo. Tuan muda sedang tidak sehat, apakah para reporter itu sangat ganas sehingga ia turun tangan sendiri, bukannya tuan membawa banyak pengawal? Tanyanya dalam hati.


"Aku dicakar oleh macan tutul." Sahutnya malas.


Macan tutul? Butler Kim tambah melongo.


"Hei, jangan ... tinggalkan aku!" Zelene melipat tangannya, matanya setengah terbuka dan penampilannya masih sama seperti tadi, bagaikan bulan karam. Ia memanyunkan bibirnya, kemudian berseru, "suami, gendong aku!"


Tony Huo, lantas menghentikan langkahnya setelah mendengar seruan tersebut, namun ia tetap tidak menengok pada Zelene, dan malah menjeling pada butler Kim, "Gendong dia." Ucapnya dengan nada malas.


"Eh ...?" pria berambut perak itu melihat Tony Huo, kemudian beralih ke Zelene yang masih dalam posisi sama, "baik."


Butler Kim mengulurkan tangannya untuk membantu Zelene keluar dari mobil, namun wanita di dalam mobil itu melengos kesal dan tak menghiraukan pria berambut perak itu sama sekali.


"Aku ingin dia yang menggendongku!" Zelene menatap lurus ke depan dan tangan kanannya seketika menunjuk pada pria tegap nan tinggi yang berdiri di ambang pintu mansion tersebut, tanpa mengalihkan pandangannya.


"Nyonya, Tuan Muda kurang sehat. Saya akan membantu Anda." Ujar butler Kim dengan penuh perhatian.


"Lupakan! Aku ... akan tetap ... di sini sampai dia sendiri ... yang datang ... padaku." Kata Zelene terputus-terputus, kepalanya pun tertunduk beberapa kali saking ngantuknya.


"Kalau begitu, biarkan saja dia tidur di sana." Tony Huo menghembuskan napas kesal dan melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke belakang sekalipun.


Wanita itu membuatnya amat kesal bukan hanya dengan rumor yang ia sebabkan, tetapi ia juga tidak tahan dengan sakit kepalanya dan ingin segera merebahkan dirinya.


"Berhenti!!!" pekik Zelene dengan nada kencang tanpa memedulikan sekitarnya, suaranya baru saja membuat penghuni mansion menyemburkan tatapan tidak percaya.


Zelene Liang biasa terlihat elegan bahkan saat berbicara, meskipun kadang-kadang ucapannya menusuk tapi, ia tahu batas suara yang harus dikeluarkan. Meskipun demikian, saat ini wanita yang keluar dari mobil serupa hantu yang bangkit dari liang kubur. Para penghuni mansion baru pertama kalinya melihat Nyonya mereka—mabuk, sama sekali bukan seperti Zelene Liang yang mereka lihat beberapa jam lalu.


"Aku bilang berhenti!" kaki Zelene Liang, goyah. Ia tidak mampu berjalan dengan benar, sehingga butler Kim dengan cepat meraih tangan Zelene.


"Nyonya, saya akan menggendong Anda." Butler Kim sudah membungkuk, menyiapkan punggungnya.


"Aku bilang tidak mau!" Zelene mendorong butler Kim ke samping dan mengejar Tony Huo dengan sempoyongan, seakan ia bisa tumbang kapan saja. Ia kembali membuka bibir manyunnya, "suami, tunggu!"


Tony Huo sudah sampai di pertengahan tangga menuju lantai dua, saat mendengar suara nyaring Zelene Liang. Pria itu akhirnya, menengok ke belakang dan mendapati bahwa, Zelene tergopoh-gopoh mengejarnya di dasar tangga.


"Tunggu aku," ucapnya pelan, saat ini kaki Zelene bergetar hebat akibat memaksakan dirinya, serta di setiap anak tangga yang dinaikinya akan memperlihatkan kaki rampingnya bergoyang bagai batang pohon yang ditiup oleh angin kencang.


"Pelan-pelan saja! Kalau kamu jatuh, aku juga yang repot." Ucapan Tony Huo seperti memerintahkan, namun ada sedikit kepedulian dalam nadanya. Ia memperhatikan Zelene yang menaiki anak tangga satu per satu, hingga beberapa saat kemudian, wanita itu berhasil mengejarnya.


Tony Huo, "...."


"Sekarang gendong aku."


Zelene menautkan jemarinya dan menggoyangkan tangan Tony Huo, tidak terlalu kencang. Senyuman masih mengembang di wajah putihnya yang bagaikan hantu, namun raut muka itu benar-benar menampakkan kebahagian. Apakah karena bertemu dengan Tony Huo setelah dua tahun lamanya?


"Zelene Liang, perhatikan wajahku dengan baik," pinta Tony Huo sembari mengangkat dagu lancip Zelene menggunakan jari telunjuknya, setelah beberapa saat mata mereka terkunci dan, ia menggerakkan bibirnya kembali, "apakah kamu mengenaliku?"


"Hm!" Zelene mengangguk kuat-kuat, sekejap kemudian kepala terasa pusing, ia segera menghentikan anggukannya dan tangan kirinya menopang kepalanya, "kamu sumiku, kan kamu sendiri yang mengatakannya ... saat di dalam mobil ... tadi."


Helaan napas pelan keluar dari bibir tipis Tony Huo, lantas ia kembali bertanya, "Kalau begitu, siapa namaku?"


Wajah Zelene Liang merosot, ia seperti sedang berpikir keras, mencari ingatan tentang pria di hadapannya saat ini, akan tetapi tidak ada bayangan pria ini dalam kepalanya apalagi namanya. Zelene menatap iris hitam pria itu dalam-dalam, lantas berseru, "Aku ingat, Xie ...."


Xie! Sepertinya Tony Huo mengenal nama marga ini, ya, sudah tidak asing lagi dan tidak lain merupakan Xie Yu Fan. Kata Xie mengalir dari bibir Zelene begitu saja, telah membuat Tony Huo menghitamkan wajahnya. Bukan karena cemburu, melainkan ia marah karena istrinya ini, kemungkinan telah berkhianat seperti yang dirumorkan.


Tony Huo merupakan tipe yang paling benci dengan penghianatan, meskipun ia juga pernah dirumorkan dengan beberapa wanita, tetapi tidak ada yang benar-benar menyandang status kekasih dan semenjak menikah dengan Zelene dua tahun yang lalu, ia telah memutuskan kedekatannya dengan beberapa wanita yang pernah mengajaknya makan malam ataupun keluar bersama. Jadi, dalam dua tahun ini, tidak ada rumor tentangnya.


"Kamu sangat dekat dengan Xie Yu Fan? Apakah kalian ...?" pertanyaan Tony Huo terputus, ia mulai geram karena sakit kepala juga pikirannya seperti benang kusut. Ia menarik tangan Zelene yang masih bertaut dengan tangannya dan membawa wanita itu ke kamar utama dengan langkah cepat.


"Huhu ..., pelan-pelan."


Langkah Zelene tidak bisa mengimbangi kaki panjang Tony Huo. Ia menghempaskan tangan Tony Huo dengan tenaganya yang masih tersisa, kini matanya benar-benar terbuka, akibat perlakuan dari Tony Huo. Dada Zelene Liang kembang-kempis dan ia menyorot tajam pada pria di depannya itu.


"Tadi tidak mau menciumku, juga tidak mau menggendongku, sekarang kamu menarik tanganku dengan kasar. Kamu ... pasti telah merencanakan untuk ... membunuhku di dalam kamar itu, 'kan?" Zelene menilik tajam.


Tony Huo, "...."


Apa-apaan dengan pertanyaan itu? Tony Huo menepuk dahinya, dia pasti sudah gila karena mengurusi Zelene Liang. Tadinya, ia sangat ingin tahu tentang hubungan Zelene Liang dan Xie Yu Fan, mengingat orang mabuk biasanya mengatakan kejujuran, tetapi Zelene Liang sepertinya berubah menjadi pemikir yang tidak waras.


"Memangnya kamu pikir, aku ini psikopat?"


"Oh, jadi, tidak akan membunuhku?" tanya Zelene dengan nada rendah dan malu-malu, "apa mungkin ... kamu mau menciumiku di dalam? Kalau begitu, ayo!" saat ini meja telah dibalikkan, Zelene Liang menarik tangan Tony Huo dengan riang. Ia membuka pintu kamarnya dengan senang hati mengajak Tony Huo masuk dan menutup pintu dengan pelan.


Tony Huo, "...."


Lagi-lagi Tony Huo tak bisa membuka mulutnya karena tingkah konyol Zelene Liang. Lagipula, saat ini adegan yang tak bisa ia percaya dan tak pernah ia bayangkan sebelumnya terjadi begitu saja. Bukan sebuah ciuman hangat hingga membuatnya bungkam, melainkan pelukan hangat dari Zelene. Wanita itu membenamkan wajahnya ke dada bidang Tony Huo dan secara perlahan menggosokan wajahnya pada dada bidang itu layaknya anak kucing.


🍁 Bersambung🍁