My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Cepet buka pintunya!



"Kakek, kenapa CEO Huo bisa bersama Zelene Liang? Mereka terlihat cukup dekat." Maureen Lee beserta Chairman Lee berhenti di depan restoran tersebut melihat Tony Huo dan Zelene Liang masuk ke dalam mobil yang sama.


Gadis itu merasa cukup kesal karena Tony Huo menarik tangan Zelene Liang dan membawa wanita itu ke dalam mobilnya. Dia menggigit ibu jarinya karena merasa ada yang salah dengan hubungan di antara Tony Huo dan Zelene Liang.


"Jadi karena wanita itu, Tony Huo meninggalkan kita? Kakek rasa mereka memang punya hubungan yang cukup spesial tapi tidak ada satu media pun yang mengabarkan mengenai hubungan keduanya. Mungkin saja Zelene Liang merupakan salah satu dari sekian banyaknya kekasihnya. Hmph!"


"Kakek, jangan bicara seperti itu." Maureen Lee mengerutkan keningnya karena tidak suka Chairman Lee berkata buruk tentang Tony Huo.


"Kau sudah mulai menyukai pria itu?"


Maureen Lee hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan Chairman Lee. "Kakek, aku ingin bekerja di Huo Enterprise." Ucapnya dengan semangat.


🍁🍁🍁


"Katakan padaku apa masalahmu?"


Tony Huo bungkam sembari melajukan mobilnya, ia tidak menggubris pertanyaan Zelene Liang. Mobil melaju semakin cepat menuju mansion Xue Garden, wajah Tony Huo masih nampak kesal karena ucapan-ucapan Chairman Lee terngiang di telinganya.


"Apakah kamu tiba-tiba menjadi bisu?" kembali bertanya Zelene Liang menatap pria di kursi kemudi. Bibir pria itu tetap bungkam tidak memiliki niatan untuk menjawab apalagi untuk sekadar melirik Zelene Liang. "Huh, memang sangat susah bicara dengan orang semaunya." Dia menggeleng seraya menghela napas.


Tony Huo menginjak rem mendadak sesampainya di Xue Garden membuat kepala Zelene Liang terbentur.


"Tony Huo! Kamu mau membunuhku, ya? Apa sebenarnya masalahmu? Dasar tidak waras!"


Zelene Liang mengelus bagian kepalanya yang terbentur barusan, sedang Tony Huo melirik tajam ke arahnya. Tatapan kesal itu di arahkan pada Zelene Liang yang kini balik menatap Tony Huo dengan bingung.


Ada masalah apa sebenarnya dengan pria ini? Dia saja belum menjelaskan kebohongannya tadi pagi dan sekarang malah menatapku tajam. Apakah otaknya sedang bermasalah atau dia sedang mengalami menstruasi?


"Tidak waras katamu?" Tony Huo mendekatkan dirinya lantas mencubit dagu Zelene Liang. Melihat bibir merah wanita itu, ia ingin sekali menggigitnya, namun sebelum itu di kepala Tony Huo banyak sekali terdapat pertanyaan untuk Zelene Liang. "Mengapa kamu makan siang dengan pria itu? Apakah rumor itu ternyata benar kalian adalah sepasang kekasih?"


"Apa maksudmu? Dasar tidak waras. Kami makan siang berlima bukan berduaan." Jawabnya. Zelene Liang merasa kesal dengan perlakuan Tony Huo yang semaunya. Dia mencengkeram pergelangan tangan Tony Huo guna melepaskan jemari pria itu yang tengah mencubit dagunya. "Lepaskan tanganmu dari daguku! Jangan berbuat seenaknya saja."


"Benarkah? Aku bisa melakukan apa saja padamu." Tony Huo membekam bibir mungil Zelene Liang dengan bibirnya sendiri.


Zelene Liang tidak bisa menolak ciuman dari pria itu karena ciuman itu begitu kuat sehingga dia merasa kehabisan napas. Tangan Zelene Liang memukul dada Tony Huo, namun pria itu tetap tidak melepaskannya dan malah memperdalam ciumannya.


Sampai Tony Huo merasa puas barulah dia melepaskan Zelene Liang. Napas keduanya tak beraturan apalagi Zelene Liang hampir kehabisan oksigen dalam paru-parunya.


"Kamu mau membunuhku?!" pekiknya kencang .


Tanpa berucap apa pun lagi, Tony Huo keluar dari mobilnya meninggalkan Zelene Liang yang masih memperbaiki pernapasannya.


"Akh! Dasar pria tidak waras dan semuanya saja." Teriaknya di dalam mobil lantas Zelene Liang keluar dari sana mengikuti di belakang Tony Huo.


Wanita itu mengambil langkah cepat sehingga dapat melewati Tony Huo. Dia naik ke atas menuju kamar utama. Sesampainya di kamar utama, Zelene Liang mengunci pintu agar Tony Huo tidak bisa masuk ke dalam.


Dia melemparkan tasnya ke sembarang tempat, lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas kasur. Zelene Liang memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya lagi, begitulah seterusnya sampai sebuah nada dering pada smartphone-nya berbunyi.


Zelene Liang merasa sangat lelah akibat ciuman yang berikan oleh Tony Huo barusan. Jika diperlama, maka dia benar-benar akan mati kehabisan napas. Dia bangkit dan mencari smartphone dalam tas yang dilemparkannya barusan.


"Oh, Ibu ada apa?"


"Bagaimana keadaanmu?" Zhuo Ning bertanya dengan nada santai.


Zelene Liang duduk di tepi ranjang. "Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kabar kalian? Maaf aku belum sempat pulang, belakangan ini aku sangat sibuk."


"Tidak usah memikirkan kami, aku dan Ayahmu baik-baik saja. Bukankah Tony Huo sudah pulang dari Kanada?"


"Iya, dia sudah pulang." Menghela napasnya, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Dia merasa amat sangat lelah.


"Bawalah dia pulang untuk makan malam jika kalian ada waktu."


"Hm, baiklah Bu. Aku akan mengajaknya pulang setelah selesai dengan syuting iklan besok. Aku sangat lelah hari ini." Kelopak mata Zelene Liang sudah hampir jatuh, dia merasa mengantuk siang ini.


"Kalau begitu istirahat saja. Ibu tidak akan menganggumu. Sudah Ibu tutup teleponnya." Zhuo Ning lantas menutup teleponnya.


🍁🍁🍁


Tony Huo berada di ruang belajarnya dari siang hari sampai sore. Ia tidak kembali ke kantor dan menyuruh Duan Che untuk membawakan berkas-berkas di atas meja kantornya ke kediamannya.


Leher pria itu terasa pegal dan ia merasa sangat lelah hari ini. Ia juga tidak melihat pergerakan dari Zelene Liang setelah wanita itu masuk ke dalam kamar. Berdiri dari duduknya, Tony Huo melakukan peregangan kecil. Masih ada beberapa berkas yang belum ia tinjau, tetapi hari ini dia merasa amat lelah, jadi Tony Huo memutuskan untuk menuntaskannya nanti malam atau besok saja. Ia memilih untuk istirahat dan makan malam bersama Zelene Liang sebentar lagi.


"Ngomong-ngomong wanita itu tidak membuat masalah lagi. Apakah dia kembali ke kantornya?" Tony Huo bergegas keluar dari ruang belajar menuju kamar utama.


Langkah pria itu terhenti di depan pintu kamar utama lantaran pintu tersebut masih terkunci. Ia tidak bisa masuk ke dalam sana. "Zelene Liang, apa yang kamu lakukan di dalam kamarku? Cepet buka pintunya!"


Tidak ada yang menyahut dari dalam kamar. Sejak tadi siang Zelene Liang mengunci pintu kamar dan tidak keluar dari sana. Tony Huo mengira kalau wanita itu telah kembali ke kantornya. Namun nyatanya dia masih di dalam kamar mengunci dirinya.


"Butler Kim. Bawakan kunci cadangan!"


Beberapa saat kemudian, butler Kim menghampiri Tony Huo beserta kunci cadangan kamar utama di tangannya.


"Saya akan membuka pintunya, Tuan Muda. Mohon tenanglah." Segera butler Kim membuka pintu kamar utama dengan kunci yang dibawanya. Pintu terbuka lebar memperlihatkan seorang wanita terlentang di atas ranjang besar dengan kedua kaki berada di lantai.


"Pergilah butler Kim."


"Baik, Tuan Muda."


Tony Huo melangkah masuk ke dalam kamar. Ia melihat Zelene Liang tertidur nyenyak dengan posisi tidur yang cukup aneh. "Dasar! Kakimu akan sakit jika tidur dengan posisi seperti itu." Lantas Tony Huo membenarkan posisi tidur Zelene Liang, namun yang tak terduga Zelene Liang malah memeluk lehernya.


🍁Bersambung🍁