
Setelah hari yang terasa begitu panjang bagi Tony Huo dan Zelene Liang, akhirnya malam tiba membawa mereka menuju ke tempat beristirahat yang hangat.
Tony Huo baru selesai mandi dan mendapati Zelene Liang bermain dengan smartphone-nya. Dahi Zelene Liang nampak berkerut setelah membaca sebuah berita daring yang mengabarkan kalau cucu dari keluarga Lee yang tak lain adalah Maureen Lee telah terbunuh di rumah sakit.
Keluarga Lee telah menuntut rumah sakit. Namun mereka tidak menyebutkan akan menuntut keluarga Huo atas masalah ini. Kemungkinan keluarga Lee akan menggunakan cara lain mengahadapi keluar Huo yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kematian Maureen Lee. Bahkan dengan baik hati Zelene Liang memberikan dua pengawal disisi gadis itu, tapi tetap saja nyawanya diambil oleh seseorang yang belum mereka ketahui.
“Jangan dibaca lagi.” Tony Huo mengambil smartphone tersebut dan menaruhnya di atas nakas. Ia duduk di tepi ranjang masih mengenakan mantel mandi berwarna putih, dan tercium aroma lemon dari rambutnya yang basah.
Zelene Liang mendongak, memindai wajah tampan Tony Huo yang sudah dua Minggu ini senantiasa menemaninya di rumah sakit. Dia juga membaui shampoo yang digunakan oleh pria itu. “Kamu memakai shampooku lagi? Seorang CEO dan pewaris Huo Enterprise tidak mampu membeli shampoo untuk dirinya?” pertanyaan meledek dilontarkan oleh Zelene Liang.
“Aku lupa membeli shampoo karena harus merawat seseorang di rumah sakit. Kamu tahu dia sangat rewel sekali, makanya aku tidak bisa meninggalkannya sendirian.” Tony Huo balas meledek dengan sindiran. Ia terkekeh ketika melihat wajah Zelene Liang yang ditekuk saat ini.
Wanita itu terlihat amat lucu baginya. Akan tetapi ketika Zelene Liang sakit membuat dada Tony Huo begitu sesak. Ia juga merasakan kalau mereka sangat dekat dua Minggu terakhir ini, entah ia menyadari atau tidak. Namun sebuah perasaan yang tak ingin ia ketahui mulai terajut dalam hatinya.
Rajutan itu awalnya cukup kusut dan tak beraturan, kini perlahan rajutan tersebut mencari tempatnya yang seharusnya.
“Kamu! Mau kupukul?” baru saja bertanya, tapi Zelene Liang sudah memukul dada bidang Tony Huo.
Tanpa disengaja jemarinya menarik kerah jubah mandi tersebut memperlihatkan dada pria itu. Kelopak mata Zelene Liang tak berkedip ketika memperhatikan dada bidang Tony Huo, dia juga tanpa sadar meletakkan tangannya di sana.
Tony Huo yang melihat hal itu hanya bisa menahan tawa dan ingin menggoda Zelene Liang sesegera mungkin, tapi ia membiarkan Zelene Liang tetap seperti itu untuk beberapa saat karena ia sendiri menikmati sentuhan dari tangan istri manisnya itu.
Wajahnya bersemu merah karena tidak sadar telah mengelus tempat di mana tangannya kini dia letakkan. Merasa agak malu karena ditertawakan oleh Tony Huo, tangan Zelene Liang mencubit kasar dada pria itu.
“Hentikan, Zele!” ia segera mencekal tangan Zelene Liang dengan tangan besar miliknya. Membawa tangan ramping wanita itu ke bibir tipisnya. Lantas memberikan sebuah ciuman. “Jangan mencubitku, nanti tanganmu akan sakit. Setiap kali kamu sakit, aku akan memberikan ciuman untukmu tepat di mana kamu merasakan sakit.” Ucapnya dengan binar mata penuh kesungguhan dan kesanggupan.
Saat ini, meskipun perasaan keduanya belum jelas, Tony Huo hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Zelene Liang. Ia juga belum begitu peduli dengan perasaan Zelene Liang terhadap dirinya. Untuk sekarang mereka hanya akan menjalani seperti ini, ya, seperti saat ini dan tidak akan ada yang tahu bagaimana kedepannya.
“Bagaimana kalau hatiku yang sakit? Bagaimana kamu akan menciumnya?” tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari bibir mungil Zelene Liang.
Jemari Zelene Liang masih dalam genggaman hangat tangan besar Tony Huo. Pria itu menatap serius pada Zelene Liang, mata dalamnya memindai bagaikan elang dan menerka-nerka mengapa Zelene Liang bertanya seperti itu? Apakah dia merasa sakit hati karena sesuatu hal yang telah ia perbuat dahulu? Jika diingat-ingat lagi, perkataan dan perbuatan yang dilakukannya memang cukup menyakiti Zelene Liang.
“Aku akan mencium hatimu kalau begitu.” Jawabnya bercanda, sesaat kemudian Tony Huo berkata dengan serius, “aku tidak akan meminta maaf karena dulu pernah menyakitimu karena tidak ada gunanya meminta maaf atas sesuatu yang telah berlalu dan tidak bisa lagi dikembalikan dengan permintaan maaf. Akan tetapi jika kamu ingin aku minta maaf, maka aku akan melakukannya, Zele.”
Terdiam untuk beberapa saat, mencerna perkataan Tony Huo padanya. Dulu Tony Huo lebih angkuh darinya dan egonya sangat tinggi, Zelene Liang sampai terheran di mana Ego pria itu sekarang? Dia ingin sekali bertanya mengapa dengan mudahnya ego Tony Huo lenyap di depan dirinya?
“Tony Huo sepertinya kamu berubah setelah aku mengalami cidera, dan ... dengan berkata demikian maka kamu telah menurunkan egomu.”
Tony Huo membeku seusai mendengar tiap kata yang keluar dari mulut Zelene Liang.
🍁Bersambung🍁