My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Biarkan dia yang memberitahuku



Tony Huo menemani Lana Wei yang sudah dibawa ke bangsal VIP. Wanita itu masih belum sadarkan diri sehingga Tony Huo tidak beranjak dari bangsal tersebut dan melupakan pekerjaannya. Ia memegangi tangan Lana Wei dan menunggu wanita itu agar siuman seperti lupa bahwa wanita yang sedang berbaring di atas ranjang pasien tersebut pernah membuatnya kesal.


"Tuan, Nona Wei susah lebih baik. Haruskah kita pergi ke kantor sekarang?" Duan Che melirik Tony Huo, dan sesekali melirik pada arlojinya yang telah menunjukkan pukul 10 pagi.


Perkerjaan Tony Huo telah banyak terbengkalai selama dua jam mereka di rumah sakit dan selama itu pula Lana Wei belum sadarkan diri. Duan Che memperhatikan tangan Tony Huo tidak melepaskan jemari tangan Lana Wei. Jika Zelene Liang melihat hal ini, bagaimana reaksinya nanti? Duan Che hanya bisa menggeleng pelan dan berharap tidak akan ada badai menghampiri atasannya ketika pulang ke mansion nantinya.


"Tunggu sampai dia siuman."


Sudah dapat ditebak bahwa Tony Huo akan mengabaikan pekerjaannya demi wanita yang terbaring lemah di atas ranjang pasien tersebut. Cukup bingung apakah Tony Huo merasa bersalah ataukah memiliki perasaan pada Lana Wei? Duan Che menggaruk pelipisnya, tidak ingin memikirkan urusan pribadi atasannya, tetapi pemikiran itu muncul begitu saja.


"Dua jam lagi Anda akan makan siang bersama Chairman Lee."


Tony Huo melirik Duan Che melalui ekor matanya. Menampakkan wajah kesal karena Duan Che terus saja berbicara padanya padahal pikirannya saat ini sedang berada pada Lana Wei. "Tidak perlu kau ingatkan berkali-kali. Kita akan pergi setelah dia sadar. Jangan berpikir macam-macam dan banyak bicara." Nada dingin dilemparkan pada Duan Che.


Atmosfer dingin menerjang tubuh Duan Che bagaikan paku es tengah menusuk dadanya. Saat ini udara dalam ruangan tersebut seperti berada dalam ruang pendingin.


"Baik, Tuan." Duan Che tidak berani lagi berkata apa pun. Dia diam bak patung memperhatikan kedua orang itu. Terlintas sesuatu dalam pikirannya, dia lupa mengatasi paparazi yang telah mendapatkan foto Tony Huo. Duan Che segera mengambil smartphone-nya dan melihat artikel daring mengenai Tony Huo sudah dibaca ratusan ribu kali dalam dua jam terakhir. Dia benar-benar kecolongan saat ini dan merasa buruk akan hal tersebut.


Zelene Liang pasti telah membaca artikel tersebut saat ini. Yang bisa dia lakukan hanyalah menyingkirkan artikel-artikel itu sekarang juga. Duan Che menundukkan kepala dan berbalik pergi menuju pintu keluar.


Dia menelepon si pemilik media daring yang telah mengunggah kontennya ke dalam situs milik perusahaan tersebut.


"Hapus semua artikel mengenai CEO Huo saat ini atau kau tunggu surat tuntutan dari kami." Duan Che tidak berbasa-basi lagi. Dia langsung ke pokok pembahasan tanpa perlu menyapa orang di seberang telepon.


"Asisten Duan, tapi berita kali ini merupakan fakta. CEO Huo benar-benar membawa model internasional itu dalam pelukannya. Kami hanya mencari penghasilan untuk perusahaan kami." Nada memelas di seberang telepon tidak meluluhkan eskpresi batu dari Duan Che.


"Kalau begitu tunggulah sampai CEO Huo memutuskan untuk menutup perusahaanmu." Ucapan Duan Che sangat jelas merupakan ancaman. Sebelum Duan Che mematikan panggilan itu, suara di seberang telepon dengan berat hati menyetujui untuk menghapus artikel itu.


Menghela napas kecil. Duan Che tetap berdiri di depan pintu sembari menunggu Tony Huo keluar dari bangsal itu. Dia masih melirik pada arlojinya, namun Tony Huo tak kunjung keluar.


Sementara, di dalam bangsal VIP, smartphone Tony Huo bergetar. Ia mengangkatnya tanpa melihat nama si pemanggil. Tony Huo tidak menyapa si penelepon di seberang sana, ia malah fokus mengawasi wajah tidur Lana Wei.


Tony Huo melihat pada jemari kirinya masih bertautan dengan jemari Lana Wei. Ia segera melepaskannya, namun saat itu juga Lana Wei siuman. Ia tidak menjawab pertanyaan Zelene Liang sehingga wanita itu bertanya kembali.


"Tony Huo, kamu di mana?" nadanya kali ini terdengar tidak sabar. Tony Huo belum mengetahui kalau artikel tentang dirinya telah di muat dan sekarang telah di hapus. Tetap saja Zelene Liang telah membacanya.


"Di kantor." Jawabnya singkat lantas mematikan panggilan tersebut. Ia memasukkan smartphone-nya kembali ke dalam saku. Setelahnya mengamati kondisi Lana Wei yang sudah membaik. Tony Huo menekan sebuah tombol di ranjang tersebut guna memanggil dokter.


Melirik lagi pada jemari tangannya yang tidak dilepaskan oleh Lana Wei, Tony Huo tidak berusaha untuk melepaskannya. Ia tidak ingin membuat Lana Wei pingsan seperti tadi.


Tony Huo beranjak dari duduknya. "Kamu sudah sadar, jadi aku akan pergi setelah dokter memeriksa keadaanmu." Tony Huo berujar lunak. Nada dinginnya telah ia buang jauh-jauh agar tidak menyakiti Lana Wei lagi dan membuat dirinya khawatir.


"Jangan pergi." Suara lirih Lana Wei, membuat Tony Huo merasa tidak tega untuk meninggalkan wanita itu. Tubuhnya masih lemah juga wajahnya nampak pucat. Tony Huo kembali duduk, namun pandangannya mengarah lurus ke depan.


Beberapa saat kemudian derap langkah kaki dari depan pintu bangsal terdengar, beberapa orang dengan jubah putih masuk ke dalam sana diikuti oleh Duan Che.


Dokter Su memeriksa keadaan Lana Wei, dan kondisi wanita itu sudah lebih baik daripada sebelumnya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Sementara itu, di dalam kantor Zelene Liang. Wanita itu berdiri membelakangi mejanya sejak panggilannya tiba-tiba dimatikan oleh Tony Huo. Zelene Liang tentu tahu kalau Tony Huo berbohong padanya. Dia tidak perlu meminta bantuan kedua pengawalnya atau Ah Mo untuk mencari tahu keberadaan Tony Huo saat ini karena baru saja dia telah menelpon Duan Che.


Zelene Liang cukup penasaran lantaran Tony Huo telah berbohong padanya. Jadi tidak ada salahnya jika dia menelepon Duan Che. Pria berwajah batu itu, tentu saja mengatakan kebenarannya pada Zelene Liang.


"Apa hubungan mereka? Mengapa Tony Huo bisa sekhawatir itu pada Lana Wei?" Zelene Liang bertanya pada dirinya sendiri dengan suara pelan sehingga tidak didengar oleh Xu Mo dan Hanna Gu.


"Kak Liang, kamu harus tenang. Yang dikatakan oleh Xie Yu Fan barusan tidaklah mungkin benar. CEO Huo memiliki banyak teman dan salah satunya Lana Wei." Xu Mo sendiri sangat ingin tahu hubungan Tony Huo dan Lana Wei, dia ingin meminta bantuan dari Ah Mo, namun Zelene Liang pasti tidak akan senang dengan hal itu. Jadi Xu Mo hanya bisa menduga saja.


"Biarkan dia yang memberitahuku." Seulas seringai terpasang di bibirnya ketika dia berbalik, lantas duduk di kursinya dengan santai.


๐ŸBersambung๐Ÿ