
Untuk beberapa detik pria itu tidak menjawab dan larut dalam pikirannya. Dia melirik Zelene Liang yang berada dalam dekapan Tony Huo. Seketika jemari tangan pria itu terkepal. Bukan karena kecantikan Zelene Liang yang membuat pria itu menatap dengan lekat, melainkan tatapan itu mengandung ketidaksenangan.
Tony Huo memberikan sorot mata tajam pada pria itu. "Apakah kau mempunyai masalah dengan istriku?" bertanya dengan nada dingin, seakan Tony Huo siap memerintahkan para pengawal membekuk pria di depannya.
Saat ini Tony Huo masih mendekap Zelene Liang, bahkan lebih erat lagi. Ia takut jika pria di depannya itu merupakan salah satu dari orang-orang yang sengaja mengikuti Zelene atau lebih tepatnya orang yang menikam gadis yang diselamatkan oleh Zelene Liang.
Sedangkan Zelene Liang tak dapat melepaskan dirinya dari pelukan dada bidang itu. Dia sesekali membenamkan wajahnya di dada Tony Huo. Tercium bau parfum maskulin milik Tony Huo yang sudah familiar dalam indra penciumannya.
Sedikit mengembangkan senyum Zelene Liang mengalihkan pandangannya pada pria yang tadi menabrak bahunya. Sorot mata Zelene Liang berubah menjadi sorot memindai, sepengetahuannya dari apa yang dapat dia tangkap, pria itu bukanlah orang biasa-biasa saja. Menurut pengalaman yang telah diajarkan oleh Ah Mo selama beberapa tahun sebelum dirinya menjadi seorang aktris seperti sekarang ini, mata Zelene Liang masih tajam dalam mengenali orang seperti pria di depannya itu.
Zelene Liang masih mendapatkan tatapan tidak senang dari pria itu, lantas dia memberikan seringai tipis yang membuat pria itu sedikit terkejut.
"Sama sekali tidak! Saya hanya merasa familiar dengan Anda berdua. Hehe, saya tidak menyangka bisa bertemu dengan dua tokoh hebat di rumah sakit ini. Yang satunya CEO muda yang berprestasi dan satunya lagi merupakan aktris berbakat." Pria itu berujar dengan cepat mencari alasan. "Sekali lagi maafkan saya. Saya sedang buru-buru karena keponakan saya baru saja mengalami kecelakaan dan beruntung ada orang yang menyelamatkannya. Saya harus buru-buru mengucapkan terima kasih sebelum orang-orang itu pergi." Pria itu menundukkan kepalanya beberapa kali seraya melirik pada pengawal yang masih mengelilinginya.
"Apakah kau David Ji?" tebak Zelene Liang tanpa keraguan.
Agak tercengang pria tambun itu mengurutkan dahinya. "Iya, benar. Bagaimana Anda bisa tahu, Nona?" melepaskan kepalan tangan menjadi lebih santai, dia menatap Zelene Liang dengan pandangan ingin tahu.
Zelene Liang mendongak sebelum menjawab David Ji yang balik bertanya padanya. Dia menatap lembut pada mata hitam Tony Huo. Untuk beberapa saat Zelene Liang bisa merasakan perlindungan dari Tony Huo, dan dia sendiri semakin tidak mengerti dengan suaminya itu. Agaknya Zelene Liang mulai menumbuhkan rasa penasaran dan ingin lebih mengenal Tony Huo dengan kepribadian mood swing-nya. Namun, apa pun itu yang jelas saat ini Zelene Liang harus mengesampingkan rasa penasarannya terhadap Tony Huo.
Ada hal-hal yang kemungkinan akan mewarnai hari-harinya untuk kedepannya hanya karena menyelematkan seorang gadis yang terluka. Mulai dari wanita dengan senyum misterius hingga David Ji dengan latar tidak biasa dan gadis itu sendiri juga memiliki latar belakang yang sama.
"Kami yang telah membawa keponakanmu kemari." Zelene Liang berucap dengan santai sembari mengembangkan senyum kecil.
Makin tercengang, David Ji bergeming untuk beberapa detik karena tidak percaya orang yang telah menyematkan keponakannya ialah Zelene Liangāwanita yang diakui sebagai istri dari Tony Huo.
"Ah, rupanya kalian semua yang telah menyelamatkan keponakan saya. Saya benar-benar berterima kasih. Jika bukan karena kebaikan dari Nona Liang, mungkin saja keponakan saya sudah ...," ucapan David Ji terputus dan bulir-bulir air mata mengalir ke pipinya. Entah rasa haru atau air mata yang dipaksa untuk keluar dari tempatnya. "Ngomong-ngomong CEO Huo memanggil Anda sebagai istrinya, tapi ... bukankah kalian berdua masih sama-sama lajang?" David Ji menghapus air matanya dan memandang pasangan itu dengan penuh tanda tanya.
Tony Huo bergeming sama sekali tidak ingin menjawab. Ia tidak peduli jika pria itu mengetahui hubungannya dengan Zelene Liang atau tidak. Hanya satu orang lagi yang tahu tidak akan menjadi masalah baginya. Sedangkan, Zelene Liang memberikan tatapan malas pada Tony Huo, dia menggeleng pelan, kemudian mengelih pada David Ji. Senyum manis yang biasa Zelene perlihatkan ketika berada di layar kaca kini terpampang di wajahnya.
Meraih jemari tangan kiri Tony Huo secara perlahan, Zelene Liang tetap mengembangkan senyum cerahnya. Dia mengeratkan jemari tangannya membuat Tony Huo sedikit tercengang. Tetapi tidak dapat dipungkiri ujung bibir Tony Huo terangkat.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit menuju mobil yang sudah terparkir di depan gedung rumah sakit. Duan Che segera membukakan pintu untuk keduanya.
Sampai di dalam mobil, Zelene Liang tetap mengapit jemari besar milik pria itu. Tony Huo menutupi bibirnya setelah mobil melaju meninggalkan rumah sakit menyeruak ke dalam jalanan ramai. Nampak dari ekor matanya yang berkerut Tony Huo saat ini sedang tersenyum lebar di balik punggung tangannya ketika melirik tangannya yang masih digenggam erat oleh Zelene Liang.
Zelene Liang sedang menatap lurus ke depan, namun perhatiannya teralihkan oleh tingkah Tony Huo yang menurutnya agak aneh. "Ada apa denganmu?"
Masih terkekeh, Tony Huo menjawab pertanyaan Zelene Liang dengan melirik ke arah tangannya. Seketika itu juga Zelene Liang melihat ke arah yang sama. Spontan dia melepaskan genggamannya dan duduk agak jauh dari Tony Huo. Wajah Zelene Liang agak memerah dan udara di dalam mobil mulai terasa pengap baginya.
"Hahaha~" tawa Tony Huo meletus. Ia memukul-mukul bagian belakang kursi pengemudi, sampai-sampai membuat Duan Che mendelik halus melalui kaca spion. "Aku kira kamu tidak akan melepaskan tanganku hingga kita sampai di mansion."
Menatap datar pada Tony Huo. "Aku tidak ingat kalau menggenggam tanganmu barusan." Ucapnya dengan nada dingin, mencoba menghilangkan kecanggungannya.
"Benarkah? Aku lihat kamu tersenyum hangat dan menikmati menggenggam tanganku." Godanya seraya mendekatkan wajahnya pada Zelene Liang.
"Aku sedang berakting di depan David Ji."
"Apakah kamu tidak takut hubungan kita diketahui oleh publik?"
Zelene Liang memutar bola mata malas ketika menjawab Tony Huo. "Dia tidak akan memberitahu siapa pun karena dia telah berhutang budi padaku."
Tony Huo mengangguk, ada benarnya yang dikatakan oleh Zelene Liang; David Ji tentu tidak akan berani memberitahu media, namun untuk kedepannya apa pun bisa terjadi, mereka hanya perlu lebih waspada. Setelah beberapa saat memperhatikan wajah Zelene Liang, ia teringat kembali akan kotak hitam yang berisi kalung berlian jatuh dari tas Zelene Liang. Tony Huo menjauhkan tubuhnya ke dekat jendela dan bersandar di kursinya, sedang wajahnya mulai menghitam tak seperti sebelumnya.
"Sudahkah kamu mengembalikan kalung itu?"
š Bersambungš