
Tony Huo terdiam sejenak lantaran pertanyaan Duan Che barusan, sepertinya pria berkacamata hitam itu benar-benar kecewa kali ini. Sebelum-sebelumnya Tony Huo akan menyimak dengan saksama, namun kali ini ia malah asyik dengan khayalnya. Tentu saja hatinya merasa hangat dan rasa bahagia masih memenuhi di sana. Bagaimana tidak, Zelene Liang sudah menjadi miliknya dan Xie Yu Fan atau siapa pun itu tidak akan mampu bersaing dengannya. Begitulah yang ada dipikirannya sesaat lalu.
"Apa yang kau inginkan?" Tony Huo malah bertanya dengan datar. Meskipun Duan Che merupakan bawahan setianya, tapi ialah atasannya dan tidak mungkin Tony Huo mau merendahkan harga dirinya dengan meminta maaf kepada Duan Che sebagai seorang CEO.
"Saya tidak menginginkan apa pun, apalagi permintaan maaf. Hanya masalah kecil Anda tidak perlu memikirkan perasaan saya yang sedang kecewa. Sebaiknya Anda lanjutkan saja lamunan Anda." Duan Che menaruh sebuah dokumen yang telah dia paparkan sebelumnya ke atas meja Tony Huo, kemudian melanjutkan perkataannya, "saya sudah selesai dan akan keluar sekarang."
Duan Che membungkukkan badannya dan mulai mengambil langkah keluar, dia masih mengenakan kacamata hitamnya saat menutup pintu kantor Tony Huo.
Tony Huo kembali terdiam, ia tidak mencegah Duan Che ataupun marah pada pria itu karena telah berani berkata kecewa pada atasannya sendiri. Hari ini ia sedang dalam suasana hati yang bagus, jadi ia tidak akan mempermasalahkan kelancangan Duan Che. Bukan salah Duan Che sepenuhnya, ia juga ikut bersalah lantaran tidak fokus. Maka dari itu, ia mengambil dokumen tersebut dan mulai membacanya dengan perlahan.
"Huh, aku sama sekali tidak bisa fokus."
Setelah beberapa menit membolak-balik dokumen di atas mejanya, Tony Huo merasakan kalau pikirannya saat ini memang tidak bisa ia fokuskan pada pekerjaannya.
"Apakah sebaiknya aku pulang saja lebih awal?"
Ia melirik pada arloji di pergelangan tangan kanannya menunjukkan pukul 11:30 AM. Ia haruslah menunggu beberapa jam lagi agar bisa pulang, tetapi bagaimana dengan jadwalnya hari ini dan sampai malam nanti? Tony Huo menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, kemudian meletakkan lengannya di atas dahinya.
"Tony Huo, sepertinya kamu sudah gila karena perempuan itu?!" gumamnya pada dirinya sendiri. Ia tersenyum mengejek dirinya yang telah mengingkari perkataannya sendiri ketika ia kembali ke Imperial City beberapa hari yang lalu.
Jika diingat kembali dirinya baru pulang beberapa hari dan dalam beberapa hari itu pula ia sudah merasakan tergila-gila akan istrinya. Harusnya ia tidak pulang dan tetap tinggal di sana, maka adegan semalam tidak akan pernah terjadi, lalu kemungkinan hubungan Zelene Liang dan Xie Yu Fan akan berkembang.
Tony Huo menggelengkan kepalanya ketika bayangan Xie Yu Fan dan Zelene Liang berada dalam satu frame. "Tidak, tidak, seperti aku harus makan siang di rumah saja." Ia segera menutup dokumennya, lantas membenahi jasnya.
Dengan senyum terpampang di wajah tampannya Tony Huo keluar dari kantornya.
"Tuan, apakah Anda akan pergi makan siang ... sekarang?" Yun Ruo Xi menghampiri Tony Huo dan bertanya ragu-ragu karena pria itu keluar dari kantornya tanpa memberitahu ke mana ia akan pergi. Jika Tony Huo akan pergi ke mana pun atau pergi makan siang, maka pria itu akan memberitahu Duan Che ataupun dirinya.
"Hari ini aku akan makan siang di rumah." Sahutnya datar.
"Tapi, Tuan, jika pulang ke rumah, maka akan memakan waktu yang cukup lama."
Senyum Tony Huo perlahan memudar dan ia menatap pada Yun Ruo Xi dengan dingin. "Di mana pun aku makan siang adalah urusanku. Kalian tidak perlu menemaniku." Ucapnya sarkas. Ia langsung mengambil langkah menuju lift pribadinya.
Yun Ruo Xi termenung setelah mendengar ucapan sarkas dari pria yang ia kagumi. Tangannya terkepal kuat dan raut wajahnya berubah tidak senang. "Pasti karena Zelene Liang. Mereka baru saja bertemu setelah menikah selama dua tahun dan Tuan sekarang rela pulang untuk makan siang di rumah demi wanita itu? Wanita yang asal-usulnya tidak jelas!" gerutu Yun Ruo Xi.
"Sekertaris Yun ada apa?" salah seorang sekretaris bertanya padanya.
"Tidak ada apa-apa, kembalilah bekerja."
"Sebentar lagi jam makan siang, Pak CEO pergi ke mana? Apakah hari ini kalian tidak makan siang bersama?" tanyanya lagi dengan wajah perasaan.
"Pak CEO kembali ke mansionnya dan akan makan siang di sana. Mungkin orang tuanya sedang berkunjung." Terangnya dengan nada lembut, akan tetapi dalam hatinya dia sedang berteriak marah.
"Oh, begitu rupanya. Bukankah Anda sekretaris pribadinya, mengapa beliau tidak mengajak Anda makan siang bersama di mansion Pak CEO?" salah seorang sekretaris berpenampilan lumayan menggoda, kecantikannya bahkan melebihi kecantikan Yun Ruo Xi. Dia bertanya pada Yun Ruo Xi dengan seringai yang mengembang di bibirnya.
Yun Ruo Xi melirik ke asal suara dan menemukan perempuan yang tidak disukainya. Ya, ketika pertama kali dia memasuki Huo Enterprise; mereka sudah saling mengejek dan menyindir secara halus. Kedua perempuan ini sedang berperang memperebutkan perhatian dari Tony Huo.
"Rupanya sekretaris Ye, Tuan sedang makan siang bersama keluarganya untuk apa beliau mengajakku? Bahkan asisten Duan saja masih berada di kantor, yang artinya tidak ada yang boleh mengganggu acara keluarga. Apakah kau mengerti, sekretaris Ye?" Yun Ruo Xi memberi Amanda Ye senyum halus. Dia melirik pada jam tangannya, kemudian berkata lagi, "sudah waktunya makan siang, aku akan membereskan pekerjaan dulu, lalu pergi makan siang. Kalian makan siang saja duluan."
Langkah Yun Ruo Xi menuju ke meja kerjanya, dia tidak memedulikan kedua sekretaris itu. Sedangkan Amanda Ye menatap Yun Ruo Xi dengan pandangan geli.
"Dasar tidak tahu malu, kau pikir aku tidak mendengar nada sarkas yang diucapkan oleh Pak CEO padamu barusan." Gumamnya sembari melangkah pergi ke mejanya.
๐๐๐
Sementara itu, Tony Huo tengah mengendarai mobilnya. Ia berkendara dengan santai sembari kepalanya dipenuhi oleh bayang-bayang wajah Zelene Liang.
"Bagaimana keadaannya saat ini? Tadi pagi dia nampak sangat lelah, apakah aku sudah keterlaluan?" gumamnya.
Tony Huo melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya karena ia ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan Zelene Liang. Sehingga dirinya tidak menyadari bahwa seseorang menyeberang jalan dalam keadaan berlari. Sontak ketika orang itu beberapa meter di depannya, ia dengan cepat menginjak rem.
"Ahh!!!" perempuan yang berlari tersebut melihat ke arah mobil Tony Huo yang berhenti tidak lebih dari 50 centimeter di depannya. Kaki perempuan itu mendadak lemas lantaran kaget.
"Sial!" makinya. Tony Huo keluar dari mobilnya dengan wajah menghitam. "Tidak bisakah kau menyeberang jalan dengan benar?!"
Perempuan itu menggigil karena dia berpikir akan mati hari ini, namun beruntung saja Tony Huo menginjak remnya dengan cepat, hingga perempuan itu tidak tertabrak. Perempuan berambut panjang itu memperhatikan Tony Huo dengan takut-takut, air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.
"Aku belum mati."
"Hei, tentu saja kau belum mati, berdirilah! Sampai kapan kau akan duduk di sana? Aku sedang terburu-buru." Tony Huo mengeluarkan sebuah cek dari dalam saku jasnya dan menyerahkan cek tersebut pada perempuan yang masih terduduk lemas. "Gunakan ini sebagai kompensasi. Padahal kau sendiri yang salah."
Perempuan itu hanya menatap cek tersebut tanpa ada niatan untuk mengambilnya. "Aku tidak membutuhkan cek. Tuan, jika Anda berkenan tolong antarkan aku ke rumah sakit, aku mohon. Aku harus sampai di rumah sakit secepatnya."
Tony Huo menghela napas. "Ambil saja cek ini dan pergilah dengan taksi."
"Aku mohon Tuan, sudah tidak banyak waktu lagi, Kakakku akan segera di operasi dan aku harus membayar uang operasinya sekarang juga. Jika tidak ... jika tidak ...." Perempuan itu menggelengkan kepalanya seraya menarik lengan jas Tony Huo.
๐ Bersambung๐