
Keesokan harinya, Tony Huo bangun lebih awal. Ia mengelus wajah lembut Zelene dengan jemarinya. Nampaknya Zelene Liang tertidur nyenyak dalam pelukannya semalam hingga tak ada gerakan apa pun dari wanita itu. Tony Huo juga merasa tidurnya lebih nyenyak setelah beberapa hari ia tidur bersama dengan Zelene Liang.
"Bangun." Bisiknya hangat di telinga Zelene. "Kamu akan terlambat ke kantormu." Sembari membawa rambut yang menutupi telinga Zelene ke belakang, Tony Huo masih setia berbisik di telinga wanita muda itu.
"Hm," Zelene Liang membalikan badannya, namun matanya tetap tertutup seperti tidak ada keinginan untuk bangun apalagi mendengar bisikan iblis dari Tony Huo. Zelene Liang menarik selimut dan menutup dirinya sampai ke kepalanya dengan selimut tersebut.
Tony Huo hanya dapat tersenyum dan menggeleng pelan. Ia memutuskan untuk bangkit dan membiarkan Zelene tidur lebih lama. Sebelum ia turun dari ranjang tidak lupa meninggalkan sebuah kecupan ringan pada dahi, mata, pipi, hidung dan terakhir pada bibir Zelene Liang. Barulah Tony Huo turun dari ranjang itu, dan bergegas ke kamar mandi karena derap jantungnya mulai bergema lagi.
Ia menutup kamar mandi lantas ia menumpu kedua telapak tangannya pada wastafel. Setelahnya ia merasakan detak jantungnya sendiri dengan menyentuh dada kirinya menggunakan tangan kanannya. Ia benar-benar merasakan debaran jantungnya yang sesungguhnya tak menentu. Bahkan sekarang lebih tidak menentu daripada sebelumnya setelah ia memberikan kecupan pada Zelene Liang.
Ketika malam pertama mereka dilangsungkan, debaran jantungnya tak seperti sekarang ini. Awalnya ia terus menepis perasaan yang mungkin telah tumbuh untuk wanita itu karena ia sendiri memang tidak ingin menaruh hatinya pada Zelene Liang, dan mempunyai alasan sendiri untuk memiliki Zelene Liang bukanlah karena perasaan, tetapi hal lain yang tak dapat ia ungkapkan pada siapa pun.
"Perasaan apa sebenarnya yang aku rasakan saat ini? Mengapa jantungku rasanya tak karuan seperti bunga-bunga berjatuhan atau malah kupu-kupu yang mengigitnya di dalam sana? Aku sungguh-sungguh tidak mengerti akan diriku sendiri saat ini. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada wanita itu secepat ini, bukan? Bahkan kakiku rasanya bergetar. Apakah ada yang tidak normal dengan diriku? Aku hanya memberikan kecupan untuknya, tetapi malah membuat jantungku tak karuan seperti ini. Zelene Liang sihir apa yang sebenarnya kamu gunakan?" Tony Huo menghujamkan pertanyaan pada pantulan dirinya di depan cermin tersebut.
Ia bergegas menuju kamar mandi lantaran perasaannya yang tak karuan. Tanpa membuka pakaiannya, ia menyalakan shower dan air dingin pun mulai mengguyur tubuhnya beserta pakaian yang masih ia kenakan.
🍁🍁🍁
Setelah keluar dari kamar mandi, Tony Huo sudah merasa agak tenang. Ia melihat Zelene Liang yang masih menutupi dirinya dengan selimut hangat. Ada keinginannya untuk membangunkan wanita itu dengan menyiramkan air karena pagi-pagi telah membuat perasaannya menjadi kacau. Namun, ia sadar semua itu bukanlah salah Zelene Liang.
Tony Huo segera menuju ke almarinya, menemukan setelan suit yang akan ia kenakan untuk hari ini. Suit berwarna biru tua dengan motif garis horizontal. Ia melirik ke arah Zelene Liang yang tidak memiliki keinginan untuk bangun dari tidurnya hari ini.
"Harusnya dia mempersiapkan segala keperluanku di pagi hari, tetapi dia tidur dengan nyenyaknya seperti tidak terjadi apa pun. Aku harus mengajarinya menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya." Gumamnya sambil mengukir seringai. Ia meletakkan suit tersebut di atas sofa, kemudian berjalan ke arah pintu balkon. Tangan besarnya menyibak tirai putih yang menutupi pintu tersebut dan ia pun membuka pintu balkon. Tanpa sebuah sapaan hangat, angin mulai menyeruak masuk ke dalam kamar tersebut.
Langit di luar sana nampak cerah, semburat di ufuk timur telah menampakkan diri dengan eloknya cahaya keemasan. Sedang langit masih berwana biru, tanpa ada warna yang berani menggantikannya, beberapa awan membentuk sebuah pola dan beberapa lagi berperai-perai, begitulah kegiatan langit setiap pagi.
"Zelene Liang, sampai kapan kamu akan tidur?"
Teriakkan geram dari Tony Huo telah berhasil membuka kelopak mata indah milik Zelene Liang. Wanita itu mengerjap beberapa kali dan menutupi matanya dengan jari-jarinya dari silaunya cahaya keemasan yang mulai singgah ke kamar tersebut.
Zelene Liang menegakkan badannya dan melihat ke arah Tony Huo yang hanya menggunakan jubah mandi berwarna putih. Wanita itu mulai melihat sekeliling, semuanya nampak sama, nuansa kamar utama tetap gelap, angin dengan bebasnya menyentuh kulitnya dan cahaya matahari yang membuat matanya agak silau. Tentunya pandangan Zelene Liang kembali teralih pada Tony Huo.
"Kasar sekali." Ucap Zelene Liang dengan nada kesal. Dia melotot pada Tony Huo, lantas kembali berucap, "rupanya Tony Huo sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Ah, baguslah karena kamu tidak perlu lagi berpura-pura menjadi pria hangat dan manis." Ledeknya. Zelene Liang turun dari ranjang setelah selesai memelototi Tony Huo.
"Aku tidak bisa membangunkan pemalas sepertimu dengan cara yang lembut. Maka aku harus melakukan tindakan seperti ini. Cepat pilihkan dasi untukku! Kita akan berangkat kerja bersama." Tony Huo berjalan menuju Sofa dan mengambil kembali suit yang ia letakkan sebelumnya.
Sementara, Zelene Liang menghentikan langkahnya. Dia menjeling ke arah Tony Huo dengan wajah kaget. Tidak percaya akan karena Tony Huo menyuruhnya memilihkan dasi.
"Memilihkan dasi untukmu?" bibir Zelene terbuka menampakkan senyum tidak percaya pada bibir mungil nan penuh itu. "Apakah kamu sedang bercanda saat ini? Aku memilihkan dasi untukmu?" tanyanya dengan nada datar. Zelene Liang memutar bola mata malas dan mempercepat langkahnya menuju ke kamar mandi menghiraukan Tony Huo yang berdiri di tempatnya.
"Hei, Zelene Liang, kamu adalah istriku dan sudah sewajarnya kamu mengurusku sejak pagi. Kamu dengar tidak?"
"Aku tidak dengar apa-apa. Kamu adalah suamiku dan bertindaklah layaknya seorang suami yang memanjakan istirnya." Zelene membuka pintu kamar mandi, dia masuk ke dalam dan sebelum menutup pintu, ia menatap Tony Huo—sembari menyeringai, lalu mengulangi ucapannya, "layaknya seorang suami yang memanjakan istrinya, seperti dalam drama-drama romantis. Hpmh! Tony Huo, aku belum memberimu pelajaran atas tindakanmu semalam. Jadi tunggu saja!" pintu tertutup dengan bunyi bam!
Tony Huo mengepalkan tangannya lantaran merasa geram, tidak dihargai oleh istrinya sendiri. Mungkinkah sebenarnya ia telah menikahi wanita yang salah? Wanita itu terlalu berani menurutnya, jika Zelene Liang adalah wanita lain, kemungkinan saja Tony Huo tidak perlu repot-repot mengajarinya menjadi seorang istri. Mau bagaimana lagi, ia belum sepenuhnya mengetahui karakter Zelene Liang dan ... untuk apa sebenarnya ia ingin mengajari Zelene Liang menjadi istri penurut?
"Untuk apa aku repot-repot melakukan semua itu? Dia bilang menjadi suami pemanja istri. Apakah aku juga harus melakukan seperti yang dia katakan?" Tony Huo melihat ke arah balkon di mana warna keemasan muncul dari sana.
🍁 Bersambung🍁