My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Jangan lupa matikan lampunya juga!



Hawa dingin berhembus ketika pintu lift perlahan terbuka bagai angin dingin menerpa tubuh ketiganya. Mata Zelene Liang penuh antisipasi, dia memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengan rampingnya. Sedang Hanna Gu dan Xu Mo—mata mereka tak berkedip ketika pintu lift terbuka sepenuhnya.


Perawakan tinggi, tegap bak model. Wajah dingin dan bersih, hidung mancung dan tulang pipi sempurna. Rambutnya jatuh sempurna di dahinya. Sesosok pria tampan perlahan melangkah keluar dari dalam lift. Sorot mata yang dalam dan tajam mengarah ke ketiga orang yang masih memandang ke arah pria itu.


Suasana seperti di dalam adegan sebuah film yang mana kemunculan pemeran utama laki-laki dilingkupi kabut aura misterius.


Dagu Zelene Liang jatuh ketika pria itu makin mendekat. Sosok itu sangat dikenal olehnya. Sosok pria dingin melebihi dinginnya aura Tony Huo. Entah mengapa Zelene Liang tidak mampu membuka mulutnya untuk beberapa saat, dia ingin menyerukan nama pria itu, namun hanya sampai di tenggorokannya saja.


Pria berwajah dingin itu melirik apatis pada ketiganya. Mata mereka bertemu silih berganti. Pria itu tersenyum, tapi tak seperti tersenyum.


"Huang ... Huang ..." Hanna Gu terbata memanggil nama pria tersebut. Matanya sedari tadi tidak berkedip menatap pria tinggi nan tampan itu. Aura dingin dari pria itu benar-benar membuat Hanna Gu sampai tergagap, hingga mulutnya menjadi kering.


"Huang Fu Lie!" seru Zelene tanpa halangan apa pun ketika pria itu lewat di sampingnya.


Setelah mendengar namanya diserukan barulah pria itu menghentikan langkahnya. Ya, dia adalah Huang Fu Lie—aktor tampan multitalenta yang dijuluki sebagai Kaisar es terseksi. Huang Fu Lie mendapatkan julukan tersebut lantaran karakternya seperti kasar-kasar zaman dahulu. Namun pria itu merupakan kaisar perfilman di abad 21. Aktor yang sering mendapatkan peran utama sebagai Kaisar, Raja ataupun Pangeran dalam drama kolosal.


"Heh, kalian masih di sini?" Huang Fu Lie bertanya santai, namun nada dingin dan apatisnya masih tetap terdengar dari bibir pria itu.


"Iya, kami—"


"Aku duluan."


Ucapan Zelene dipotong dengan sengaja oleh Huang Fu Lie. Pria itu tidak ingin membuang waktu berlama-lama menunggu jawaban. Huang Fu Lie berjalan ke arah mobil Bugatti La Voiture Noire—miliknya yang terparkir di sebelah mobil van milik Zelene Liang.


Huang Fu Lie membuka pintu mobil tersebut dan sebelum masuk ke dalam dia menoleh pada Zelene. Zelene Liang dapat melihat dengan jelas seulas seringai melekat pada bibir pria itu. Agaknya Zelene sedikit terkejut hingga dahinya mulai menampakkan kerutan tipis.


Nampak dari mata Zelene, seringai pria itu memudar. Huang Fu Lie masuk ke dalam mobilnya dan perlahan memundurkan mobil, kemudian melaju meninggalkan parkir bawah tanah.


Angin dingin yang menerpa tubuh ketiganya telah menghilang sepenuhnya. Xu Mo memiliki napas ngos-ngosan seperti orang yang habis berlari maraton. Sedang Hanna Gu menelan salivanya. Hanya Zelene Liang yang masih menilik ke dalam pikirannya sendiri.


"Hah ..., pria itu membuatku menahan napas. Mengapa dia sudah kembali?" tanya Xu Mo sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudahlah, ayo kita pulang saja." Ajak Zelene. Dia tidak ingin terlalu memikirkan pria itu. Zelene Liang dan Huang Fu Lie memiliki jumlah saham yang sama besarnya di LC Entertainment. Entah Zelene menganggap pria itu sebagai saingan atau tidak, tetapi sejak bernaung di bawah LC Entertainment, dia dan Huang Fu Lie tidak pernah akur. Meskipun di luar mereka terlihat biasa saja.


Ketiganya masuk ke dalam mobil dan Hanna berkata pada Zelene sembari memasang sabuk pengaman. "Lene, pria itu lebih berbahaya dari suamimu."


Zelene hanya diam dan tak membalas perkataan Hanna Gu. Dia larut dalam pikirannya dan tiba-tiba saja wajah Tony Huo terlintas dalam benaknya.


Apakah dia sudah tiba di mansion ataukah masih bekerja hingga larut? Zelene bertanya dalam benaknya.


🍁🍁🍁


Di waktu yang sama. Tony Huo tetap dalam posisi semula bersama butler Kim menemaninya di ruang tamu. Selama satu jam lebih ia tidak beranjak dari duduknya.


"Tuan Muda, sekarang baru pukul 23:30 PM, belum terlalu larut. Anda tidak perlu khawatir." Kata butler Kim, mencoba menenangkan hati Tony Huo. Pria berambut perak itu menafsirkan bahwa, tuannya pasti khawatir pada istrinya. Ada rasa senang dalam benaknya, tuannya telah menumbuhkan benih-benih kekhawatiran juga kesabaran dalam menunggu seseorang, meski butler Kim tidak tahu bagaimana sesungguhnya perasaan antara keduanya. Saat ini masih abstrak.


Tony Huo sudah merasa kesal. "Belum terlalu larut, katamu? Di luar sana orang-orang sudah tidur sekarang. Inilah yang tidak aku sukai dari seorang aktris, mereka sangat jarang pulang lebih awal. Apa dia keluyuran dan pergi ke bar sekarang?" ia mengerutkan alis dan kesabarannya telah terkikis. Kedua tangannya terkepal erat di atas pahanya. Ia tetap memperhatikan jarum jam yang senantiasa bergerak setiap detik. Sampai berapa jam ia akan menunggu seperti ini? Ia sendiri tidak tahu mengapa sampai harus ngotot menunggu Zelene Liang, padahal ia bisa menelponnya menggunakan telepon di mansion dan mempertanyakan keberadaannya, 'kan?


"Apa gunanya Anda mengomel di depan saya." Gumam butler Kim dengan suara yang amat rendah.


"Apa yang kau gumamkan? Kau sedang meledekku?" sorot tajam penuh kekesalan di arahkan pada butler Kim.


"Saya hanya berpikir, lebih baik mencoba untuk menghubungi Nyonya. Nah, kalau begitu saya akan menelpon Nyonya sekarang." Butler Kim sudah siap mengambil telepon yang ada di atas meja—di sebelah sofa tempat Tony Huo duduk.


"Tunggu! Tidak perlu repot-repot menelponnya." Seringai menghiasi bibir tipis Tony Huo. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang berbahaya saat ini. "Dia tahu kata sandi mansion ini, 'kan? Ganti kata sandinya sekarang juga." Perintahnya dengan nada apatis.


"Apa maksud Anda dengan mengganti sandi mansion, Tuan Muda?" butler Kim sungguh tidak mengerti mulai dari seringai jahat juga mendadak mengganti sandi mansion. Dia tidak tahu hal jahat apa yang tiba-tiba dipikirkan oleh tuannya. Namun, jika mengganti sandi mansion, Zelene Liang pasti tidak akan bisa masuk ke dalam mansion dan harus dibukakan pintu, 'kan? Akhirnya butler Kim mengerti akan maksud dari Tony Huo. "Tuan Muda, apakah Anda ingin Nyonya tidur di luar malam ini?"


Tony Huo tergelak hanya dengan membayangkan bagaimana paniknya wajah Zelene Liang ketika tidak bisa membuka pintu mansion dan harus berteriak memanggil para pelayan untuk membantunya. "Jangan lupa matikan lampunya juga!"


🍁 Bersambung🍁