
Tony Huo sampai di kantornya pukul setengah 11 pagi. Ia teringat ketika Zelene Liang meneleponnya di rumah sakit. Sembari berjalan menuju lift pribadi, ia memainkan smartphone di tangannya dan memikirkan akan menghubungi Zelene Liang atau tidak. Tony Huo dan Duan Che memasuki lift pribadi tersebut. Smartphone berwarna hitam itu kembali di masukkan ke dalam saku celananya, Tony Huo mengurungkan niatnya untuk menghubungi Zelene Liang apalagi memberikan penjelasan atas kebohongannya barusan.
"Tuan, saya sudah membereskan semua artikel yang dimuat pagi ini." Duan Che berujar di belakang Tony Huo. Saat di dalam mobil, Tony Huo tidak berkata apa pun dan hanya memandang keluar jendela mobil. Pandangannya kosong menatap arah jalan yang dipenuhi kendaraan. Jadi Duan Che tidak memberitahunya dan baru sekarang dia memiliki kesempatan karena nampaknya emosi Tony Huo sudah agak membaik, dalam artian tidak terbawa suasana ketika di rumah sakit tadi.
"Artikel? Ada yang mengambil fotoku dan Lana Wei?" bertanya kaget. Tony Huo tidak berpikir sampai ke sana ketika ia panik membawa Lana Wei ke rumah sakit. Tak peduli dengan berpasang-pasangan sorot mata yang melihat mereka lantaran kesehatan Lana Wei lebih penting saat itu. "Apakah sudah tidak ada lagi?"
"Mereka sudah menghapus semuanya ... uhm, kemungkinan Nyonya Muda telah melihat artikel itu," Duan Che berucap ragu. Bukan kemungkinan lagi, tapi Zelene Liang telah membacanya dengan saksama walaupun wanita itu tidak memberitahu Duan Che. Tetapi untuk apa Zelene Liang tiba-tiba menanyakan keberadaan Tony Huo, jika bukan karena artikel itu? Duan Che nampak ragu haruskah dia mengatakan kalau Zelene Liang sempat menghubunginya atau tidak? "Nyonya Muda menghubungi saya ketika di rumah sakit dan—"
"Aku tahu." Tony Huo memotong ucapan Duan Che. Ia menepuk dahinya sebanyak dua kali karena telah ketahuan berbohong pada Zelene Liang. Saat itu Tony Huo merasa kalang kabut dan tidak berpikir panjang sebelum menjawab. "Dia juga menghubungiku. Mungkin saja dia sudah tahu. Biarkan saja aku yang urus."
Lift berhenti di lantai kantor Tony Huo. Pekerjaannya telah menumpuk dan nampaknya ia harus bekerja lembur malam ini berkat menjaga Lana Wei di rumah sakit. Belum lagi ia harus memberikan penjelasan pada Zelene Liang. Ia membuka pintu kantornya dan mendapati seseorang yang tidak ingin ia lihat telah duduk santai di sofa.
"Untuk apalagi kau datang ke sini?" merasa geram, Tony Huo melepaskan dasinya dengan kasar lantas melemparkan benda itu ke sofa. Ia berjalan cepat menuju kursinya lantas menghempaskan tubuhnya dengan kasar, kemudian mengambil dokumen di atas mejanya dan mulai meninjau dokumen tersebut.
"Kakak, terakhir kali aku datang kemari, kau sangat dingin padaku. Beberapa hari lagi aku akan kembali ke Inggris, jadi ... makan malam denganku malam ini." Edna Huo duduk di sofa sembari membaca majalah di tangannya dia berujar tanpa berbasa-basi. Wanita itu telah menunggu Tony Huo sejak pagi, dia juga telah membaca artikel tersebut dan merasa geram. Sampai saat ini dia masih merasa geram karena mengingat ekspresi Tony Huo menampakkan kekhawatiran yang amat jelas. Dalam fantasinya, dia ingin sekali merobek Lana Wei menjadi beberapa bagian agar tubuh wanita itu hancur.
Tanpa melihat ke arah Edna Huo, Tony Huo berucap dengan dingin, "Aku tidak punya waktu." Ia melirik pada arlojinya dan sebentar lagi jadwal makan siang bersama Chairman Lee. Sementara dokumen di atas mejanya masih banyak dan pengganggu bermuculan silih berganti. Termasuk wanita anggun yang duduk di sofa kantornya tersebut.
"Bagaimana kalau makan siang?" Enda Huo masih belum menyerah.
Tony Huo menutup dokumennya dengan kasar. Ia menatap Edna Huo dengan sorot dingin dan ekspresi terganggu sangat jelas di wajahnya. "Aku akan makan siang bersama Chairman Lee. Kau ... tidak boleh mengganggu."
Merasa sangat kecewa dengan perlakuan dingin Tony Huo, Edna Huo beranjak dari duduknya. Dia merapikan busananya lantas berbalik mengarah ke pintu keluar. "Kalau begitu kita makan malam lain kali saja, dan saat itu Kakak tidak bisa menolak lagi." Seulas seringai muncul di ujung bibir kanannya sebelum dia melangkahkan kaki keluar dari kantor Tony Huo.
Tony Huo menyandarkan kepalanya, serta memijat pelipisnya pelan. Sepertinya ia akan mendapatkan sakit kepala lagi. Ia belum mencari tahu mengapa Edna Huo tiba-tiba kembali dan wanita itu juga belum berkunjung ke Manor Huo setelah beberapa hari kembali dari Inggris. Ia melirik kembali pada smartphone-nya dan tentunya teringat kembali pada Zelene Liang. Namun tidak ada keinginan untuk menghubungi istrinya.
Zelene Liang beserta agennya bersiap pergi makan siang. Awalnya mereka akan pergi makan siang di kantin LC Entertainment, namun Xie Yu Fan mengajak mereka makan siang bersama di Royal Restoran bersama Huang Fu Lie. Makan siang kali ini bukan hanya tanda permintaan maafnya atas ketidak sopannya pada Huang Fu Lie tadi pagi, namun agar dapat makan siang bersama Zelene Liang juga, mungkin membuat rumor baru jika diperlukan.
Ketiganya telah menunggu di tempat parkir, ketika itu pintu lift berbunyi dan menampakkan dua sosok pria tampan di dalamnya. Yang satunya dengan senyum hangat dan satunya lagi berwajah dingin, namun digilai oleh banyak kaum wanita.
"Huang Fu Lie?" Hanna Gu agak terkesiap melihat Huang Fu Lie berjalan beriringan keluar dari dalam lift bersama Xie Yu Fan.
Sebenarnya Xie Yu Fan tidak mengatakan kalau dia akan mengajak Huang Fu Lie bersama mereka karena dia belum yakin kalau pria itu akan mau ikut makan siang bersama mereka. Akan tetapi Huang Fu Lie langsung menyetujui tawarannya tersebut. Alhasil semua mata yang berada di parkir bawah tanah mengarahkan pandangan pada mereka.
"Maaf, aku lupa memberitahu kalian kalau senior Huang juga ikut makan siang bersama kita." Nada Xie Yu Fan amat hangat di telinga mereka, namun setelah melihat wajah Huang Fu Lie, udara di sekitar mereka menjadi dingin kembali.
Hanna Gu sampai menggigil. "Tidak perlu meminta maaf. Ayo, kita berangkat. Aku sudah lapar." Dia masuk ke dalam mobil van, sementara Zelene Liang sejak tadi tidak berkata apa pun.
Mereka naik ke mobil masing-masing.
Di dalam mobil van Zelene Liang masih membisu. Dia bahkan tidak peduli dengan kehadiran Huang Fu Lie di sana barusan. Pandangannya kosong, perasaannya bercampur aduk ketika foto-foto dalam artikel itu melintas di benaknya. Entah perasaan apa yang kini menerpanya, ia sendiri tidak tahu. Akan tetapi rasa itu membuatnya kehilangan nafsu makan. Awalnya dia tidak ingin ikut makan siang, namun karena tidak enak menolak tawaran Xie Yu Fan dan merasa canggung, jadi dia menerima tawaran makan siang tersebut.
"Lene, apa yang sedang kamu pikirkan?" Hanna Gu bertanya karena merasa khawatir melihat Zelene Liang yang tengah murung.
"Tidak ada, Kak Hanna. Kamu tidak perlu khawatir." Ucapnya tak bertenaga.
"Apakah Kak Liang sakit? Suaramu terdengar lemas. Mungkinkah karena artikel tadi pagi?" Xu Mo tidak sengaja mengungkit artikel yang saat ini sedang dipikirkan oleh Zelene Liang.
🍁Bersambung🍁