
Lana Wei memeluk Tony Huo dengan erat tanpa peduli dengan situasi saat ini. Mereka sedang berada di kedai kopi dengan jumlah pengunjung yang cukup lumayan. Sehingga beberapa pasang mata menatap ke arah mereka dan lebih parahnya lagi seseorang dengan kamera canggih memotret mereka dari balik dinding kaca tersebut.
Pelukan dari Lana Wei yang tiba-tiba membuka Tony Huo menggeram dan melepaskan tangan wanita itu dari dadanya. Tony Huo melepaskan dirinya dari pelukan agresif Lana Wei. Ia mengeraskan rahangnya ketika berbalik melihat Lana Wei dengan tatapan super dinginnya.
Tony Huo tidak suka di sentuh secara tiba-tiba ataupun dipeluk seperti tadi, apalagi yang memeluknya adalah wanita yang membuatnya kesal. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar ketika berpasang-pasang mata masih menatap ke arah mereka. Karena sorot mata Tony Huo amat dingin, para pengunjung tidak berani lagi menatap mereka.
Pipi Lana Wei telah basah oleh air matanya yang tak dapat dia bendung setelah mendapatkan tatapan dingin dari Tony Huo. Bibirnya berkedut, namun dia tidak dapat berucap apa pun. Nampaknya hatinya sungguh amat sakit lantaran perlakuan dingin Tony Huo terhadapnya.
"Lana Wei, apakah kamu ingat kita saat ini berada di mana? Harusnya kamu memikirkan posisimu saat ini. Aku juga tidak ingin dirumorkan dengan model internasional, tidak ada gunanya bagiku."
Lana Wei menggeleng. Dia tidak sanggup memberikan sanggahan pada Tony Huo. Padahal dia sangat ingin mengatakan bahwa dia merindukan Tony Huo. Tubuhnya menggigil karena tak sanggup mendengar nada dingin pria itu. "Tony—" Lana Wei luruh sebelum dia bisa mengucapkan nama lengkap Tony Huo.
Tersentak. "Lana Wei!" Tony Huo tidak menunggu lagi dan langsung mengangkat tubuh jenjang Lana Wei. Ia keluar dari kedai kopi bersama Lana Wei yang sedang pingsan. Setengah berlari menuju mobilnya dengan wanita itu berada dalam gendongannya. Wajah Tony Huo menampakkan sedikit kepanikan.
Duan Che telah membukakan pintu di kursi penumpang untuk mereka. Dengan sigap Tony Huo membawa Lana Wei ke dalam mobil. Ia tidak peduli berapa pasang mata dan kamera mengabadikan ketika ia menggendong Lana Wei dalam pelukannya.
Mobil tersebut melaju menembus keramaian jalan di Imperial City. Mereka menuju ke rumah sakit karena wajah Lana Wei amat pucat.
"Lana Wei, sadarlah!"
Tony Huo menepuk lembut pada pipi Lana Wei, namun wanita itu tetap memejamkan matanya dan wajahnya semakin pucat. Ia mengepalkan tangannya karena teringat dengan nada bicaranya yang sangat dingin pada wanita itu sebelumnya. Lantaran geram dengan tingkah Lana Wei, Tony Huo lupa kalau wanita itu tidak dapat menerima perlakuan kasar ataupun dingin karena akan membuatnya merasa sakit hati dan berpikir keras. Akibatnya Lana Wei menjadi stres seketika itu juga menyebabkan asam lambungnya naik dan dia pingsan.
Tony Huo menyadari kebodohannya. Ia memukul kepalanya sendiri menggunakan kepalan tangan selama beberapa kali.
"Tuan, sebaiknya Anda tetap tenang. Kita akan segera sampai di rumah sakit." Duan Che mempercepat laju mobilnya. Nampak dari pengelihatannya melalui kaca spion—Tony Huo terlihat merasa bersalah juga tertekan dengan situasi saat ini. Pria itu memeluk Lana Wei dengan erat membuat Duan Che merasa akan ada bom waktu yang segara meledak. Belum lagi paparazi yang telah mengikuti mereka, Duan Che harus secepatnya membereskan masalah tersebut, namun untuk saat ini sampai di rumah sakit dengan cepat adalah yang utama baginya.
"Cepatlah!" bentaknya. Sorot menghunus di arahkan pada Duan Che. Sekarang Tony Huo semakin khawatir lantaran badan Lana Wei terasa panas dan dahinya juga berkeringat.
🍁🍁🍁
Berita di media daring menyebar dengan cepat. Mata Hanna Gu terbelalak ketika membaca artikel daring dalam smartphonenya. Ia hampir saja menjatuhkan gelas berisi air hangat di tangannya.
Hanna Gu memperhatikan sekali lagi dengan teliti karena mungkin ada kesamaan nama dalam artikel tersebut. Tetapi setelah diperhatikan dengan teliti, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam artikel itu merupakan Tony Huo. Dia melihat ke arah Zelene Liang yang sedang asyik membolak-balikkan naskah di mejanya. Wanita itu sama sekali tidak tahu yang telah terjadi di luar.
Suaminya bertemu dengan model internasional di kedai kopi dekat Huo Enterprise dan di peluk dari belakang oleh model itu. Tony Huo juga nampak khawatir ketika menggendong Lana Wei di pelukannya. Hanna Gu merasa bingung, haruskah dia memberitahu Zelene Liang atau tidak. Jika dia tidak memberitahunya sekarang dan malah mengetahui dari orang lain, maka Zelene Liang bisa saja akan salah paham.
"Aku akan membuka pintu." Xu Mo beranjak dari sofa, lantas membuka pintu tersebut. Dilihatnya Xie Yu Fan telah berdiri di sana dengan senyum hangatnya. Senyum itu mampu meluluhkan banyak hati kaum wanita ketika melihatnya. "Ada urusan apa kemari?"
"Bolehkah aku masuk?"
Xu Mo mengangguk dan membiarkan Xie Yu Fan masuk ke kantor Zelene.
Pria itu menebar senyum ketika memasuki kantor Zelene Liang. Sedangkan Zelene Liang sendiri merasa agak canggung.
Wanita itu berdiri dari duduknya dan menyapa Xie Yu Fan, "Apakah kau memerlukan sesuatu?" dia perlahan berjalan ke arah Xie Yu Fan. "Duduklah, Yu Fan. Xu Mo tolong buatkan kopi untuk kami."
"Baiklah—"
"Tidak perlu. Aku tidak akan lama." Xie Yu Fan telah memotong ucapan Xu Mo sebelum gadis itu beranjak dari pintu. Xie Yu Fan lantas duduk di seberang Zelene Liang. Dia mengambil smartphone-nya dan memberikannya pada Zelene Liang. Senyum hangat masih terpampang di wajah pria itu.
Sementara Hanna Gu menatapnya dengan curiga, dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah smartphone di tangannya dan berpikir bahwa Xie Yu Fan datang ke sini untuk memberitahu Zelene Liang tentang artikel yang baru saja terbit. Untuk apa pria itu melakukan hal ini?
Sedangkan Zelene Liang mengerutkan kening tidak mengerti ketika mengambil smartphone berwarna hitam tersebut dari tangan Xie Yu Fan.
"Lene," Hanna Gu ingin berbicara, namun tatapannya bertemu dengan Xie Yu Fan. Senyum pria itu mampu mengurungkan niat Hanna Gu untuk berkata. Dia kemudian duduk di samping Zelene Liang.
"Sebenarnya ada apa?" Zelene Liang menatap layar pipih di tangannya tersebut dan melihat sebuah foto yang mana orang itu adalah suaminya sendiri; Tony Huo.
Zelene Liang membaca kata demi kata dalam artikel tersebut. Ekspresinya nampak tidak terganggu dengan artikel yang sudah dibaca sebanyak ribuan kali dalam hitungan menit. Dia tetap santai seolah yang ada dalam artikel itu bukanlah Tony Huo, atau mungkin dia memang tidaklah begitu peduli. "Aku sudah selesai membacanya." Dia mengembalikan smartphone tersebut pada Xie Yu Fan.
Senyum Xie Yu Fan perlahan memudar karena tidak menyangka kalau Zelene Liang akan sesantai ini, sedang tadi dia diantarkan oleh Tony Huo. Xie Yu Fan menjadi agak bingung dengan situasi saat ini.
"Lene," Hanna Gu nampak khawatir dengan wajah santai yang diperlihatkan oleh Zelene Liang.
"Ada apa? Kalian semua sangat aneh. Bukankah berita atau artikel mengenai CEO Huo sudah bukan rahasia lagi?
Xie Yu Fan mengangguk. "Iya, tapi sudah dua tahun tidak ada rumor lagi mengenai CEO Huo dan para kekasihnya. Saat ini ... apakah kau tidak berpikir bahwa dia mungkin saja sudah punya kekasih?"
🍁Bersambung🍁