
Tony Huo menangkap jemari ramping milik Zelene Liang. "Zelene Liang, mungkinkah kamu ... sedang menantangku sekarang? Aku tidak masalah." Ia menyeringai dan melepaskan setiap kancing pada kemejanya.
Mata Zelene Liang hanya bisa menatap dan membisu. Awalnya dia hanya ingin menggoda Tony Huo seperti sebelumnya, namun dia melupakan satu hal. Bahwa mereka telah tidur bersama dan tidak mungkin Tony Huo akan jatuh dalam jebakannya dan membiarkan dia mandi sendiri.
"Kamu benar-benar ingin mandi bersamaku pukul 1 dini hari?! Keluar!" perintahnya tegas. Zelene Liang membuka pintu kamar mandi agar Tony Huo keluar dari sana. "Cepatlah keluar! Aku ingin mandi sendiri dengan secepatnya karena aku sangat mengantuk!"
Kancing pada kemeja Tony Huo dibiarkan terbuka begitu saja, sementara tangannya berada di depan dadanya. Tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak selangkah pun, agaknya tidak ada keinginan dari pria itu untuk mengikuti keinginan Zelene dan keluar dari sana.
"Sepertinya ide mandi bersama dini hari sangat bagus." Ucapnya. Ia membuka kemejanya dan dengan sengaja membiarkan Zelene Liang melihat roti sobeknya.
"Tony Huo! Apakah kamu tuli?" Zelene menggeleng pelan lantaran tidak habis pikir dengan tingkah Tony Huo. "Kamu sama sekali tidak mendengar ucapanku? Keluar dari sini dan biarkan aku mandi sendiri! Aku tidak ingin mandi denganmu!" gerutu Zelene sembari mengucek matanya yang sewaktu-waktu kelopak pada mata indah itu bisa saja tertutup kembali.
"Ayolah, Zele, kita belum pernah mandi bersama." Ujar Tony Huo dengan nada manja.
Tony Huo menyalakan keran air panas. Air pada bak mandi terasa hangat saat tangan Tony Huo menyentuh air tersebut. Ia sudah mengatur suhu air sebelum menyalakan keran agar suhunya pas. Saat ini, Zelene Liang berdiri di belakang Tony Huo dan ingin sekali berteriak di telinga Tony Huo. Namun saat ini pukul 1 dini hari, jika dia berteriak, maka akan membangunkan seluruh pelayan mansion.
"Aku akan tidur saja!" ujar Zelene, kesal. Dia mengambil langkah keluar, tetapi tubuhnya di tarik ke belakang ketika dia sudah berada di ambang pintu.
Bam! Pintu kembali tertutup dan pasangan itu sudah berada dalam bak mandi dengan air hangat membasahi tubuh mereka. Zelene Liang bahkan masih mengenakan pakaiannya saat Tony Huo menghempaskan kedua badan mereka ke bak mandi. Tony Huo terkekeh melihat wajah kaget tanpa kata dari wanita yang kini berada di bawah tubuhnya.
Untuk beberapa saat Zelene Liang terkaget. Beberapa detik kemudian, kesadarannya kembali karena rasa hangat dari air pada bak mandi tersebut telah sepenuhnya merendam badannya. "Kamu sudah gila?" nada Zelene Liang amat datar dan dingin begitu juga dengan tatapan matanya seolah badai es dihujamkan pada kedua mata Tony Huo. "Bangun dan keluar dari sini!" dari nadanya yang masih sama, nampaknya Zelene Liang sudah marah karena wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Sepertinya begitu. Haha ..., kita sudah sampai di sini dan kamu masih mengusirku, mengapa tidak kita lanjutkan saja?" jemari Tony Huo perlahan meraih dagu Zelene, ia mendekatkan wajahnya ke wajah tanpa ekspresi itu.
Zelene Liang memiliki tatapan kesal, dia melengos tidak ingin melihat wajah Tony Huo. "Sudah cukup bercanda, Tony Huo! Aku ingin sendiri!"
"Huh," melihat Zelene Liang sudah amat kesal terhadap dirinya. Tony Huo memutuskan untuk bangkit dari bak mandi. Ia mengambil handuk putih dan melepaskan busana yang masih ia kenakan. Seluruh badannya telah basah dan dengan santainya ia melepaskan celananya.
Zelene Liang menegakkan badannya dan bangkit, lalu bersiap untuk membuka pakaiannya. Tetapi, dia berhenti ketika melihat Tony Huo sudah melepaskan celananya yang basah. "Tony Huo, apa yang kamu lakukan?! Bukankah sudah aku katakan agar keluar dari sini? Berapa banyak waktu lagi yang akan kamu habiskan untuk menggangguku? Tidakkah kamu lupa sekarang sudah dini hari dan aku benar-benar ingin istirahat?!"
"Nyonya Muda, aku tidak bermaksud untuk mengganggumu. Aku tahu kamu sangat lelah dan kita tidak bisa melakukannya malam ini." Tony Huo menghela napas dan berpura-pura kecewa ketika melempar celana basahnya ke sembarang tempat. Kemudian membuka pintu, "aku keluar, sudah puas?!"
Seketika pintu terbuka kembali dan masih seperti tadi Tony Huo hanya mengenakan handuk putih membungkus pinggangnya sampai ke lututnya. "Zelene Liang, jangan berteriak terlalu kencang! Butler Kim bisa saja mendobrak pintu kamar ini, jika dia sampai mendengar nada cemprengmu itu. Katakan saja jika ingin mandi denganku, jangan terlalu jual mahal dengan suamimu sendiri."
Zelene Liang mendengus. Badannya bergetar hebat karena kesal juga marah telah menggerogoti jiwanya, bukan hanya karena kesal, tetapi badannya yang basah juga membuatnya kedinginan. Zelene Liang membuat genggaman tangan dan mengambil air pada bak mandi tersebut lantas keluar dari sana dan menghampiri Tony Huo, lantas menyiramkan air di tangan rampingnya ke wajah Tony Huo.
Sebelum Tony Huo dapat mengambil tindakan dan membalasnya, Zelene Liang menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Terdengar sebuah teriakan setelah beberapa saat dari luar kamar mandi. Agaknya di Tony Huo merasa geram di sana.
"Huh, beraninya mempermainkanku! Dingin sekali, semuanya salah pria itu." Gerutu Zelene.
🍁🍁🍁
20 menit kemudian Zelene Liang keluar dari kamar mandi, dan mendapati wajah Tony Huo yang tertidur lelap. Dia melirik pada jam dinding yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Zelene Liang bergegas memakai perawatan wajahnya agar besok ketika bangun, wajahnya tidak kusam.
Setelahnya dia mengenakan baju tidur yang cukup tebal karena dirasa udara dini hari cukup dingin. Dia tidak berpikir lagi dan naik ke atas ranjang karena kelopak matanya terasa sudah jatuh dari tempatnya.
Sejenak dia memperhatikan wajah tertidur Tony Huo—pria itu tidur dengan posisi miring ke kiri ketika Zelene Liang naik ke atas ranjang dengan menghempaskan dirinya. Sepertinya pria itu merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Zelene Liang di sana, buktinya dahi Tony Huo berkerut.
"Apakah dia pura-pura tidur?" gumamnya pelan di sebelah Tony Huo. Dia menutupi dirinya dengan selimut yang sama dipakai oleh Tony Huo, lantas merebahkan dirinya dan bergumam kembali, "aku harus tidur jauh-jauh darinya. Jika tid—"
Ucapan Zelene Liang terpotong setelah tangan besar merangkul pinggangnya mendekatkan dirinya ke pelukan pria itu.
"Ukh! Tony Huo, lepaskan aku! Aku tahu kamu belum tidur."
Zelene Liang menengok wajah Tony Huo karena posisinya membelakangi pria itu, namun mata pria itu masih terpejam seolah-olah menarik Zelene Liang ke dalam dekapan bukanlah hal yang di sengaja. Meskipun mata Tony Huo terpejam, seulas senyum hangat terpasang di bibir tipis miliknya.
Masih dengan mata terpejam Tony Huo mendekatkan bibirnya ke telinga Zelene dan berseru, "Hangat! Tidurlah!" Tony Huo mendekap Zelene Liang dengan lembut, namun tidak membiarkannya lepas.
Lantaran sudah sangat mengantuk, Zelene Liang tidak lagi melawan dan tertidur dalam pelukan Tony Huo.
🍁 Bersambung🍁