My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Berhenti melakukan usaha yang sia-sia



Menaiki tangga perlahan dengan kaki yang masih sakit akibat diinjak menggunakan hak tinggi, Tony Huo nampak seperti suami yang mendapatkan kekejaman dari sang istri. Mau membalas bagaimana lagi? Semua salahnya yang memulai permainan kekanak-kanakan. Ia menyadari hal itu dan tidak membalas Zelene Liang lebih jauh lagi. Bahunya berkedut dua kali karena tawa kecil yang keluar dari bibir tipisnya—entah Tony Huo merasakan kehangatan yang tidak bisa ia rasakan dengan wanita lain.


Ya, wanita yang pernah menggodanya. Ketampanan Tony Huo sudah membuni dikalangan para wanita lajang di Imperial City, namun siapa yang menyangka ia menikahi Zelene Liang atas kehendak kedua orang tuanya? Begitu banyak pebisnis hingga pejabat memiliki hubungan baik dengan keluarga Huo—dan anak-anak gadis mereka semua terpelajar dengan prestasi juga pengalaman mengelola bisnis yang mumpuni.


Akan tetapi, hal tersebut tidak menjadi acuan bagi keluarga Huo dalam mencari seorang menantu. Di mata keluar Huo terutama di mata Nan Si Yue; Zelene Liang merupakan tipe menantu sempurna dan berbakat. Nan Si Yue sangat menyukai karakter Zelene Liang yang apa adanya dan tidak mengada-ada seperti kebanyakan wanita akan berpura-pura rapuh di depan para pria. Namun memang benar trik seperti itu dapat digunakan untuk meluluhkan hati pria dan membuat pria tersebut ingin selalu melindungi wanita. Zelene Liang tangguh dan dapat mengahadapi masalah tanpa perlu menangis dan bersikap lemah, maka dari itu Nan Si Yue sangat menginginkan Zelene menjadi menantunya.


Itulah beberapa alasan yang diingat oleh Tony Huo saat ibunya menceritakan Zelene Liang pada dirinya dua tahun silam sebelum ia menikahi Zelene Liang.


"Ibu memang pintar menilai orang." Gumamnya


Tony Huo masuk ke dalam kamarnya dan duduk bersandar di atas ranjang mewah sembari memainkan smartphone. Ia sengaja tidak tidur dan menunggu Zelene Liang.


🍁🍁🍁


Setelah mengisi perutnya dengan beberapa suap makanan rendah kalori yang sengaja dibuatkan untuknya, Zelene Liang merasa mengantuk lagi.


Dia bangkit dan berjalan menuju ke kamar utama. Sebelum tidur, dia harus mandi terlebih dahulu agar kuman dan bakteri tidak menempel pada tubuhnya apalagi pada wajahnya.


Dia sudah berdiri di depan pintu kamar, tetapi tidak membuka pintu tersebut dan malah bergumam, "Apakah iblis itu sudah tidur?" dia memegang gagang pintu, lalu melepaskan lagi. Begitu seterusnya hingga dua menit telah berlalu, dia tetap berdiri di depan pintu sampai-sampai kelopak matanya tertutup tanpa kemauannya.


Tiba-tiba pintu tersebut terbuka dari dalam dan postur tinggi Tony Huo berdiri dengan tegak di hadapannya kala dia membuka kelopak matanya yang hampir terjatuh lagi.


"Pfffttt!" gelak tawa dari pria itu terlepas, ia sampai membungkuk memegangi perutnya lantaran tak dapat berhenti tertawa. Betapa lucunya Zelene Liang yang sedang menahan kantuk di mata Tony Huo. "Hahaha ..., Zelene Liang, apakah kamu tidur sambil berjalan?"


Setelah mendengar tawa pria di depannya itu, Zelene Liang dengan intens menggelengkan kepala dan menepuk-nepuk pipinya hingga menampakkan semburat merah pada kedua pipi putih itu. Kedua tangannya dicekal oleh Tony Huo karena Zelene Liang tidak berhenti menepuk pipinya.


"Hentikan. Pipimu sudah memerah, jangan menyakiti dirimu tanpa alasan, Zelene Liang."


Mata Zelene Liang akhirnya terbuka lebar, dia menepis tangan Tony Huo dan berkata, namun seperti bergumam, "Apa yang baru saja kamu katakan?" Zelene Liang hanya mendengar tawa Tony Huo, sementara ucapan Tony Huo sama sekali tidak didengar olehnya.


"Ah, aku mengerti." Zelene Liang lantas masuk kedalam, tetapi langkahnya terhenti. Dia menjeling ke arah Tony Huo dan bertanya, "apakah kamu akan tidur di sini malam ini dan bukankah kamu sudah menyiapkan kamar baru? Tidurlah di sana karena aku tidak ingin tidur di kamar mana pun selain di kamar ini."


"Jangan terlalu serius, Zelene Liang. Aku berubah pikiran, kita akan tetap tidur satu kamar karena kita adalah suami-istri dan ... kamar itu aku persiapkan untuk bayi kita nanti." Kata Tony Huo dengan nada menggoda. Ia menyentuh dagunya dan perlahan kakinya yang masih sakit melangkah mengitari Zelene Liang. "Nampaknya kamu sangat lelah malam ini, huh! Bagaimana kita bisa ...," ia dengan sengaja melirik perut datar Zelene Liang.


"Huh ...?" dahi Zelene berkerut begitu juga dengan alisnya yang seketika terajut. Pria itu sungguh tidak kapok setelah mengerjainya, dan sekarang malah menggoda dirinya. Apakah dia belum puas diinjak pada salah satu kakinya dan minta diinjak yang satu lagi? Zelene Liang melirik kaki Tony Huo, kaki kanannya sudah dia injak dan tinggal kaki kiri. Perlukah dia menginjaknya lagi?


Tony Huo melihat ke bawah. "Kamu ingin menginjak kakiku lagi? Haha ..., jangan bermimpi, Zelene Liang!" Tony Huo mendekatkan tubuhnya hingga tidak ada jarak di antara mereka.


Zelene Liang sempat memundurkan langkahnya, namun karena mengantuk dia tidak dapat memproses gerakannya dengan benar. Sehingga tanpa aba-aba Tony Huo merangkul tubuh Zelene Liang dan membawa ke bahunya, layaknya digendong dalam mode penyelamatan dari seorang petugas pemadam kebakaran.


"Huh! Tony Huo, kamu ingin mengambil kesempatan, 'kan?" Zelene meronta dan memukul punggung Tony Huo mengunakan kedua tangan yang terkepal. Tetapi, Tony Huo sama sekali tidak merasa kesakitan lantaran pukulan Zelene Liang bagaikan gigitan semut. Pukulan tersebut tak terasa untuk tubuh kekarnya.


"Berhenti melakukan usaha yang sia-sia. Badanmu bau asam dan sekarang sudah pukul 1 pagi. Kamu harus mandi dan ... sepertinya kamu sangat mengantuk, jadi aku akan membantu untuk memandikanmu. Hahaha!"


Tony Huo tanpa hambatan mengendong Zelene Liang menuju ke kamar mandi. Meskipun kakinya yang diinjak oleh Zelene masih terasa sakit, tak menjadi masalah besar baginya, jika hanya menggendong tubuh ramping Zelene.


"Aku tidak mau! Aku tidak mau! Lepaskan aku atau aku gigit lagi bahumu?!" keluh Zelene.


Entah mengapa keluhan tersebut terdengar seperti rengekan manja di telinga Tony Huo. Kini Tony Huo tersenyum puas. Ia membuka pintu kamar mandi dan segera masuk ke dalam, kemudian menutup pintu tersebut. Sedangkan, Zelene Liang masih meronta dan sejak tadi mengutuknya dengan kata-kata yang tak dapat Tony Huo mengerti.


"Teruslah mengutukku, kalau nanti kamu jatuh cinta padaku, jangan salahkan aku saat hatimu menjadi resah karena selalu memikirkan aku." Ucapnya dengan nada santai sembari menurunkan tubuh jenjang Zelene Liang dari bahunya. "Kamu cukup berat setelah makan. Ayo, aku bantu memandikan badanmu yang bau asam, istriku." Bisiknya lembut di telinga kiri Zelene.


Zelene Liang memutar bola mata malas dan berhenti mengutuk Tony Huo, lantas mengerucutkan bibir, wajahnya nampak sungguh kesal sekaligus imut di waktu yang bersamaan. Bisikan tersebut serupa bisikan iblis di telinga Zelene Liang. Mengedarkan pandangannya, kemudian mengangguk pelan dan setelahnya Zelene Liang mengukir seringai. Jari telunjuknya diletakkan pada salah satu kancing kemaja Tony Huo.


Dari seringai di bibir Zelene Liang, agaknya Tony Huo sudah salah masuk bersama ke kamar mandi. Entah apa yang akan Zelene Liang lakukan pada dirinya? Ngomong-ngomong dirinya seorang pria, bagaimana mungkin ia kalah dengan Zelene Liang begitu saja? Seketika Tony Huo merasa tertantang.


🍁 Bersambung🍁