My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Katakan atau keluar dari sini malam ini juga



"Lalu apa yang sebenarnya kau lakukan di balik tiang penyangga, jika kau bukan mata-mata atau semacamnya?" tanya Xiao Xuan. Dia mengamati Sarah Wu dengan sungguh-sungguh karena tidak terlalu percaya dengan apa yang perempuan itu katakan barusan.


Memang benar adanya, jika ingin diterima bekerja di mansion ini haruslah memiliki latar belakang yang baik juga memiliki sertifikat kemampuan. Dikarenakan saat mengajukan lamaran ke mansion Xue Garden, pemilihan pelayan akan dilakukan dengan teliti. Tetapi tidak dapat dipungkiri pula bahwa organisasi semacam mata-mata juga pembunuh bayaran akan dengan mudah memalsukan data diri dan kelihatan sangat asli.


"Katakan siapa yang mengirimmu kemari?" Xiao Juan bertanya dengan geram karena Sarah Wu masih saja diam ketika Xiao Xuan bertanya padanya. Xiao Juan memang tidak terlalu sabar dalam menghadapi perempuan yang suka mengulur waktu seperti Sarah Wu.


"Tuan Muda, saya tidak memiliki niat jahat sama sekali. Saya hanya ...," lidah Sarah Wu seperti tercekat oleh sesuatu sehingga dia tidak melanjutkan ucapannya. Agaknya dia bingung harus mengatakan apa. Dirinya memang dikirim ke sini untuk menggantikan Nina oleh bos mereka. Akan tetapi, dia memang bukanlah seorang pembunuh bayaran.


"Katakan atau keluar dari sini malam ini juga." Nada dingin dilontarkan oleh Tony Huo. Ia sudah sangat geram, bahkan lebih geram daripada Xiao Juan.


Pria itu menghunuskan tatapan dingin pada Sarah Wu. Tubuh perempuan itu makin bergetar karena aura mencekam milik pria itu. Gelap sangat pekat bagaikan kemeja hitam yang dikenakan oleh pria itu.


Sarah Wu menggigit kuat-kuat bibir bawahnya, matanya bergetar hebat dan air mata yang berusaha ditahan olehnya jatuh sempurna membasahi pipi mulusnya. Pikirkannya sangat kacau, bagaimana dia akan menjelaskannya pada Tony Huo. Akankah mengakui bahwa dirinya memang dikirim oleh seseorang ke sini atau mengakui kalau dirinya mengagumi Tony Huo?


"Saya ... saya ... sebenarnya," lagi-lagi dia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dengan memejamkan matanya serta meremas tangannya dengan kuat. Akhirnya Sarah Wu menatap mata hitam Tony Huo, perlahan dia kembali membuka mulutnya dan berkata dengan lantang, "karena saya mengagumi Anda, Tuan Muda. Maka dari itu, saya diam-diam mencuri pandang pada Anda." Dadanya naik-turun setelah mengakui isi hatinya pada Tony Huo.


Ruang tamu di mana tempat mereka kini berada mendadak hening setelah pengakuan cinta yang terlontar dari mulut seorang pelayan. Sarah Wu lebih memilih mengungkapkan kekagumannya pada Tony Huo dibandingkan harus mengatakan kejujuran kalau dirinya memiliki seorang tuan yang sedang bersembunyi di balik kegelapan. Walaupun keputusan ini diambil tergesa-gesa olehnya, setidaknya dirinya memiliki alasan untuk menyelamatkan dirinya sendiri juga tuannya.


Air mata perempuan itu terus berjatuhan layaknya hujan deras yang tak berkesudahan. Dia kembali menggigit bibir bawahnya, namun pandangannya agak diturunkan.


Xiao Juan menepuk dahinya setelah tersadar dari keheningan untuk beberapa saat. Dia menahan tawa dengan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sungguh tidak dapat dipercaya bahwa seorang pelayan berani mengakui perasaannya pada Tony Huo, bahkan di depan orang yang bersangkutan, dan yang lebih tidak dapat dipercaya lagi Tony Huo sudah memiliki seorang istri. Sekarang Nyonya Muda sedang berada di kamarnya, bagaimana jika ia mendengar pernyataan lantang dari Sarah Wu dan turun untuk menghampirinya? Perempuan itu benar-benar sangat berani dan cukup gila! Pikir Xiao Juan. Sedangkan, Xiao Xuan memasang wajah datar, dia sama tidak percaya akan yang dikatakan oleh Sarah Wu.


"Sarah Wu!" seru butler Kim.


Butler Kim baru saja datang dari mengambil sebotol anggur di gudang anggur pada kediaman tersebut, melewati dasar tangga dan tidak sengaja mendengar suara lantang dari Sarah Wu. Dia bergegas menuju ruang tamu beserta anggur yang diambilnya masih dia bawa di tangannya.


Sementara, Tony Huo sendiri tidak memberi tanggapan apa pun. Sorot mata dinginnya tetap sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah. Mendengar sebuah pengakuan cinta dari seorang wanita bukanlah hal yang baru baginya, tidak sekali ataupun dua kali, namun berkali-kali para wanita kalangan kelas atas akan berlomba mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang beragam. Bahkan ada yang sampai menyodorkan tubuhnya pada Tony Huo, akan tetapi pria itu tetap tidak terpikat oleh mereka, apalagi seorang pelayan di kediamannya yang diam-diam mencuri pandang.


Melihat ekspresi Tony Huo yang tidak berubah, butler Kim merasa sangat khawatir. Dia menaruh sebotol anggur di tangannya ke atas meja sofa dan setelahnya menghampiri Tony Huo. "Tuan Muda, mohon jangan dengarkan perkataannya. Dia hanyalah seorang pelayan biasa, mungkin saja pikirannya sekarang agak kacau. Saya akan memberinya hukuman karena telah mengganggu Anda."


Sarah Wu mengalihkan pandangan ke arah butler Kim. "Apa yang Anda katakan butler Kim, tidak bolehkah saya mengangumi Tuan Muda? Perasaan saya sungguh murni." Ucapnya dengan rasa percaya diri yang entah muncul dari mana seakan urat malunya sudah putus.


"Kau sudah gila?! Mungkinkah kau ingin bersaing dengan Nyonya Muda? Tidakkah kau lupa bahwa Tuan Muda sudah menikah?" bulter Kim sungguh sangat marah akan ucapan Sarah Wu. "Mungkinkah kau tidak menganggap kehadiran Nyonya Muda di rumah ini?"


Sontak pertanyaan tersebut mengguncang bahu Sarah Wu. Dia hanya memikirkan perasaannya tanpa berpikir Zelene Liang bisa saja mendengar pernyataan cintanya. Apa yang harus perempuan itu lakukan jika sampai Zelene mendengarnya dan menjadi cemburu? Di satu sisi dia berpikir tidak akan menimbulkan masalah terlalu besar jika menyatakan perasaannya dan di sisi lain hukuman yang dia dapatkan tidak akan terlalu keras sampai dikeluarkan dari mansion. Meskipun demikian, Sarah Wu sama sekali tidak berpikir akan kehadiran Zelene Liang yang bisa saja mengakhiri hidupnya malam ini, jika wanita itu mau. Zelene Liang bisa saja menyuruh kedua pengawal itu untuk menguburnya hidup-hidup.


"Hahahaha~"


Mendadak ruang tamu dipenuhi oleh gelak tawa lepas dari seorang pria yang duduk di atas sofa tersebut. Tony Huo merasa terhibur dengan situasi saat ini, seolah ia sedang menonton acara komedi pada salah satu stasiun televisi lokal.


Tony Huo memotong ucapan butler Kim dengan mengibaskan tangan kanannya. "Bawakan anggurnya ke ruang belajarku." Ia perlahan beranjak dari sofa, raut wajah Tony Huo sudah agak santai dan ekspresi dinginnya telah terkikis sedikit, meski belum menampakkan kehangatan pada wajah tampan itu.


"B-baik, Tuan Muda." Butler Kim kembali mengambil anggur di atas meja sofa dan menunggu Tony Huo


"Tuan Muda, apa yang harus kami lakukan pada pelayan ini?" tanya Xiao Xuan.


"Biarkan Nyonya Muda yang mengurusnya besok. Terserah padanya saja." Ujar Tony Huo sembari menyeringai tajam pada Sarah Wu.


Sarah Wu menggeleng kuat. "Tuan Muda, mohon Anda saja yang memberi saya hukuman. Saya tidak akan lagi mencuri pandang diam-diam pada Anda, tapi tolong jangan berikan saya pada Nyonya Muda. Mohon maafkan kelakuan saya, Tuan Muda." Sarah Wu tiba-tiba luruh karena kakinya tidak memiliki tenaga untuk menopang tubuhnya.


Tony Huo melangkah dari ruang tamu sembari berkata, "istriku juga membutuhkan hiburan." Ia segera melangkah menuju ruang belajarnya diikuti oleh butler Kim dengan sebotol anggur di tangannya.


"Dasar pelayan bodoh! Jika saja Nyonya mengijinkanku mematahkan tanganmu, kau pasti sudah menjadi orang cacat sejak kemarin."


"Menaruh hati pada seseorang tidaklah salah, namun kau juga harus ingat siapa Tuan Muda dan beliau sendiri sudah memiliki seorang istri. Kau masih muda, apakah kau ingin di cap sebagai wanita murahan yang menggoda suami orang, apalagi yang kau goda adalah tuanmu sendiri? Jangan lupakan statusmu." Ucap Xiao Xuan dengan nada penuh peringatan.


🍁🍁🍁


Beberapa menit kemudian di ruang belajar, Tony Huo sedang menyesap segelas anggur di tangannya dengan santai. Setengah botol anggur telah mengalir ke tenggorokannya sejak beberapa saat lalu. Meski meminum satu botol pun tidak akan membuat Tony Huo mabuk.


"Haruskah aku tidur di sini?"


Ia bimbang. Ditenggaknya anggur yang tersisa dalam gelas tersebut.


"Aku akan melihatnya dulu."


Tony Huo menaruh gelas kosong tersebut dan bangkit dari duduknya, lantas berjalan pelan menuju pintu dan keluar dari ruang belajarnya. Ia melangkah ke arah kamar tidur utama.


🍁 Bersambung🍁


Kamu tahu betapa kesal dan lelahnya jika harus menunggu? Tapi aku tak pernah lelah untuk menunggumu, apalagi lelah untuk mengagumimu. β€” Red Maple


Author di mana adegan Tony Huo yang masuk ke kamar Zelene?


Itu adegan untuk episode selanjutnya. Biar kalian puas dengan rasa penasaran.