My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Huh ...? Xie Yu Fan juga?



Sementara ke tiga orang itu menuju mansion utama, Yun Ruo Xi dan Duan Che membereskan berkas-berkas di atas meja teh. Tatapan Yun Ruo Xi kosong sejak mengetahui fakta bahwa Tony Huo sudah menikah. Ingin memaksakan tersenyum pun agak sulit untuknya, ekspresi wajahnya kosong seperti tidak ada jiwa yang menempati tubuh wanita itu.


"Asisten Duan, mengapa kau tidak memberitahuku bahwa Tuan Muda sudah menikah?"


Duan Che menatapnya untuk sesaat. "Aku ingin memberitahumu, tapi sepertinya kau tidak mau dengar. Jadi, aku mengurungkan niatku dan sekarang kau sudah tahu, 'kan? Lain kali jangan berkata dan bertindak gegabah. Status Nyonya Muda Huo tidaklah sembarangan."


"Aku baru ingat, bukankah dia adalah aktris Zelene Liang. Mengapa dia bisa menikah dengan Tuan Muda? Padahal dari berita yang beredar latar belakang Zelene Liang tidak diketahui dan ada juga yang mengatakan kalau Zelene Liang dari keluarga rendahan." Ceplosnya. Yun Ruo Xi hanya mendengar gosip-gosip dari media, jadi dia heran mengapa Zelene Liang bisa menjadi menantu keluarga Huo dan begitu disayangi oleh Nan Si Yue?


Lagi pula, Zelene Liang juga merupakan seorang aktris dan rumor buruk tentangnya pasti akan selalu mengikuti kehidupan seorang aktris. Rumor tentangnya masih menjadi topik perbincangan hangat. Bahkan Yun Ruo Xi sendiri saat tiba di Negara C sudah mendengar rumor Zelene Liang dan Xie Yu Fan di mana-mana. Meskipun demikian, Yun Ruo Xi tidak dapat mengenali Zelene dengan penampilan seorang tukang kebun tadi.


"Sekretaris Yun, aku sudah mengatakan padamu jangan berkata sembarangan tentang menantu keluarga Huo karena kau bisa terkena masalah. Tentang latar belakang Nyonya Muda, kau juga akan tahu nanti." Duan Che sudah selesai Merapikan berkas-berkasnya, lalu berkata lagi pada Yun Ruo Xi, "aku akan menaruh berkas yang belum ditandatangani oleh Tuan ke ruang belajarnya. Kau boleh kembali ke perusahaan, aku akan memanggilmu lagi jika Tuan meminta berkas lainnya."


"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu aku pergi sekarang. Ah, apa aku harus berpamitan pada Tuan Muda?" tanyanya antusias. Yun Ruo Xi ingin melihat Tony Huo sebelum dia kembali ke perusahaan. Baru saja dia mengetahui pernikahan Tony Huo dan sekarang dia masih tetap menyimpan harapan akan dilihat di mata Tony Huo.


"Akan aku sampaikan nanti, sebaiknya kau tidak mengganggu acara keluarga." Duan Che mengambil langkah dan meninggalkan Yun Ruo Xi yang tidak beranjak dari tempatnya.


"Mengganggu acara keluarga?" gumamnya tidak senang.


Yun Ruo Xi mengepalkan tangannya lantaran merasa kecewa dengan fakta di hadapannya itu, fakta yang baru dia ketahui setelah dua tahun pernikahan Tony Huo. Bagaimana mungkin Yun Ruo Xi tidak merasa sakit hati? Dia telah menyimpan perasaannya selama 5 tahun dan kini penantiannya pupus begitu saja? Tidak. Tentu saja dia tidak terima.


🍁🍁🍁


Setelah Zelene berganti pakaian, ia turun ke ruang tamu dan mendapati tiga cangkir teh sudah tersaji di atas meja juga beberapa kudapan manis sebagai pendamping teh.


"Apakah kalian menunggu lama?" tanya Zelene, langsung mengambil tempat duduk di sebelah Nan Si Yue.


"Tentu saja tidak, sayang, kau terlihat lebih manis dengan gaun hijau muda." Nan Si Yue terkekeh ringan saat memuji kecantikan menantunya.


Sedangkan, Tony Huo yang duduk di depan mereka seperti terasingkan. Dia sedang berpikir, mengapa dia minum teh bersama kedua wanita di depannya itu? Tidak seharusnya ia minum teh bersama para wanita, sementara ia sendiri memiliki banyak berkas yang harus ia periksa.


"Bu, kalian lanjutkan saja minum teh, aku akan menyelesaikan perkejaanku."


"Tidak bisa! Kau harus menemani kami, anggap saja kau sedang menebus kesalahanmu." Protes Nan Si Yue.


Sudah lama sekali dia memiliki keinginan untuk minum teh bersama putra dan menantunya dan sekarang dia memperoleh kesempatan itu. Nan Si Yue tidak akan meloloskan Tony Huo begitu saja. Lebih-lebih lagi, ini merupakan kesempatan yang bagus untuk mendekatkan pasangan suami-istri yang baru saja bertemu setelah perpisahan yang lumayan lama.


"Baiklah, terserah Ibu saja." Kata Tony Huo menyerah.


Zelene Liang merasa terhibur karena Tony Huo tidak berani melawan perintah Nan Si Yue. Bisa dibilang pria itu sudah mengubah pandangan Zelene Liang sedikit demi sedikit tentangnya. Yang awalnya Zelene berasumsi bahwa, Tony Huo merupakan pria kasar yang tidak memiliki rasa kasih sayang, tetapi melihatnya bak anak ayam menuruti keinginan ibunya. Membuktikan bahwa pria itu juga memiliki cinta kasih dalam dirinya yang tak ingin diperlihatkan olehnya. Namun, tetap saja mereka masih seperti orang asing.


"Mom, makan juga kudapannya." Zelene Liang mengambil salah satu piring berisi kue kacang dan membawa ke depan Nan Si Yue.


Nan Si Yue tersenyum cerah dan mengambil salah satu kue kacang tersebut dan dengan perlahan mengigit sebagian kecil dari kue kacang di tangannya. Rasa manis dan gurih menyeruak ke dalam mulutnya.


Zelene mengangguk lantas menaruh kembali piring kue itu ke atas meja dan mencomot kue tersebut. Mereka berdua memakan kue-kue itu dengan senang hati dan benar-benar mengabaikan Tony Huo.


Pria terasingkan itu hanya memperhatikan pasangan ibu mertua dan menantu sembari menyesap teh herbal di tangannya sampai ia tidak sadar kalau teh di dalam cangkirnya telah habis. Ia menaruh cangkirnya, kemudian menoleh pada Zelene Liang.


"Tuangkan teh untukku." Pintanya dengan suara datar.


"Aku? Kau memintaku?" tanya Zelene, matanya melirik ke kanan dan ke kiri tapi tidak ada satu pelayan pun di sana, bahkan butler Kim juga tidak ada. Yang berarti Tony Huo memintanya untuk menuangkan teh karena tidak mungkin pria itu akan meminta Nan Si Yue yang menuangkan teh, kan?


"Jika bukan kamu lantas siapa lagi? Berhentilah bertanya dan tuangkan saja." Tony Huo sudah merasa kesal dengan acara minum teh yang membosankan ini.


Zelene Liang dengan enggan menuangkan teh ke cangkir Tony Huo. Jika bukan karena Nan Si Yue ada di sebelahnya, ia pasti akan mengabaikan pria itu dan memalingkan muka seketika.


"Kalian berdua berbincanglah, Ibu akan memasakkan makan siang untuk kita." Nan Si Yue beranjak dari duduknya dan memberikan ruang bagi pasangan suami-istri itu.


"Mom, aku juga akan membantumu."


Nan Si Yue menggeleng. "Kalian mengobrol saja. Sudah dua tahun sejak pernikahan kalian, apakah kalian akan tetap menjadi orang asing yang tinggal serumah juga tidur di ranjang yang sama?" goda Nan Si Yue dengan sengaja—hingga membuat Tony Huo menyemburkan tehnya.


"Tapi," Zelene Liang tentunya tidak ingin ditinggal berdua dengan pria itu. Apa yang akan mereka perbincangkan jika pada akhirnya akan berujung pertengkaran? Zelene merasa tidak bisa berbicara baik-baik dengan pria itu karena Tony Huo selalu memancing emosinya.


"Tidak ada tapi. Kau boleh membantuku lain kali, sekarang temanilah suamimu dan ... jika kau tidak keberatan ... mengapa tidak membantu memijat kepalanya?" lagi-lagi Nan Si Yue menggoda pasangan itu. Sebelum salah satu dari mereka membuka mulut, Nan Si Yue sudah menggerakkan kakinya dan melangkah meninggalkan mereka.


"Aku akan menemanimu di sini karena Mom. Jangan berharap aku akan memijat kepalamu, huh." Zelene memutar bola matanya malas dan tidak menatap Tony Huo saat berbicara pada pria itu.


"Harusnya aku yang berkata seperti itu. Orang sibuk sepertiku diminta menemanimu pada kegiatan yang membosankan ini. Bersyukurlah karena aku tidak meninggalkanmu sendirian lagi." Tony Huo menaruh cangkir tehnya, lalu menyilangkan kaki dan setelahnya memberikan tatapan tajam pada Zelene.


Zelene balas menatap tajam pada pria itu. Sudah ia duga bahwa berbicara dengan pria di depannya itu hanya membuang-buang waktu saja. Ia tidak menanggapi ucapan Tony Huo dan memilih untuk diam serta menyilangkan tangannya ke depan.


Drrrttt!


Smartphone Zelene Liang bergetar di atas meja tersebut. Nama pemanggil yang tertera pada layar itu, ialah Hanna Gu. Zelene mengangkat panggilan di tempatnya tanpa menghiraukan Tony Huo.


"Ada apa, Kak Hanna?"


Hanna Gu di seberang telepon mejawab dengan cepat, "Lene, apa kamu sudah merasa lebih baik? Begini ... Presdir Wang memintamu dan Xie Yu Fan untuk bertemu hari ini di kantornya."


"Huh ...? Xie Yu Fan juga?"


Tony Huo mengerutkan dahi mendengar nama yang terlontar dari bibir Zelene Liang.


🍁 Bersambung🍁